Siang ini di saat adik-adik berjuang, aku hanya duduk di rumah berpangku tangan. Biasanya sibuk ke sana ke mari bawa tripod, tisu, atau apapun yang bisa kubawa. Ini hanya semata agar Akbar bisa menemani mereka. Kenapa? Sebab bagaimanapun senior lebih berkuasa atas adik-adiknya, yang paling bertanggungjawab atas adik-adiknya.
Mau menghubungi Mas Gayuh tapi katanya dia hanya ada waktu nanti sore. Pada akhirnya, aku hanya terlelap dan bermimpi berada di lapangan yang terik, menyaksikan adik-adik tampil maksimal dan kembali juara. Namun agaknya bukan mimpi, adik perempuanku pulang sekolah teriak-teriak, dia bilang, “Patriakara Goes to Jateng Gayeng.” Akan tetapi, aku tetap tidak menghubungi siapapun dari mereka, meskipun aku selalu ingin. Hanya ingin menjaga mereka saja.
Senja telah tiba, ketika kawanan pesan singkat dari adik-adik mulai mengantri, meminta balasan. Semaunya, tidak, kecuali Apta yang tidak mengirim satu pesan pun padaku. Hampir semua menyesalkan ketidakhadiranku. Di grup yang hanya kami pun sibuk memberondongiku dengan kalimat yang kurang sempurna.
Kling... Sapa salam dan kerinduan mulai terucap masing-masing, jika sudah begini siapa lagi yang meneleponku jika bukan Mas Gayuh? Tidak ada.
“Selamat ya, Jateng Gayeng lagi,” katanya di sela ungkapan rindu.
“Selamat sama Akbar dong, Mas. Kan Akbar seniornya.”
“Kan pacarku ini pelatihnya juga. He he he. Nggak nangis kan lihat adiknya juara?”
Tersenyum getir untukku sendiri. “Enggak lah.”
“Tumben.”
“Ya, soalnya nggak lihat jadi nggak nangis. Ha ha ha.”
“Lah, kok? Emang ada jadwal bimbingan hari ini, Dik?”
Menggeleng meski dia tidak tahu. “Ya, Mas mungkin sudah dengar dari Akbar. Daripada memperkeruh suasana hati Akbar sama Apta. Mereka berdua kan adikku, Mas. Melihat mereka berantem nggak enak. Akbar posesif ya, Mas. Udah kaya pacarku aja.”
“He-he.” Semacam tawa yang kaku.
“Mas aja nggak cemburu kok, dia gitu banget. Untung adiknya Mas, kalau bukan, mungkin sudah aku kuncir mulutnya.”
“Bukan nggak cemburu.”
“Maksudnya Mas cemburu?” potongku.
“Menurutmu? Ya, cemburu, Sayang. Jauh-jauh, berat-berat jagain negara, malah pacar dijagain orang di sana.”
“Tapi kan, Mas. Apta itu anak SMK kelas XI, yang sudah kaya adikku sendiri atau anakku sendiri malah.”
“Kalau cinta tidak mengenal usia, apakah cemburu harus mengenal usia dan siapa dia? Cemburuku masih bisa dikontrol, Dik. Ya, cuma gimana aja, di sini aku meluk senjata, di sana kamu dipeluk orang lain.” Kalimat itu terasa cukup menohok bagiku, tapi aku sendiri juga bukan yang tiba-tiba minta dipeluk padahal tidak ada apapun.
“Semalam karena aku kan...”
“Iya, tahu lah aku, karena kamu takut, kan? Iya, paham, ngerti kok. Cuma mikir nggak kalau bakalan nimbulin fitnah? Masa meluk sih, Dik?”
Aku terdiam, pasti, sebab itu bukan hal yang bisa dielakkan dengan klarifikasi. Itu kenapa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Kenyataannya Akbar sendiri pun menuduhku dan Apta yang tidak-tidak.
“Iya, Mas. Tapi seriusan, Mas percaya, kan? Semalam karena aku ketakutan, terus nggak sadar aja nangis, aku baru tahu kalau semalam itu Apta pas subuh tadi, Mas.”
“Iya, tapi pikiran orang lain tidak bisa dengan mudah kita arahkan, Dik. Kalau diarahkan ke hal yang negatif pasti cepat, tapi kalau kita arahkan untuk hal positif, itu nggak mudah.” Mas Gayuh benar. “Kalau aku punya cara yang nggak tahu tepat atau tidak, tapi bagiku itu yang terbaik. Kamu mau ikutin caraku?”
“Apa, Mas? Kalau aku harus jauhin adik-adik, Mas tahu aku terlanjur sayang sama mereka.”
“Enggak.”
“Terus?”
“Sepuluh April aku kemungkinan bisa pulang, sehari saja.”
“Iya,” jawabku sambil menunggu kelanjutannya.
“Iya, Mas mau lamar kamu.”
Uhuk, uhuk, uhuk... Aku tidak sedang makan, malah lagi mainan rose water dan aloevera gel. Tidak mungkin rose water dan aloevera gel-nya tertelan, kan? Masih cukup waras untuk minum air putih.
Maksudku, iya setiap perempuan di umurku pasti ada pikiran menikah, tapi masalahnya bukan aku tidak ingin, hanya merasa masih ada mimpi yang harus kukejar. Dan Mas Gayuh tahu itu, dia bahkan mendukung penuh apa yang akan kulakukan untuk meraih setiap impian itu. Tapi sekarang?
“Tapi Mas Gayuh kan tahu...”
“Tahu, aku tahu kok. Aku sudah bilang menikah nanti, kemanapun tugasnya selama bisa dibawa, kamu akan kubawa. Aku juga paham hidup di asrama tidak sebebas itu. Masih ingat juga katamu kalau hidup di asrama nanti akan sedikit rumit jika kamu masih mau terus menggapai impianmu. Aku ingat semua itu, masih ingat, Dik.”
“Ya terus, Mas? Bukan, bukan aku nggak mau nikah sama Mas Gayuh. Mas tahu sendiri, bukan karena itu, kan?”
Mas Gayuh diam sejenak. Dia selalu semacam itu, diam ketika aku terlalu menggebu, menggenggam ketika aku ingin berlari terlalu kencang. Dia laki-laki yang selalu mengatakan bahwa aku harus yakin dengan impianku, aku harus memperjuangkannya, dan dia akan selalu mendukungku, maka aku tak boleh ragu. Mana mungkin aku melewatkan Mas Gayuh sebagai suamiku? Justru aku takut melewatkan orang baik seperti dia.
“Dik, Mas nggak minta nikah secepatnya kok. Besok tanggal 10 Mas lamar dulu, selesaikan kuliahmu, kalau mau terbitkan buku ya silahkan, setelah urusanmu selesai, kita bisa mulai pengajuan. Aku cuma pengen kita tunangan lah, biar pikiran orang juga nggak ke mana-mana. Toh, kita ini LDR juga, jarang ketemu.”
Giliranku yang diam.
“Hanya biar kamu nggak seenaknya dideketin laki-laki lain. Semata pengen jaga kamu aja. Kalau misalkan memang kamu minta nikah cepat, aku pun siap. Minta nikah lama, menunggu pun tak masalah. Asal jangan sampai menunggu puluhan tahun.”
Masih diam. Tapi niat Mas Gayuh ini baik, dia ingin menjagaku. Kudengar setiap perempuan yang telah dikhitbah, maksudku menerima khitbah seorang laki-laki, maka haram bagi laki-laki lain untuk menghitbahnya. Mohon jika salah bisa dibenarkan.
“Toh, kata orang perempuan itu mahal, Dik. Mau sampai kapan kamu aku bawa ke mana-mana tanpa mahar?”
Bibirku sedikit menyimpulkan senyum.
“Ya, kalau mau terima tawaranku. Tapi setelah itu maaf kalau mungkin membatasi gerakmu. Sayang sama adik-adik itu tidak salah, asal tetap tahu batasnya.”
Hatiku mulai tergerak, aku sudah menemukan seseorang yang mantap memilihku. Bahkan meski terkadang aku terlalu menyakiti hatinya, terlalu sering bercanda gombal-gombalan dengan laki-laki lain, memang bercanda tapi acapkali membuatnya cemburu dalam diam. Jika aku melewatkannya satu masa saja, bagaimana jika perasannya hanya tersisa satu masa karena menungguku terlalu lama? Aku akan benar-benar kehilangan dia.
“Pikirkan saja dulu.”
“Aku mau, Mas!” sahutku cepat.
“Yakin?”
“Iya, Mas.”
“Ya sudah, aku tugas dulu ya, Dik. Nanti habis apel aku kabarin lagi.”
Jangan sampai melewatkan orang baik dan menyesal ketika masa baiknya telah usai.