Senin, 4 Maret 2019, ini ketika aku harus kembali melatih usai, tiga hari libur. Tidak juga, bagiku hanya 2 hari. Sebab hari Jumat lalu aku langsung bimbingan skripsi. Melelahkan memang, harus membagi waktu antara skripsi dan melatih, belum lagi harus terbagi dengan merindu. Untungnya Mas Gayuh masih di sini sampai besok, masih bisa menikmati kebersamaan hari ini. Katanya dia akan datang ke mari untuk menemaniku melatih, tapi sampai jam 10 pagi ini belum ada tanda-tanda kehadirannya.
“Mbak Dara dari tadi nunggu siapa sih? Kok kayanya celingukan mulu,” tegur Fikri ketika pasukan tengah duduk menikmati teguk demi teguk air putih.
Aku tersenyum.
“Nungguin Mas Gayuh pasti,” tebak Akbar. “Mas Gayuh tuh ya, heran aku. Kemarin itu tiga hari sebenarnya Mbak Dara kan libur latihan tuh. Kenapa nggak ngajakin Mbak Dara meet up aja gitu, melepas rindu. Eh, pas waktunya melatih malah mau ke sini.”
“Setuju aku, Mas!” Apta menyeru dari dalam barisan.
Fikri yang di sebelahnya malah sibuk menoel-noel lengan Apta, semacam orang genit.
“Setuja, setuju!” bentak Akbar. Entahlah, terkadang si Akbar ini terlalu sensitif dengan Apta.
“Kemarin itu aku yang minta Mas Gayuh melepas rindu dulu sama teman-temannya, sama keluarganya, baru nanti terakhir sama aku. Toh, pas baru datang Mas Gayuh sama aku juga, kan?”
“Kenapa gitu, Mbak?” tanya Akbar bingung.
“Karena yang paling pantas dirindukan di dunia ini pertama ialah keluarganya, kamu, ayah, ibu, dan adikmu yang paling kecil. Kedua, pasti temannya, sahabatnya. Ketiga, baru aku.”
“Lah, jadi cewek pengertiannya kebablasan banget sih, Mbak?” Fikri pun bingung.
“Iya nih, nanti kalau sudah nikah gitu juga? Ih, mau banget.” Risa, salah satu dari tiga perempuan di dalam pasukan itu menyeru. Ia satu angkatan dengan Apta dan Fikri.
“Enggak lah, kalau nanti aku jadi istrinya kan pasti langsung jadi urutan pertama bersama keluarganya. Helo, masih pacar, jangan merasa memiliki seutuhnya. Nanti pas putus bisa jadi sakitnya sangat terasa,” ujarku santai.
“Lah!” Semua orang heran, bahkan calon adik iparku sendiri heran. Kecuali Apta, dia tersenyum ke arahku, dan bergumam, “Keren!”.
Aku tersenyum lebar. “Udah ah, latihan lagi!”
Apta mengangguk, berdiri dan kembali memimpin latihan.
Mentari yang kian kuat menyengat tidak meruntuhkan semangat sama sekali. Lomba Tata Upacara Bendera (TUB) dan Baris-berbaris (BB) tingkat eks Karesidenan Surakarta sudah di depan mata. Duduk di tepi lapangan tenis, sembari memperhatikan pasukan di tengah lapangan, sesekali tersenyum melihat jakun Apta naik turun memberi aba-aba.
“Henti, Grak!” Tiba-tiba saja Apta menghentikan pasukannya.
“Kenapa, Ta?”
“Tolong yang di arah jam 8 senyumnya dikondisikan, bikin gagal fokus!” Maksudnya mungkin aku, aku ada di arah jam 8 dari posisinya, dan memang hanya ada aku. Senior kelas XII sedang mengikuti pelajaran, persiapan UNBK.
Fikri yang ada di dalam barisan pun menahan tawanya. “Indahnya jatuh cinta,” kata Fikri membuatku memicingkan mata padanya.
Aku berjalan mendekati Apta, memukul bahunya dengan Petunjuk Teknis yang hanya beberapa lembar kertas F4. “Kondisikan itu lirikanmu, fokus sama pasukan, bukan sama senyumku, Beb!”
“He he he.”
“Lanjut lagi!”
Apta memulai lagi aba-aba yang telah dia tinggalkan, padahal hitungan waktu terus berjalan tanpa aku hentikan. Ini simulasi perlombaan, bagaimana dia bisa sesantai itu?
Hingga jam makan siang tiba dan tanah lapang tetaplah menjadi meja makan terindah bagi Patriakara. Latihan, menangis, tertawa, makan, istirahat, bahkan tidur siang, semua dilakukan di lapangan tenis, kecuali menyeru pada Tuhan tentang kewajiban untuk beribadah.
“Mbak Dara,” panggil Fikri tiba-tiba saja duduk di sebelah kananku, membawa satu piring penuh nasi putihnya.
“Apa, Fikri?”
“Aku ada temen, dia suka sama cewek tapi nggak berani ngomong.”
“Anak mana temen kamu itu? Kalau anak STM suruh sunat dua kali! Malu-maluin!” candaku, sejujurnya tidak tahu siapa yang dimaksud Fikri, beberapa kali ini dia agak aneh saja membicarakan temannya padaku.
Fikri menahan tawanya sambil melihat ke arah Apta. “Dengerin, Ta. Sunat dua kali!”
“Apta?” tanyaku sambil menahan tawa.
“Bohong dia, Mbak. Dia sendiri itu yang nggak berani bilang lagi suka sama cewek!” ungkap Apta sedikit marah. Dia pergi begitu saja meninggalkan piring nasinya yang masih penuh, belum tersentuh sama sekali.
“Tuh kan, marah, kamu sih, Fik!”
“Ye, salah sendiri, Mbak. Dia tinggal bilang suka aja apa susahnya sih? Gengsi aja gede, takut kalah tampang kayanya, walaupun sebenarnya dia masih menang dia banyak. Kalau kalah mapan sih, iya.”
“Cewek mana sih yang Apta suka? Penasaran setelah dia menolak banyak sekali penggemarnya itu.”
“Tanya sendiri sama Apta deh, Mbak. Pusing juga aku.”
Menggeleng kecil. Merebahkan punggung di balik jaring-jaring lapangan tenis, sambil terus melihat jam tangan yang detiknya terus berputar. Mana kah kekasih yang masih kutunggu kedatangannya?
“Maaf, atas nama Mbak Dara?” tanya Mas-mas ojek online dengan jaket hijaunya membawa buket bunga mawar berwarna biru dengan beberapa baby breath dipadu dengan lily putih.
Aku mengangguk.
“Mohon tanda terimanya, Mbak.”
Adik-adik yang tadinya masih duduk-duduk di tengah lapangan tiba-tiba saja mendekat, menelisik bunga besar itu sambil membaca kartu ucapan di dalamnya.
“Mas Gayuh, Mas Gayuh, habis itu gaji buat beli bunga. Mbak Dara ini manusia apa taman makam pahlawan sih? Tiap hari dikasih buket bunga. Nggak sekalian tancapin bendera merah putih kecil biar makin jelas kalau Mbak Dara itu taman makam pahlawan!” pekik Akbar yang justru sangat sewot.
“Makasih, ya, Pak,” kataku pada Mas-mas Ojol yang masih terbilang muda.
“Bunga terus, Mbak. Tapi lucu ih gede, warnanya juga enak dilihat. Romantis deh, Mbak.” Risa ikut menyahut.
“Romantis apaan?” ketus Apta jauh di tengah lapangan tenis, memegang petunjuk teknis pelaksanaan lomba.
“Sewot amat demit satu itu dah!” balas Fikri.
“Assalamualaikum,” sapa salam Mas Gayuh datang dengan celana jeans, sneaker, dan kaos berkerah berwarna abu-abu.
“Wa'alaikumsalam,” jawabku tersenyum.
“Mas, Mas, bunga terus, Mbak Dara udah kaya taman makam pahlawan,” tegur Akbar langsung menerima toyoran dari Mas Gayuh.
“Makasih, Mas. Mas Gayuh itu tahu, Akbar, keindahan dunia itu bunga mawar bukan bunga bank dan Mbak Dara selalu menyukai itu,” jawabku menggenggam tangan Mas Gayuh.
Mas Gayuh tersenyum. “Telat, ya? Nungguin buketnya datang dari tadi, numpang dulu di masjid SMK.”
Mengangguk. “Nggak apa-apa, Mas. Kirain nggak datang.”
“Datang lah, kan rindu.”
“Uluhhh. Ada yang makin minder!” pekik Fikri.
“Mbak, makan rindu sama buket doang nggak akan kenyang,” kata Apta meletakkan nasi kotak di atas kedua tanganku. Hanya begitu lantas dia pergi, tidak mengatakan apapun lagi. Tapi lucu juga, bagaimana dia bisa tahu aku lapar dan butuh nasi kotakku segera? Buket memang menyenangkan, indah dipandang mata, dan rindu memang candu tapi makanan lebih mengenyangkan.
“Itu Apta Priyatama, kan?” tanya Mas Gayuh.
“Kok kenal, Mas?” sambar Fikri.
Mas Gayuh memang bukan alumni sekolah ini, dia tahu Patriakara juga karena aku dan Akbar. Makanya sedikit aneh kalau Mas Gayuh tahu tentang Apta. “Dara sering cerita, dulu aku pikir kenapa kok Dara sering banget chatting sama dia, selingkuh atau gimana. Tahunya cuma adik kelasnya. Si Dara mah sering kan gitu, manggil Bebeb ke siapapun, maaf ya kalau pacar saya agak gesrek. Kelamaan makan rindu,” canda Mas Gayuh.
“Nggak apa-apa, Mas. Yang digituin seneng juga kok, Mas,” sahut Fikri.
“Apa maksudnya?” Mas Gayuh sedikit merasa aneh.
“Adik-adik kalau bercanda emang suka gitu, Mas. Kaya kita beneran aja padahal juga enggak. Si Apta katanya malah udah ada cewek yang dia suka,” timpalku.
“Oh, ganteng gitu, Dik. Pasti banyak penggemar, mau dapet yang kaya apa juga gampang lah. Mau anak SMEA, SMA 1, SMA 2, mau yang modelan kaya Lucinta Luna sampai Mimi Peri juga dapat.”
“Ha ha ha, iya, nggak kaya Akbar, jomlo terus,” sindirku.
“Bukan jomlo, single ini,” elaknya membenarkan sisa jambul yang terpaksa ia pangkas.
“Tapi Apta maunya sih yang kaya Mbak Dara, Mas Gayuh!” sambar Fikri.
Seketika suara daun berguguran begitu jelas, gesekan angin menerpa dedaunan, seperti lembutnya sentuhan perasaan itu datang. Ah, itu hanya candaan adik-adik yang sering kali seperti keterlaluan. Seorang Apta Priyatama, primadona di beberapa sekolah itu pasti punya pujaan yang lebih baik dariku. Lucu saja, toh selama ini kita seperti adik dan kakak sendiri.
“Hati-hati kalau ngomong ya, Fik!” Justru Akbar yang kelewat emosi.
“Bercanda, Mas Akbar, sensitif deh kaya cewek kalau lagi PMS. Latihan TUB aja yuk, Mas!” ajak Fikri menyisakan aku dan Mas Gayuh saja.
Berdua di bawah rindangnya pohon Angsana, dengan bunga kuning jatuh berguguran, menikmati satu nasi kotak dari Apta untuk berdua, ditemani pula satu buket mawar yang tergeletak. Sepanjang ia pulang, sudah dua buket di kamarku belum mengering. Seperti rindu yang terus tumbuh tanpa mengering.