"Oh, jadi Mas Toha sudah cerita semuanya dan Ibu datang ke sini karena itu?" Aku tersenyum miring mengatakannya. Bisa-bisanya pertengkaran kami pagi tadi diceritakan Mas Toha ke ibunya. Kayak anak kecil saja. Entah cerita seperti apa yang dia sampaikan sampai ibunya memojokkanku seperti ini.
"Iya. Toha sudah cerita semuanya. Ibu nggak nyangka kamu bisa sekasar itu sama suami sendiri," tudingnya lagi menyalahkanku sambil geleng-geleng kepala.
"Begini saja. Kita panggil Mas Toha biar semuanya jelas." Aku meraih ponselku di dalam tas untuk menghubungi suamiku itu. Aku juga ingin tahu versi cerita darinya seperti apa hingga ibunya datang kemari mencari keadilan untuknya.
"Ya, panggil saja. Ibu nggak masalah. Sekalian Ibu mau nasihati kalian berdua agar jangan ada yang saling menguasai. Main tuduh sembarangan. Terutama kamu, Ra, sebagai seorang istri. Kamu itu harusnya tunduk dan patuh pada suami."
Aku tercengang. Katanya ingin menasihati keduanya, tapi kelihatannya Ibu lebih condong membela Mas Toha dengan memintaku untuk tunduk dan patuh pada suami seolah aku istri ini yang zalim dan durhaka. Padahal dia tidak tahu cerita sebenarnya seperti apa. Aku diam tak membalas, mencoba menghargai. Kalau kulawan, pasti tudingannya bertambah menyebutku menantu kurang ajar.
Satu-dua kali panggilanku tak mendapat jawaban. Tersambung, tapi suamiku itu enggan untuk mengangkatnya. Biasanya sesibuk apapun dia, pasti diangkat atau menghubungi balik.
"Kenapa?" tanya Ibu mertua melihatku masih sibuk menghubungi Mas Toha.
"Tidak diangkat, Bu," jawabku jujur dan akhirnya menghentikan aktivitas menghubungi Mas Toha. Sudah lebih dari tiga panggilan kulakukan, tapi tidak diangkatnya juga. Kuharap ia memang sibuk dan menghubungi balik seperti biasanya.
Ibu mertua tersenyum sinis. "Pasti dia masih tersinggung sama ucapan kamu itu. Bisa-bisanya, pagi-pagi sudah merusuhi suami dengan kecemburuan yang tidak beralasan. Apa salahnya Toha berhubungan baik dengan Diana. Toh, yang dibahas mereka itu bukan hubungan mereka, tapi tentang Baim," tuturnya membuat hatiku panas. Aku sampai mencari keberadaan AC memastikan apakah masih berfungsi atau tidak. Tiba-tiba hawa ruangan ini jadi panas dan sumpek.
"Kenapa kamu celingukan begitu? Ibu lagi bicara, Ra, nggak dengar? Nggak sopan!" tukasnya mengambil kesimpulan sendiri. Tangannya menepuk pahaku.
"Nggak Bu. Bukan begitu. AC-nya dingin nggak Bu? Kayak nggak terasa ya? Panas," jawabku mengibaskan tangan di depan d**a.
"Nggak! AC-nya terasa, kok. Kenapa? Kamu nyindir Ibu?"
Aku mengulum bibir menoleh ke samping menghindari tatapannya karena tak tahan ingin tersenyum mendengar ucapan Ibu barusan. Ternyata Ibu peka juga. Syukurlah. Jadi, nggak capek menjelaskannya.
"Dasar! Nggak sopan, Ra. Kamu tidak biasanya," tudingnya lagi mengataiku.
"Tidak biasanya? Cuma perasaan Ibu saja," timpalku kembali fokus ke ponsel.
"Telepon Toha lagi? Paling masih sama, nggak diangkat," sindir Ibu melihatku menghubungi seseorang. Sindiran Ibu tak kutanggapi. Aku masih fokus menunggu jawaban di seberang telepon ini.
"Assalamualaikum. Iya, Bu, ini Windy." sapaan ramah di seberang sana membuatku tersenyum lega. Sudah lama tidak menghubunginya. Aku senang mendengar panggilanku dijawabnya.
Windy adalah karyawan lama dan orang kepercayaanku. Dia kerja di bagian kasir. Sudah lama tak menanyakan masalah restoran padanya sejak Mas Toha yang memegang kendali.
"Win, Bapak ada?"
"Bapak? Ehm, ti … eh, ada."
Aneh, Windy terdengar ragu menjawab.
"Ada tidak? Kalau ada, bilang angkat teleponku!" Nada bicaraku sedikit menekan. Aku merasa Windy sedang berbohong. Padahal dialah satu-satunya orang yang kupercaya di restoran selain Mas Toha.
"Eh, tidak ada. Hm, tadi ada kok, tapi sekarang sudah pergi, Bu."
Nah, kan. Sepertinya aku juga harus mengawasi Windy. Kenapa aku merasa sikapnya berubah.
"Kemana?" Kulirik Ibu sebentar dan dia menatapku serius. Mungkin ikut mendengarkan pembicaraanku.
"Nggak tahu, Bu."
"Ya, sudah. Restoran gimana? Ada masalah?"
"Hm, aman, Bu. Alhamdulillah pagi ini sudah rame."
Aku tersenyum mendengarnya. Syukurlah.
"Ya, sudah. Kututup ya."
"Eh, tunggu Bu!"
Aku yang hampir mematikan panggilan telepon segera mendekatkan kembali ponsel ke telinga.
"Ya. Apa?"
"Eh, tidak jadi. Nggak papa kok, Bu."
Aku mengernyit. Ada apa dengan Windy? Sepertinya ada yang ingin disampaikan, tapi dia ragu untuk bicara.
"Oh, ya sudah. Kututup ya."
Ada Ibu, andai tak ada Ibu mertua. Sudah kepaksa Windy untuk bicara.
"Windy, karyawan restoran. Dia bilang Mas Toha tidak ada di sana. Padahal resto lagi rame," ujarku sedikit mengeluhkan ketidakhadiran Mas Toha pada ibunya.
"Toha pasti sibuk. Pasti ada yang dibelinya atau lagi menemui langganan kalian. Masa' harus di restoran mulu. Bosan juga." Lagi, Ibu membela anaknya. Cuma menduga saja.
Bosan? Tapi lihat uang mana bisa bosan kalau pengunjungnya rame. Malah betah, pikirku. Ingin sekali berucap begitu, tapi kutahan. Lagi malas berdebat. Orang tua di sebelahku ini sama kerasnya denganku. Tidak mau kalah. Apalagi saat ini dia sangat membela anaknya.
[Mas, pulanglah! Ibumu ada di rumah.] Aku memutuskan mengirim pesan pada suamiku itu. Penasaran, apakah dibalasnya atau sama saja, diabaikan.
Kulihat pesanku dibaca, tapi tidak ada tanda-tanda typing darinya.
Aku men desah.
[Pulanglah! Atau mau kususul keresto?]
Aku yakin kalimat ini akan membuatnya membalas pesanku. Senyum terbit di bibirku.
"Kamu lagi apa, Ra? Jangan gila, senyum-senyum sendiri."
Aku menengok ke asal suara, Ibu. Ucapannya tidak kutanggapi. Aku hanya menatapnya sekilas lalu kembali fokus ke ponsel. Bingung juga mau bilang apa. Kali ini tindakanku selalu salah di matanya.
Dering ponselku tiba-tiba berbunyi. Aku tersenyum miring menatap nama yang tertera di depan layar.
Mas Toha. Siasatku berhasil. Dia menghubungi balik setelah dikirim pesan seperti itu. Justru sekarang tindakannya menambah kecurigaanku. Ada apa di sana? Kenapa Mas Toha takut sekali aku berkunjung ke restoran sendiri?
"Ini aku lagi di perjalanan pulang. Tunggulah! Tidak perlu ke restoran. Semua terkendali. Kalau tidak percaya, tanyakan Windy," balasnya menghubungi balik tanpa mengucap salam terlebih dahulu. Aku yang mau menyahut saja hanya mampu ternganga karena Mas Toha telah mematikan segera teleponnya.
"Siapa?" Kembali Ibu mertua bertanya.
"Mas Toha. Katanya mau pulang. Lagi di jalan," ujarku memberitahu.
"Oh, syukur lah. Kita tunggu saja. Kamu hari ini masak apa? Ibu nggak nginap, tapi mau makan siang di sini. Sudah lama nggak ke rumahmu. Baru setelah itu Ibu pulang. Boleh kan?" Suara Ibu melembut. Dia pun tersenyum padaku.
Aku mengangguk mengiakan. Mau menginap pun tak masalah.
"Belum masak apa pun, Bu. Nanti kuminta karyawan antarkan beberapa menu ke rumah."
"Kamu nggak masak lagi, Ra? Pantas suamimu nggak makan siang lagi di rumah."
Aku tercengang mendengar ucapan Ibu barusan. "Kok Ibu tahu Mas Toha tidak pernah makan siang lagi di rumah? Siapa yang cerita? Mas Toha?" tanyaku penasaran.
Bukan aku tak mau masak lagi, tapi kalau siang, Mas Toha memilih makan di resto saja katanya. Sempit waktunya kalau harus bolak-balik dari rumah ke resto. Apalagi kalau jam siang, pengunjung lagi ramenya makan siang di restoran kami.
"Itu kata …." Ibu tampak berpikir.
"Iya, kata Toha. Dia cerita begitu."
"Mas Toha cerita begitu?" ulangku memastikan. Ibu mengangguk lemah. Terlihat ragu.
"Biar nanti Haura tanyakan. Asal Ibu tahu, Mas Toha yang menolak makan di rumah katanya malas bolak-balik dari resto ke rumah. Jadi bukannya Haura yang malas masak, Bu, tapi itu keinginannya sendiri. Kecuali malam baru makan di rumah setelah pulang kerja dan itu Haura masak, loh, Bu. Biar nanti Haura konfirmasi kenapa dia harus cerita bohong sama Ibu."
"Oh, gitu. B–bukan Ra. Nggak usah ditanyakan. Toha tidak salah, kok. Ibu tadi asal tebak. Mungkin Ibu lupa. Sudah lupakan saja." Ibu cengengesan saat mengatakannya. Membuatku menatapnya lamat-lamat. Mengamati perilakunya saat ini. Pagi tadi anaknya yang aneh, sekarang Ibu pun bersikap aneh seperti anaknya. Ada yang disembunyikan keduanya. Apa selama ini ada sesuatu yang tidak kuketahui? Tapi apa? Selama ini keduanya sangat bersikap manis terhadapku.