Chapter 2: Dicerai

1501 Kata
-Kaira- Prosedur kuretase itu tidak lama. Sekitar tiga puluh menit sudah selesai. Namun Kaira harus menunggu sampai lima jam di rumah sakit sebelum ia diperbolehkan pulang. Jadi jam 7 malam dia baru bisa pulang. Karena masih terlalu lemah, Kaira harus didorong oleh suster ke lobi, menggunakan kursi roda. Itupun setelah ia menyelesaikan urusan administrasi sendiri menggunakan kartu asuransi perusahaan tempat Ilman bekerja. "Kok bisa-bisanya nggak diantar suami, Bu Kaira?" Sang Suster terdengar gusar. Mereka berhenti di lobi utama rumah sakit, di sana masih banyak pasien menunggu giliran dipanggil untuk obat atau pemeriksaan. "Suami saya sibuk di kantor, Bu," jelas Kaira. "Ini kuret operasi lumayan lho, saya kaget banget pas tahu Ibu sendirian." "Nggak masalah kok, ini kan bukan yang pertama kali saya dikuret. Saya bisa sendiri kok." Kaira tersenyum tipis. "Tetap aja, keguguran itu bukan hal remeh. Apalagi kalau setelahnya dikuret. Ibu pasti lelah banget, nanti pulang-pulang langsung istirahat aja ya Bu." "Iya terima kasih, Suster." Kaira mengecek ponselnya. Ia baru akan memanggil taksi online ke rumahnya, saat sadar ternyata naik taksi online dari rumah sakit Awal Bros Batam ini, ke rumah Kaira di daerah Sagulung, sangat mahal. Berkali lipat dari dua puluh ribu yang diberi Ilman. 'Gawat, gimana ini?' Kaira meringis dalam hati. Dia jarang naik taksi online jadi tidak tahu kalau ternyata bisa semahal itu biayanya. ‘Uangku nggak cukup. Naik ojek aja apa ya?’ Akhirnya ia membuka pilihan ojek. Hanya sedikit bedanya untuk ojek ke Sagulung, Kaira bisa meminjam uang Mamak Nesha, tetangga sebelah rumahnya untuk meminjamkan sedikit uang untuk kekurangan bayar ojek. "Jadi panggil taksinya Bu?” Sang Suster bertanya. Kaira menggeleng. “Nggak, saya panggil ojek aja." "Kok ojek? Ibu baru operasi kuret, sebaiknya naik mobil biar bisa berbaring. Sakit lho Bu, apalagi Ibu bilang rumah Ibu di Sagulung kan? Itu jauh sekali dari sini, bisa 30 menit lebih. Di luar hujan pula, yang ada Ibu bakal masuk angin terus sakit." "Nggak apa-apa, Suster," balas Kaira. "Saya soalnya lupa bawa dompet, cuma ada sedikit di kantong, dua puluh ribu." Sang suster menghela nafas. Mungkin perempuan itu heran melihat pasien semiskin Kaira bisa berobat di rumah sakit ini. Tentu saja dia tidak bisa berobat di sini tanpa kartu sakti dari kantor suaminya. "Nggak bisa dibayarin suami nanti di rumah, Bu?" Jawabannya jelas tidak, Ilman pasti mengamuk bila harus mengeluarkan uang lebih dari budget yang diinginkan. "Suami belum pulang, Suster." Kaira beralasan. "Nggak apa-apa kok Suster, ini bukan pertama kali saya dikuret, saya baik-baik aja." "Tapi kan ...." "Maaf, Mbak." Seorang laki-laki muda kisaran 25 tahun menyela pembicaraan mereka. Pria itu tinggi dan tampan, berdiri tidak jauh dari kursi roda Kaira. Kaira kira lelaki itu mau bertanya pada sang Suster, namun ternyata ia salah. Karena si lelaki tidak dikenal malah mengajaknya bicara. "Maaf Mbak, saya tadi nggak sengaja dengar percakapan Mbak. Mbak mau pulang ke Sagulung tapi lagi nggak pegang uang tunai?" Kaira terpaku, mata mengerjap bingung. Yang menjawab malah si Suster. "Benar, Mas." "Biar saya bantu ya Mbak? Ongkos pulangnya? Ibu mau uang tunai atau saya top up saja saldo e-wallet-nya?" Lelaki itu menawarkan. Kaira sampai tidak percaya, mengira dia salah dengar. Tapi lelaki itu membujuknya lagi. "Perlu berapa Mbak sampai Sagulung? Seratus ribu cukup? Eh tapi Sagulung jauh ya dari sini. Seratus lima puluh ribu bagaimana?" Lelaki itu kini sudah mengeluarkan dompet, mengecek uang kertas di dalam dompet material kulit itu. "Ya ampun, Mas. Jangan, saya nggak mau hutang budi." 'Apalagi sama orang nggak dikenal,' batin Kaira melanjutkan. "Bukan hutang budi. Anggap saja ini ... bantuan dari sesama pasien rumah sakit ini." Pria itu tersenyum lagi. Senyumnya manis dan menyegarkan. Kaira yang sebenarnya galau karena keguguran lagi jadi refleks tersenyum juga. Walau senyum itu langsung hilang mengingat ada sosok menakutkan menunggu di rumah. "Jangan deh Mas, saya nggak enak," tolak Kaira lagi. Jelas saja dia tidak enak bila harus merepotkan sesama pasien, meski pria itu tidak tampak sakit sama sekali. "Nggak apa-apa Bu, Masnya udah nawarin, berarti ikhlas. Ya kan Mas?" bujuk sang Suster sembari mengonfirmasi pada pria itu. "Benar Mbak, jangan khawatir. Saya ikhlas dunia akhirat kok. Ini ya?" Lelaki itu mengulurkan dua lembar seratusan ribu pada Kaira. Kaira sampai ingin menangis lagi. Hatinya ingin menolak namun raga akhirnya menerima uang itu karena sadar, dia sebenarnya butuh. Naik motor dengan kondisi habis dikuret tambah suasana hujan adalah bencana. Kaira harus tetap fit agar sesampai di rumah masih bisa menyiapkan makan malam untuk suaminya. "Tapi nanti saya gantinya bagaimana ya Mas? Saya boleh minta nomor rekening Mas? Nanti saya ganti." 'Dengan dicicil,' lanjut Kaira lagi dalam hati. "Jangan diganti Mbak, nggak apa-apa. Ganti dengan doa saja, semoga saya sehat, Mbak juga sehat. Ya?" 'Malaikat. Mas ini pasti malaikat yang dikirim Tuhan buat bantu aku hari ini.' Kaira berujar yakin dalam hati. "Terima kasih ya Mas, terima kasih banyak." "Sama-sama," kata lelaki itu. Ponselnya tiba-tiba berdering.
 "Halo Sayang? Kamu udah di parkiran? Oh, oke, aku di lobi nih. Aku ke depan ya." Kaira mendengar lelaki itu bicara di telepon. Pria itu kemudian pamit padanya dan si Suster. "Duluan ya Sus, Mbak." "Eh iya, makasih sekali lagi Mas." Lelaki itu melambaikan tangan dan berjalan ke pintu utama rumah sakit. Saat itulah Kaira menyadari, lelaki itu berjalan dengan kaki kanan yang pincang. Tanpa sadar Kaira memperhatikannya, diam-diam merasa iba. 'Kasihan Mas-nya, padahal baik dan ganteng tapi jalannya begitu. Semoga Masnya selalu bahagia.' Kaira berharap tulus. ‘Siapapun pasangan Mas itu, pasti cewek beruntung.’ *** Berkat pemberian uang dari pria tidak dikenal itu, Kaira bisa pulang dengan nyaman ke rumah menggunakan taksi online. Bahkan uangnya masih sisa seratus ribu yang Kaira simpan untuk pegangan dia. Begitu tiba di rumah, ia melihat mobil Ilman sudah diparkir di garasi. Kaira menghela nafas, masuk ke balik pagar dan mengetuk pintu rumah satu lantai itu. Ilman membuka tak lama setelahnya, wajah suaminya itu masih sama mengerikan seperti tadi. Tidak bertanya kondisi Kaira bagaimana, pria itu tetap dingin seperti tadi siang. "Mas, udah makan?" Kaira memecah keheningan sembari menaruh tasnya di atas sofa. "Sudah." Ilman duduk sambil melipat tangan di d**a. "Oh, oke. Aku ...." Baru Kaira berniat bilang dia mau masak mie instan dulu karena lapar, Ilman malah memotongnya. "Duduk Kaira, aku mau bicara." Kaira menurut, langsung duduk tanpa basa-basi. Ilman tidak bicara beberapa saat, pria itu menatap tajam sebelum helaan nafasnya terdengar. "Aku kecewa sama kamu, Kai. Kamu tahu kan?” Kaira mengangguk. “Maaf, Mas. Mungkin … kalau aku hamil lagi, berikutnya baru ….” “Nggak, Kaira.” Ilman menggeleng. “Nggak ada yang berikutnya. Aku sudah diskusi sama kedua orang tuaku, dan sepertinya memang ini sudah saatnya.” Kaira merasa dunianya yang sudah hancur kian runtuh begitu mendengar ucapan Ilman selanjutnya. “Kaira, aku akan menikah lagi. Jadi mulai hari ini, kita bercerai.” “Cerai?” Kaira mengulang. “Nikah lagi? Ta-tapi Mas … aku kan udah pernah bilang Mas boleh poligami kalau memang aku keguguran terus. Kenapa kita harus cerai? Aku bakal terima kok maduku, istri kedua Mas,” ucap Kaira, air matanya mengalir tak bisa dihentikan sekarang. “Kenapa aku harus poligami, Kaira? Itu sama aja aku buang-buang uang. Kamu pikir punya dua istri itu gampang?” Ilman yang pelit tentu saja berpikir anti mainstream. Di saat lelaki lain ingin punya dua istri, Ilman selama ini bertahan dengan satu karena malas berurusan dengan banyak perempuan. Kaira tahu sekali sifat suaminya yang itu. “Lebih baik aku ceraikan kamu, jadi uangku bisa untuk istri dan anakku saja.” “Tapi Mas …” “Nggak ada tapi-tapi. Keputusan aku udah bulat. Aku kasih kamu seminggu tinggal di sini sampai bisa ketemu tempat tinggal baru. Aku juga akan ajukan ke pengadilan agama. Kamu jangan pernah datang sidang biar putusan cepat keluar. Paham, Kaira?” “Mas, jangan ….” Tangisan Kaira makin kencang. Ia sampai berlutut di lantai, memegang kaki Ilman. Memohon pada si suami. Katakanlah dia lemah, tapi selama ini hanya Ilman tumpuan hidupnya. Kaira Sasmaya anak yatim piatu, kemana Kaira harus pergi bila Ilman menceraikannya? Sayang pintu hati suaminya itu seperti sudah tertutup rapat. Karena Ilman tetap dingin. “Pernikahan kita cukup sampai di sini, Kaira. Cukup sudah enam tahun aku buang-buang waktuku sama kamu. Sekarang saatnya kamu hidup sendiri, nggak bergantung sama aku lagi.” Kaira hanya bisa menatap nanar Ilman yang berdiri dari duduknya lalu berjalan ke pintu. “Ingat, seminggu kuberi waktu. Minggu depan, aku mau kamu sudah pergi dari rumah ini karena istri baruku akan masuk.” Ilman keluar setelah mengatakan itu, membanting pintu di belakangnya hingga dinding bergetar. Foto pernikahan Kaira dan Ilman yang terpasang di dinding pun jatuh ke lantai. Kaira memperhatikan foto yang kacanya retak dan figuranya patah itu. “Mas Ilman …,” panggil Kaira pilu. Ia merangkak, menarik foto ukuran 8R dari balik figura lalu memeluk foto itu sembari berbaring perlahan di lantai. Perutnya melilit, kepalanya pusing, bagian bawah tubuhnya perih. Sekujur badannya linu dengan hormon yang tidak beraturan. Tapi tidak ada yang menandingi sakitnya hati Kaira. “Mas Ilman …, jangan tinggalin aku ….” Kaira meratap sendu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN