"Dek, Mas mau …." Ucapan seseorang yang memanggilku itu terjeda.
Deg! Aku memejamkan mata dengan perasaan campur aduk.
Suara itu ….
Itu Mas Toha. Derap langkahnya terdengar mendekat dan aku terpaku di tempat.
"Haura, kamu lagi ngapain?"
Kukerjapkan mata mendengar pertanyaannya.
Aku ketahuan. Namun tak berani membalikkan badan menghadapnya. Ponsel Ibu ingin kumasukkan kembali ke dalam tasnya. Namun ….
Tak sempat.
"Itu?"
Kuyakin Mas Toha sudah melihatnya. Tampak ia terbelalak kaget melihat benda yang masih kupegang karena sorot matanya mengarah ke bawah, tepat ke tanganku.
"Apa ini Mas? Kalian sembunyikan apa dariku?" Sudah ketahuan, sekalian basah saja. Aku tak mau menunjukkan kelemahanku, aku harus lebih tegas agar Mas Toha tak mengintimidasiku karena menyentuh ponsel ibunya secara diam-diam.
"Ini ponsel Ibu, kenapa menyentuhnya tanpa izin!" Ponsel di tanganku direbut paksa Mas Toha. Sempat kulihat suamiku itu mengamati dengan jeli isi percakapan yang kutunjukkan padanya. Namun seperti tak digubrisnya. Mas Toha malah mengambil tas Ibu dan memasukkan ponsel tersebut ke dalamnya.
Kukira caraku menanyakan barusan dapat mengintimidasinya, nyatanya tidak. Mas Toha tampak menyerang balik dan menyalahkanku karena menyentuh barang pribadi ibunya. Aku tahu itu salah, tapi feelingku lebih dominan memaksa untuk melakukannya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Kamu belum jawab Mas, apa maksud percakapan kalian ini? Dan benar kan dugaanku, kamu menjalin hubungan dengan mantan istrimu itu. Tega, Mas!" kudorong keras bahunya hingga badan Mas Toha terhenyak ke belakang.
"Kamu salah paham, Dek. Aku hanya menjalin silaturahmi biasa, semua itu demi Baim. Bukan ada apa-apa." Mas Toha masih mengelak, tak mau mengaku. Jemariku diraihnya tapi kutepis dengan cepat.
"Cih! Demi Baim, apa ibunya? Aku tidak bodoh, Mas! Sudah jelas kamu menjalin hubungan lebih dan bahkan Ibu mendukung hubungan kalian. Kamu kira aku tidak paham dari arti pesan kalian itu?!" Nada bicaraku meninggi. Emosiku sudah diatas ubun-ubun.
"Harus seperti apa lagi aku menjelaskannya, Dek, kamu salah paham. Mas tidak mempunyai hubungan lebih dengan Diana. Sumpah!" Mas Toha sampai mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya isyarat bersumpah.
"Sumpah?" ulangku dan Mas Toha mengangguk. Dikiranya aku percaya? Mas Toha terlalu menggampangkan kalimat sakral tersebut.
"Mana ponsel Mas? Sini, biar kulihat isi pesan Mas! Pasti ada pesan pribadi kalian berdua yang membuat Mas harus mengunci ponsel Mas kan biar aku tidak bisa melihatnya." Tanganku terulur ke arahnya. Meminta benda pipih dengan logo apel digigit tersebut.
Mas Toha memundurkan badannya, mengelak saat aku berusaha keras ingin mengambil sesuatu dari balik saku celananya.
"Kamu apa-apaan?! Sudah kubilang tidak ada, ya tidak ada. Kamu jangan kekanak-kanakan. Kita sudah menikah hampir tiga tahun, seharusnya tidak ada lagi sikap cemburu seperti ini. Aku tidak suka, Dek!" Mas Toha berbalik ingin melangkah pergi.
"Mas! Kemana? Tunggu dulu! Pembicaraan kita belum selesai. Mana ponsel, Mas? Biar kuperiksa dulu. Aku tahu Mas membohongiku selama ini."
Aku mengekor langkah Mas Toha yang pergi meninggalkanku. Ia berjalan sangat cepat ke arah ruang tengah. Tanganku mencoba mencengkram lengannya sekuat tenaga mencegahnya pergi, tapi tak bisa. Aku kalah saing. Tenagaku tak sebesar laki-laki sepertinya.
"Hentikan, Dek! Ibu sedang tidur. Nanti bisa kebangun mendengar pertengkaran kita." Langkah Mas Toha terhenti, dia membalikkan badannya dan membentakku dengan suara dikecilkan. Namun cengkraman tangannya di bahuku terasa kuat hingga menyakitkan bagiku.
"Biar! Biar Ibu dengar. Biar sekalian aku tanya kenapa dia tega mengkhianatiku bersama anaknya dan membuatku seperti orang bodoh yang diam saja selama ini!" Aku malah menantangnya dengan suara menggelegar. Telunjukku menyentuh dadanya seraya meluapkan kemarahanku.
"Haura, Toha, ada apa ini? Kalian bertengkar?" Ibu akhirnya keluar dari kamar. Dia pasti mendengar keributan kami.
"Dek!" Wajah Mas Toha memelas saat melihat ibunya keluar kamar dengan wajah sayu. Dia pasti menyalahkanku karena telah menganggu istirahat ibunya.
"Iya, Bu. Kami bertengkar." Dengan santainya aku menjawab seperti itu.
Tak ada keterkejutan di wajahnya. Kulihat wanita tua itu mengembuskan napas panjang seraya mengurut d**a.
"Dek, hentikan! Bu, masuk saja lagi ke dalam. Kami perlu bicara berdua saja. Ibu juga perlu istirahat kan." Mas Toha seolah tak ingin ibunya terlibat dalam pertengkaran kami. Namun wanita paruh baya tersebut menggeleng.
"Toha, minta maaflah sama Haura. Kamu memang salah."
Aku menggelengkan kepala seraya tersenyum miring mendengar pernyataan Ibu barusan. Pandai sekali ibunya Mas Toha bersandiwara seolah membelaku. Harusnya ikut award akting terbaik, pasti menang.
"Sudahlah Bu, Ibu itu sama saja seperti Mas Toha, seperti wanita itu, kalian munafik! Jadi tidak perlu pura-pura membelaku, kalian–" Kalimatku belum selesai. Mas Toha membungkamku dengan sesuatu yang membuatku shock.
"Dek!"
Plak!
"Aaargh!"
Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku diiringi teriakan Ibu. Wanita tua itu tampak shock melihat anaknya menamparku di hadapannya.
Aku sampai terhuyung ke belakang hingga tersandar ke dinding kamar. Tanganku sampai gemetar kala bertumpu di dinding dingin tersebut.
Perih, panas. Itu yang kurasakan di pipi kananku. Namun rasanya tak sesakit hati yang telah terluka karenanya. Suamiku bertindak kasar untuk pertama kalinya.
"Haura, kamu tidak pap, Nak?"
"Toha, apa-apaan ini? Ibu tidak pernah mengajarkanmu bertindak kasar pada perempuan!"
Ibu menghampiri ingin membantuku berdiri tegak, ta. Raut khawatirnya kuabaikan. Palingan Ibu cuma bersandiwara. Namun untuk apa juga, seharusnya hal ini tidak perlu dilakukan, aku tak kan peduli. Aku tidak akan terenyuh dan percaya lagi dengan kebohongannya kali ini.
"Keluar Mas!" gumamku pelan. Tanganku masih mengusap bekas tamparannya.
"Dek, Mas minta–" Tampak tangan Mas Toha gemetar. Dia seperti tak percaya dengan apa yang dilakukannya barusan.
"Keluar!" bentakku keras. Aku menatap nyalang Mas Toha. Jari telunjukku mengarah lurus ke arah pintu utama.
Wajah Mas Toha seketika pucat pasi mendengar ucapanku barusan. Tanpa sadar tindakannya barusan baru saja membangun macan betina yang telah lama tidur panjang. Aku, wanita tersebut. Wanita yang menaruh kepercayaan besar terhadap suaminya hingga menyerahkan semuanya pada laki-laki tersebut. Aku hanya mempunyai Mas Toha dan keluarganya sebagai tempat bersandar. Orang tua telah lama pergi. Saudara tidak ada karena merupakan anak tunggal. Sedang keluarga lain berada di tempat jauh, berbeda kota.
"Haura, sabar, Nak. Semua bisa dibicarakan baik-baik." Aku menahan langkahnya yang ingin mendekat kembali. Telapak tanganku yang berbicara. Langkah Ibu terhenti seketika.
"Dek, Mas minta maaf. Mas tadi refleks karena kamu juga menghina Ibu. Mas tidak bisa mendengarnya. Kamu sudah keterlaluan." Mas Toha yang ikutan ingin mendekat terpaku di tempat saat aku memundurkan badan ke belakang, isyarat menjauhinya, tak ingin didekati.
"Keluar kalian dari rumahku! Aku tidak ingin melihat kalian masih di sini." Mana kunci mobil Mas, serahkan! Itu punyaku!" desakku meminta barang yang terlahir dari uangku.
"Nggak, Dek. Kamu salah paham. Sumpah, Mas tidak ada hubungan apa pun dengan Diana selain cuma mantan. Percayalah!" Mas Toha berusaha memegang erat tangank, meyakinkan ku agar percaya padanya. Ingin menepis tapi tak kuasa. Cengkramannya terlalu kuat.
"pergi!"
Aku masih memintanya pergi. Hati ini sudah membeku untuk memaafkannya.
"Tidak, Dek. Dengar Mas dulu." Tak kuhiraukan. Aku berlalu masuk ke dalam kamar setelah berhasil melerai cengkraman tangannya.
"Dek, maaf. Semua bisa kita selesaikan baik-baik," teriaknya.
Mas Toha mengekor langkahku masuk ke dalam kamar sambil menggumamkan kata maaf berulang kali. Namun kuabaikan. Tanganku sibuk mengambil semua pakaian Mas Toha dari dalam lemari dan memasukkannya dengan cepat ke dalam koper besar.
"Dek, please. Jangan seperti ini." Suara lembut nan lirih tak membuatku tersentuh. semua yang ingin kumasukkan, dikeluarkan kembali oleh Mas Toha. Namun kudorong tubuhnya agar menjauh.
"Sekarang pergilah!" Semua pakaiannya berhasil kumasukkan ke dalam koper dan benda kotak besar persegi panjang itu kuarahkan padanya. Badannya kudorong sampai keluar kamar.
"Haura! Haura sayang, jangan usir Toha. Kamu salah paham, Nak. Toha tidak selingkuh, tapi Diana lah yang suka menggoda suamimu. Wanita itu yang sering mendekat dan minta uang melulu. Ibu sudah sering menasihati tapi dia tak peduli. Toha baik padanya cuma karena Baim. Percayalah, Nak."
Ibu berusaha membela Mas Toha lagi. Mau betul atau salah, aku tak mau tahu. Yang jelas, Mas Toha dan ibunya harus segera pergi dari rumah ini.
"Ibu juga, pergilah Bu. Ikutlah bersama anakmu karena aku tak mengizinkannya tinggal di sini lagi. Begitu pun Ibu."