April 2023, seperti biasa, cuti tahunan, berjalan bersama menikmati Yogyakarta, akan tetapi kali ini rasanya menjadi yang terakhir sebab Allah Swt. kembali memberiku nikmat tercapainya sebuah impian. Jadi, cuti tahunan selanjutnya, kami akan berjalan bersama menikmati kota Bandung, bukan lagi Yogyakarta. Jujur, atu tahun ini goncangan kami kian menguat, Mas Gayuh lebih sibuk dengan temannya daripada membalas pesanku, dia juga lebih sering protes padaku, dia bilang akan mendukung tapi terkadang mengungkung. Tidak, aku tidak menyalahkan Mas Gayuh, aku mengerti betul dia ada di titik kebosanan. Justru aku sangat bersyukur Mas Gayuh masih bisa bertahan hingga saat ini. Dia masih mau menemuiku di Yogyakarta.
“Akbar kuliahnya lancar, Mas?” tanyaku berjalan di sampingnya.
“Setiap ditanya sih jawabnya lancar, tapi sering bawa cewek dikenalin ke Ibu. Takut aja, biaya kuliah kan dari aku, kalau kuliahnya amburadul, ya aku juga yang rugi bandar,” candanya sambil tersenyum.
Aku suka candaan Mas Gayuh, bahkan meski terdengar receh. Aku rindu setiap diksi manis dari Mas Gayuh, ketika dia membahasakan dirinya dengan “Mas” bukan “Aku”. Entah itu rasanya lebih manis daripada dipanggil “Sayang”.
Kami kembali berjalan, lagi-lagi tanpa bosan, Malioboro. Keramaian ini saksi setiap pertemuan kami, saksi lelehnya rindu yang membeku.
“Udah ada panggilan dari penerbit Bandung, kan?” tanya Mas Gayuh.
“Iya, kan kemarin Dara sudah bilang, Mas.”
“Kapan berangkat?” Setiap pertanyaannya itu terkesan dingin, hanya aku saja yang terlalu perasa atau memang sebenarnya begitu.
“Di sini selesaikan tugas dulu sampai bulan depan, terus ada waktu satu minggu untuk libur, baru deh awal Juni berangkat ke Bandung.”
Mas Gayuh mengangguk-angguk dan kami kembali melangkah dengan diam. “Kapan siap nikah?” tanya Mas Gayuh tiba-tiba menghentikan langkahku.
Aku menatap Mas Gayuh yang langsung juga menatapku. “Emm.” Berpikir sejenak. “Bisanya otomatis setelah beberapa bulan beradaptasi di Bandung, Mas. Mas tahu sendiri, apa pantas baru mulai kerja langsung izin-izin buat pengajuan?”
Mas Gayuh melanjutkan langkahnya, tidak berkata apapun hingga sepuluh meter langkahnya.
“Sabar sedikit lagi ya, Mas?” Mengimbangi langkahnya.
“Sabar manusia itu ada batasnya, kamu tahu?” Menghentikan langkahnya.
Aku menatap Mas Gayuh, aku takut dia kehilangan sabarnya.
“Kamu tahu, menikah itu juga perihal melepaskan. Mengapa tidak kamu coba untuk melepaskan salah satu?”
Jujur, hanya itu saja terasa menyakitkan. Ini pertama kali dia seolah memberiku pilihan, apalagi perihal melepaskan. “Mas,” panggilku dengan mata berkaca-kaca.
Mas Gayuh tak peduli aku masih mematung, ia justru masuk ke benteng Vastenburg, di bagian paling belakang ia duduk. Aku mengikuti langkahnya dengan ribuan pertanyaan. Apa maksud kalimat itu? Apa maunya Mas Gayuh? Apa Mas Gayuh kehilangan kesabarannya? Apa Mas Gayuh ingin meninggalkan aku? Apa dia tidak lagi ada rasa cinta?
Duduk di sebelahnya, menatap pilu wajah laki-laki yang aku cintai.
“Hatiku menetap terlalu lama, diacuhkan terlalu lama, mendukung terlalu lama.”
“Maaf, Mas.”
“Sekarang aku kasih kamu pilihan, menikah denganku kamu harus melepas pekerjaanmu, karena aku mau di rumah dinasku ada kamu. Setiap kali pulang, ada yang menyambut seragamku untuk dicuci, ada yang tersenyum padaku meluruhkan lelah. Dan itu tidak bisa dilakukan oleh pasangan suami istri yang LDR. Atau kamu pilih melepaskan aku dan fokus pada mimpimu?” Dia sama sekali tidak menatapku, pandangannya ke arah depan dan kosong.
“Aku mau menikah dengan Mas Gayuh, ikut kemanapun Mas Gayuh pergi, hidup sederhana di rumah dinas. Aku mau, Mas.”
“Lepaskan perkerjaanmu. Tidak mungkin kita hidup bersama kalau aku di Serang, sementara kamu di Bandung.”
“Iya, aku akan lepaskan, tapi tidak sekarang, Mas. Menerbitkan buku, menjadi editor novel, itu impianku. Apalagi penerbit ini penerbit besar, Mas. Belum waktunya untuk melepaskan. Sedikit lagi, Mas.” Kali ini air mataku sudah habis.
“Aku hanya menawarkan satu hal, melepaskan. Aku tidak menawarkan lagi waktu tunggu.” Dia tetap tidak melihatku.
“Aku janji, Mas. Tahun depan.”
Mas Gayuh diam.
Aku menggenggam tangannya. Benteng cukup sepi hari ini, entah dunia mendukung percakapan ini atau memang peminat museum mulai memudar.
“Aku tidak pernah berhenti mencintaimu, bahkan sampai detik ini.” Dan itu adalah hal yang selalu aku syukuri. “Tapi kesabaranku punya masanya. Jika tidak kamu, aku akan menikah dengan perempuan lain. Dia guru ngaji desa yang sederhana, yang impiannya hanya menjadi seorang istri dan Ibu. Bukan editor atau penulis novel ternama.”
Hatiku bukan hanya terpukul benda tumpul, ia dicabik habis oleh kata.
“Jadi ini benar-benar pilihan terakhir, siapa yang akan kamu lepaskan?”
Aku diam. Tidak bisa aku menganalisis pilihan itu, mana yang terbaik dan mana yang tidak.
“Aku sudah tahu jawabannya. Ayo pulang,” ajaknya berdiri lebih dulu.
Mas Gayuh tak pernah membiarkanku menangis. Dia pasti mengusap air mataku, menghiburku, tapi kali ini dia meninggalkan aku. Yang kubisa saat ini, mengejar langkahnya dan menahan tangisku di tengah ramai jalan Malioboro. Meski semua terasa sesak. Pertemuan ini pertemuan paling menyakitkan di antara kami. Rindu mungkin melebur, tapi luka begitu menganga.
Kini kami menyusuri jalanan Yogyakarta dengan motorku. Diam, dan berpikir banyak hal. Hingga akhirnya berhenti di halaman kos-kosan yang memang sepi ditinggal penghuninya pulang kampung. Jadi kami leluasa berdiri dan saling menatap.
“Aku tidak tahu siapa yang beruntung, dia yang akan kunikahi atau kamu yang aku lepaskan ketika masih kucintai. Tapi pasti aku akan segera mencintainya, karena dia halal bagiku nanti.”
Aku sudah tidak bisa menjawab apa-apa lagi, bukan tidak ingin menjawab tapi terlalu kelu.
“Bukan aku bertemu orang lain, bukan dia merebutku darimu. Tetapi apa yang menjadi kesalahan itu harus diperbaiki, jika kamu tidak mampu, maka harus dilepaskan. Aku capek bawa kamu terus menerus ke dalam dosa.”
Menutup separuh wajahku dengan sisa pashmina yang menggantung.
“Karena cinta saja aku menjadikanmu pacarku bertahun-tahun. Padahal ada pilihan lain untuk menikahimu. Aku berjuang untuk kebaikan kita, tapi kamu berjuang untuk kebaikanmu sendiri. Perasaan kita sudah tidak sehat sejak awal, tidak ada saling pengertian.”
“Maaf, Mas.” Hanya itu yang sanggup aku katakan.
Mas Gayuh menggeleng, menghapus air mataku. “Bukan kamu yang salah, aku yang salah. Kenapa cinta tidak mengokohkanku? Ia kalah dengan habisnya rasa sabarku.”
Menangis tersedu.
“Aku masih sayang sama kamu, masih ada perasaan, tapi kamu tidak bisa membersamaiku. Kamu pasti berat melepaskan impianmu, karena kamu perempuan pemimpi yang egois.”
Semua kalimatnya lembut, tapi menyayat, memukul, merundung pilu.
“Aku pulang sebenarnya hanya untuk meminta jawabqnmu. Aku atau impianmu. Dan pilihanmu sudah pasti, jadi semua hal indah yang kita lalui, semua cukup sampai di sini. Raihlah impianmu, dan aku akan belajar mencintai guru ngaji itu.”
“Tapi, Mas.” Menggenggam tangannya.
“Aku memberimu ruang yang leluasa untuk kamu bisa meraih semua impianmu, dengan cara melepasmu. Jadi lakukan betul-betul, jangan ada ragu, jangan ada layu, kamu kuat, dan kamu pemimpi yang hebat. Tanpaku kamu pasti jauh lebih baik.”
“Mas, aku...”
Dia tersenyum, menghapus air mataku. “Aku bahagia sekali dapat melewati masa yang amat sangat menyenangkan bersamamu. Perempuan hebat, penuh dengan impian. Tetapi aku tidak sehebat kamu. Laki-laki hebat itu akan sangat beruntung bertemu denganmu. Kenalkan padaku, nanti aku bilang sama dia untuk selalu mendukungmu bagaimanapun keadaannya.”
Tersedu-sedu oleh tangisku.
“Sampai jumpa di lain kesempatan. I Love You,” bisiknya mengusap kepalaku dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya dalam genggamanku.
Aku enggan melepas genggamannya tapi Mas Gayuh memaksa melepaskannya. Dia pergi, menghilang dari balik gerbang kos, dan aku hanya bisa terduduk pilu memandang punggungnya menggilang.
Jika dikatakan egois, silakan, mungkin aku memang begitu. Tapi dengan keinginan Mas Gayuh setelah menikah akan memboyongku kemanapun dia pergi. Sangat tidak mungkin kita lalui bersama, dan Mas Gayuh benar. Mana mungkin dengan kehidupan Ibu Persit di dalam asrama, beberapa kegiatan, dan aku masih mampu, menulis, mengisi seminar, mengedit dan lain sebagainya? Ya, mungkin bisa, tetapi aku merasa tidak akan maksimal.
Dan kini, aku hanya bisa menatap pilu cincin yang melingkar di jari manisku. Otakku beku, kakiku lemah, tanganku rapuh bahkan untuk sekedar menahan kepergiannya.