Rintik Hujan

1802 Kata
Datang ke sekolah pukul 13.05 WIB, baru saja dari kampus dan masih pusing berkat revisi skripsi. Semalaman pun tidak tidur, sama sekali. Bukan, bukan karena skripsi, justru karena menemani Mas Gayuh jaga dengan regunya. Skripsi selesai sekitar jam 2 pagi, seharusnya masih ada waktu untuk tidur tapi Mas Gayuh meneleponku cukup lama. Pagi ini saja berangkat ke kampus hampir menabrak orang, pulangnya lebih memilih menitipkan motor di kos teman dan naik ojek online. “Habis bimbingan, Mbak?” tanya Apta yang tiba-tiba saja muncul dari balik ruang 3 ketika aku berjalan menuju lapangan bola mini di sisi utara. Jadi aku berjalan ke utara dan Apta berjalan ke timur dari sisi barat. “Astaghfirullah! Kaget sih, Ta! Tiba-tiba muncul!” Menepuk lengannya berkali-kali. “Aww, sakit lah, Mbak. Mbak aja tuh jalan sambil nunduk, lesu banget lagi.” “Ngantuk sih,” keluhku berjalan mendahuluinya. Apta berusaha mengimbangi langkahku dengan langkahnya yang panjang, jelas mudah-mudah saja baginya. “Mau istirahat aja gimana, Mbak? Bentar lagi Mas Akbar dan kawan-kawan pulang. Kita bisa lah latihan dulu individu. Mbak tidur di basecamp selatan aja, pintunya ditutup, takut anak basket tiba-tiba masuk,” usul Apta terus mengiringi langkahku. Aku menggeleng. “Nggak lah, kewajibanku ngelatih, nanti pulang dari sini aja tidur. Toh, ngelatihnya ini bisa dilihat dari jauh sambil duduk.” “Mbak Dara kalau diperhatikan nggak nurut. Mentang-mentang aku cuma anak kecil,” gumamnya berlari kecil menjauhiku. Apta sekarang lebih mirip Fikri. Sebelumnya aku kenalkan dulu, Fikri Al Buchori, anak Otomotif Elektronik kelas XI ini. Sudah sejak kelas X memang dekat denganku, sudah macam adikku sendiri, usilnya, perhatiannya pula, intinya dia yang paling perhatian denganku sejak dulu. Nah, sekarang bertambah Apta dengan perhatian kecilnya, mungkin karena kami semua pun semakin dekat setelah satu bulan bersama-sama lagi. Menghela napas panjang. Sejujurnya bukan karena dia anak kecil, kalau karena itu mungkin beberapa kali diperhatikan Fikri aku juga tidak nurut, sama-sama anak kecil. Aku hanya berpikir aku datang untuk memenuhi tanggung jawabku sebagai seorang pelatih, tidak lebih. Nanti kalau pulang masih sempat tidur. Berjalan lagi mendekati pasukan yang satu dua mulai sibuk pada tugasnya masing-masing. Siang hari begini memang waktunya mereka latihan Tata Upacara Bendera (TUB). “Mbak Dara,” sapa Risa dengan sangat antusias, anak itu selalu menyenangkan, senyum ceria dan sapaannya. “Hai, Dik!” Melambaikan tangan padanya. “Semangat latihan!” “Siap!” Aku tersenyum, duduk di sebelah tiang bendera, di bawah rindangnya pepohonan. Sekolah ini memang terkenal dengan banyaknya pohon dan luas sekali, green school katanya. Detikku berlalu dengan memperhatikan adik-adik latihan, sesekali mengoreksi gerakan mereka, dan beberapa bacaan yang mungkin bisa aku koreksi. “Semua gerakan ini individu, ingat kalau salah akan kelihatan sekali oleh dewan juri,” pekikku dari tepi lapangan. Meski begitu, kantuk tidak bisa terhindarkan. Mataku rasanya berat sekali, pedas, perih. Aku benar-benar butuh tidur tapi bukan sekarang waktu yang tepat. Sayangnya, mataku ini tidak mudah diajak kompromi. Sesekali satu detik dia menutup, atau sekian detik, sampai kepalaku ikut menunduk. “Mbak Dara rindu kasur di rumah kayanya,” tegur Fikri dari posisinya sebagai Pemimpin Barisan kelas XII. “Tidur di basecamp aja lho, Mbak. Atau pulang tidur.” Aku hanya tersenyum saja, tidak sanggup menjawab. Tapi aku menolak, tetap aku ingin ada di sini untuk adik-adik. Kembali lagi, kepalaku seperti patah dan mataku terlelap sekian detik. Sampai aku seperti sangat nyaman bersandar, semilir angin, dan suara burung beterbangan di atas pepohonan. “Benderanya jadi setengah tiang, Coy! Untung bukan merah putih, bisa disuruh push up kita dikira sedang berkabung.” Suara lirih itu ada dalam mimpiku. “Ssssstt! Istirahat aja dulu!” Suara bervolume kecil yang sangat dekat itu juga masuk ke dalam mimpiku. Tiba-tiba saja aku merasa seperti jatuh, terkaget dan bangun. Mungkin pernah kalian begitu ketika tidur, tidak ada apa-apa tapi seolah terjatuh dari ketinggian dan kaget. Itu pun yang aku rasakan saat ini. Membuka mata, mengusap mata dan yang aku dapati adalah bahu Apta di bawah kepalaku. Dia yang kedua tangannya ada di atas paha, kaki yang membentuk sudut 70° dan sedikit terbuka, pandangan mata ke depan tanpa merasa bersalah atau sebenarnya merasa tidak nyaman dengan kepalaku di bahunya. “Astaghfirullah!” pekikku mengangkat kepala dan salah tingkah sendiri. Bukan karena Apta menjadi sandaranku, tapi karena semua adik-adik melihatku tertidur. Itu membuatku malu pada mereka, mereka yang semangat sekali latihan. “Mimpi buruk, Mbak? Sampai kaget gitu,” tanya Apta menoleh padaku, membuat wajah kami begitu dekat. “Ah, enggak, maaf ketiduran, lama, ya?” “Lama apaan, Mbak? Dua menit juga nggak sampai, padahal sudah seneng-seneng bisa istirahat karena Apta jadi sandarannya Mbak Dara, eh, malah sudah bangun,” keluh Fikri. “Iya, Mbak. Tapi tadi so sweet banget sih Apta, Mbak.” Risa pun angkat bicara. Febri, anak kelas XI yang juga sahabat dekat Risa itu mengangguk-angguk. “Bener, Mbak. Pas pengibar bendera langkah tegap ke arah tiang, Mbak Dara tuh udah hampir jatuh berkali-kali. Eh, si Apta sudah lirik-lirik tuh, tapi Mbak Dara kaya masih bisa nahan. Nah, pas mulai narik benderanya, Mbak Dara makin tidak terkondisikan. Hampir aja jatuh jadi Apta langsung lari, duduk sebelah kiri dan Mbak jatuh di bahunya Apta. Asli lah itu, kaya drama Korea, tapi benderanya jadi setengah tiang, tuh.” Menunjuk tiang di sebelah kananku. Dalam Tata Upacara Bendera, Apta memang pengibar bersamaan dengan Risa dan Febri. Kalau dalam Baris-berbaris dia tetap andalan sebagai Komandan Peleton. Aku menoleh pada Apta. “Iya, Ta?” Apta sedikit salah tingkah. Gerakannya jadi agak aneh. “Ya, ya iya, Mbak. Takut Mbak jatuh kepalanya terbentur, kan keras ini, Mbak.” Sembari mengetuk-ngetuk tepian lapangan. “Uwuuu, so sweet amat dah.” Fikri menggoda Apta dari belakang. “Iya nih, makasih ya, Beb,” godaku balik dan Apta malah melangkah pergi. “Seandainya itu tadi Mas Gayuh pas pakai seragamnya ya, Mbak. Wah, tambah so sweet lagi,” Risa mengandai, membawaku dalam bayangan. “Iya ya, wah, melting aku.” “Ah, aku bayangin lagi. He he he.” “Iya, ha ha ha.” “Gila, Mbak Dara, yang melakukan secara nyata si Apta yang dipikirkan orang lain, nggak jaga hati orang lain banget!” tegur Fikri tapi sepertinya hanya bercanda. “Wah, tenang, Beb. Makasih lho, ya, jadi nggak terlalu ngantuk lagi kok,” ujarku memang sudah biasa begini. Maksudku menggoda Apta. Apta hanya mengangkat kedua alisnya sekali lantas memekik, “Ayo-ayo latihan lagi!” Latihan hari ini sampai jam 17.00 WIB, tepat waktu tapi aku harus pulang sedikit terlambat karena mengecek perlengkapan adik-adik, mulai dari sepatu, seragam, topi sampai ikat pinggang. “Pulang sana, Ta! Istirahat!” perintahku pada Apta yang tengah mengambil alih kardus sepatu yang kubawa. “Tenang, Mbak. Masih jam segini, biasanya sampai jam enam kalau pakai acara khotbah,” sindirnya pada senior mereka. “Hussh! Mulutnya!” Karena sudah hampir selesai, banyak yang pamit pulang lebih dulu, termasuk Akbar yang katanya akan ada acara di rumah, jadi dia sedikit buru-buru. Aku mulai mengotak-atik ponselku, memesan ojek online hendak pulang. “Lah, emang nggak naik sepeda tadi, Mbak?” tanya Apta tepat di belakangku. Karena dia tinggi sekali, jadi jangan heran kalau dia ada di belakangku masih bisa melihat ponsel di depanku. “Enggak, motor kutinggal di kos temen. Karena nggak tidur tadi berangkat hampir nabrak orang, jadi ke sini tadi pilih naik ojek online.” “Cancel aja, orang kita satu arah, ngapain sih pakai pesen ojek online, Mbak? Hemat lah!” Menghela napas lantas kubatalkan ojek online-ku. Lumayan bisa buat jajan besok, tahu sendiri kantong mahasiswa. Baru saja merapikan barang-barang, rintik hujan datang, dan membuat kita mengeluh bersamaan. Begitulah manusia, diberikan panas protes, diberi hujan mengeluh. “Maaf ya, Mbak. Aku nggak bawa jas hujan, lupa kemarin aku keluarin dari dalam tas,” kata Apta di depan basecamp. Aku mengangguk, menengadahkan tangan, menikmati air yang jatuh. “Nggak apa-apa, santai sih, Ta.” Kami berdua menunggu di depan basecamp. Bosan menikmati air hujan, aku duduk bersandar di bawah jendela basecamp, diikuti Apta yang akhirnya duduk di sebelah kiriku. “Maaf lagi lho, Mbak. Harusnya Mbak sudah sampai rumah dan tidur. Bukannya di sini dan kedinginan,” sambil menunduk merasa bersalah. Aku pandang dia lekat. “Apta, Apta, kamu adik aku banget sih! Ha ha ha. Gitu aja lho ya, santai.” Apta diam, aku juga diam, dan itu yang membuat mataku kembali merasa sangat-sangat lelah. “Emang kenapa sih, Mbak? Kok bisa ngantuk terus gitu? Nggak biasanya.” “Semalam nggak tidur sama sekali aku, Ta. Jadi gini, butuh banget tidur.” Berusaha membuka mata lebar-lebar. “Ngerjain skripsi?” “Iya, sampai jam 2, terus nemenin Mas Gayuh jaga malam sampai pagi.” Apta langsung menoleh padaku. “Mbak mau nemenin sampai pagi dan rela nggak tidur?” “Iya, kenapa?” Dia malah menyentuh dahiku dengan punggung telapak tangannya. “Kaya masih sehat.” “Ya, emang sehat, ngantuk aja!” ketusku. “Mbak, yang dapat tugas dari negara untuk jaga kan dia ya, Mas Gayuh. Yang harusnya tanggung jawab sama tugasnya dia, nggak perlu melibatkan Mbak Dara. Harusnya dia ngertilah, Mbak Dara juga butuh istirahat.” Aku mengangkat kedua alisku bukan karena ungkapan Apta, bisa jadi ada benarnya, tapi aku lebih fokus pada caranya mengungkapkan. “Ngegas banget sih, Ta.” “Maaf, Mbak. Emosi soalnya ada cowok yang punya tanggung jawab tapi memberatkan ceweknya. Dia yang tugas ya dia yang selesaikan, nggak usah melibatkan ceweknya sampai nggak tidur.” “Ya, risiko mendampingi tentara, Ta. Harus bisa mengikhlaskan, bisa melepaskan, bisa mendampingi saat apapun, bisa ada di saat apapun. Ah, pokoknya gitu lah. Udah sering juga nemenin dia kok.” “Jangan bodoh karena cinta lah, Mbak. Kesehatan juga penting, hidup Mbak Dara juga penting, nggak cuma mementingkan apa yang Mas Gayuh mau!” Menohok sekali, tapi aku tak suka dengan cara Apta. “Ketus banget sih!” “Maaf.” Kami diam karena perseteruan ini, membuatku lambat laun memejamkan mata dan bersandar di bahu yang sama. Entah seberapa lama aku tertidur tapi ketika aku bangun, azan Magrib sudah terlewat, hujan sudah reda, tapi Apta masih tertidur di atas kepalaku yang ada di bahu kirinya. Hendak membangunkan tapi bingung, tidak dibangunkan, sudah malam dan posisinya tidak enak. Kami juga belum salat Maghrib, keburu habis waktunya. Aku menunduk mencari akal tapi aku salah fokus dengan sarung hitam bermotif di bagian bawahnya, menutup tubuhku. Ingat betul ini sarung Apta yang selalu dia gunakan untuk salat. Karena latihan baju selalu kotor, maka ia membawa sarung dan baju koko, dan ini sarungnya.  Terharu sekali, ada adik baru yang begitu perhatian. “Ta.” Menepuk tangan yang ada di atas pahanya. “Ta, salat dulu terus pulang yuk! Udah reda.” “Eh!” Dia langsung mengangkat kepalanya dari kepalaku. “Maaf, maaf, Mbak.” “Aku yang maaf gunain bahu kamu lagi, Ta. Dan terima kasih sarungnya, jadi adik baik banget sih, Ta. Jadi sayang,” kataku sambil melipat sarung itu. “Eh, sayang sebagai adik, Mbak?” “Iya lah, sebagai pacar bisa diserang penggemarmu. Kemarin aja banyak yang DM belum sempat aku balas.” Kemarin setelah pengakuan pura-pura kami di GOR RM Said,banyak yang tiba-tiba follow i********: baruku, spam like dan mengirim pesan tanya ini itu, tidak sedikit pula yang menghujat. Apta menghela napas seperti orang kecewa, mungkin dia lelah terus menerus membahas fansnya.  Kami berjalan ke masjid sekolah, salat berjamaah dengan satpam yang jaga malam. “Untung bapak datang ke sini, kalau enggak kalian kekunci di sekolah. Kan satpam yang jaga sore pulang lebih cepat, istrinya lahiran tadi.” Aku dan Apta saling memandang, kalau sampai terkunci di sekolah, apa berani aku dan Apta berdua saja? Ini sekolah terkenal horor bukan main. Kisah-kisah tentang sekolah ini masa dulu cukup menakutkan. “Untung, Pak Bambang, terima kasih, Pak,” ucap Apta dengan lucunya sambil menjabat tangan Pak Bambang, satpam sekolah paling baik. Kami pulang ketika rintik gerimis kembali datang, kecil-kecil, dengan kecepatan motor yang diperlambat, dengan tas punggung Apta sebagai pegangan. “Nanti kamu bawa jas hujan Mamaku aja ya, Ta. Takutnya kalau hujan di tengah jalan, nanti kamu sakit.” Aku melihatnya dari kaca spion dia tersenyum, sampai nampak barisan gigi rapinya. Rerintik hujan membuat kami pulang cukup malam,tapi membuatku menemukan adik baru yang mungkin saja akan lebih dekat dari Fikri. Apta Priyatama, terima kasih telah mengantarku lagi malam ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN