Mau Enaknya tapi Nggak Modal

1174 Kata
"Aduh! Sakit Bu! Kenapa dipukul?" Mas Toha meringis sakit saat hantaman tangan Ibu mertua mengenai badannya. "Kamu ini apa-apaan? Benar apa yang dikatakan Haura kalau kamu sengaja menggunakan nama laki-laki untuk kontak Diana?!" Ibu mertua terlihat geram dengan tangan yang masih mengambang di udara, siap menyerang kembali. Kerutan di keningku berlipat mendengar pertanyaan Ibu mertua. Ibu sungguh tidak tahu atau sedang bersandiwara saja agar kerja sama keduanya tidak ketahuan olehku? Aku sedang menduga-duga. "Itu tidak benar." Mas Toha membantah, tapi nada suaranya tidak meyakinkan untukku. "Lalu, apa? Siapa Bambang? Pantas Haura menanyakan siapa suami Diana sekarang sama Ibu." Lirikan netra Ibu ke arahku, tapi hanya kubalas dengan tatapan menelisik memastikan apa yang terjadi di hadapanku saat ini bukanlah sebuah sandiwara. "Bambang itu memang nama suami Diana," jawab Mas Toha. Suamiku itu masih bersikeras, tidak mau mengaku. "Oh ya Mas? Coba tunjukkan buktinya, atau sini ponsel Mas! kita hubungi nomor kontak Bambang, biar aku yang bicara!" Aku ikut bicara. Tanganku terulur ke arahnya, meminta ponselnya diserahkan kepadaku. "Aduh, kepala Ibu sakit." Konsentrasiku teralihkan ke arah Ibu mertua, mendengar dia merintih kesakitan. Batinku bertanya kenapa. "Ibu kenapa?" Mas Toha sigap mendekati ibunya, tampak cemas. Aku cuma diam di tempat, menatap keduanya. "Kepala Ibu sakit. Sepertinya tekanan darah Ibu naik lagi. Ini pasti karena melihat kalian bertengkar," ujar Ibu mertua menatapku dan Mas Toha secara bergantian. "Maaf, Bu. Ayo duduk dulu." Mas Toha menuntun ibunya duduk di kursi yang mengelilingi meja makan. Kami masih di ruang makan, belum beranjak pergi. "Haura! Tolong ambilkan tas Ibu, Nak. Di sana ada obat tensi Ibu," lirih Ibu berkata. Tangannya masih di kepala, tampak sedang memijit bagian yang terasa sakit. Polahnya sangat meyakinkan. Aku yang masih terpaku di tempat mengamati apa yang terjadi, tersentak kaget karena permintaan Ibu mertua. "Ra! Kenapa diam saja? Cepat ambilkan!" Mas Toha sedikit membentak memintaku menuruti ingin ibunya. Aku refleks mengangguk dan segera pergi menuju ruang tengah. Pikiranku terbelah dua antara percaya dan tidak. Namun langkahku tetap menuju sofa di mana tas Ibu diletakkan. "Ini Bu, tasnya!" Kuberikan tas ke arah Ibu, setelah sampai di hadapannya. Namun Mas Toha yang meraihnya. Aku berlalu cepat mengambilkan air minum buat Ibu. "Ini, Bu, airnya." Setelah menuangkan air mineral ke dalam gelas dan mengulurkannya ke Ibu. Ibu menatap ragu ke arah gelas yang kusodorkan. Lalu menggelengkan kepalanya. "Sudah tidak perlu, Ra. Kata Ibu pusingnya sudah berkurang." Mas Toha yang bersuara menjelaskan keadaan ibunya padaku. Netraku menatap dalam ke wanita paruh baya tersebut, mencoba mengamati keadaannya dan benar, Ibu sudah tidak memijit keningnya lagi seolah memang sudah sembuh. Secepat itu? Kok bisa? Hatiku meragu. "Jangan! Keadaan Ibu jangan diremehkan. Kalau tekanan tinggi dibiarkan, takutnya malah kena serangan jantung, gagal ginjal, atau stroke," bantahku mencoba menakuti Ibu mertua. Tanganku meraih paksa tas yang berada di tangan Mas Toha. Kubuka isinya guna mencari obat penurun tekanan Ibu. Dari ekor mataku, Mas Toha tampak khawatir. Makin aneh bukan? Seharusnya lega aku cepat tanggap dan memperhatikan keadaan ibunya, tapi raut wajahnya mengatakan sebaliknya. "Ini, minum dulu, Bu. Biar setelah ini, Ibu istirahat di kamar tamu sebelum pulang atau Ibu nginap saja sekalian." Obatnya kutemukan. Ibu mertua memang sering mengalami tekanan tinggi, makanya dia selalu membawa obat tersebut kemanapun pergi. Tanganku yang menggenggam obat Ibu, kusodorkan ke arahnya, memaksanya minum. Mas Toha dan Ibu mertua terlihat gelisah. Keduanya lagi-lagi saling tatap penuh kecurigaan. Tanganku masih terulur ke arah Ibu dengan telapak tangan yang terbuka. Masih berharap ia mengambil obatnya tersebut, agar kecurigaanku terbantahkan. Ibu menghela napas sejenak sebelum akhirnya mau mengambil obat di atas telapak tanganku. Kutatap Mas Toha malah terlihat makin cemas. "Ada apa?" Penasaran, kutanyakan rasa curigaku. Keduanya kompak menggeleng dan Ibu segera menelan obat yang kuberikan bersamaan dengan meneguk habis air minumnya. Aku yang rencananya ingin mencegah, tak sempat. Keburu obat itu sudah ditelan Ibu. Apa aku terlihat jahat? Kalau Ibu kenapa-napa bagaimana? Batinku berperang. Aku hanya kesal kalau Ibu ternyata cuma bersandiwara soal sakit tensinya yang kambuh barusan. "Mas, ada apa? Kalian aneh," ujarku memaksa Mas Toha bicara sambil tak lepas menatap ke arah Ibu, memastikan beliau baik-baik saja. Takut drop. "Nggak. Biasa saja. Aneh apanya?" Matanya melotot tajam ke arahku. Sepertinya tidak suka dengan pertanyaanku barusan. Aku mengedikkan bahu malas membahas. Kedua ibu dan anak tersebut menatapku lekat. "Ibu istirahatlah. Semoga keadaan Ibu lekas membaik." Mas Toha menuntun ibunya berjalan keluar dari ruang makan. Sepertinya menuju kamar. Aku tak ingin mengikuti keduanya karena kurasa Ibu akan baik-baik saja di tangan Mas Toha. Apalagi bekas piring makan kami masih tergeletak di wastafel belum kusentuh sejak kami selesai makan siang. Aku ingin beranjak, tapi netraku mengarah ke tas Ibu yang tertinggal di meja makan. Kuedarkan pandangan ke penjuru arah memastikan situasi aman. Tiba-tiba aku ingin membuka tasnya dan memeriksa ponsel Ibu yang tersimpan di sana. Aku tahu itu tindakan tak terpuji menyentuh barang orang tanpa izin, tapi rasa penasaran memaksaku untuk melakukannya. Apalagi saat mengambil obat Ibu, tak sengaja melihat ponselnya menyala dan bergetar, seperti ada pesan atau telepon yang masuk, tapi Ibu tidak menyadarinya karena mungkin lagi dalam mode silent dan berada di dalam tas. Dengan perasaan gugup aku mengambil ponsel Ibu. Aku ingin memeriksa pesan dan panggilan telepon yang masuk ataupun keluar dari sana. Entah kenapa ada keyakinan kalau di dalam sana ada rahasia yang mereka sembunyikan dariku. Feeling-ku tak pernah salah saat merasakan sesuatu yang tidak beres. Ponsel Ibu sudah beralih ke tanganku. Syukurlah ponselnya tidak terkunci seperti punya Mas Toha. Aku bisa membukanya tanpa kesulitan. Jemariku bermain dengan cepat di layar depannya untuk segera masuk ke aplikasi pesan. Sesekali netra ini menatap ke arah mulut pintu memastikan tidak ada yang datang dan memergokiku membuka ponsel Ibu. [Bu, jangan bicara macam-macam sama Haura. Nasihati saja, sudah cukup. Haura itu nurut sama Ibu.] pesan dari Mas Toha. Benar kan, Mas Toha ngadu ke ibunya. Malah meminta bantuan buat nasihati aku segala. Aku berdecis tak suka. Aku mulai membaca pesan terdahulu, yang paling atas dan itu pun k****a dengan cepat, takut kepergok. [Kapan pulang? Sepertinya Haura mau pergi.] [Tahan, Bu. Kayaknya mau ke resto. Jangan sampai pergi, ini lagi di jalan.] Oh, pantes sempat lihat Ibu main hape, ternyata diam-diam berkirim pesan dengan Mas Toha. Sudah kuduga. [Nyusahin saja kamu. Makanya jangan bikin masalah. Punya istri baik, dimacam-macamin.] Dimacemin? Maksudnya? Apa aku diguna-guna Mas Toha atau …. [Cepat pulang! Haura nanya macam-macam terus sama Ibu.] [Tunggu Bu! Tinggal beberapa meter sampai.] [Ini lagi, Diana telepon melulu. Hape sampai Ibu silent. Dia masih nanyain uang ke kamu?] Mataku memicing membaca pesan tersebut. Uang? Masih membahas uang buat ultah Baim? Astaga! Ngeselin sekali mantan istri Mas Toha. Usaha kek! Atau seadanya saja. Mau besar dan mewah tapi nggak modal, aneh. Aku ngedumel dalam hati saat membaca pesan tersebut. Namun kulanjutkan membaca pesan lainnya. [Jangan balas atau angkat telepon Diana di depan Haura, ingat ya, Bu!] "huh! Kenapa? Takut ketahuanku ya, Mas?" Aku membatin dengan sewot. Kesal sekali membaca pesan Mas Toha tersebut. [Iya, Diana merengek terus minta tambahin uangnya. Buat liburan ke Bali, katanya kurang.] Deg. Liburan? Enak saja liburan minta uangnya ke Mas Toha. Aku yang kerja keras, kenapa dia yang menikmati?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN