Chapter 5: Batal Nikah

1254 Kata
-Rayi- "Jadi karena osteoarthritis? Makanya kaki kanan saya sekarang masih pincang walau sudah terapi?" Rayi mengulang yang dokter ortopedinya ucapkan. "Benar, Mas. Dan osteoarthritisnya kemungkinan besar karena cedera sendi akibat kecelakaan waktu Mas remaja." Dokter itu melanjutkan. "Itu menyebabkan degenerasi tulang rawan di bagian lutut dan pergelangan kaki, maka dari itu Mas Rayi tidak bisa berjalan dengan sempurna." Rayi menghela nafas. Padahal kecelakaan itu sudah begitu lama, kenapa efeknya bahkan sampai ia sudah berumur 25 tahun begini? "Tapi bisa diobati kan Pak Dokter?" Chacha, tunangan Rayi bertanya. Rayi menoleh pada perempuan di sampingnya, ekspresi wajah perempuan itu begitu khawatir. Hati Rayi menghangat karena ada Chacha di sampingnya yang ikut mengkhawatirkan kondisi dia. "Diobati hanya untuk tidak semakin parah, atau mengurangi rasa sakit. Tapi untuk menghilangkan pincang, sepertinya sulit. Karena masalah sendi akibat osteoarthritis tidak bisa mengembalikan kondisi sendi maupun tulang rawan yang sudah rusak." Rayi sedikit kecewa mendengar itu. Walau sebenarnya ia sudah terbiasa karena sudah sepuluh tahun ini dia berjalan pincang, tetap saja dia kecewa bila selamanya harus seperti itu. Ternyata kesembuhan yang pernah dia rasakan setelah rajin terapi sampai ke Singapura beberapa tahun lalu, tidak abadi. Ia hanya bisa berjalan sedikit lebih cepat, tapi lama kelamaan tetap tidak sempurna. Langkahnya selalu tertatih. "Begitu ya, jadi dia nggak bisa sembuh dan pincang selamanya," respons Chacha, pandangannya lurus tanpa ekspresi. Rayi awalnya tidak terlalu memikirkan itu. Ia keluar dari ruangan dokter bersama Chacha setelah menyusun janji dengan dokter untuk kunjungan berikutnya. "Kamu mau ke mana setelah ini?" tanya Rayi begitu mobil dia keluar dari rumah sakit Awal Bros Batam. "Aku mau pulang aja langsung," jawab Chacha dengan mata fokus ke ponsel. "Beneran kamu mau langsung pulang? Kayaknya kamu dari tadi belum makan lho, kelamaan nungguin dokter sama aku tadi di rumah sakit." "Pulang aja Rayi, aku mau pulang sekarang," pinta Tunangan Rayi itu. Akhirnya Rayi menurut. Diantarnya Chacha pulang hingga ke rumahnya yang ada di daerah Sukajadi. Setelah itu, Rayi membelokkan mobil ke jalan pulang. Kali ini ke asrama tempat dia tinggal di Nongsa, dekat dengan PayDo kantornya. Ia sedikit aneh dengan sikap Chacha yang dingin, tapi tidak terlalu memasukkan ke hati. "Mungkin Chacha kecapekan," gumam Rayi. "Nanti aku kirimkan makan aja kali ya?" Saat sedang berkendara di mobil, sebuah panggilan masuk datang. Rayi tersenyum melihat siapa yang muncul di layar ponsel yang ada di dasbornya. Ditekannya tombol hijau demi mengangkat telepon. "Halo Kak?" sapa Rayi pada si penelpon. "Rayi, kamu udah dari dokter?" "Udah, Kak." "Terus apa kata Dokter?" tanya Raya, kakak perempuan Rayi yang lebih tua tujuh tahun darinya. Perempuan itu adalah sosok pengganti Ibu untuk Rayi yang orang tuanya bercerai saat dia masih SD, dan ayahnya meninggal ketika dia SMA. "Katanya aku agak susah kalau mau kembali normal soalnya sendi dan tulangnya udah rusak akibat Artritis." "Wah, jadi gitu?" "Iya. Makanya terapi waktu itu enggak bisa bikin aku beneran jalan dengan baik." "Sayang ya," keluh Raya. "Padahal waktu itu, kamu udh terapi sampai ke Singapura." "Iya Kak. Tapi membantu kok, kan pincangku nggak separah dulu sampai nggak bisa bawa kendaraan sendiri." "Tapi tetap aja kurang kan? Kamu bilang kakimu sering sakit terus pas jalan juga nggak bisa tegak kayak orang normal." Raya menghela nafas. Beda dengan Chacha barusan, sang Kakak benar-benar punya empati dan ikut merasakan kesulitan Rayi. Rayi jadi tidak segan mau bicara banyak, karena memang ia sangat dekat dengan wanita itu yang juga membiayai kuliah dan hidupnya setelah sang Ayah meninggal dan sang Ibu menikah lagi. "Ya udah Kak, mau bagaimana lagi? Yang penting aku bisa jalan dan bisa mandiri, aku rasa nggak masalah kok." "Iya sih. Terus kata dokter, apa treatment buat kondisi kamu?"
 "Paling pengobatan supaya nggak sakit, sama nggak makin parah aja." "Oh ya sudah, kamu sabar ya. Nanti aku minta Mas Fajar cari cara supaya ada pengobatan lagi buat kamu. Mungkin di luar negeri." Fajar adalah suami Raya, sekaligus pemilik Prama Galangan, salah satu galangan kapal terbesar di kota Batam. Tapi bukannya senang, Rayu lansung menolak. "Nggak usahlah, Kak. Aku udah terlalu banyak merepotkan Mas Fajar. Pengobatan aku yang waktu itu aja udah habis berapa banyak? Kayaknya aku begini juga nggak apa-apa. Nggak ganggu produktifitas aku kok." "Tapi nggak merepotkan kok, kan demi supaya kamu bisa enak jalannya." "Begini juga enggak apa-apa, beneran. Dokter soalnya bilang, kalo yang sudah rusak memang susah diperbaiki lagi." "Hah, apa iya begitu?" Raya menghela nafas. Terdengar sekali perempuan itu masih tidak terima, tidak seperti Rayi yang lebih legowo menerima nasib. "Ya sudah. Tapi nanti aku coba tanya sama Mas Fajar, siapa tahu dia ada ide pengobatan lain buat kamu." "Kalau pengobatannya bikin Mas Fajar keluar duit banyak banget dan aku harus keluar negeri, mending nggak usah Kak," tolak Rayi lagi. "Aku harus kerja kan? Nggak bisa sembarangan libur." "Iya sih. Ya udahlah. Chacha mana? Temani kamu nggak tadi ke rumah sakit? Tadinya Kakak mau temani, tapi tau sendiri Ayyara lagi susah ditinggal." Ayyara adalah keponakan Rayi yang berusia enam bulan. "Chacha ikut kok tadi, barusan aku antar pulang." "Ada bilang apa dia?" "Nggak ada bilang apa-apa." Rayi sengaja tidak cerita soal keanehan sikap Chacha, takut sang Kakak mencurigai yang tidak-tidak. "Oh, kirain ada ngomongi soal acara kalian. Tiga bulan lagi kan?"
 Kakaknya memastikan, dan Rayi mengangguk. "Iya Kak. Tiga bulan lagi kok." Acara yang dimaksud adalah pernikahan Rayi dengan Chacha si tunangan. "Apalagi persiapan yang belum? Kalo ada perlu apa, biar Kakak bantu." "Nggak perlu apa-apa, udah siap semua-semuanya. Undangan, souvenir segala macam udah dipesan. Paling tinggal seragam buat Ibu, belum aku kirim kainnya. Soalnya Ibu masih belum cocok sama tema warna baju untuk seragam pendamping." "Dasar Ibu, kenapa nggak cocok sama tema yang dipilih pengantennya?" Raya misuh-misuh. "Nanti aku bilang sama Ibu, Ibu selalu aja cerewet masalah itu." "Iya Kak, nggak apa-apa Kok." Rayi memang tidak mudah marah untuk urusan yang baginya kecil begitu. Dia terbiasa bersabar dan legowo, hampir mirip dengan si Kakak. "Ya udah Yi, kalau ada perlu sesuatu kabari ya." "Iya." Rayi menutup telepon dengan senyum. Teringat sebentar lagi adalah acara pernikahannya, Ia jadi bersemangat. Menikah dengan Chacha pujaan hatinya. Perempuan yang sudah lama Ia sukai sejak pertama masuk kuliah, tapi baru berani Rayi tembak begitu akan lulus. Chacha yang setia bersamanya selama 4 tahun ke belakang. Rayi kira tidak akan ada masalah untuk pernikahannya, semua sudah dipersiapkan dengan baik olehnya dan Chacha. Sayangnya semua itu buyar. Bukan persiapannya yang bermasalah, melainkan pengantinnya. Karena sebulan setelah itu, ia malah diputuskan oleh Chacha. "Kita putus aja, Rayi," ucap Chacha malam itu di mobilnya. Mereka baru selesai jalan bersama seharian, dan saat Rayi mengantar pulang Chacha, perempuan itu malah mengeluarkan kalimat mengerikan itu. Rayi sampai terpana dibuatnya, mengira dia salah dengar. "Apa kamu bilang?" "Putus. Aku mau putus." "Cha, please jangan bercanda." "Siapa yang bercanda? Aku serius." Wajah Chacha yang biasa penuh senyum sekarang begitu dingin. Sedingin udara yang melingkupi mereka saat ini. "Tapi kita udah tunangan, Cha." Rayi mengangkat tangan kanannya, di mana ada cincin platinum terpasang di jari manisnya. "Kita mau nikah dua bulan lagi. Semua persiapan udah siap, tinggal sedikit lagi ...." "Kita batal aja nikahnya Rayi," ucap Chacha lagi. "Sorry banget, aku nggak bisa tahan lagi sama kamu." "Nggak bisa terima apa? Masalahnya di mana?" Rayi masih tidak terima. Walau perubahan sikap Chacha begitu ketara selama sebulan ini, menjadi lebih dingin, tapi Rayi masih selalu menolak percaya. Perempuan itu pun hanya diam, pandangannya turun ke kaki Rayi. Seketika Rayi paham. "Karena kondisi kaki aku? Tapi kan kamu udah lama pacaran sama aku. Kamu tahu aku seperti ini kondisinya dari dulu." "Yang aku tahu, kamu tuh bakal sembuh suatu saat. Bukannya bakal cac*t selamanya!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN