-Kaira-
“Akhirnya kamu dicerai juga sama Ilman," kata Ibu mertua Kaira pagi itu.
"Sudah lama ibu ingin kalian berpisah, tapi Ilman selalu mempertahankan kamu. Ternyata benar bukan, kamu keguguran lagi? Harusnya sudah lama kamu cerai sama Ilman." Pedas wanita paruh baya itu melanjutkan ucapan.
Kaira hanya diam, membereskan beberapa potong bajunya ke dalam tas tangannya hari ini, sehari setelah Ilman menjatuhkan talak dan menyuruh Kaira keluar dari rumah yang sudah dia tempati selama enam tahun itu.
Pagi-pagi ibu mertuanya sudah datang, untuk membantu Ilman mengusir Kaira si istri terbuang.
"Ilman memang dulu susah dikasih tahu. Padahal harusnya dari awal kalian nggak usah menikah, Ibu dan Bapak sudah tidak setuju dia memilih calon istri yatim piatu kayak kamu. Benar ternyata perkiraan kami, menikah sama kamu itu buang-buang waktu. Enam tahun menikah, sudah lama baru hamil, setiap hamil malah keguguran," cibir Ibu Sekar, nama wanita itu.
"Enam tahun itu sudah terlalu lama."
"Saya juga tidak tahu kenapa saya bisa keguguran lagi." Kaira yang tak tahan akhirnya membela diri. "Padahal dokter bilang kandungan saya baik, sehat-sehat. Saya juga minum vitamin yang Ibu kasih, selain yang diberi oleh dokter. Tapi ternyata masih keguguran, ini sudah takdir.”
Rasa sehabis dikuret semalam saja masih nyeri di tubuhnya, tapi mentalnya ternyata harus diobok-obok juga.
“Ini salah kamu kenapa kamu tidak bisa mempertahankan kandungan. Seharusnya kamu lakukan segala cara, bukan malah mengeluh seperti sekarang.”
Kaira diam saja. Bagaimana bisa dia melawan sang Ibu Mertua? Tidak pernah bisa. Wanita itu selalu mendominasi pernikahannya.
Dulu awal-awal menikah, Ilman Purwoto masih mau membela Kaira. Pria itu sangat baik hati, tidak pelit seperti sekarang.
Tapi makin ke sini, Ilman menjadi berubah. Pria itu seperti bertransformasi menjadi orang lain. Tidak ada lagi kata sayang, yang ada malah kemarahan dan umpatan.
Kaira tahu itu semua bukan karena kesalahannya. Tidak ada perempuan hamil yang ingin keguguran, terutama tiga kali seperti Kaira. Tapi harus bagaimana dia? Ketika dia keguguran dan orang terdekatnya langsung menyalahkannya.
"Mas Ilman ...." Kaira menghabiskan semalaman menangis.
Dia juga mengirim pesan, meminta Ilman untuk mengangkat telepon. Tapi semua sia-sia, pagi menjelang dan Ilman tidak kunjung mau membalas pesannya juga mengangkat telepon.
Yang datang ke rumah malah Ibu pria itu. Ibu mertua Kaira, yang selalu membuat Kaira stress selama menikah dengan Ilman.
Perempuan doyan menuntut, selalu banyak permintaan. Tidak pernah bersikap manis, dan doyan menghina Kaira di setiap kesempatan.
Tapi Kaira menerima saja, menerima dengan senyum dan dengan tawa semua ucapan dari Ibu Sekar. Dia berusaha menyayangi dan menjadi menantu yang baik karena wanita itu Ia anggap sebagai pengganti ibunya. Sayangnya, ibunya Ilman tidak pernah memposisikan dirinya sebagai pengganti Ibu Kaira.
Wanita itu membuat batasan tegas, santai saja mengeluarkan kata-kata nyelekit yang menyakitkan hati.
"Apa Mas Ilman benar-benar tidak mau terima saya lagi?" Akhirnya Kaira memberanikan diri bertanya pada sang Ibu Mertua. Wanita itu mendecih.
"Dia mana mau terima kamu? Kamu itu hanya bisa menumpang saja selamanya. Tidak bisa memberi keturunan, hanya bisa minta-minta."
Padahal dulu yang melarang Kaira kerja juga Ilman, tapi sekarang malah hal itu yang terus diungkit dengan Kaira disebut sebagai parasit di hidup suaminya.
"Ilman sudah lama ketemu calon pengganti kamu, wanita baik dari keluarga baik yang Ibu kenalkan." Betapa santainya Ibu Sekar mengatakan bahwa dia secara tidak langsung menyuruh anaknya selingkuh dengan wanita lain saat masih menikahi Kaira.
"Asal kamu tahu ya Kaira. Selama ini saya diam karena berusaha menghormati kamu saja, apalagi karena kamu hamil, tapi ternyata kamu keguguran lagi, jadi apalagi alasan Ilman mempertahankan rumah tangga kalian? Tidak ada. Maka dari itu, memang sebaiknya kamu keluar dari sini secepatnya."
"Mas Ilman kasih saya waktu seminggu," balas Kaira membela diri.
"Memang benar, tapi harusnya kamu pergi dari sekarang," tandas Bu Sekar. "Rumah ini harus dibersihkan sebelum ditempati sama istri baru Ilman."
Pedih hati Kaira mendengar itu, tapi lebih pedih saat menyadari dia belum sempat mencari tempat tinggal lain.
"Tapi saya nggak punya rumah lagi ibu, ini satu-satunya rumah saya."
"Ya kamu bisa kembali ke panti Asuhan tempat kamu tinggal dulu, kan? Nggak perlu manja ya Kaira. Ingat kamu sudah pisah sama anak saya."
Kaira terdiam.
Menunggu seminggu ternyata tidak diperbolehkan. Ibu mertuanya sudah menyuruhnya pergi, bahkan mengatakan kalau akta perceraian Kaira akan dikirim langsung nanti ke panti.
Wanita itu menunggui Kaira membereskan barang-barangnya yang hanya sedikit. Ibu Sekar tidak mengizinkan Kaira membawa barang apapun yang menurut dia seharusnya tidak boleh Kaira bawa.
"Kenapa kamu bawa itu?" Bu Sekar menunjuk kotak perhiasan berisi kalung dan gelang emas.
"Tinggalkan itu."
"Tapi Mas Ilman kasih saya ini untuk hadiah ulang tahun perkawinan." Kaira menahan diri.
"Tidak boleh bawa perhiasan. Tinggalkan semua termasuk juga cincin kawin." Dengan tega Bu Sekar berkata. Kaira tak melawan, tahu karena itu semua sia-sia. Akhirnya ia meninggalkan semua perhiasan yang pernah diberikan oleh Ilman. Begitu juga ponsel, Kaira harus meninggalkan dan hanya boleh membawa ponsel lamanya yang sudah sering error.
"Saya mau pamit sama Mas Ilman, Ibu," pinta Kaira begitu barang-barangnya sudah selesai Ia kemasi. Baru dia akan menelepon, tapi ibu mertuanya sudah mengusir.
"Tidak usah telpon Ilman, dia sibuk di kantor. Mending kamu pergi sekarang."
Kaira menurut, memanggil ojek meski badan masih libu. Sebelum naik, Kaira pun menyalami ibu mertuanya.
"Ibu, terima kasih atas segalanya selama enam tahun ini. Saya minta maaf kalau banyak kesalahan." Kaira tersenyum dan berbesar hati. Biar bagaimanapun menjengkelkan wanita itu, meski banyak ketidakcocokan antara dia dan Bu Sekar, tetap saja wanita itu pernah jadi mertuanya. Kaira berusaha bersikap santun sampai akhir.
"Salam sama Bapak dan Mas Ilman, Bu. Semoga pernikahan Mas Ilman berhasil dan dia dapat anak yang diinginkan."
"Hm." Bu Sekar tidak menjawab apapun.
Kaira sebenarnya pilu pernikahannya berakhir seperti ini. Tapi dia tidak ingin sedih berlarut-larut. Jadi dari rumahnya yang di Sagulung, Kaira pergi ke Panti Asuhan Cinta Kasih. Dia sampai di panti yang terletak di daerah Batam Center itu siang hari.
Ibu Lies si pemilik panti langsung menyambutnya. "Ada apa Kaira? Apa ada masalah? Kenapa kamu ke sini sendiri nggak sama suami kamu?"
Kaira berusaha menahan tangis, sembari berkata, "Saya baru dicerai, Ibu. Boleh tidak saya tinggal di sini untuk sementara waktu?"
Wanita yang menjadi pengganti ibunya itu, langsung memeluk erat. Mengelus kepalanya lembut.
"Tinggal saja selama yang kamu mau, Kaira. Panti ini selalu menerima kamu kembali, kamu jangan khawatir."
"Terima kasih, Ibu."
***
Dua bulan lamanya, Kaira akhirnya tinggal dan bekerja di panti asuhan itu sebagai tukang bersih-bersih serta masak-masak dan pekerjaan lainnya. Ia pun diberi gaji oleh Pak Muchtar dan Bu Lies, pasangan pemilik panti itu, meski tidak banyak.
Kejadian ia keguguran dan langsung dicerai masih menyisakan luka bagi Kaira, tapi setidaknya selama berada di panti, kesedihan itu sirna karena banyak anak panti yang menjadi pengobat lara.
Walau lara itu kadang kembali muncul, saat tiba-tiba akta cerai Kaira dinyatakan sudah terbit dan ia resmi menjanda. Bercerai dengan Ilman Purwoto tanpa sedikit pun Kaira mengurus di Pengadilan Agama.
"Jadi janda juga. Janda miskin pula," gumam Kaira yang tidak dibagi sedikitpun harta gono-gini. Namun dia tidak lama meratapi nasib. Hidup harus terus berjalan.
"Kamu mau cari kerja di luar?" Begitu tanya sang Ibu pengurus panti pada Kaira suatu pagi saat Kaira sedang menyapu halaman.
"Benar, Bu, tidak apa-apa kan?"
"Nggak apa-apa dong. Ibu senang malah kalau kamu mau bekerja lagi. Ibu tahu bayaran di sini kurang untuk dibuat menabung."
"Terima kasih, Bu." Kaira lega Bu Lies tidak mempermasalahkan.
"Saya mau cari kerja supaya bisa lebih mandiri. Saya ingin hidup untuk diri saya sendiri, memulai hidup baru." Begitu niat Kaira. Enam tahun pengabdiannya sebagai istri Ilman Purwoto hanya menyisakan luka. Selalu mengedepankan kepentingan suami di atas kepentingannya ternyata di balas duka.
Bergantung dengan pria itu adalah keputusan terburuk dalam hidup Kaira. Ia tidak akan mengulang itu.
"Ibu dukung, Kaira." Wanita itu tersenyum. "Mulai sekarang, kejar bahagiamu ya."