“Mbak, bangun, salat Subuh,” lirih Risa di sebelah kananku.
Aku langsung terbangun, panik, harusnya aku bangun lebih awal untuk menyiapkan segala keperluan adik-adik tapi kali ini justru sudah azan Subuh.
“Tenang, Mbak. Semua sudah kita siapkan sendiri dibantu senior atas perintah Apta.” Risa tahu apa yang aku pikirkan tanpa aku ungkapkan, selembut itu dia. “Kita salat ya, Mbak. Di antar Mas Akbar kok.”
Mengangguk.
Baru berjalan sekian langkah keluar dari ruangan, kakiku berhenti, menatap lorong kosong yang masih cukup gelap, satu di antara 3 lampu mati, lampu paling ujung. Sementara Risa terus menggandengku dan Akbar hanya menatapku kecewa.
“Nggak apa apa, Mbak. Ada aku sama Mas Akbar,” kata Risa mengajakku berjalan.
Kami terus berjalan ke arah masjid, sambil terus melirik besi yang menggantung serta tiang bendera yang tenang. Tidak ada tanda-tanda seperti semalam, bergoyang kencang atau bunyi “Teng”, subuh ini tenang, setenang hamba yang tengah menghadap pada Tuhan. Tetapi melihat kedua benda itu di lapangan upacara agaknya membawaku pada kejadian semalam, aku masih ingat betul, setiap gerak dan suara.
Langkahku terhenti. Akbar dan Risa menatapku diam.
“Nggak ada apa-apa, Mbak,” kata Risa menggenggam tangan kananku. Ia baik, manis ketika tersenyum, ramah, dan perhatian.
“Kenapa? Mau dipeluk Apta lagi?” Justru Akbar yang katanya akan menjadi adik iparku yang perhatiannya cukup menakutkan.
Aku memandangnya. Ada satu hal yang tidak aku mengerti dalam kalimat Akbar.
“Aku udah cerita sama Mas Gayuh tengah malam tadi. April ini dia naik pangkat, kan, Mbak? Gampang lah, pengajuan bisa diatur!” katanya kembali melangkah.
“Ini kenapa lagi sih, Bar?” tanyaku tak mengerti.
“Mbak, Mas Gayuh tuh tiap waktu hubungin aku, nanyain kabar Mbak kenapa nggak balas pesannya. Iy, kadang maklum, Mbak sibuk ngurus adik-adik, aku juga. Tapi nggak gini juga lah! Mas Gayuh jauh di sana jagain negara. Dia bisa mati kapanpun dengan kain kafan bercorak doreng, dia bisa terbunuh kaliber kapanpun Allah Swt. berkehendak, dia jauh di sana juga buat masa depannya sama Mbak. Tapi apa balasan Mbak di sini? Malah ada main sama anak kecil! Mbak...”
“Mas Akbar!” bentak Risa dengan suara nyaringnya, memecah hening usai azan di sekitar sekolah usai.
Aku tidak pernah lupa sesibuk apapun aku mengurus adik-adik. Aku pernah lupa dengannya, meskipun terkadang tidak sempat membalas pesan-pesan singkat dari Mas Gayuh. Dalam hal ini, satu yang tidak aku mengerti, ada main dengan anak kecil? “Ada main apa sih, Bar?”
“Mbak nggak ingat semalam meluk Apta seerat itu?” tantang Akbar dengan gerak alisnya yang menakutkan.
“Mas!” Risa berusaha menghentikan. Dan itu hanya membuatku bingung. Memeluk Apta?
“Tolong lah, Mbak. Hargain Mas Gayuh yang ada jauh di sana. Jangan jadi mu...”
“Mas Akbar!” bentak Risa. “Salat dulu aja, Mas. Nggak baik ini Subuh-subuh belum salat. Nanti bisa diselesaikan baik-baik. Emangnya nggak takut karena marah berlebihan tiba-tiba aja mati, eh belum salat Subuh, sholat jenazah iya!” ketus Risa menarikku berjalan kembali.
Aku melirik Risa. Tepat atau tidak bertanya lebih jelas padanya, itu yang aku pikirkan.
“Menurutku jangan diambil hati sih ucapan Mas Akbar tadi, Mbak. Hati Mbak siapa yang tahu sih. Lagian mana mungkin Mbak pilih anak SMK padahal yang Kopassus saja ada,” katanya mengantri wudu bersama Fadhila dan Nisa.
Tersenyum tipis. Aku pun belum terlalu paham, kepalaku pun masih cukup pusing.
“Masalah semalam, Mbak Ris?” tanya Fadhila.
Tak ada jawaban.
“Aku semalam denger Mas Apta dimarahin Mas Akbar di sebelah kamar mandi bengkel mesin. Parah Mas Akbar marahnya, tengah malem marah kenceng-kenceng. Bisa jadi yang keganggu nggak cuma kita, kasian juga yang nungguin sisa pohon beringin sebelah Masjid.”
Risa menoyor kepala Fadhila.
“Apta dimarahin ada hubungannya sama Mbak, Dhil?” tanyaku.
“Ya, nggak jelas sih, Mbak. Soalnya pas aku ke kamar mandi, kan nahan takut tuh jadi nggak konsen dengerinnya. Pas keluar kamar mandi pengen nguping bentar dimarahin Mas Robi suruh cepet balik, keburu Mas Robi ngantuk,” jelasnya.
“Mungkin juga karena itu sih, Mbak. Soalnya Mas Akbar marah banget pas tahu Mbak Dara nggak mau lepas dari pelukan Mas Apta. Eh, emang pelukan Mas Apta nyaman banget ya, Mbak?”
Risa yang tadinya sudah mulai berwudu jadi berhenti, kedua matanya melotot ke arah Fadhila. “Aku tahu gibah itu nikmat, tapi salat Subuh dulu sebelum terlambat!” tekannya kembali berwudhu.
“Emang semalam.” Berhenti sejenak. “Itu Apta?”
Semuanya diam.
“Buruan wudunya, keburu waktu subuh habis!” pekik Robi dari kejauhan.
“Siap, Mas. Otw nih. Emang gitu cewek mah, Mas. Suka gibah!” sahut Nisa berjalan mendekati batas suci di masjid.
“Emang kamu bukan cewek?”
“Bukan, Mas Robi. Cowok dia aslinya!” timpal Febri baru saja keluar dari tempat wudu putra.
Biasanya aku tertawa atau sedikit tersenyum dengan tingkat receh Adik-adik. Tapi kali ini aku diam dan berusaha mengingat. Sepertinya semalam memang Apta, dia tinggi, badannya pun berisi, dibandingkan Febri yang bertubuh kurus macam bambu.
Salat telah dijalankan, memohon ampun, memohon petunjuk, semua permohonan disampaikan seolah tak pernah membuat dosa, tahu minta saja. Bukti betapa baiknya Allah Swt. pada kita semua.
Berjalan bersama Risa, Nisa dan Fadhila, hanya diam karena tidak ada topik untuk dibicarakan.
“Apta! Sombong amat, ngelewatin orang juga! Bilang mari kek, apa kek!” pekik Risa membuatku mengangkat kepala yang sejak tadi menunduk.
Yang aku pikirkan sejak salat usai ialah rasa bersalahku pada Apta. Semalam dia pasti hanya ingin membantuku yang ketakutan, tidak ada maksud lain, tapi dia pasti yang disalahkan oleh Akbar. Seharusnya dia tidak terlibat sampai harus berseteru dengan kakak kelasnya juga.
“Iya, mari!” tekannya dengan nada tak ikhlas, lantas kembali berjalan.
“Apta,” panggilku.
Dia berhenti, menoleh sekian detik saja lantas kembali berjalan.
Aku berusaha mengejar langkahnya. Mengikuti kaki jenjangnya, tapi agaknya dia tidak begitu peduli. “Terima kasih semalam, tapi maaf kalau misalkan bikin kamu sama Akbar berantem, tapi...”
“Semalam Fikri kok, bukan aku,” jawabnya berlari ke ruang 01.
“Aku?” Fikri bingung, menunjuk dirinya sendiri yang sejak tadi sibuk dengan sarungnya.
Menghela napas panjang, Apta memang dingin beberapa hari ini. Mungkin juga karena dia tidak mau terus-menerus bermusuhan dengan Akbar. Jika sudah begini, aku menjadi yang paling merasa tidak enak padanya. Selama ini hanya bercanda, dia juga tidak lebih dari adik kelas, adik ketemu gede, sama seperti yang lainnya.
Semua orang sibuk persiapan, ada yang antri mandi, ada yang ganti baju, ada pula senior yang menyiapkan perlengkapan. Pagi-pagi betul kami harus segera berangkat ke GOR RM Said, kedua kalinya lomba eks Karesidenan digelar di sana.
“Aku nggak ikut dampingi, malas! Mending mikir ujian,” seru Akbar di tengah sibuknya teman seangkatan.
“Ya, nggak bisa gitu lah! Kamu pemimpin senior di sini, kamu harus mendampingi adik-adik, antar mereka semua. Ini masalah pribadi jangan dilibatkan terus di organisasi dong, Bar! Emangnya senior kita dulu pernah nyerah ngurus kita walaupun sering sakit hati dan disepelekan? Enggak kan?” Robi bersuara paling keras.
Jika kondisi terus semacam ini, kapal Patriakara bisa jadi terombang-ambing di tengah. Tahu kan apa solusi terbaik ketika kapal terombang-ambing sebab kelebihan penumpang atau karena pertengkaran? Buang salah satunya.
“Mbak aja yang nggak ikut, kamu dampingi adik-adikmu. Lagi pula Mbak ada jadwal bimbingan,” kataku. Padahal tidak ada jadwal apapun.
Akbar hanya diam, semuanya diam kecuali anak-anak perempuan yang langsung memegang tanganku.
“Kalau nggak ada Mbak Dara nanti gimana?” tanya Fadhila.
“Enggak apa-apa, masih ada seniormu.” Tersenyum tipis.
Aku menatap Apta sekilas, dia juga menatapku sekian detik lalu pergi. Sementara Akbar, dia tidak berani menatapku.
“Udah ayo persiapan, keburu telat ke sananya. Terus nanti sarapannya di sana ya? Tadi Pembina bilang gitu,” ujsrku tersenyum, tapi ada sedikit ganjalan karena tidak bisa melihat langkah tegap adik-adik nantinya.
Selalu ada penyesalan di setiap keputusan. Tinggal bagaimana kita bisa menyikapinya, menjadikan penyesalan sebagai pacuan.