Viona berusaha untuk tersenyum meski dalam hati ingin mengumpat. "Saya juga ngucapin makasih buat traktirannya. Lain kali kalau mau traktir lagi, boleh kok," ujar Aneska sembari tersenyum, "kami duluan, ya, Mbak. Sekali lagi makasih banyak loh." Bangkit berdiri. Tersenyum menyambut uluran tangan suami kemudian berlalu dengan tangan saling tertaut. Viona menatap kepergian orang-orang itu dengan tidak suka. "ARGH!" Memukul meja hingga beberapa orang di sana menatapnya aneh. Viona tidak peduli dengan sekitar. Yang kini ia rasa hanya kesal dan sesal. Tak mengira cinta pria itu akan luntur dengan cepat. "ARGH!" Sekali lagi ia mengerang kesal sembari memukul meja. "Aku harus pakai cara lain." *** "Mas, aku boleh tanya sesuatu?" Aneska duduk di samping suaminya. "Boleh, Sayang. Mau tanya

