Aku memutuskan masuk kamar dan mengganti pakaianku dengan baju rumahan biasa. Rencana pergi keluar rumah batal dilakukan. Moodku lagi tak baik. Apalagi waktu sudah memasuki tengah hari. Jam makan siang hampir tiba dan tidak enak juga meninggalkan Ibu mertua sendirian di rumah. Tidak baik dipandang, apalagi aku yang dianggap bukan wanita karir dan hanya berdiam di rumah. Mengutamakan pergi keluar meninggalkan ibu mertua sendirian bukanlah pilihan yang bijak.
Aku juga sudah memesan makanan dari restoran sendiri untuk makan siang, dan nanti akan ada yang mengantarkannya ke rumah.
Keluar dari kamar dan menuju ruang tengah tak kudapati Ibu mertuaku di sana. Kepalaku celingukan mencari sosoknya, tapi tak terlihat. Padahal baru kutinggal masuk ke kamar sekitar lima belas menit.
Kucoba mencari di kamar tamu yang bersebelahan dengan kamarku, bisa jadi Ibu sedang beristirahat, namun ternyata kosong. Tidak ada. Bahkan kelihatan tidak tersentuh karena tampilan dan keadaan di dalamnya masih sangat rapi. Aku berjalan menuju dapur. Siapa tahu Ibu ada di sana. Kalau pulang tanpa pamit itu rasanya tidak mungkin, apalagi ada tas Ibu tergeletak di atas sofa. Artinya dia masih berada di dalam rumah ini.
"Ibu, ngapain?" tanyaku melihat sosoknya duduk sendiri di ruang makan.
"Kamu cuma ambilkan Ibu air putih segelas. Ya, masih haus. Mana hawanya panas. Jadi Ibu bikin sendiri es teh manis," jawabnya sewot. Sepertinya Ibu kesal.
Aku tersenyum mendengarnya. Seingatku waktu itu Ibu cuma minta air putih, jadi kuambilkan ala kadarnya segelas air dingin. Rupanya tak puas.
"Oh, gitu. Maaf, Bu." Malas menyanggah berujung debat, lebih baik minta maaf. Aku mendekat dan duduk di sebelahnya.
"Ibu lapar, kamu sudah pesan makanan dari restoranmu itu, belum?" tanyanya mendesak. Sepertinya beliau memang kelaparan. Mungkin karena terbiasa makan tepat waktu jadi terasa laparnya kalau sudah masuk jamnya makan.
"Sudah, paling sebentar lagi datang," ujarku menyahut tanpa menolehnya.
"Toha beneran pulang? Kamu tadi memang telepon Toha kan?" Ibu bertanya memastikan. Aku mengangguk mengiakan.
"Kok lama sekali ya?" gumamnya masih dapat kudengar jelas.
Tak kutanggapi. Aku memilih diam. Kuharap anaknya itu memang sungguhan pulang biar aku bisa mengkonfirmasi semua yang dituduhkan ibunya padaku.
Suara bell berbunyi, aku bergegas menuju ruang utama untuk membukakan pintunya. Pasti Mas Toha. Akhirnya dia pulang juga.
"Siang, Bu. Ini nganterin pesanan Ibu."
Ternyata Deni, kurir restoran kami. Kupikir Mas Toha. Bahkan keduluan kurir datang ke rumah mengantarkan makanan pesananku ketimbang Mas Toha yang seharusnya lebih dulu datang. Entah melipir kemana suamiku itu pergi, Windy saja tidak tahu keberadaan bosnya.
"Iya, Terima kasih ya," sahutku tak semangat sembari menyambut bungkusan makanan dari tangannya.
"Pamit Bu," ujar Deni padaku dan kujawab dengan anggukkan kepala. Baru saja menutup pintu terdengar deru mesin mobil berhenti dan aku kenal siapa pemiliknya. Kuletakkan bungkusan makanan di atas meja ruang tamu dengan cepat dan segera membuka kembali pintunya.
Benar. Yang datang kali ini beneran Mas Toha. Raut wajahnya terlihat tegang. Auranya juga beda. Dingin dan gelap. Aku menatapnya dari depan pintu. Menunggunya berjalan menghampiri.
Tangan kuulurkan lebih dulu untuk mencium takzim tangannya tapi disambut dengan secepat kilat seolah enggan menerimanya. Sikapnya juga cuek seakan tak menganggapku ada dengan berlalu masuk ke dalam rumah tanpa menyapa.
"Toha? Akhirnya. Ibu sudah kelaparan nunggu kamu pulang." Ibu mertua datang menghampiri. Mengulurkan tangan ke Mas Toha buat salim.
"Haura, ini dari restoran, kan? Kenapa dibiarkan tergeletak di sini?" tanyanya saat tatapannya teralih ke bungkusan makanan yang masih berada di atas meja ruang tamu. Pasti karena aroma masakan tercium dari bungkusan tersebut.
"Belum sempat dibawa ke dalam, Bu, keburu Mas Toha datang. Jadi Haura bukain pintu dulu," jawabku segera mengambil bungkusan makanan untuk dibawa ke area dapur.
"Sudah sana, bawa ke dapur. Siapkan makan siang kita! Suamimu pasti lapar." Kuanggukkan kepala tanda patuh dan berjalan lebih dulu di depan mereka. Aku patuh karena tahu ini bukan waktu yang tepat untuk bicara masalah tersebut.
Saat berjalan menuju ruang makan, sayup kudengar Mas Toha dan ibunya bicara berbisik di belakangku, tapi sayangnya sulit menangkap pembicaraan mereka karena terlalu pelan. Aku mencoba bersikap biasa saja dengan sesekali berdehem keras kode menegur keduanya.
***
Kami makan dalam diam dan aku belum menanyakan persoalan yang sempat kudebatkan dengan Ibu mertua. Kubiarkan dulu kedua Ibu dan anak ini makan dengan tenang. Kalau kumulai pembicaraan serius tersebut di meja makan, yang ada selera makan keduanya bisa saja hilang. Biarlah sekalian aku juga makan untuk menambah amunisi untuk memulai 'perang'.
Sejak aktivitas makan berlangsung. Ibu mertua dan suamiku itu saling lirik lalu sama-sama menoleh ke arahku seakan dikomando. Saat kutatap balik dengan alis terangkat sebelah, keduanya segera memalingkan pandangan ke arah piring masing-masing. Tidak ada pertanyaan ataupun obrolan santai seperti biasanya.
"Mumpung makan siang kita sudah selesai, aku mau nanya sama kamu, Mas. To the point saja, Mas ngadu apa saja sama Ibu?"
Pertanyaanku sudah lembut dan pelan tapi ternyata masih sanggup membuat Mas Toha tersentak kaget. Matanya membelalak saat sedang meneguk minumannya.
"Haura! Biarkan suamimu minum dulu, baru tanya. Lagian kenapa dibahas di sini? Kenapa tidak kita lupakan saja apa yang Ibu katakan sebelumnya. Semua salah Ibu, Toha tidak pernah ngadu apa pun." Ibu mertua tampak sekali membela anaknya. Sekarang beliau malah menyalahkan diri sendiri.
"Tidak bisa, Bu. Haura ingin tahu apa saja yang dikatakan suami Haura hingga ibu sampai datang ke rumah ini dan menuduh Haura macam-macam." Tatapan sengitku terarah ke Mas Toha. Entah takut atau tenggorokannya kering, aku sampai melihat jakunnya turun karena sedang menelan air liur.
"Lihat kan, Bu. Seperti inilah mantu kesayangan Ibu. Selalu memojokkan suaminya." Mas Toha menyalahkanku. Ia kembali menuangkan air ke gelasnya yang kosong.
"Aku nggak ngadu, Ra, cuma kebetulan saja Ibu nelpon dan keluarlah cerita soal penyitaan kartu ATM dan ponselku," ujarnya lagi melanjutkan.
"Itu sama saja, Mas. Ngadu namanya. Kalau Mas diam, pasti cerita itu tidak sampai ke Ibu," sanggahku tak terima.
"Sudah Ra. Cuma salah paham saja kan? Hentikan perdebatan kalian. Jangan saling serang dan tuduh seperti ini, tidak baik. Kamu juga, Ra, jangan main cemburu buta, jadi Toha kesal dan marah-marah. Sekarang lebih baik minta maaf, dan kasih kembali kartu ATM dan ponsel Toha, biar kalian berbaikan lagi," ujar Ibu ingin mendamaikan. Namun pembelaan Ibu condong ke Mas Toha dan aku tak terima begitu saja. Apalagi memintaku kembalikan kartu ATM dan ponselnya. Aku tidak setuju. Semua itu atas namaku dan sekarang aku tidak ingin menitipkannya lagi ke Mas Toha. Banyak kejanggalan terjadi dengan keuangan restoran, dan aku harus menyelidiki lebih dulu.
"Cemburu buta Bu?" aku membeo mengulang ucapan Ibu penuh penekanan.
Ibu mengangguk dengan santainya.
"Kalau Ibu di posisi Haura bagaimana? Bagaimana kalau ayah mertua masih berhubungan dengan mantannya tanpa sepengetahuan Ibu, apa Ibu akan diam saja? Apalagi nama kontaknya diganti Bambang. Maksudnya apa? Nampak sekali bukan untuk menyembunyikan?"
Ibu terperangah mendengar penuturanku yang mengebu-ngebu. Ia menatap Mas Toha dengan raut wajah tak percaya.
"Bambang?" Nama itu diulang Ibu sambil menatap Mas Toha dengan raut wajah aneh. Pasti beliau teringat dengan pertanyaanku sebelum aku masuk ke dalam kamar. Aku sempat bertanya siapa nama suami Diana sekarang dan beliau bilang tidak tahu. Katanya lupa dan bukan hal penting untuk diingat. Bukan keluarga juga. Banyak alasan yang dilontarkannya menjawab pertanyaanku tersebut. Namun saat kuberitahukan kalau namanya Bambang, Ibu malah tertawa dan bilang itu tidak mungkin. Namanya bukan Bambang. Dengan pasti Ibu meyakinkanku. Lalu sekarang apa?
Kulihat kedua anak-ibu itu saling tatap dengan gerakan mata tak biasa seolah sedang berbicara dengan isyarat. Apakah keduanya belum menyepakati jawaban untuk yang satu ini?