“Urusan pribadi jangan memengaruhi urusan organisasi. Lagian percuma mau menjelaskan sampai berbusa juga nggak ngerti!” sindirku duduk di bawah papan tulis usai bermenit-menit Apta tak kembali sementara penyamaan persepsi malam ini harus segera dimulai. Sebelum malam kian menjelang dan waktu istirahat habis.
“Ya, terus aja bela Apta, Mbak. Siapa sebenarnya calon adik iparnya?” balas Akbar membanting galon kosong di depan adik-adiknya, sampai si Risa berteriak.
“Mas Akbar ih, nanggung bantingnya cuma galon, kenapa nggak sekalian banting tulang? Lumayan kan bisa buat beli cendol dawet depan sekolah,” celetuk Fadhila membuat semua orang menoleh dan menatap sinis padanya. Niat melucu yang sangat receh dan tidak di waktu yang tepat.
Risa langsung menoyor lengan Fadhila. “Ha ha, oon lu udah nggak ketolong lagi!”
“Terus ini kapan mau mulai kalau kaya gini, Mbak? Nggak ada Apta? Gila kali diskusi kita tanpa komandan.” Febri bersuara.
“Iya nih, Mbak.” Yang lain pun tak mau kalah.
Aku menghela napas.
“Ya, sudah sih kurang satu ini. Kita mulai,” kata Akbar memang sebagai ketua senior dia berhak melakukan itu. Sementara aku, aku memilih keluar sendirian untuk mencari Apta, tanpa teman dan tanpa pernah ingat jika sekolah ini bukan sekolah recehan. Baru kuingat semua itu ketika sudah mengelilingi lapangan upacara 2 kali.
Sejenak kujelaskan, lapangan upacara yang rencananya akan dipensiunkan ini tepat berada di balik ruang guru. Maksudku, di utara ruang guru, ruang tata usaha dan ruang kepala sekolah. Di timur koperasi dan bengkel mesin, di barat gedung A. Tentu di selatan gudang olahraga, BKK, ruang Waka Kesiswaan dan ruang multimedia.
Kenapa kubilang bukan sekolah recehan? Bukan karena paling luas di Karanganyar, bukan karena fasilitas ruangan yang banyak, percuma ruangan banyak kalau banyak yang angker juga, kan?
Di depan sekolah ada pohon beringin besar, yang katanya tidak boleh ditebang karena sakral. Ini mau percaya atau tidak percaya itu hak pribadi masing-masing. Bagi beberapa orang mungkin angker di malam hari, tapi bagi anak organisasi atau ekstrakulikuler itu terkesan sudah biasa. Karena mereka sering pulang malam atau bahkan tak pulang. Berlanjut ke ruang guru, di mana pernah ada cerita dari kepala satpam, terkadang di malam hari ada suara orang membuka kertas di dalam kantor. Di ruang TU terkadang suara orang mengetik. Memang tengah malam bapak ibu guru atau staf TU tidak pulang?
Berlanjut lagi di bagian barat TU, tepat di antara bengkel mesin dan ruang TU. Kamar mandi itu paling paling bersih, tapi terkadang ada perempuan yang tiba-tiba muncul. Itu pun cerita dari beberapa satpam di sekolah ini. Lantas bengkel mesin? Aku tak banyak mendengar, tapi suasana kamar mandi bengkel mesin yang barat bagiku cukup menyeramkan. Lantas bagian atas ruang Waka kesiswaan ialah perpustakaan dan ada laboratorium entah fisika atau kimia. Itu pun kabarnya tak kalah menyeramkan.
Lantas mau tahu apa yang pernah kualami yang berhubungan dengan lapangan upacara?
Dulu waktu kelas XI SMK, tanggal 17 Agustus tahun 2013. Sekolah ini selalu menjadi langganan untuk upacara HUT RI jam 00.00 WIB di taman makam pahlawan Kabupaten Karanganyar. Biasanya hanya kami sekolah yang diundang, tapi tahun-tahun ini sepertinya sekolah lain pun dapat undangan. Upacara itu sangat sakral meski hanya 10-15 menit kurang lebih. Dipimpin langsung oleh Dandim 0727/Karanganyar. Kegiatan itu mengharuskan kami para peserta menginap di sekolah, karena rumah jauh jadi tidak memungkinkan untuk pulang. Besok pun masih harus upacara di sekolah.
Aku ingat betul besok paginya aku masih harus bertugas sebagai pengibar bendera. Sebelum tidur di ruang kepala sekolah, aku sempat mengecek tali tiang bendera,tengah malam. Tidak ada apapun, aku masih santai. Bel besi jadul itu pun masih diam tidak ada apapun. Meski sempat ada cerita besi itu terkadang dipukul-pukul penghuni sekolah.
Usai mengecek masuklah aku ke dalam lobi antara ruang guru, ruang TU, dan ruang kepala sekolah. Baru membuka pintu, menutup pintu, berbalik, jalan ke arah selatan, membelakangi bel dan tiang bendera, bel besi jadul itu berbunyi, “Teng, teng, teng.” Aku langsung langsung berleri membuka pintu ruang kepala sekolah dengan susah payah. Tahu apa teman-temanku negur apa?
“Gila kau, ya? Malam-malam gini mau nge-prank kita pakai bel jadul!”
Aku ingin menjawab, “Eh pe'ak gue aja diprank hantunya!” Tapi nggak bisa menjawab karena sudah gemetar. Itu tidak ada siapapun, dan malam itu sekian menit setelah bunyi bel besi, anak-anak laki-laki yang tidur di ruang OSIS di belakang bengkel tekstil, di sebelah kamar mandi bengkel tekstil. Tiba-tiba lari terbirit-b***t masuk ke dalam lobi ruang guru.
“Gila, digangguin Mbak-mbak kamar mandi bengkel tekstil!”
“Suara orang nyapu, Cuk!”
“Ah gila!”
Dan sekarang, aku seakan lupa kejadian itu semua sampai berani keliling semua ruangan di sekitar lapangan upacara itu sendirian. Baru sadar setelah dua kali keliling. Ini gila. Langkahku mulai cepat saat melewati di Utara lapangan upacara, tepat di depan ruang Waka Kesiswaan, lantas semakin cepat di depan ruang multimedia yang keadaannya gelap, sinar lampu tertutup pepohonan lebat. Baru melewati 2 meter lorong gelap, tiba-tiba saja bel besi itu kembali berbunyi, “Teng, teng, teng.” Tak ada siapapun dan tiang bendera goyang-goyang meski tanpa angin.
“Astaghfirullahaladzim, astaghfirullahaladzim.” Melangkah cepat, terus berpikir bahwa itu hanya halusinasiku.
Diam. Aku mulai sedikit tenang tapi tiba-tiba sekelebat bayangan lewat di bawah tiang bendera. Aku jatuh tersungkur, menutup mata, dan apapun kuucapkan. Menyebut nama Allah Swt. tanpa henti, pun dengan pujian yang lain. “Astaghfirullahaladzim, astaghfirullahaladzim.”
Di saat masih dalam keadaan tersungkur itu, aku menangis, tapi bel besi itu tiba-tiba berbunyi sekali dan sangat keras. Ini tak ada angin, tak ada orang. “Astagfirullah!” pekikku sejadi-jadinya tapi aku tidak bisa berdiri, tidak bisa melakukan apapun kecuali menangis.
Srreekkk, srreekkk, srreekkk. Semacam suara langkah kaki dari belakang. Mendekat dan mulai mendekat, semakin membuatku takut. “Ashhhh!” Dan lengan panjang tiba-tiba merungkuh tubuhku, memintaku berdiri tapi aku terlalu lemas. “Hey, kenapa?” tanyanya.
Memeluknya, menangis.
“Istighfar, istighfar dulu, nggak apa-apa,” katanya dan aku sudah menangis di antara gelap. Aku tidak tahu dia siapa, aku hanya langsung jatuh di pelukannya, mencengkram kuat lenganya.
“Aku takut, itu bel besinya bunyi,” sambil sesegukan.
Tangan panjang itu terus memelukku, mengusap kepalaku. “Enggak apa-apa, istighfar dulu.”
“Takut,” keluhku semakin menjadi mencengkram lengannya.
“Iya, nggak apa-apa, ada aku di sini.”
Aku masih menangis.
“Eh Mbak Dara!” Sepertinya aku tahu itu suara tidak merdu dari Risa.
“Kamu apain Mbak Dara?” Suara serak beceknya Fikri.
“Kita ke sana dulu ya, jangan lihat ke arah tiang bendera,” kata seseorang ini menuntunku, masih dalam dekapannya, masih membenamkan wajah di d**a kanannya.
Bahkan ketika kami sampai di depan ruang 01 pun, aku masih terus mencengkram dan tidak mau melepas. Dalam bayanganku masih tiang bendera yang bergoyang-goyang tanpa adanya angin, lantas sekelebat yang lewat tadi.
“Mbak Dara! Kamu apain?” bentak Akbar.
“Nggak aku apa-apain, Mas. Tadi aku lihat Mbak Dara sudah menangis ketakutan di depan ruang multimedia,” jawab yang memelukku.
“Lepas!” Yang tadinya mendekapku jadi melepaskan tangannya, tapi aku tidak. “Ikut diskusi sana sama temanmu! Cari kesempatan aja. Mbak Dara kaya gini juga karena nyariin kamu!” Akbar semakin meninggikan nada suaranya.
“Ya, gimana mau pergi? Dia nggak mau lepas.”
Aku masih sesegukan dan masih terbayang hal mengerikan tadi tapi orang-orang ini sibuk berdebat.
“Biarkan aku nenangin dia dulu, Mas. Habis itu udah, nggak gangguin lagi.”
“Kamu!” Menahan geramnya. “Cariin teh hangat!”
Aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya, yang aku ingat, seseorang yang mendekapku selalu berbisik agar aku mengucapkan istighfar, memintaku untuk tenang, dan tidur. Benar, aku tidur dalam dekapannya entah berapa lama aku menangis, sambil meneguk satu-dua tegukan teh hangat.