-Kaira-
"Kamu mau kerja di mana rencananya?" tanya Bu Lies.
"Belum tahu Bu. Mungkin saya melamar jadi operator aja kayak dulu sebelum nikah. Tapi saya nggak tahu, ada nggak perusahaan yang bisa terima operator berusia 26 tahun seperti saya."
Kaira jadi bingung, karena dia hanya ulusan SMA. Enam tahun lalu dia baru akan berkuliah karena lulus SMA tidak punya dana dan langsung bekerja. Tapi di kantor dia malah ketemu jodoh dan keburu menikah dan niat kuliah itu pupus karena Ilman melarangnya.
"Saya bagus kerja di mana ya Bu?" Kaira bertanya pada pada Bu Lies.
"Coba nanti Ibu tanya sama Bu Dira ya."
"Bu Dira yang pengacara itu Bu?"
"Iya yang paling rajin nyumbang ke sini tiap bulan." Penjelasan Bu Lies membuat Kaira mengangguk. Dia kenal siapa yang dimaksud sang Ibu panti. Salah satu donatur terbesar panti.
"Wah, boleh banget Bu. Kerja di kantor pengacara kayaknya seru." Kaira jadi bersemangat.
"Iya bisa di kantor Bu Dira, atau di perusahaan lain punya Pak Adya."
"Pak Adya?"
"Suami Bu Dira. Soalnya suaminya punya dua perusahaan kan, jadi siapa tahu ada lowongan buat Kaira."
"Wah boleh juga Bu. Saya di mana saja nggak masalah, jadi operator juga nggak apa-apa kalau memang masih mau terima saya. Cleaning service juga nggak apa-apa Bu."
"Nanti Ibu tanyakan ya. Nggak cuma ke Bu Dira dan Pak Adya, tapi ke donatur lain juga. Kamu tunggu aja sambil coba lamar lowongan yang ada di iklan," usul Bu Lies.
"Ya bu, terima kasih."
Sesuai dengan ucapannya, sang Ibu Panti benar benar membantu Kaira menanyakan lowongan pekerjaan kepada para donatur panti yang terdiri dari banyak pemilik perusahaan di kota Batam.
Para donatur ini merespons dengan baik. Ada banyak lowongan untuk Kaira ternyata, meskipun dia hanya lulusan SMA.
Salah satu lowongan yang tercepat datang adalah lowongan di kantor PayDo, perusahaan pembayaran digital raksasa sebagai resepsionis.
"Kamu mau jadi resepsionis PayDo? Kantornya memang agak jauh, di Nongsa. Tapi dia bisa kasih kamu tempat tinggal juga. PayDo punya asrama dekat kantor." Bu Lies memberikan informasi soal lowongan itu pada Kaira. Kaira membaca sekilas, langsung tertarik pada semua benefit yang ditawarkan.
"Wah mau banget Bu. Kaira jadi nggak repot, langsung ada tempat tinggal dan nggak susah cari kos-kosan," sahut Kaira penuh semangat.
"Ya sudah, ini coba kamu lamar aja. Mereka terima kok buat yang lulusan SMA." "Oke Bu." Kaira membaca ulang lowongan yang dikirim oleh Bu Lies. Gaji sesuai UMR, dapat tempat tinggal juga ada makan siang disediakan gratis di kantor.
Kaira jelas senang.
"Apa saja Bu persyaratan yang harus disiapkan?"
"Itu ada tulisannya di sana semua. Ijazah SMA, kemudian fotokopi KTP, sejenis itu. Kamu ada kan?"
"Ada sih Bu semua."
"Ya udah, coba kamu kamu kirim email yang di situ, bilang direkomendasikan oleh Bu Dira. Nanti HRD akan panggil kamu untuk wawancara. Kamu bisa pakai komputer kan?" tanya Bu Lies pada Kaira yang mengangguk.
"Iya bisa kok Bu, kalau cuma Microsoft Office." Kaira teringat dia dulu pernah membantu mengetikkan tesis milik Ilman. "Semoga dipanggil."
Sesuai dengan instruksi Bu Lies, Kaira pun mengirimkan email pada departemen HRD. Tidak lama setelah itu, beberapa hari setelahnya, balasan datang. Kaira diundang untuk wawancara dengan HRD dan atasan di kantor PayDo di Nongsa.
"Pake baju apa ya Bu kalau mau interview?" tanya Kaira pada Bu Lies pagi sebelum wawancara. Sudah lama sekali sejak dia wawancara, dia sampai lupa harus mengenakan apa.
"Pake baju sopan aja, kemeja dan celana panjang yang bukan berbahan jeans," usul Bu Lies.
Kaira mengangguk, memakai baju kemeja dan celana bahan terbaiknya yang syukur sempat dia bawa dari rumah. Saat akan berangkat, Bu Lies dan Pak Muchtar menyemangatinya.
"Semoga sukses ya Kaira."
"Makasih, Ibu, Bapak. Saya agak deg-degan juga, ini interview kerja pertama setelah enam tahun."
"Kamu pasti bisa. Kamu kan pintar dan rajin, pasti diterima." Bu Lies memuji yang diangguki Pak Muchtar.
"Terima kasih Bu, Pak."
Kaira pun berangkat ke Nongsa untuk wawancara. Dia tiba jam 08:30 pagi dan langsung ditemui oleh HRD PayDo yang bernama Bu Mayang.
Wawancara berlangsung lancar, seminggu setelahnya Kaira dipanggil untuk medical check up. Baru dua hari setelah itu, dia diterima untuk tanda tangan surat perjanjian kerja. Dia mudah diterima karena ada rekomendasi dari Bu Dira, namun Kaira bersyukur tidak ada yang mempermasalahkan itu.
"Mbak Kaira start kerja minggu depan ya. Nanti dua minggu pertama ada pelatihan dulu baru dilepas sendiri. Bisa?"
"Bisa, Bu."
"Oke. Fasilitas, karena Mbak Kaira belum ada NPWP dan BPJS Ketenagakerjaan, nanti saya lamarkan dulu. Begitu juga kartu asuransi perusahaan ya." Kaira lega mendengar itu. Dia jadi tidak pusing kalau mau berobat bila ada kartu sakti dari perusahaan, seperti yang dulu Ilman terima.
Tanpa ragu Kaira menandatangani surat perjanjian kerjanya.
"Untuk tempat tinggal, Mbak Kaira mau tinggal di kos-kosan sendiri atau di asrama PayDo?" tanya Bu Mayang padanya setelah Kaira menandatangani surat perjanjian kerja itu.
"Saya mau di Asrama saja Bu, boleh?"
"Boleh dong. Kebetulan kami ada kamar kosong di asrama." Bu Mayang mengangguk. "Mbak Kaira mau pindah kapan? Biar kamar dibersihkan dulu."
"Besok boleh Bu? Ini saya pulang langsung berkemas."
"Boleh dong, boleh banget." Bu Mayang tersenyum. "Besok habis makan siang saja ya. Nanti ketemu sama penjaga asrama, bilang nama Mbak Kaira. Saya akan minta mereka persiapkan."
"Terima kasih banyak, Ibu." Kaira benar-benar bersyukur perusahaan ini mau menerimanya. Perusahaan besar yang bagus fasilitasnya.
"Oke, Mbak Kaira boleh pulang. Besok ditunggu di asrama ya. Alamatnya nanti saya kirim via whatsapp."
"Terima kasih, Bu Mayang." Kaira mengangguk sekali lagi, sebelum keluar dari ruangan. Ia berjalan kembali ke lantai satu melewati selantai penuh meja kursi karyawan yang sedang bekerja.
"Udah keterima kerja, aku berarti bisa nyambi kuliah," gumam Kaira riang. Salah satu rencananya ke depan memang lanjut kuliah. Mengambil S1 supaya dapat ijazah agar punya jenjang karir.
"Kuliah di mana ya enaknya? Pengen ikut training juga biar ada skill. Tapi training apa?" Kepala Kaira fokus memikirkan itu, sampai tidak sadar di depannya ada seseorang.
Dukk
Tanpa sengaja Kaira menubruk punggung orang itu, untung tidak terlalu keras sehingga tidak ada yang jatuh.
"Ah, maaf, maaf." Kaira langsung menundukkan kepala. "Maaf, Pak," lanjutnya saat sadar orang yang ditabrak laki-laki.
Pria itu kemudian berbalik badan dengan gerakan pelan. Mereka bertemu pandang, dan Kaira langsung ingat siapa lelaki itu.
'Mas-mas Malaikat yang waktu itu?' Mata Kaira membola, ingat jelas lelaki penolongnya di rumah sakit waktu habis dikuret.
Pria itu tampaknya tidak mengenal Kaira. Senyum manis yang dulu muncul dan melekat di ingatan Kaira pun tak terlihat. Tatapannya malah dingin dan terkesan jutek.
"Bisa lebih hati-hati kalau jalan? Jangan asal nabrak orang," tegurnya galak. Kaira terkesiap, mengangguk.
"Maaf, Pak."
"Ck. Menyusahkan." Lelaki itu berdecak, berjalan meninggalkan Kaira dengan kaki pincang di sebelah kanan. Kaira meringis saat melihat pria itu menggunakan name tag dengan tali di lehernya yang familiar.
'Mas itu kerja di sini juga? Kok perasaan dia berubah ya?'