Dengan sisa pashmina, aku menutup separuh wajahku hingga bawah mata. Fikri memaksaku berjalan ke lapangan tenis. Duduk di bawah pohon Angsana yang begitu rimbun. 8 tahun yang lalu aku selalu datang ke tempat ini, rentang bulan Januari hingga April. Di saat aku dan Apta mulai berani bercanda, di saat aku dan Fikri semakin dekat, di saat aku menemukan Risa, Nisa, dan Fadhila. Banyak kenangan indah di sini, tapi kini, semua kenangan itu memiliki pertanyaan. Duduk menghadap ke timur, menghapus air mataku, mengatur napasku. “Mbak Dara kaget, ya?” tanya Fikri memberiku sapu tangannya. Menoleh sekilas, lantas melihat ke arah depan. “Apa sih maunya, Fik? Iya, mbak belum menikah di usia 30 tahun. Tapi bukan berarti dengan candaan begitu dia bisa sesukanya mengejek.” Tersedu-sedu, hampir tersengg

