"Tasya!" Anak perempuan satu-satunya Damar dan Dania yang sedang menangis sambil guling-guling di halaman rumah dengan pintu pagar tidak terkunci itu, menoleh. "Om!" Gegas bangkit lalu berlari menghampiri sang om sambil terus menangis. Shaka mengangkat tubuh mungil anak itu. "Ini Tasya kenapa nangis?" Dengan ibu jari ia menyeka air mata yang membasahi pipi gembil anak itu. "Papa Tasya nakal, Om," adu Natasya dengan sendu sambil memeluk leher sang om dan kembali terisak. "Udah, Tasya jangan nangis lagi. 'Kan sekarang udah ada om. Nanti cantiknya ilang kalau nangis terus," ujar Shaka, melangkah menuju pintu rumah temannya bersama sang istri. "Kapan kalian datang?" tanya Dania, berpapasan di ruang tengah. "Baru. Ini kenapa Tasya bisa nangis sendirian di depan rumah, Nia? Kalau dia kelu

