"Jangan berhenti sebelum kamu dapet apa yang kamu inginkan." lanjut Kinan dengan pemilihan kata yang kaku. Dia sendiri masih bingung dengan mulutnya yang lancar berbicara.
Arya menarik napasnya dalam-dalam lalu memeluk Kinan dengan erat. Menciumi rambut istrinya yang wangi. Dia paham dengan maksud ucapan Kinan tadi. Dia senang, tentu saja, tapi dia juga tidak mau jika Kinan menyerahkan dirinya karena terpaksa. Hanya karena wanita itu harus melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri. Arya akan menunggu sampai rasa takut Kinan hilang dan saat Kinan benar-benar siap. "Nggak usah buru-buru. Kita bisa ke Psikiater dulu supaya trauma kamu ilang. Aku nggak masalah, kamu ada di samping aku aja, aku udah seneng."
Kedua mata Kinan tampak berkaca-kaca. Ucapan Arya merasuk sampai ke relung hatinya. "Nggak perlu ke Psikiater. Aku udah nggak takut sama kamu."
"Kalau takut mana mungkin mau dipeluk kayak gini. Mana mungkin tadi meluk duluan." tukas Arya yang membuat pipi Kinan bermunculan semburat merah. "Jangan mikirin aku. Yang penting itu kamu. Kamu bisa bilang udah siap, tapi aku nggak tahu yang sebenarnya kamu rasain. Aku nggak mau kalau jiwa kamu tersiksa." lanjutnya serius, tapi tetap santai.
Kinan semakin mengeratkan tangannya yang berada di pinggang pria itu. Semakin masuk kedalam dekapan hangat sang suami. Menyelami kehangatan dari d**a bidang itu. Mana mungkin dia bisa mengabaikan pria ini lebih lama. Walaupun memang kenangan pahit itu sering tiba-tiba muncul saat mereka akan berhubungan. Tapi Kinan juga sudah memohon pada Sang Maha Pencipta agar segera menghapuskan kenangan malam kelam itu. Berdoa agar ia bisa menunaikan kewajibannya yang tertunda. Dan Allah memang Maha Pemurah yang mau mengabulkan semua permohonannya. Kemarin malam ketika Arya memulainya seperti biasa, Kinan sudah siap jika mereka akan sampai jauh. Anehnya sudah tidak ada bayangan-bayangan mengerikan itu lagi. Padahal peristiwa kelam itu terjadi di sini, di atas ranjang ini. Tapi, ternyata Arya hanya menciumnya seperti biasa. Pria itu mundur sebelum tangan Kinan mendorongnya menjauh. Lalu merengkuh tubuh Kinan untuk memasuki alam mimpi bersama-sama. Arya tak menyadari perubahan tubuh Kinan yang sudah tidak bergetar takut lagi.
"Makasih, ya, Mas. Udah mau mengerti aku."
"Heem. Ayo tidur."
Kinan tiba-tiba mendongak dan membuat Arya mau tak mau balas menatapnya. Jarak mereka teramat sangat dekat. Dan jujur saja, Arya tidak kuat.
"Kamu nggak mau cium aku, Mas?" tanya Kinan yang langsung menyesali ucapannya itu dalam hati. Pipinya sangat merah karena menahan malu.
Senyum simpul Arya tertahan. Kenapa istrinya ini menjadi sangat menggemaskan jika sedang seperti ini? Pria itu lalu sedikit menunduk agar bisa meraih bibir tipis yang terkatup itu. Bibir manis tanpa perona warna.
Cukup lama ia melakukannya karena Kinan yang masih terus melingkari pinggangnya. Istrinya itu juga membalas lumatannya meski sangat payah. Dan Arya merasa jika pertahanannya sudah mulai goyah. Apalagi saat Kinan tetap mempertahankan tangannya ketika ia akan menarik diri.
×
"Maaf, hanya anda yang bisa saya hubungi. Mas Elyas dan Mas Dean nomornya tidak aktif."
"Ya, saya akan segera ke sana. Tolong dijaga dulu, jangan dibiarin pergi sendiri." ucap Arya lalu memutus sambungan telepon dari seorang pelayan bar langganannya dulu.
"Kenapa, Mas?" tanya Kinan dari balik selimut tebalnya. Baru setengah jam ia memejamkan mata, tapi dering handphone milik suaminya sudah mengusik.
Arya menoleh sekilas sambil memunguti pakaiannya sendiri. "Raka mabuk terus berantem di bar. Aku harus ke sana jemput dia."
"Iya, nanti sekalian yang dari Tiara dibawa, ya." ucap Kinan lalu menarik selimut menutup seluruh wajahnya yang merona. Bagaimana tidak, Arya berjalan santai menuju kamar mandi hanya dengan dalamannya saja. Oke, mungkin mereka memang sudah sah dan halal. Tapi bagi Kinan, hal seperti itu masih sangat tabu. Dia masih malu jika melihat Arya yang bertelanjang d**a apalagi hanya memakai pakaian dalam seperti tadi. Dia juga sangat malu karena kelakuannya menahan Arya tadi.
Sekian menit Arya di kamar mandi dan Kinan yang masih mencoba menetralisir aliran darahnya yang memuncak dibawah selimut. Tiba-tiba selimut itu ditarik hingga menampakkan wajahnya yang masih merah.
"Ngapain ditutup, nih muka kamu jadi merah semua." Arya duduk di samping Kinan dan merapikan rambut yang menutupi wajah merah istrinya itu. Dia telah memakai pakaian yang baru dari lemari. Tidak mungkin dia memakai bajunya yang bau keringat itu lagi. "Aku berangkat, ya. Nggak pa-pa, kan, tidur sendiri?" tanyanya karena Ara tidak ada di antara mereka.
Tanpa kata, Kinan mengangguk-angguk berharap Arya segera pergi dan agar wajahnya tidak semakin panas.
Arya menunduk, mencium dahi Kinan yang sedari tadi dielus-elusnya. Turun ke pipi kiri dan berlanjut ke bibir tipis yang terkatup rapat itu. Arya melumatnya pelan-pelan.
"Mas." Kinan mendorong d**a Arya yang berat. "Kasihan orang yang telpon tadi nungguin Kak Raka nya kelamaan kalau kamu nggak cepet ke sana." ucap Kinan karena Arya melumat bibirnya sudah cukup lama. Dia bukan mau jadi istri durhaka yang menolak keinginan suami. Tapi, ada hal yang lebih penting dan darurat daripada kebersamaan mereka saat ini. Dan juga, biarkan dia istirahat dulu.
Bibir Arya mencebik, jika saja Raka tidak sedang membutuhkan bantuannya. Dia pasti sudah menyerang istri manisnya itu lagi. Istrinya yang polos benar-benar membuat malamnya panas. "Iya, bajunya dipakai biar nggak kedinginan soalnya nggak ada yang meluk nanti pas bobo."
"Mas." jerit Kinan karena digoda Arya.
"Aku mau nunggu dia sampai sadar. Ada yang mau aku omongin sama dia."
Kinan mengangguk lagi. Kemarin saat sampai di Jakarta, Dian telah memberikan titipan Tiara. Semua isinya untuk Raka, ada jas hitam, dress pesta dan dress floral serta cincin berlian. Kinan dan Arya sama-sama tidak mengerti maksud Tiara menitipkan itu untuk Raka. Pasangan suami istri itu tidak tahu sudah sejauh mana hubungan mereka. Namun, dari hati mereka yang terdalam, mereka berdoa untuk kebahagiaan Raka dan Tiara.
"Makasih, ya."
"Maksudnya?" tanya Kinan tak mengerti.
"Makasih udah bikin aku panas dingin."
Plak.
Bersambung.