Melarikan Diri

1168 Kata

Arunika belum sempurna menampakkan bentuknya dari balik Gunung Lawu. Tetapi aku sudah bersiap dengan koperku. Sopir taksi juga sudah menungguku di depan rumah, Bandung tentu sudah siap menerimaku kembali. “Ma, Dara berangkat, ya?” pamitku mencium punggung telapak tangan Mama. Mama mengangguk, mengusap kepalaku. “Kalau ada yang datang, pamali menolak, Mbak. Usia sudah matang. Maaf kalau Mama selalu mengingatkan ini dan membuatmu bosan.” “Iya, Ma. “Stasiun Balapan kan, Mbak?” tanya sopir taksi. Mengangguk. “Iya, Pak.” Aku memang lebih suka naik kereta, kemanapun, rasanya lebih nyaman diam di dalam gerbong kereta. Bahkan sering kali aku mengambil cuti untuk sekadar naik kereta ke Jakarta lalu kembali lagi ke Bandung. Bukan sejak kecil aku suka kereta, tapi sejak aku patah hati dan Ban

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN