Obrolan Jarak di Angkringan

1299 Kata
6 Maret 2019, satu jam yang lalu baru saja melepas Mas Gayuh kembali bertugas dan aku sendiri juga bertugas melatih adik-adik. Dengan kerinduan yang mulai membeku kembali, dengan jarak yang semakin menghargai waktu temu, serta dengan segala macam hal yang penuh pengharapan untuk bertemu. Lapangan tenis masih sama seperti biasanya, sepoi angin dan kehangatan yang tidak dijumpai di lain tempat. Masih pula dengan pasukan yang terkadang cerewetnya melebihi admin akun gosip. Dan masih sama seperti hari-hari biasanya, waktu istirahat selalu digunakan untuk curhat colongan. Sekedar duduk di teras basecamp dan bercerita tentang ini itu termasuk perihal asmara. “Mbak, aku ada temen lagi, biasanya gampang nikung cewek orang tapi katanya yang ini nggak berani nikung,” ungkap Fikri memulai pembicaraan di waktu istirahat. Selalu saja membahas temannya, jangan-jangan dia sendiri yang kebingungan bagaimana caranya mengungkapkan perasaan pada salah satu perempuan di ujung barat Kabupaten Karanganyar sana. Kudengar dia suka pada satu perempuan sejak SMP. “Suruh sunat dua kali! Dari kemarin yang dipusingin nggak berani ngomong soal perasaan.” “Jadi gitu, ya, Mbak? Dia habis nikung pengusaha fried chicken juga tapi nikung yang ini nggak berani!” “Somplak kamu, Fik. Iya lah, itu pengusaha fried chicken gerobaknya doang enteng. Nah ini, bisa hancur dalam satu waktu kena libas tank leopard-nya,” sambar Apta. “Oh, ini soal Apta lagi? Siapa sih, Ta? Anak mana? Anak SMA 1 itu?” tanyaku menggodanya. “Anak SMA 1, Mbak? Nggak kelas!” “Sok kecapekan!” Menoyor lengannya. “Emang cakep, buktinya Mbak Dara suka.” “Oh iya ya, Ta. Jadi sayang deh sama kamu,” godaku menoel-noel lengannya yang kian hari kian keras aja ototnya. “Sayang beneran, Mbak?” “Loh iya to, beneran bercandanya. Ha ha ha.” Apta langsung terdiam. “Jangan mancing deh, Mbak. Perasaan tidak sebercanda itu.” Dahiku mengernyit. “Mbak Dara tahu rasanya diajak terbang dengan pesawat pribadi lalu dijatuhkan tanpa parasut?” tanya Fikri melihat Apta melangkah pergi ke kamar mandi. “Menyakitkan dan mengerikan,” jawabku santai. “Ya, begitulah Apta saat ini.” Aku tertawa. Ada-ada saja Fikri ini. Sore semakin menjelang, tanpa kabar dari Mas Gayuh. Sekadar tadi pagi saja berpamitan hendak kembali ke tempat tugasnya. Dia tidak pernah menjelaskan apa tugasnya, dia latihan apa saja, atau bagaimana beratnya menjaga negeri ini. Entah karena tidak boleh diceritakan atau memang Mas Gayuh tidak pernah mau membuatku khawatir. Suatu waktu aku pernah menangis, meronta-ronta memintanya untuk pulang hanya karena dia bilang hendak menjalankan misi. Ketika negeri ini terlalu gaduh dengan adanya kelompok bersenjata. Sejak itu rasanya Mas Gayuh tidak pernah banyak bercerita. Ya, beginilah aku, tidak suka dengan risiko seragam doreng, tapi mau dengan Mas Gayuh. “Mbak, mau pulang?” tanya Apta yang masih duduk di atas jok motor warna biru putihnya. “Iya, nunggu Bapak jemput tapi.” “Mau kuantar? Tapi nemenin aku ke angkringan dulu ya, Mbak?” tawarnya di balik remang. Ini sudah usai magrib, gerbang sekolah hampir dikunci, dan aku masih menunggu jemputan. Sejenak terdiam untuk berpikir baiknya. “Ayolah, Mbak. Suaraku udah serak ini kayanya wedang jahe enak.” Menarik tanganku setelah ia meninggalkan motornya. Aku mengikuti langkah kaki Apta menuju ke angkringan depan sekolah yang berjajar dari barat hingga timur. Maklum, tepat di depan sekolah ada rumah sakit umum daerah, jadi banyak angkringan atau warung-warung kecil penjaja makanan bagi penunggu pasien di RSUD yang pastinya butuh makanan. “Pak, jahe hangat satu, es jeruk satu ya?” pesanku duduk mendahului Apta. Apta tersenyum. “Makasih.” “Untuk?” “Karena sudah tahu aku mau pesan apa.” “Ya Allah, Ta. Gitu doang, ya tahu lah. Sudah berapa tahun sih ngurusin kamu jadi Danton?” “Oh iya.” Menggaruk kepala bagian belakangnya. “Emang nggak makan kencur lagi? Suaranya bisa kaya hampir hilang gitu,” tanyaku mengambil beberapa gorengan. Di angkringan itu paling nikmat ya gorengan, wedang jahe, kopi, atau nasi kucingnya. “Enggak, nggak ada yang ngingetin, Mbak.” “Ya ampun, Ta, Ta. Nanti sampai rumah kencurnya dimakan lagi. Ya, nggak enak, tapi kan buat kamu juga, Ta.” “Makasih sudah perhatian, Mbak.” “Sama-sama.” Kembali menikmati beberapa gorengan dan es jeruk yang selalu menjadi favoritku di angkringan, tidak, di manapun itu es jeruk tidak boleh terlewatkan. Ada satu pasang mata yang tidak pernah lepas dariku, dengan satu tangan menyangga kepalanya, senyum tipisnya, potongan cepak, dan kulit yang terbakar matahari. “Kenapa sih, Ta? Ngelihatinnya gitu amat,” tegurku meneguk segelas es jeruk lagi. “Awas nanti jatuh cinta beneran repot!” Apta diam sejenak. “Siapa yang ngelihatin Mbak Dara? Ngelihatin es jeruknya tuh seger banget. Nyuruh semua adiknya nggak makan gorengan, nggak minum es, menjauhi pedas tapi dianya sendiri makan gorengan dan minum es di depan adiknya sendiri. Kejam kali perempuan satu ini.” “Oh, oke maaf, Nak!” Mengacak-acak kepala Apta yang sisa rambutnya hanya 2 cm. Tersenyum, memperlihatkan barisan giginya. Lalu kembali diam, menikmati malam di depan gerbang sekolah. Bapak mungkin tidak bisa menjemputku, biasanya on time, sedangkan ini sudah lewat waktunya. “Mbak, kenapa betah dengan jarak dan kerinduan yang acapkali menimbulkan pertengkaran?” tanya Apta tiba-tiba dari diamnya. Aku dan Mas Gayuh mungkin terlihat baik-baik saja, saling mengerti, tapi di balik itu semua, terkadang kami bertengkar karena jarak dan waktu. Sebelum pulang kemarin, sudah sempat bertengkar karena dia meneleponku tetapi aku sibuk dengan adik-adik. “Mungkin karena cinta menguatkan segalanya,” jawabku sekenanya. “Jika cinta menguatkan segalanya, maka aku bisa kuat memperjuangkanmu meski putih abu-abu bersaing dengan seragam doreng.” “Ha ha ha, bercanda aja kamu, Ta.” “Kenapa kejujuran selalu dianggap lelucon?” gumamnya membuatku berhenti mengaduk es jeruk di depanku. Aku menatap Apta lekat, sambil terus bertanya semacam ada yang berbeda dengan Apta. “Mbak, jika dia bisa menciptakan jarak dan kerinduan, maka biarkan aku yang membuatmu tersenyum.” “Siapa yang ngajarin gombal kaya gitu?” “Aku tidak pernah belajar menggombal, aku hanya belajar berkata jujur.” “Hah?” Tertawa kecil. “Terus mau berkata jujur apa lagi, Nak?” Aku dan Apta memang sering semacam ini, bercanda, tapi rasanya malam ini dia terlalu serius untuk bercanda dengan gombalannya itu. Biasanya dia malu-malu, malah aku yang banyak menggombal. “Mbak Dara cantik.” “Basi, Ta!” “Kejujuran tidak pernah memiliki tanggal kadaluwarsa.” Punggung telapak tanganku bergerak, mendekat ke arah dahi Apta. Anak ini mungkin sedang demam tinggi. “Kayanya kamu sakit. Pulang, yuk! Biar kamu bisa istirahat. Mengeluarkan dompet hendak membayar. Apta menggeleng, mungkin maksudnya jangan aku yang membayar, pasalnya dia mengeluarkan dompetnya dari saku celana. “Mbak, bisa nggak perhatiannya rutin setiap hari, bukan tahunan kaya hari kurban? Kalau perlu 3 kali sehari biar aku lebih semangat. He he he.” Dahiku kembali mengernyit. “Ya ampun, ayo pulang, Ta. Habis ini istirahat, isi otakmu geser kayanya.” Dengan motor yang cukup besar ini, Apta mengantarku pulang, sesekali dia bertanya tentang jarak. Tentang aku dan Mas Gayuh yang dengan bangga aku ceritakan. “Sayang banget sama Mas Gayuh, Mbak?” “Iyalah, Ta. Kalau nggak sayang nggak sejauh ini juga, kan?” “Sudah ada rencana menikah, Mbak?” “Semua perempuan punya rencana menikah, Ta. Apa sih cita-cita seorang perempuan kalau bukan menikah dan punya anak? Nggak perlu gengsi mengakui.” Apta mengangguk-angguk. “Dengar-dengar dari Mas Akbar, Mas Gayuh mau naik pangkat tahun ini. Jadi Mbak Dara mau dilamar juga tahun ini.” “Rencana, Ta. Tapi aku masih pengen kejar mimpi, lamaran aja dulu, nikahnya nanti. Masih pengen menerbitkan buku, masih mau jadi editor. Tahu sendiri lah impianku yang paling besar apa.” Mengangguk-angguk paham. “Kejar mimpi aja dulu, Mbak. Aku pasti dukung, bagus kok tulisannya, apalagi soal TNI yang itu. Nangis aku bacanya.” “Ye, cowok masa baca kaya gitu nangis, Ta. Cengeng ah!” Mencubit pinggangnya. “Nyesek, Mbak. Jadi bayangin kalau Mbak Dara ditinggal tugas gimana perasaannya. Yang kuat ya, Mbak!” Aku tersenyum. Tidak akan semudah itu juga. “Makasih ya, Ta. Hati-hati di jalan, nggak usah ngebut-ngebut, langsung istirahat, besok latihan lagi.” “Siap, Beb!” “Eh!” Jadi kaget sendiri mendengarnya. Biasanya aku yang selalu memanggilnya Beb dan dia akan sangat menghormati jadi tidak akan berani memanggilku Beb. “Mbak, siapa?” tanya adik perempuanku. “Adik kelas, Dantonnya Patriakara.” “Oh itu, gila banyak penggemarnya di sekolahku, Mbak. Namanya Apta Priyatama, kan?” Adikku ini kelas X SMA. “Iya.” “Suruh aja tiap hari nganterin, Mbak. Biar aku bisa pamer sama temenku.” “Heh! Pamer apaan? Bilangin ke temenmu dia sudah punya pacar!” “Oh, aku jadi inget, kemarin waktu lomba di kabupaten katanya temenku Apta Priyatama sudah punya pacar, seniornya, namanya Dara Laksmi Sasmita. Pasti bohongan, kan? Masa iya ikhlas ngelepas Mas Gayuh buat anak SMA?” “Diem aja, kalau ditanya temenmu bilang aja iya. Kasian dia, nggak suka kalau diributin banyak penggemar. Apalagi anak SMA zaman sekarang ngeri-ngeri.” “Setingan? Artis bener si Mas Apta itu.” Aku menggeleng saja. Mau bagaimana lagi? Kenyataannya penggemar Apta banyak dan ngeri-ngeri. Mau dibilang setingan juga terserah, niatku hanya membantu Apta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN