7. Gamis

1277 Kata
"Kita mau ke mana, sih, Mas?" Arya tersenyum misterius saat sang istri terus memburunya dengan pertanyaan yang sama di sepanjang jalan semenjak mereka keluar dari halaman rumah. Pria itu tak kunjung menjawab hingga cubitan kecil mendarat di pinggangnya. "Aduh." ucapnya sambil meringis pura-pura kesakitan. "Kenapa tadi aku nggak boleh ngajak Ara?" Kinan mengajukan pertanyaan lain saat pertanyaannya yang berulang tak mendapat jawaban. "Mas!" "Sayangku, kita ini mau pacaran. Masa ngajak anak, sih." sahut Arya kala mendapat sambaran maut dari wanita berhijab coklat di sampingnya itu. Kinan mengalihkan pandangannya, tak menatap Arya lagi untuk menyembunyikan rona merah di kedua pipi. Lemah sekali hatinya, digoda begitu saja sudah meleleh. Laju mobil sedan silver metalik itu mulai melambat dan menepi, lalu berbelok masuk ke halaman depan sebuah butik, Itu yang Kinan tahu saat ia membaca tulisan di tembok bangunan tiga lantai tersebut. "Mau ngapain ke sini?" tanya Kinan ketika Arya mematikan mesin mobil lalu melepaskan sabuk pengaman yang membelit tubuhnya. "Ya belanja lah, emang di butik jual makanan?" Arya malah balik bertanya hal yang tak penting, kemudian mengecup pipi Kinan yang tepat berada di hadapannya. Bibir Kinan merengut, lagi-lagi Arya mengecupnya sembarangan. "Baju aku masih banyak, Mas." Arya yang tengah melepas sabuk pengamannya sendiri itu lalu menoleh, menatap istrinya dengan teduh. "Baju kamu kan banyak yang lengan pendek." "Yang lengan panjang juga ada kok. Rok panjang juga ada." ucap Kinan membela pakaiannya. "Kinan ...." Arya raih tangan kanan istrinya itu dan menggenggamnya erat. Tatapannya masih teduh memandang wajah ayu wanitanya yang dibingkai jilbab syar'i. Sangat cantik dan selalu bisa menenangkan hatinya didalam situasi apapun. "Ijinin aku nafkahin kamu. Ijinin aku menebus semua kesalahan aku." "Apa sih ...." Kinan menarik tangannya yang berada di genggaman sang suami. Dia tidak suka jika Arya mengungkit masa lalu. Menurutnya, yang telah berlalu, ya sudah. Karena tidak akan pernah ada masa depan tanpa masa lalu. Apa yang telah terlewati tidak mungkin bisa diulang kembali. Yang harus diambil dari masa lalu adalah pelajarannya supaya kita bisa lebih maju kedepannya. "Aku nggak suka ya mas kalau kamu ngomongin itu lagi. Aku kan udah maafin kamu. Kita juga udah punya Ara. Sekarang, tinggal gimana kita memperbaiki diri supaya nggak melakukan kesalahan besar lagi." Arya menatap Kinan sambil bersusah payah menahan haru yang bisa dengan mudah menyeruak menjadi tangis. Selalu seperti ini, dia akan menjadi lelaki cengeng ketika mengingat kesalahan fatalnya. Dia merasa beruntung karena Kinan mau memaafkannya dan membalas cintanya dengan sama besar. Arya sangat beruntung memiliki Kinan. "Iya, maaf nyonya." "Dimaafkan." sahut Kinan dengan senyuman merekah. "Ya udah, nggak usah jadi belanja ya." lanjutnya dengan memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi. Tak lupa kedua telapak tangannya menangkup memohon. "Nggak bisa, kamu harus tetep belanja." tolak Arya lalu keluar dari mobil. Mengitari sisi depan kendaraan tersebut untuk sampai di samping pintu seberang untuk mempersilahkan sang bidadari juga ikut keluar. "Maaaassss ...." rajuk Kinan manja sambil memegang lengan Arya, bersikeras tak mau turun dari mobil. "Mau aku gendong?" Arya memberi penawaran menarik, menurutnya sendiri. Kinan menghembuskan napasnya, sebal. Harusnya dia ingat jika tidak akan ada gunanya berdebat dengan Arya si tuan pemaksa itu. Wanita itu lalu turun setelah meraih tas kecil berwarna coklat dengan motif seperti huruf C yang tergeletak di sampingnya. Tas hadiah dari kakak iparnya satu bulan yang lalu. Arya menggandeng tangan Kinan dengan erat, menuntun lebih tepatnya, karena pria itu khawatir jika Kinan akan lari menyetop taksi dan kabur pulang mengingat Kinan adalah perempuan spesies langka yang tidak suka berbelanja. Pernah Arya membawanya ke pusat perbelanjaan. Niat hati agar Kinan membeli semua kebutuhannya. Tapi, Kinan malah mendahulukan kebutuhan Arya dan Ara. Walau Kinan juga memilih kebutuhannya sendiri, tapi jumlahnya jauh lebih sedikit jika dibanding dari total belanjaannya. "Selamat datang Tuan dan Nyonya." sapa seorang pramuniaga yang membukakan pintu kaca untuk mereka berdua. Seorang perempuan berpakaian muslimah dengan paduan warna coral. "Ada yang bisa saya bantu?" "Tolong bantu istri saya milih baju, ya, Mbak." jawab Arya lalu sedikit mendorong Kinan maju, seperti menyerahkan istrinya itu pada pramuniaga berhijab di depannya. "Mari Nyonya ikut saya." ucap perempuan itu dengan gerakan tangan yang mempersilahkan Kinan. "Pilih yang kamu suka, semua juga boleh." bisik Arya saat Kinan menoleh padanya. Pria itu tersenyum ketika Kinan kembali cemberut. × Dua puluh menit berlalu, Kinan sudah kembali menghampiri Arya yang duduk di sofa sambil memainkan gawai. "Mas, udah." Arya mendongak, melihat Kinan yang menggerak-gerakkan dagu sebagai isyarat pada suaminya untuk segera membayar belanjaan. "Cepet amat." "Udah siang, udah waktunya buat Ara makan." kata Kinan beralasan. Padahal dirinya saja yang tak betah berlama-lama berada di butik ini. Beranjak dari sofa empuk itu, Arya lalu berjalan menuju tempat pembayaran yang masih berada dalam jarak pandangnya. Sambil melangkah dia melihat seorang petugas kasir tengah melipat sebuah gamis warna merah maroon beserta jilbab pasangannya. "Berapa mbak?" "Delapan ratus sembilan puluh sembilan ribu, Pak." jawab petugas kasir yang juga berjilbab itu dengan ramah. Dahi Arya mengernyit mendengar ucapan petugas kasir. "Nggak salah mbak?" tanyanya yang langsung dijawab sebuah gelengan oleh perempuan itu. "Bukannya biasanya nggak ada yang kurang dari satu juta, kan?" Arya hapal betul dengan harga di butik muslimah langganan mamanya ini setelah lebih kurang dua tahun mengenakan hijab. "Sedang ada diskon akhir bulan, Pak." Petugas kasir menjawab keheranan Arya. Arya mengangguk-anggukkan kepalanya lalu menoleh pada Kinan yang sudah kembali memasang wajah jutek. "Cuma satu?" "Iya, Mas." jawab Kinan dengan menekankan kata, mas, sebagai tanda bahwa Arya harus cepat. Ibu satu anak itu boleh saja badannya ada disini, tapi pikirannya terpusat pada Ara yang ada di rumah bersama Ibu Ratri dan juga Dian. Apa Ara menangis, sudah makan apa belum dan apakah Ara mau tidur siang dengan nenek ataupun tantenya, begitu pikiran yang menguasai otaknya saat ini. "Terima kasih. Ditunggu kunjungannya kembali." Petugas kasir itu menyerahkan paperbag warna hitam setelah Arya menyelesaikan pembayaran. Kinan tersenyum sementara Arya hanya mengangguk. × "Kamu ini boros banget ya, Mas. Nggak sayang uangnya buat beli baju satu biji sampai satu juta kurang seratus. Tahu tadi aku lama milihnya? Aku milih yang paling murah, Mas, yang di diskon biar nggak mubazir. Biar nggak malu juga udah masuk tapi nggak jadi beli." Kinan memberondong suaminya ketika mereka sudah berada di dalam mobil lagi. Arya melihat Kinan yang bersedekap dengan napas yang memburu. d**a kempas-kempis menahan amarah. Arya sudah hapal betul tabiat sang istri perihal pengeluaran. "Tapi kan sepadan sama bajunya yang bagus, Nan." Seketika Kinan teringat ucapan mbak Ari saat ia menemani kakak iparnya itu membeli martabak dulu. Kinan ingat saat mbak Ari tak mempermasalahkan harga sekotak martabak yang menurutnya mahal. Benar-benar kakak beradik yang kompak. Orang kaya mah, bebas, batinnya "Baju yang harga seratus, dua ratus ribu juga udah bagus, Mas. Mending uangnya buat beli beras. Bisa makan sebulan." omelan Kinan terus berlanjut, bahkan saat Arya memasangkan sabuk pengaman untuknya, Kinan masih tetap mengomel. "Buat beli beras udah ada jatahnya sendiri, Nyonya." jawab Arya sekuat tenaga tak menghujani istrinya itu dengan kecupan saking gemasnya. Kok ada orang seperti Kinan. Sekali lagi, Arya merasa menjadi pria paling beruntung di dunia ini. "Tapi kan bisa beli baju yang sewajarnya aja. Sisanya kita bisa kasih ke orang yang lebih membutuhkan." Nada bicara Kinan mulai rendah. Entah karena emosinya yang sudah stabil atau karena sudah lelah berdebat. "Buat sedekah udah ada sendiri, Sayang." sahut Arya sembari memundurkan mobil sesuai arahan penjaga parkir. "Lagian, masa kamu pakai tas mahal tapi bajunya nggak setara sih." Sisi buruk Arya yang mementingkan gengsi dan gaya masih belum sepenuhnya hilang. "Maksudnya?" tanya Kinan tak mengerti. "Tas kamu itu." "Ini?" Kinan mengangkat tas coklatnya. "Kamu tahu itu harga berapa?" tanya Arya tanpa menoleh dan fokus pada kemudi karena mobil sudah siap masuk membelah jalanan ibukota. "Berapa?" Kinan balik bertanya. "Lima lebih." "Lima ratus ribu?" "Juta." "Astagfirullah ...." Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN