Musyawarah Terbaik

1185 Kata

Masih terpikirkan olehku, kalimat-kalimat yang Apta utarakan. Kuharap dia tak berpikir lebih gila lagi. Sebagai kakak, aku ingin dia bahagia dengan orang yang tepat, bukan dengan hal gila. “Hah? Maukah kau menikah denganku?” gumamku tertawa sendiri di kamar. Aku sedang mengemas barangku kembali, aku ingin kembali ke Bandung dan bekerja lagi meski masa cutiku masih sangat panjang. Itu lebih baik dibandingkan terus-menerus memikirkan Apta. Bukan pelarian yang salah, kan? “Mbak, mau balik Bandung besok?” tanya Mama masuk ke dalam kamarku. Tersenyum tipis. “Iya, Ma.” “Apa Mbak nggak betah di rumah karena Mama tanya kapan nikah?” “Enggak kok, Ma.” Terkadang memang menjadi beban bagiku, tapi memang wajar kalau Bapak dan Mama terus menerus memintaku untuk menikah. Suara-suara dari tetangga

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN