Bandung Tak Lagi Berbunga

1509 Kata
Kata siapa Yogyakarta hanya penuh dengan romansa saja? Ia juga tempat penuh duka. Banyak orang saling menggenggam, akan tetapi tak sedikit pula yang saling melepaskan. Terima kasih untuk sesuatu hal yang indah dan menyakitkan, jadilah kenangan, dan biarkan Bandung yang menghapuskan luka. Di lantai 2 salah satu penerbit besar di Indonesia, aku membaca ulang novelku sendiri yang akan terbit secara resmi bulan depan. Entah ini novel ke berapa yang bisa kuterbitkan, tapi ini novel pertama yang kuterbitkan di penerbit sebesar ini. Aku merasa sangat beruntung menjadi editor senior bahkan katanya di usia mudaku. Meskipun sekarang aku harus memakai kacamata dan mudah sekali merasa lelah. Tim editor juga cukup menghibur. “Bu Dara, maaf, di bawah ada temennya,” panggil salah satu office boy yang sudah cukup tua. “Bapak kok manggilnya Ibu sih?” tegurku meletakkan novel dan menutupnya dengan pembatas, agar tak lupa di halaman berapa terakhir aku membacanya. Bapak OB tersenyum. “Kan menghormati, Bu.” “Pak, boleh nggak lain kali manggilnya Teteh aja. Masih menghormati, kan? Kayanya denger orang lain dipanggil Teteh itu bikin iri. He he he,” bisikku. “Ah, Ibu, aneh!” Pindah ke Bandung satu bulan yang lalu, aku memang orang yang paling mudah beradaptasi, atasanku pun mengatakan hal yang sama. Tapi masalahnya, aku tidak merasa begitu, aku masih cukup tertutup dibandingkan seorang Dara yang dulu bukanlah apa-apa. “Teman saya siapa namanya, Pak?” tanyaku berdiri dari tempatku. “Aduh, lupa ndak tanya, Bu. Tapi nunggu di lobi, Bu.” Aku mengangguk. “Cowok, Bu. Anak kantoran sepertinya, pacarnya ya, Bu? He he he.” Kami sedang melangkah bersama keluar dari ruangan. Aku hanya tersenyum. “Mang Asep! Kepo!” celetuk salah satu teman kerjaku. “Sedikit, Teh.” Berjalan turun dengan sok anggun atau terpaksa karena aku menggunakan rok. Biasanya di Yogyakarta lebih suka mengenakan celana. Hanya saja di Bandung lebih sering meeting keluar jadi lebih pantas pakai rok katanya. Sampai di lobi, ternyata temanku semasa SMK, dia dulu Danton Patriakara tahun 2014, namanya Ari. Sedang duduk di kursi tunggu tamu dengan jas dan kemeja birunya, tas ransel besar dan sedang memainkan gawainya. “Ari,” panggilku dan dia menoleh. “Eh, masyaAllah, kangen gila.” Hendak memelukku tapi aku sedikit menjauh. “Ah oke, sekarang sudah pakai hijab sih, ya?” Aku tersenyum, sejak beberapa bulan yang lalu aku memutuskan memakai hijab. Melihat banyaknya masalah ketika aku tanpa hijab, bukan karena lepas dari Mas Gayuh, aku memakai hijab sebelum itu. Hanya saja, tanpa hijab banyak laki-laki menggoda dan melihat sesukanya. Dan dengan hijab, setidaknya ada hal yang tidak selalu menarik perhatian lawan jenis. Begitulah Allah Swt. dengan tepatnya membuat aturan, tidak untuk menghalangi tetapi melindungi umatnya. Terkadang umatnya saja yang merasa lupa. “Senayan pindah, ya?” candaku menjabat tangannya. Ari ini sejak sebelum lulus dari Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina memang sudah bekerja di Senayan, di salah satu perusahaan start up. Mungkin sekarang sudah bukan perusahaan start up lagi. “Ha ha ha, ada meeting tadi di Bandung. Enak ya, Bandung tuh adem, nggak membosankan. Senayan malah yang panas, apalagi kalau lihat gedung MPR/DPR, suram,” candanya ketika aku duduk di kursi depannya. Padahal Bandung juga panas, mungkin suasana politik di Senayan yang lebih panas dibandingkan Bandung. “Ha ha ha, kalau nggak panas bukan Senayan.” Ari hanya tertawa lantas kami sedikit diam. “Turut prihatin ya, aku dengar kabar itu, dan em, ya benar cincinnya udah nggak ada,” katanya canggung-canggung. Aku menatap sendu jari manisku. “Orang-orang pada gibahin itu dua bulan belakangan, aku mau menghubungimu takut masih belum siap.” “Enggak apa-apa sih. Anak patriakara yang suka gibah?” Ari menggeleng. “Yang grup alumni keseluruhan kok.” “Untung ponselku yang itu hilang, jadi ya gibah kalian jadi tambah khsuyuk.” Sudah kuduga hal seperti ini akan terjadi, mau disembunyikan semacam apa, mau menyumpal mulut orang dengan berbagai cara pun percuma. Kata Mama aku hanya perlu menjalani hidup yang ingin kujalani, tidak perlu pusing memikirkan omongan orang lain. “Kalau jodoh nggak akan ke mana kok. Aduh klasik banget petuahku.” “Ha ha ha, kita keluar aja, yuk!” “Eh nggak apa-apa, editor senior, Man. Banyak kerjaan.” Menggeleng. “Gue tadi habis meeting di luar kantor, balik-balik kerjaan udah dipegang anak-anak. Jadi santai banget gue, tadi juga cuma ngecek novel gue yang akan terbit bulan depan.” Ari menatapku sambil tersenyum. “Gila udah jadi anak gaul sekarang, gue katanya.” “Ah.” Menepuk dahiku. “Kebawa, novel-novel remaja sekarang kan pakainya gue elo. Sorry-sorry.” “Enak pakai gue elo sih, soalnya di Senayan kebiasaan gitu.” Aku tersenyum. Kami keluar dari kantor, hanya ke kafe dekat kantor saja agar pembicaraannya lebih enak. Dan kenyataannya memang enak, bisa tertawa leluasa menikmati nostalgia masa SMK. “Eh, tapi ini maaf ya. Lo udah tua, Ra. Sudah bukan waktunya cari pacar, carilah calon suami. Jangan kaya masa SMK, pacar-pacaran.” Menghela napas. “Ya, kan nggak semudah itu juga, Ri.” “Kenapa? Standar lo terlalu tinggi? Mau yang kaya apa sih? Lee Jong Suk, Hyun Bin, Lee Min Ho, Ji Chang Wook, Jo Jung Suk?” Terakhir bertemu Ari tahun 2021, dia membahas drama Korea denganku. Dia bilang hanya suka dengan gaya pengambilan gambar dan proses penyuntingannya yang benar-benar detail. Tidak seperti di Indonesia. Terlalu sibuk kejar tayang menjadikan hasilnya pun seadanya. Maklum, dia anak ilmu Komunikasi. “Ha ha, kalau bisa, ya, bolehlah, Ji Chang Wook. Ah tapi enggak, nggak menentukan standar aku sebanarnya. Mau standar setinggi langit kalau Allah Swt. bilang nggak jodoh, untuk apa?” “Ya terus, apalagi coba? Lo udah mapan, banget, usia sudah matang banget juga.” Mengangguk. “Lagian lo putus sama tunangan lo kenapa?” Ari ini memang terbisa kepo sejak masa SMK, tapi aku nyaman-nyaman saja dengannya karena selalu ceplas-ceplos, selalu punya pikiran yang terbuka, dan apa adanya dia. Setelah banyak bujuk rayunya, akhirnya aku menyerah untuk diam. Aku ceritakan semuanya dan hanya pada dia, teman lain tak pernah kuberi tahu alasannya. “Ya wajar, kalau gue juga gue tinggalin. Tuhan kasih semuanya sama lo, tapi lo mau tahu apa yang nggak jadi Tuhan kasih ke elo?” Aku diam. “Laki-laki yang baik, yang mencintai elo apa adanya, yang sabar bertahun-tahun. Seandainya lo sedikit mikirin dia, ya, gue yakin sih dia akan jadi orang yang sabar dan berhasil. Tapi kan ya dia nggak sesabar itu sih.” “Iya kan, dia nggak sesabar itu, ya sudahlah,” kataku. Ari justru tertawa. “Itu kalimat cuma penghiburan buat lo aja. Lo sebenarnya nyalahin diri sendiri juga kan?” Diam. “Mimpi apa lagi yang lo mau kejar? Padahal impian setiap perempuan itu cuma dua, jadi istri dan ibu yang baik. Kemarin udah mapan, udah kerja juga, kan?” “Tapi posisinya waktu itu nggak pas, Ri. Aku baru saja dapat panggilan ke sini, tapi dia ngajak nikah dalam waktu yang dekat. Ditanya masih sayang, ya, masih, kalau udah nggak sayang udah gue jual itu cincin.” “Kenapa? Tinggal nikah, nggak mau ribet ngurus ya yang sederhana aja, wedding organizer juga banyak, uang lo juga pasti banyak.” Aku tertawa masam. “Lo tahu nggak tata cara nikah sama TNI kaya gimana?” Ari diam. “Pengajuannya nggak semudah nyari Surat Keteranga Tidak Mampu buat syarat beasiswa!” tekanku. “Aku mau mempertahankan, bisa, tapi dia yang tidak bisa menunggu. Nggak mungkin juga bulan itu gue langsung pengajuan, baru masuk kerja harus cuti buat pengajuan. Apa kata atasan gue juga?” Kembali, justru Ari yang tertawa masam. “Tapi lo melewatkan satu masa, di mana lo mulai kerja di Yogyakart tahun 2020, kan? Satu tahun cukup untuk adaptasi, jadi 2021 emang lebih baik jangan nikah dulu. Tapi kalau lo nikah tahun 2022, tepat banget itu asli, tahun ini lo dipanggil ke sini dengan status istri anggota Kopassus.” Memejamkan mataku. “Lo lupa gue tadi ngomong apa? Dia minta gue ikut dia setelah nikah. Dia nggak mau LDR.” Ari mulai menggeleng-gelengkan kepala. “Orang kalau nggak jodoh tuh emang ada aja cara Tuhan memisahkan. Dipisahkan dengan tangis, dipisahkan dengan hal yang lucu, kehendak Tuhan menyatukan dan memisahkan.” Menunduk lesu, kenyataan bahwa kami tidak berjodoh itu masih sangat menyakitkan. “Gue mau lepas mimpi gue juga bingung, mungkin semua yang lo impikan mudah lo dapetin, Ri. Gue? Gue gagal atas mimpi berulangkali, lo tahu nggak rasanya pada akhirnya Tuhan tuh kasih kelancaran buat meraih impian setelah lo benar-benar gagal beberapa kali?” “Oke, gue nggak tahu karena gue nggak punya impian, gue cuma jalanin sebisa gue aja. Jadi gue nggak akan ngerti posisi lo kaya gimana. Mungkin sentilan buat gue juga, gue paksa calon istri gue keluar dari pekerjaannya buat nikah sama gue. Padahal impiannya masih banyak dipekerjaan itu.” Dahiku mengernyit. “Dia reporter, impiannya cuma satu, naik jadi presenter berita. Tapi gue bilang kalau mau nikah sama gue, dia harus keluar dari pekerjaannya karena nggak mungkin dia ngurus anak gue sambil kejar-kejar berita.” Terdengar lemah. Jujur itu juga menyentuh hatiku, ada perempuan yang ikhlas melepas impiannya untuk laki-laki yang dia cintai. Tapi aku dan Mas Gayuh memilih untuk saling melepaskan. Hari ini Ari datang untuk menanyakan kabarku, memberi sentilan dan tentu undangan pernikahan. Dia akan menikah di Jakarta Pusat dua minggu lagi. Aku kembali ke ruanganku, berdiri di depan jendela kaca yang mengarah langsung ke jalanan Bandung. Gedung bertingkat, kendaraan umum, lalu lalang anak sekolah. Bayanganku ketika bermimpi untuk bekerja di penerbit ini ialah Bandung yang berbunga. Akan tetapi, ketika aku datang Bandung tak lagi berbunga. Semuanya gersang, tak ada kebahagiaan yang benar-benar nyata. Semua hanya kepalsuan, baik senyum maupun semangatku. Mungkin benar, aku akan melewatkan satu laki-laki baik yang akan menemaniku. Tetapi, jika memang Mas Gayuh bukan jodohku. Mau aku bersedia menikah waktu itu, Allah Swt. tetap akan memisahkan. Kugenggam cincin yang selalu ada di dalam sakuku, tepat ketika bosanku melanda, melihat ke i********: dan mendapati Mas Gayuh bersama calon istrinya sudah berfoto formal untuk pengajuan. Angin AC seolah berbisik, “Seharusnya Dara Laksmi Sasmita yang ada di samping seorang Sertu Gayuh.” Sekuat apapun engkau bertahan, sekuat apapun engkau ingin, Allah Swt. lebih berkuasa dari kekuatan dan keinginanmu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN