Hari Minggu, 21 November 2021, Yogyakarta masih sangat indah tapi kota mimpiku di Bandung. Romansa Yogyakarta masih sangat hangat, bahkan meski jarak mengokohkan rinduku untuk Mas Gayuh. Yogyakarta juga selalu nampak istimewa, bagi siapapun yang berkunjung akan menjadi candu. Yogyakarta tak pernah habis masa, hanya aku terkadang merasa kurang sempurna saja.
Pagi ini aku libur kerja dan hal biasa yang aku lakukan ialah berkeliling Yogyakarta sendirian. Dunia kerja yang melelahkan, terbiasa fokus membaca tulisan orang membuat kehidupan sosialku menjadi berubah. Aku lebih suka sendiri dan tak mudah mengenal orang baru. Padahal dulu aku sangat ramah, mudah bersosialisasi, mudah dekat dengan orang. Sekarang berbeda.
Malioboro tak pernah menciptakan kata bosan, selalu ada hal baru yang menjadi kesan. Meski sekadar lalu lalang kendaraan di tengah jalan yang tak pernah lengang. Sembari sesekali mengingat derap langkah kami yang pernah bersamaan. Apa kabar Mas Gayuh yang satu minggu ini menghilang demi sebuah misi? Demi kedamaian negeri katanya.
“Mbak Dara!” Pekik falset itu memecah riuh tawar-memawar di tengah Malioboro. Terdengar tak asing, tapi aku lupa di mana mendengar suara falset itu terakhir kali. Maka, kubiarkan suara itu menguap bersama riuh ricuh Malioboro.
Melangkah, menapak setiap jengkal jalan Malioboro, menuju penjaja es dawet ayu di tengah keramaian. April lalu, Mas Gayuh bilang es dawetnya manis, semanis waktu-waktunya kala berusaha melebur rindu, usaha-usahanya mempersempit jarak, dan bayang-bayangnya mengharap pertemuan. “Aku rindu,” batinku menatap nanar Istana Presiden di depanku. Kembali menyeruput rindu, es dawet habis tapi rindu tidak terkikis.
“Mbak Dara! Ya ampun dipanggil-panggil diem aja, lupa sama adiknya!”
Risa, iya Risa, dia mengomel tanpa jeda sembari menepuk-nepuk pahaku. Dia semakin cantik, pintar berdandan tetapi suara falsetnya masih sama.
“Ya Allah, Mbak kira siapa, Ris. Eh kamu ke sini sama siapa?” melihat sekeliling tapi tak ada yang aku kenal.
“Sama doi, Mbak. Tapi lagi beli kaos di sana.” Menunjuk sebelah kirinya.
“Cie, udah ada doi nih?” godaku.
“Masih pacar, Mbak. Mbak Dara nih yang nikah sama Mas Gayuh nggak ngundang kita-kita.”
“Belum nikah aku, Ris. Masih sibuk sama pekerjaan, Mas Gayuh juga sibuk sama tugasnya. Nanti dulu lah ya.”
“Eh, belum to?” Seperti kaget. “Mbak Dara nunggu apa sih? Usia juga hitungannya sekarang sudah hampir 24 tahun kan, Mbak. Pantas lah untuk menikah. Sudah kerja juga, jadi sifat keibuannya saja sudah ada sejak dulu. Apa emang Mas Gayuh yang belum siap karena urusan militernya, Mbak?”
Aku tersenyum.
“Kan katanya TNI suka ada ketantuan boleh menikah setelah sekian tahun atau idealnya menikah dipangkat apa gitu. Karena itu, Mbak?”
Menggeleng. “Menikah buru-buru mau apa sih, Ris? Mbak masih punya banyak target.”
“Lah tunggu, berarti ini Mbak Dara yang nggak siap? Kasian Mas Gayuh dong nunggu lama, Mbak.”
Tersenyum. “Nanti kamu juga merasakan, Risa. Ada saat-saat kamu punya sejuta impian. Mas Gayuh juga dukung kok, dia masih santai.”
“Ya ampun, Mbak.”
Bagiku wajar sebab kami terbiasa hidup di desa, bukan yang usia 18 tahun sudah menikah. Tapi rata-rata usia 21-23 tahun itu sudah waktunya menikah. Hanya aku saja mungkin yang berpikir nanti dulu. Aku benar-benar tidak mau kehilangan kesempatan untuk meraih mimpiku.
“Hati-hati ambil keputusan, Mbak. Karena niat baik sejatinya harus disegerakan, jangan sampai Mas Gayuh bosen lho, Mbak. He he he.”
“Kamu, Ris!” Menepuk bahunya. “InsyaAllah segera kok.”
“Terus Mas Akbar apa kabar, Mbak?”
“Baik, kemarin habis dari kosku sama ibunya,” jawabku.
“Lama nggak ketemu senior galak. Ha ha ha. Minggu lalu angkatanku reuni kecil-kecilan aja nggak lengkap juga.”
Menoleh pada Risa. Yang aku ingat adalah Apta, adik yang biasa kuajak bercanda, baik, menurut apa kataku. Ke mana dia sekarang? Fikri juga, rasanya satu tahun ini dia tidak muncul di layar ponselku, padahal biasanya curhat panjang lebar. “Apta apa kabar, Ris?”
Menggeleng lemah. “Tidak tahu, Mbak.”
Dahiku mengernyit, ke mana dua adikku itu sampai temannya juga tidak tahu. Terhitung Risa ini akrab dengan semua pasukan, jadi seharusnya Risa tahu tentang mereka. Apa karena lulus memang selalu hanya meninggalkan kenangan yang lambat laun menghilang? Mungkin.
“Kamu masih mending bisa ketemu, bisa chatting sama Apta sebelumnya, Ris. Mbak terakhir ketemu pas kalian habis dari Semarang itu. Kalau Fikri sih 2020 lalu masih kasih kabar sama Mbak. Sampai sekarang, Mbak masih bertanya-tanya, Mbak itu salah apa sama Apta sampai diblokir?”
Risa diam, memainkan jari jemarinya gelisah di sebelahku. Seperti ada yang disembunyikan tapi tak pantas aku paksa dengan pertanyaan.
“Bee, ayo!” ajak seorang laki-laki menghampiri kami.
“Eh, duluan ya, Mbak.”
Aku mengangguk. “Hati-hati ya, Ris.”
Risa tersenyum dan hanya memberikan tanda love ala Korea. Masih rindu dengannya tapi pacarnya sudah meminta Risa kembali.
Aku pun berjalan lagi, sembari mengingat kenangan bersama Mas Gayuh di Yogyakarta, juga kenanganku bersama Apta dan Fikri yang entah ke mana mereka. Sekarang setiap hariku, setiap waktuku tanpa mereka, dengan Mas Gayuh saja kurang komunikasinya. Semakin tinggi seseorang semakin sempit pula waktu luangnya.
Kling... Ponselku berdering di saku celana, tepat ketika motorku memasuki gerbang kos-kosan. Parkir di bawah pohon mangga, mengunci gerbang, baru mengangkat telepon. Dan perasaanku selalu sama, rindu melebur bersama suara sapanya.
“Rindu?”
“Iya, Mas. Gimana tugasnya?”
“Kalau Mas bisa hubungi kamu berarti lancar, kalau enggak sekarang pasti kamu lagi nangis-nangis minta aku hidup lagi,” celotehnya.
“Mas Gayuh ih bicaranya!”
“Bercanda. He he he. Libur, kan? Jalan-jalan ke mana hari ini? Atau pulang ke Karanganyar?”
“Ke Malioboro, Mas. Mataku sekarang mulai kabur-kaburan.”
“Mata kamu lari dari tempatnya? Emang dia ngerti aba-aba lari maju jalan?”
“Ha ha, ya nggak gitu, Mas. Maksudnya pandangannya jadi buram, mau ke optik atau dokter mata belum sempat. Jadi ya gitu, mau pulang ke Karanganyar suka males, pandangannya nggak jelas.”
“Ya sudah ke dokter dulu aja lah, periksa mumpung masih dini. Setiap hari kan kamu baca buku, baca pdf, dan lain sebagainya, mata kamu pasti lelah, butuh banyak vitamin A. Mas selalu ngingetin ini loh!”
Aku tersenyum tapi aku ingat apa kata Risa. Bagaimana jika Mas Gayuh yang perhatian dan pengertian ini mengalami kebosanan dalam menunggu? Akankah ia pergi?
“Mas Gayuh bosan nunggu aku?” tanyaku, sedikit memelan.
Sekian detik diam. “Jus wortel itu lho, Dik. Nggak enak emang tapi kan ada vitaminnya. Apalagi ya? Tomat kah?”
“Mas Gayuh bosan nunggu aku?”
“Ya, pokoknya apa aja yang ada vitamin A-nya banyak dimakan, enak nggak enak. Sayuran, buah-buahan nggak boleh lupa.” Mas Gayuh seperti menghindar dan tidak mau menjawab pertanyaanku.
“Mas, aku serius tanyanya!” tekanku.
Diam.
“Mau dijawab jujur?” tantangnya begitu serius.
“Iya.”
“Sangat bosan.”
Giliranku yang diam.
“Ya sudahlah, sudah keputusanmu. Mas bisanya dukung aja, mau bantuin kamu biar bisa jadi editor senior di Bandung juga Mas nggak punya jabatan. Bukan anak presiden juga. Mendukung saja.”
“Maaf, Mas.”
“Iya, terserah kamu, Dik. Kapan kamu siap aja.”
Menitikkan air mata. Satu saja impianku di Bandung, satu itu saja maka aku akan segera menikah dengan Mas Gayuh. Rasanya juga tak enak membiarkan Mas Gayuh menunggu, tapi hanya sisa satu saja mimpiku.
“Sudah jangan nangis ah, nanti Mas pulang loh!” canda Mas Gayuh.
“Ya sudah nangisnya lebih keras! Hu hu hu!” candaku karena aku ingin Mas Gayuh pulang, sekadar menenangkan pikiranku dan melepas rindu.
“Ya sudah, bodo amat. Ha ha ha.”
“Mas Gayuh!” bentakku kesal.
“Bercanda, Sayang. Sudah ah, jangan nangis-nangis lagi. Bosan dalam kehidupan apalagi waktu tunggu itu wajar kok, Dik. Tapi ya masih menikmati. Capek iya, tapi ya sudah, daripada kawin paksa.”
Aku tersenyum. “Makasih, Mas Gayuh sudah selalu mendukungku. Nggak pernah berhenti, kasih motivasi, semangat, banyak hal.”
“Sudah kewajiban Mas Gayuh. Cinta itu mendukung, bukan mengungkung, kan?”
Mengangguk, padahal Mas Gayuh juga tidak tahu.
“Mas pamit dulu ya, mau ada pengarahan,” katanya mengucap salam lantas menutup telepon.
Setiap hari, aku hanya takut telah melewatkan syukur atas hadirnya Mas Gayuh, sebab terlalu bersyukur Allah Swt. berikan satu persatu keinginan dengan mudahnya.