bc

Love ama, Dokter

book_age18+
78
IKUTI
1K
BACA
mafia
doctor
drama
heavy
genius
icy
witty
expert
realistic earth
slice of life
like
intro-logo
Uraian

WARNING : Mengandung unsur dewasa, mohon bijak memilih bacaan. Terima kasih..

Ada alasan kenapa Aku menjadi seorang Dokter. Namaku Luciana Exccmerald, aku terbiasa dipanggil Luca oleh semua orang. Ayah yang memberikan nama itu sebagai kenangannya yang tertinggal oleh sosok ibu yang telah meninggal. Dari kecil aku terbiasa di rawat oleh Nani atau yang sering di panggil ibu asuh.

Saat balap liar aku mengalami kecelakaan Ayahku yang mendengar langsung pulang untuk melihat keadaanku namun, sebuah truk menabrak mobil yang dia kendarai hingga tewas. Aku sadar ada permainan disana..

Berjalan waktu akhirnya aku bertemu dengan gadis kecil yang membuat duniaku benar-benar teralih. Gadis kecil itu membuatku menjadi Pria serba salah..

Aku akan menunggunya dewasa tapi, kalau nanti dia memilih yang lain pun. Aku cukup bahagia walau hanya melihat senyumnya.

“Crisya” gumamku sambil menutupkan mata.

***

Apa kisah mereka akan terhubung satu sama lain? Ikuti kisah mereka ya..

By. Violina Melody

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Love Ama, Dokter
Namaku Luciana Exccmerald, aku terbiasa di panggil Luca oleh semua orang. Ayah yang memberikan nama itu sebagai kenangannya yang tertinggal oleh sosok ibu karena, ibu telah meninggal setelah melahirkanku. Dari kecil aku sudah diasuh oleh nani atau yang sering dipanggil ibu asuh. Ayah yang sibuk berkerja kadang tak sempat memperhatikanku atau memang dia sengaja menjauh. Kata Nani aku sangat mirip dengan ibu mungkin itu yang membuat ayahku sedih setiap melihat diriku. Perlahan aku mulai tumbuh dengan rasa sepi walau semua hal sudah lebih dari cukup, pendidikan berkualitas, membuatku harus memberikan sesuatu dengan sempurna. Bukan karena sebuah tuntutan tapi, saat aku mendapatkan nilai terbaik. Saat itu aku berharap ayah datang hanya sekedar tersenyum lalu mengelus sayang pucuk kepalaku. "Tuan muda..." Nani datang memandangku yang masih belum turun dari atas panggung. Dia menggeleng membuatku sadar tak ada gunanya berlama-lama berdiri menunggu sosok yang aku harapkan hadir. "Luca.." panggil ibu guru yang mau menyerahkan piala penghargaan terkejut melihatku turun dan menjatuhkan medali yang tadi melingkar di leherku. Menginjak masa puber aku sengaja menjadi nakal menganggu beberapa anak perempuan, bolos sekolah, serta berkelahi dengan anak sekolah lain. Bahkan sempat dibawa kekantor polsek karena, terlibat tawuran. Malah paman San, sang tangan kanan Ayah yang datang mengurus semua masalahku sedang orang yang harusnya dipanggil ayah bahkan tak pernah nampak di permukaan. "Apa dia sudah mati..?" asalku langsung mendapat pukulan tepat di kepala. "Dasar anak nakal. Yang anda panggil dia mati itu Ayah anda, tuan muda." omel paman San kesal. "Aku sering melihat paman. Apa jangan-jangan aku ini anak paman?" "Berhenti bercanda, aku harap ini terakhir anda melakukan masalah. Jadi tuan muda tak perlu melihat wajah saya sesering ini." Pinta paman San serius. "Hah, mereka itu hanya besar mulut saja. Lihat giliran diladeni main lapor orang tua. Dasar tukang adu.." "Tuan, sebentar lagi anda naik kelas 3.. kurang-kurangilah, jaga sikap anda. Seingat saya waktu kecil anda lebih dewasa dari pada sekarang..?! Tuan besar itu sayang lo sama tuan muda." Aku hanya diam. Waktu kecilku yang diisi oleh rasa sepi, sendiri dan tak ada siapapun kecuali, pelayan. Aku tak mau kembali kemasa lalu yang suram. Sekarang aku mempunyai banyak teman walau hampir semua hanya sebatas ingin memanfaatkan kekuasaan yang aku punya. Paman san mengantar tepat di depan gerbang tinggi, sang penjaga pintu depan tau siapa yang diantar. Aku turun membanting pintu mobil tak perduli saat paman San meneriakan sesuatu dan langsung masuk perlahan menatap rumah mewah yang menjadi tempat tinggalku. Setelah selesai membersihkan diri dan menyantap makanan yang disiapkan Nani, aku kembali kekamar mengecek beberapa pesan di ponsel. Beberapa panggilan tak terangkat terlihat, dari Aji lalu Agus dan Apri.. Aku tertawa. Si Triple A menelpon bergantian tadi. Aku menekan tompol telpon berusaha menghubungi salah satu dari mereka. "Ada apa?" tanyaku cepat seperti biasa. "Dude, Apri kena masalah. Dia taruhan sama genk Juna yang menang boleh tidurin Monica." "KALIAN GILA, itu anak orang kok jadi bahan taruhan?" bangkitku menarik kaos dari dalam lemari serta jaket kulit hitam. "Apri kepancing omongan Ryo. Katanya kalau balapan taruhannya mesti motor sepaket sama pacar semalam." Jelas Agus yang merebut telpon Aji. "GILA, EMANG BELI SABUN CUCI GRATIS SABUN COLEK APA.."omelku mengambil kunci motor bergegas keluar. "Tengah malam ini kami menuju sirkuit, gimana ini Luca..? motor kita semua nggak bakal bisa nandingi mesin motor mereka. Kalau kita mundur markas kita di hambur sama mereka.." jelas Aji merebut telpon dengan kasar dari tangan Aji. "Sabar aku kesana. BODOH KALEAN.." menghidupkan mesin motor tak menghiraukan Nani yang dari tadi memanggil. *** Hawa dingin mulai menusuk setiap sendi kulit, aku lirik jam yang melingkar di pergelangan tangan tepat jam 11 malam. Suara gaduh terdengar di samping ruang tak terpakai, markas kami adalah rumah yang sudah lama di tinggalkan dan jauh dari pemukiman. Namun, akses untuk menuju tempat ini lumayan enak membuat kami sepakat kalau tempat ini adalah wilayah kami. "Luca, kau mau?" tawar Agus muncul dari ruang sebelah sembari memperbaiki celana Jeans yang berantakan. Aku hanya menggeleng. Sama sekali tak berminat. "Kenapa? Kamu nggak suka Monica?" tanyanya duduk di sampingku lalu memberikan bungkus rokok Marlboro ice. Aku mengambil sebatang lalu kami menyalakan sambil menyesap bersama, membiarkan ruangan tengah hening dan hanya suara desahan yang makin menjadi di sebelah. "Aku nggak suka SALORA" singkatku. Agus melirik binggung. "Satu lobang rame.."singkatku membuatnya mengangguk mengerti. Tak berapa lama Aji dan Apri muncul keruang tengah dengan wajah nampak berseri dan lelah. Aku ingin sekali menghajar mereka, merasa kasian pada Monica yang terus-terusan digilir. "loh, Prio belum datang?" tanya Apri. "Belum, masih jemput Febby." Jawab Agus. "Mereka nggak di cari apa ama orang tuanya. Bawa anak gadis orang sampai tengah malam gini?" tanyaku heran. "Gadis sih..dalemnya udah nggak gadis, wkwkwkwkwk.." tawa mereka berbarengan. Monica keluar setelah selesai membersihkan diri. Masih terlihat cantik melebihi usia yang seharusnya. Bahkan pakaiannya sangat diragukan sebagai pakaian karena, dibantu oleh jaket Aji setidaknya dia masih lumayan pantas untuk di lihat. "Gue ngekos kok, ortu di kampung. Di kota mesti mandiri susah cari duit, kalau mau cepat ya gini..diengkol atau gua yang engkol.." jelasnya tanpa malu. Aku hanya mengangguk mengerti. Monica tak terlalu menakutkan untukkku, dia gadis bar-bar yang sesuai dengan kenyataan dan omongan. Aku lebih takut dengan gadis pendiam menhanyutkan yang akan menusuk dari belakang seperti.... "Hai guys..." Suara lembut orang yang aku maksud muncul, gadis mungil dengan wajah kecil rambut hitam pendek terlihat imut dan natural. Seolah gadis ini sangat tak pantas untuk masuk kawanan anak nakal seperti kami. "Hai, Febby.." "loh, Prio mana?" "Itu masih di belakang lagi bawaain kalian makanan. Ada martabak manis juga.." Suprio datang sambil membawa beberapa bungkusan, menjejerkan semua pada Pan yang ada dihadapan kami. Beberapa anak langsung menyerbu makanan yang di sediakan. Prio duduk di dekatku lalu menarik tangan Febby dan mendudukkannya diatas pangkuannya. Febby terlihat rishi namun tak menolak sekilas kulihat Febby seolah menatapku seperti menginginkan sesuatu. "Kalau dia?" tunjukku pada Febby membuat semua meliriknya. "Febby izin nginap dirumah Rere ya..?" tanya Aji cepat. Febby mengangguk seolah tak mengerti. "ohh..jadi izin ortu nginep rumah temen taunya keluyuran ampe pagi gitu.."sindirku tepat membuatnya salah tingkah dan malu-malu. "Udahlah bro, itu urusan aku sebagai lakinya. Mending kita bahas soal balapan yang akan diadakan bentar lagi. Yang turun di sirkuit siapa?" tanya Prio mengalihkan pembicaraan. "Ya, diantara kalian berdua kan tau sendri skill balap kami betiga gimana..?! aku nggak sengaja juga ngeiyain itu tantangan." Jelas Apri. "lah, udah tau nggak bisa balapan. Ngapain loe sok jago ngeiyain.."omelku memperhatikan dia yang asik mengunyah. "yaudah, biar gue aja. Berisik kali kalean ini.." solusi Aji. "Nggak, nggak pake..inget..inget yang masuk kita kapolsek tadi pagi siapa? Motor di ambil ulah siapa?kita sering sial ulah siapa?" sindir Prio melihat itu anak nampak tak berdosa. "Yeaa, aku kan Cuma kasih solusi." Ucapnya kesal. "ya udah kita liat entar aja." Putusku membuat semua kembali diam dan memilih makan. Tepat tengah malam kami sampai di sirkuit, lokasi sepi sebuah jalan raya yang sering dibuat sebagai ajang balap liar para anak nakal. Bukan hanya para lelaki tapi, perempuan serta anak remaja muncul di area sekitar seolah ingin menyaksikan pertandingan balap yang sebentar lagi diadakan. "hai guys..." Seorang pria dengan senyum ramah mendekati kami, disusul beberapa kroco serta anak buahnya.. "Gimana?gimana? sudah siap kalah?" tanyanya sangat pede. "Jaga tu moncong...!!entar kalah nangis.."balas Aji tak terima. "Kayaknya ada yang nggak belajar dari pengalaman. Aku kira keras ternyata lemas.." olok Ragil salah satu tangan kanan Juna. "Hai Monica sayang, siap-siap ya kami udah nggak sabar.."melirik Monica sambil mengoyangkan lidah dengan kurang ajar. "Kamu bosan HIDUP ya..?" tanya Apri maju ingin menghajar Ragil membuat Agus serta Aji menahan tubuhnya, sementara Juna hanya tertawa ngakak. "Jangan panas sekarang, ini baru mau di mulai." Ucap Juna perlahan meminta para anak buahnya bergerak pergi. "Sampai berjumpa disirkuit, dude.." lalu berbalik sambil mengerlingkan mata pada Febby membuat Prio pun jadi panas. "Biar aku yang maju?" ucap Prio yakin. "kau yakin?" tanyaku merasa aneh dengan hari ini. Beberapa pertandingan sedang berlangsung makin mendekati urutan membuat semua makin deg-degan, aku melangkah menuju tempat motor yang akan di persiapkan menuju urutan balap. Sementara Prio sedang dipersiapkan untuk menuju sirkuit.. Aku melihat sekitar lalu tak menemukan sosok Febby, anehnya tak satupun yang merasa kehilangan sosok gadis mungil itu. Apa mungkin karena teralu tegang dan gugup? Melangkah menyusuri sekitar yang sangat ramai oleh para pria, sangat takut Febby mengalami kejadian buruk ditempat berbahaya seperti ini. Sampailah dikawanan area genk Juna membuat diriku tak bisa masuk lebih dalam. Saat ingin berbalik pergi oleh tatapan tak bersahabat, sosok mungil itu keluar dari dalam rumah kosong yang dijadikan markas sementara mereka di-area sirkuit jalanan. Aku langsung bersembunyi. Febby mengangguk saat melewati beberapa pria genk Juna, siulan serta godaan tak dia hiraukan seolah tak takut sama sekali melangkah menuju area motor yang di persiapkan untuk balapan. Beberapa panitia balapan menghentikan langkahnya, berbicara sebentar lalu dengan mulus dia melewatinya. Dari kejauhan serta gelapnya pencahayaan Aku dapat melihat Febby melakukan seuatu dengan motor yang sebentar lagi akan dipakai untuk balapan. Saat dia melangkah keluar ingin menuju tempat berkumpul aku langsung menarik tangannya kasar. Pisau lipat terjatuh, belum epat dia simpan dengan benar didalam saku. Aku terdiam lalu menatapnya serius, seolah sadar aku ingin meminta penjelasan. "Aku cinta sama kamu tapi, aku lakuin ini semua demi kamu.."ucapnya jujur dan langsung. "LOE GILA YA?" bentakku lantang. Seseorang menarik pundakku paksa dan... BUAAAKKKKK..... Pukulan mentah itu menghantam wajahku dengan keras, wajahku langsung dipaksa menghantam tanah dengan tubuh besar yang menindihku. Melayangkan pukulan demi pukulan.. Febby berteriak lalu menjerik meminta Prio berhenti memukuliku, Aji langsung memeluk Prio yang kesurupan ingin kembali menghajarku. Sementara Agus langsung membantuku berdiri sembari merobek baju putihnya untuk dipakai melap darah yang mengalir dari bibirku. Febby dengan cepat mendekatiku bukan Prio yang menjadi pacarnya auto aku dengan cepat menepis tangannya. "Makan teman loe ya..? Gue udah anggap kayak saudara, tega..?" maki Prio marah besar. "SUMPAH, gue nggak tau. Kepala cewe loe aja yang geser.." makiku tepat di wajah Febby. Prio langsung mendekatiku lalu menarik Febby yang tak mau pergi dan memaksanya pergi dari tempat ini. Cewe sialan, sudah aku duga gadis yang terihat pendiam begitu maah lebih berbahaya dari pada gadis yang terlihat kasar. "Sial, nomor kita dipanggil dari tadi.."ucap Apri mulai panik sambil melirik satu sama lain. Agus langsung melirikku. Seolah dia seerti mengerti pikiranku. "Jangan.." cegahnya langsung kudorong tubunya. Dengan tertatih aku tak menghiraukan larangannya, melangkah menuju tengah jalan tempat semua motor diparkirkan. Disana hanya satu motor yang belum bertuan, suara teriakan untuk memulai start terdengar rusuh. Makian demi makian dilontorkan karena menjadi penyebab terlambatnya memulai pertandingan. Pasukan Juna nampak tertawa menyaksikan aku yang berusaha tetap tenang sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuh. Hitungan mundur dimulai saat gadis sexy muncul ditengah sirkuit sambil membawa syalnya berwarna merah. "3...2..1...." Saat syal itu terlempar aku langsung menaikkan gas pada motor melesat mengikuti jalan yang sudah di tentukan bersama para pembalap lainnya. Tak kuhiraukan rasa sakit yang aku rasa kupacu lebih lagi hingga membuat kecepatan motor melebihi batas maksimal. Genk Juna kelabakan hingga terus memacu motornya sampai batas maksimal tapi, masih tak bisa menggikuti kecepatan motor yang aku pacu. Sampai garis finish terlewat motor yang aku kendarai tak berhenti, rem yang aku tekan dari tadi tak bisa dipakai. Sial... Dari kejauhan suara sirine mobil polisi membuat acara kumpul itu bubar, seketika gerombolan semut menjadi terhambur kocar kacir. Apri, Aji, lalu monica langsung lari sementara, Agus merasa ada yang aneh oleh motor yang aku kendarai. Aku yang tak kuat menabrak batu di pinggir jalan, membuat motor dengan kecepatan penuh itu oleng kepinggir menabrak sebuah dinding batu. Tubuhku melayang menghantam keras kelantai hingga, membuat mataku kabur.. "Luca....LUCA....LUCA..." teriakan Agus perlahan menghilang. *** Salam Author, ------------- Hi, guys.. Terima kasih sudah membaca karya kedua saya. Jangan lupa beri love, follow dan ikuti cerita lengkap Luca dan Crisya.. By. Violina Melody

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Scandal Para Ipar

read
708.1K
bc

Marriage Aggreement

read
87.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

JANUARI

read
49.1K
bc

Menjadi Orang Ke Tiga

read
5.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.5K
bc

TERNODA

read
199.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook