"Baik, kami akan pergi! Haura, kamu pasti menyesal telah mengusir kami seperti ini, ingat itu!"
Tangan Mas Toha menunjuk-nunjuk ke mukaku. Raut wajahnya penuh kemarahan. Mas Toha lalu menarik tangan ibunya untuk memaksanya ikut pergi. Satu tangannya memegang koper.
"Tunggu, Toha!" Ibu mertua yang bersuara. Aku enggan menatap wajahnya. Entah apa lagi maunya jadi menahan pergi.
"Apa lagi, Bu? Tidak perlu mengemis pada wanita angkuh sepertinya. Dia pasti nyesal Bu, karena telah memperlakukan kita seperti ini." Mas Toha menyahut tidak terima. Nada bicaranya meninggi menunjukkan kekesalan yang besar padaku. Aneh. Seharusnya aku yang marah di sini, bukan dia. Kenapa suamiku itu seolah merupakan korban?
"Tas Ibu masih di dalam kamar. Ibu mau ambil sebentar," ujar Ibu, membuatku ingin tertawa. Mas Toha salah paham. Dikira laki-laki itu, ibunya menahan pergi karena ingin memintaku memaafkannya. Ternyata salah besar. Ibunya malah ingat pada tas yang datang bersamanya.
Dari ekor mataku, dapat kulihat Mas Toha menatapku tajam. Namun tak kuhiraukan. Malas juga membalas tatapannya. Aku memilih menatap ke lain.
"Sudah, Bu?" Jangan sampai ada yang ketinggalan!" Mas Toha mengingatkan ibunya yang baru keluar dari kamar tidur. Hanya tas jenis shoulder bag miliknya sendiri yang dibawanya dari dalam kamar tamu.
"Ra, tidak bisa dibicarakan baik-baik lagi, Nak. Ibu yakin ini cuma salah paham." Ibu mertua kembali membujukku, tapi aku enggan untuk menyahut. Diriku masih terpaku di tempatku berada, tak menoleh sedikit pun pada yang sedang berbicara.
"Sudah, Bu. Ngapain lagi bicara padanya. Nanti juga dia nyesel sendiri. Hanya Toha, Bu, suami yang bisa memahaminya. Suami pengertian dan masih mau setia meskipun dia belum bisa ngasih anak buat Toha."
Aku tersenyum sinis ke arahnya yang membanggakan diri sendiri. Menyebut diri setia padahal mulai mendua, entah sejak kapan. Andai pesan itu tak k****a, pasti sampai kapan pun aku jadi istri yang bodoh di matanya. Paling pengertian. Seolah suami yang paling baik saja. Aku pun bisa menyombongkan diri. Istri mana yang mau dinikahi oleh laki-laki yang baru saja kehilangan pekerjaan? Yang masih setia menemaninya dari nol dan punya harapan suaminya bakal dapat pekerjaan lagi. Itu aku. Belum lagi memberi kepercayaan penuh dengan merelakan aset harta dikelola oleh suami sendiri. Ingin sekali kuluapkan kalimat tersebut padanya, tapi malas. Mulut enggan membuka kembali. Rasanya lelah mendera tidak hanya hati, juga fisik.
Ibu terdengar menghela napas berat. Lalu terdengar derap langkah berirama berjalan pergi menjauh.
"Tunggu!" ujarku menahan langkah mereka.
Keduanya berbalik menghadapku dengan dua raut wajah berbeda. Sama-sama tersenyum tapi dengan arti yang tak sama.
Ibu mertua terlihat tersenyum lega sedang Mas Toha memandangku remeh dengan satu sudut bibir terangkat ke atas.
"Ya, Nak?" Ibu bertanya ramah.
"Sudah kuduga. Apa?" Mas Toha bicara ketus.
Aku menghampiri mereka.
"Kunci mobil, mana?" Tanganku terulur ke hadapan Mas Toha.
Raut wajah senang lenyap sudah dari wajah keduanya terutama Mas Toha yang mengira aku menyesal hingga menahan kepergiannya.
"Ini?!" Dengan kasar kunci mobil dikembalikan Mas Toha kepadaku. Kulihat Ibu mertua cuma geleng-geleng kepala di sebelah Mas Toha. Terserah kalau dianggap keterlaluan. Apa yang mereka lakukan padaku lebih dari kata keterlaluan.
Kuantarkan kepergian mereka dengan mengekor langkah keduanya dari belakang. Dengan menjaga jarak. Memastikan mereka memang telah pergi dari rumah ini.
Tampak saat berjalan, Mas Toha menelpon seseorang. Terserah, aku tidak peduli kalau yang dihubungi Diana, mantannya. Andaipun akhirnya dia kembali pada mantannya itu, aku juga tak masalah. Yang jelas, ceraikan dulu aku, baru setelah itu terserah apa yang akan dilakukannya nanti.
"Izinkan kami disini dulu untuk lima menit. Aku sudah menghubungi taksol dan secepatnya kami akan pergi."
Suara Mas Toha terdengar lembut, tak sekasar sebelumnya dan itu dalam hitungan detik berubah. Ternyata mudah sekali baginya mengubah suasana hatinya, tidak sepertiku yang masih merasa perih karena luka yang digoreskan olehnya. Untuk tersenyum tulus pun rasanya sulit.
Aku tak menjawab iya, tak juga menolak. Aku hanya diam tanpa mengatakan apa pun, lebih memilih masuk ke dalam rumah. Pintu segera kututup dan membiarkan mereka tetap di depan teras menunggu taksol pesanan datang.
Bersandar di belakang pintu rumah, aku merosot ke bawah, terduduk bersimpuh menyedihkan. Menangis dengan bibir tertutup rapat tak ingin mengeluarkan suara. Aku tidak ingin kelemahanku ini sampai terdengar oleh mereka yang masih di depan teras rumah. Mereka pasti akan menertawakanku. Setelah ini tidak tahu seperti apa nasib rumah tanggaku. Memang benar, aku belum menemukan bukti jelas soal perselingkuhan Mas Toha, tapi hati sudah meyakini hal tersebut telah terjadi. Insting seorang wanita tak pernah salah kalau masalah hati.
'Bangun, Haura! Jangan larut dalam kesedihan. Masih banyak hal yang harus kulakukan.'
Aku menyemangati diri sendiri. Tidak boleh lemah dan berputus asa. Banyak hal yang mesti diselesaikan dulu sebelum menggugat cerai Mas Toha. Kuhapus jejak air mata. Segera bangkit dan mengintip keadaan depan teras rumah dari kaca jendela ruang tamu. Sudah tak terlihat dua sosok berlainan gender tersebut di sana. Sepertinya telah pergi. Kubuka pintu guna memastikannya.
Aku menghela napas lega lalu kembali masuk ke dalam rumah.
"Windy, siapkan buku jurnal keuangan restoran. Aku segera ke sana!"
Aku menghubungi Windy untuk memberitahukan padanya kalau aku akan ke restoran agar dia tidak kebingungan menyiapkan semuanya. Aku ingin setelah sampai sana, semua yang kuinginkan siap di depan meja.
"Apa, Bu? Ke sini? Kenapa?" tanyanya dengan penuh keterkejutan. Nadanya terdengar aneh di telingaku. Kenapa harus bertanya seperti itu? Kenapa juga harus terkejut. Bukankah biasa, pemilik restoran mengunjungi restorannya sendiri?
"Kenapa? Memang tidak boleh aku ke sana?" tanyaku balik dengan nada ketus. Moodku lagi tak baik.
"T–tidak, Bu. Boleh, kok." Windy bicara terbata. Membuatku makin curiga.
"Kalau ada Pak Toha ke restoran, jangan izinkan ke meja kasir apalagi masuk ke ruang kerjanya. Kunci ruangannya juga dan pegang kuncinya dengan baik. Mungkin hari aku tidak jadi ke restoran. Bisa besok. Entahlah, aku lagi tak enak badan, Win," ujarku berbohong.
"Oh, kenapa Bu? Kok Pak Toha tidak diizinkan masuk ke ruangan sendiri?" Pertanyaan Windy membuatku makin kesal.
"Harus ditanyakan?" Nadaku menekan. Sengaja kulakukan agar orang di seberang sana segera paham dan tidak perlu bertanya lagi secara detail.
"Eh, maaf, Bu. Maaf banget. Iya nggak ada masalah. Itu hak Ibu. Boleh-boleh saja."
"Ya sudah, kututup. Jaga restoran kita dengan baik dan ingat pesanku tersebut!"
"Baik, Bu." Jawaban di seberang sana, membuatku menutup teleponnya.
'Aku harus segera ke restoran. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan di sana.'