-Rayi-
"Jadi karena kamu kira aku bakal sembuh, makanya kamu selama ini mau sama aku?" Rayi mengulang, tidak percaya akan kata-kata Chacha.
Perempuan itu mengangguk.
"Setahuku kan yang namanya pincang itu sementara, nggak permanen. Tapi setelah waktu itu kita ke dokter dan dokternya bilang kondisi kamu permanen, jelas aku mikir-mikir dulu dong." Chacha melipat kedua tangan di d**a.
"Kenapa harus mikir? Kondisiku ini kan bukan genetis. Apa yang terjadi sama aku, nggak akan terjadi sama anak-anak kita nanti," jelas Rayi, masih tidak terima dengan ungkapan yang begitu mendadak ini.
"Bukan masalah itu," sanggah Chacha dingin. "Sebenarnya, aku selama ini suka malu kalau jalan sama kamu."
"Malu?? Kita udah jalan pacaran hampir empat tahun dan kamu bilang kamu malu sama aku?" Tidak usah ditanya rasa sakit hatinya Rayi mendengar itu.
Dia pikir Chacha si pacar dan tunangan selama ini menerima kondisinya dengan sepenuh hati. Tidak melihat kecacatan Rayi yang disebabkan kecelakaan motor sepuluh tahun lalu itu. Tapi ternyata, Rayi salah mengira.
Chacha memang tidak setulus yang selama ini perempuan itu katakan. Perempuan itu mau bersama Rayi hanya karena Rayi bisa dimanfaatkan.
"Rayi, kalo aku boleh jujur, aku tuh mau sama kamu karena kamu itu ganteng. Udah gitu, setelah Kakak kamu nikah sama konglomerat, aku kira kamu bakal kecipratan juga harta."
Rayi melongo mendengar itu. Sungguh tidak habis pikir. Kenapa jadi masalah harta? Yang kaya kan kakak ipar Rayi, bukan kakaknya sendiri!
"Astaga Chacha, karena harta? Kamu terima aku walaupun pincang karena kamu kira hartaku banyak??"
Baru dia sadar, Ia sudah mendekati Chacha sejak awal masuk kuliah tapi Chacha baru merespons positif di akhir masa perkuliahan Rayi, ya itu adalah ketika Raya sang Kakak dipersunting suaminya.
Mana Rayi tahu kalau kekayaan Mas Fajar si kakak ipar kini menjadi faktor penentu perempuan menerima cintanya. Ia benar-benar kecewa.
"Ya mana aku tahu kalau ternyata kamu benar-benar nggak dibagi hartanya Mas Fajar. Bahkan dikasih uang bulanan juga nggak," keluh Chacha.
"Ya nggak lah! Aku kan bukan keturunan keluarga Mas Fajar. Dia cuma ipar aku yang nikah sama Kakak aku. Dia nggak kasih aku uang bulanan karena aku punya gaji sendiri. Dan karena dia kaya bukan berarti aku bakal jadi pewaris harta dia juga, Chacha."
Chacha hanya mendengus.
"Ya udah, intinya gitu. Aku udah nggak mau lagi sama kamu, aku mau kita sendiri-sendiri aja sekarang."
"Terus pernikahan kita gimana? Dua bulan lagi, Chacha. Astaga." Rayi meraup mukanya kasar.
"Nggak apa apa, kita bisa batalin aja. Toh undangan belum sempat kita sebar."
"Chacha kamu serius?" Rayi masih tidak bisa terima. Dia terlalu mencintai gadis itu untuk menyerah secepat ini. Hubungan mereka yang sudah bertahun-tahun ia bina, tak rela kalau dilepas secepat ini.
"Nggak bisa kamu pertimbangkan lagi? Aku tuh sayang banget sama kamu, Cha." Rayi baru akan mengelus rambut si pacar yang langsung ditepis kasar gadis itu.
"Jangan pegang-pegang," katanya dingin. Jelas semakin menyakitkan untuk Rayi.
"Kenapa kamu ternyata sepicik ini? Kalau tahu gitu, dari awal kamu harusnya nggak usah terima aku."
Chacha hanya diam. Perempuan itu turun dari mobil tak lama setelahnya. Bahkan cincin tunangan mereka tidak dikembalikan perempuan itu.
Ketika akhirnya mereka berpisah dan Rayi sendirian, dia tidak bisa lagi menahan rasa kesal. Dipukulnya kaca jendela mobil keras-keras sampai kepalan tangannya membiru.
"Sial!!"
Dia kecewa, karena berarti selama ini hanya dimanfaatkan. Dia juga patah hati dan geram. Sama sekali tidak menyangka.
***
Diputuskan tiba-tiba oleh si pacar membuat Rayi Bimala, pemuda berusia 25 tahun ini kehilangan senyumnya. Selama berhari-hari setelahnya, Rayi yang biasanya murah senyum, menjadi lebih sering cemberut.
Hal ini pun tidak luput dari perhatian sang Kakak. Ketika Rayi berkunjung ke rumah Raya untuk melihat keponakannya, perempuan itu langsung berkomentar.
"Yi, kamu enggak apa apa?"
Rayi menggelengkan kepala.
"Nggak apa apa, Kak."
"Masa sih? Yang benar? Kayaknya ada terjadi sesuatu ya?"
Rayi menghela nafas. Sulit memang menyembunyikan masalahnya dari wanita yang sudah seperti pengganti ibunya.
"Iya, ada masalah. Kenapa Kakak bisa tahu?"
"Sikapmu beda aja dari biasa. Ada apa? Ada masalah sama Chacha?"
"Kakak kok bisa langsung mikir ke sana? Siapa tahu aku kesal karena masalah kerjaan." Rayi mengulurkan kerincingan pada Ayyara yang sedang tengkurap. Bayi mungil itu manis sekali, doyan senyum dengan pipi gembul.
"Kamu udah kerja empat tahunan sama Pak Adya, jarang banget kamu merengut kayak gini. Jadi kakak yakin pasti bukan karena kerjaan masalahmu itu."
Pak Adya adalah CEO PayDo, perusahaan pembayaran digital terkenal yang berpusat di Nongsa, Batam. Rayi sudah empat tahun lebih menjadi sekretaris pria itu, menggantikan Raya kakaknya sendiri.
Rayi hanya diam, masih enggan bercerita.
"Ya sudah kalo nggak mau cerita soal masalahmu. Bahas soal nikahan mu aja." Raya mengalihkan pembicaraan. "Gimana, ada persiapan yang harus dibantu Kakak enggak?"
Rayi mendengus. "Nikahannya batal kak. Aku udah mengurus semua pembatalan vendornya."
"Batal?" Raya begitu terkejut. "Kenapa bisa batal? Kok Kakak baru tahu?"
"Baru seminggu ini batalnya. Makanya aku belum cerita."
"Lho, memang masalahnya di mana? Kenapa bisa batal pernikahannya? Batal sementara atau mundur gitu kan?"
"Batal selamanya, Kak. Masalahnya di aku. Chacha mutusin aku, jelas pernikahan menjadi batal. Karena pengantin perempuannya nggak ada," tukas Rayi getir.
"Mutusin kamu? Kok bisa putus? Memang kamu sama Chacha berantem?"
"Nggak berantem kak. Tapi memang Chacha mutusin aku karena dia nggak suka dengan kondisi aku yang sekarang."
"Kondisi kamu yang mana?"
"Kondisi aku yang pincang."
"Lah, kan kamu udah pincang lama. Dari awal kalian pacaran juga udah pincang. Kenapa pas mau nikah malah diputusin?" Raya sama sepertinya, tidak terima juga.
"Katanya dia mengira aku bakal bisa sembuh suatu saat. Tapi begitu tahu aku nggak akan sembuh, jadi mundur."
Raya terdiam kemudian berdecak. Kepala Rayi dielus oleh sang Kakak.
"Kakak nggak bisa bilang apa-apa kalo gitu, kamu sabar ya Rayi. Kalo Chacha nggak bisa terima kamu dan putuskan kamu sebelum menikah, anggap aja itu yang terbaik buat kamu. Berarti bukan dia perempuan yang terbaik buat kamu. Kita jangan menahan orang yang mau pergi." Raya bertutur lembut.
Rayi tahu Kakaknya pun pernah juga punya pengalaman diputuskan saat akan menikah jadi apa yang disarankan perempuan itu benar.
Ia mengangguk.
"Iya kak. Aku nggak akan permasalahkan itu. Nggak akan ajak dia balikan. Cuma aku kecewa aja. Ternyata dia ada motif lain sama aku. Dia juga nggak tulus terima aku yang pincang. Dia terima aku salah satunya juga karena aku iparnya Mas Fajar."
"Astaga." Raya geleng-geleng kepala. "Jadi dia mengira fisik kamu bakal sempurna, terus dia pengen kamu dapat hartanya Mas Fajar?"
"Iya tapi kan tahu sendiri, nggak mungkin kita kayak gitu. Lagi pula aku selama ini cukup kok sama gaji dari Pak Adya. Dia juga sering kasih aku bonus. Aku bisa hidup sendiri dan nggak pernah pelit sama dia. Aku nggak tahu Chacha kenapa masih kurang aja sama aku."
"Ya udah, sabar aja. Ini pasti yang terbaik. Dia bukan jodoh kamu, dan kamu harus bersyukur kamu tahu dari sebelum menikah. Bayangkan kalau udah kejadian sebelum menikah karena biasa, lebih baik tahu dari sekarang jadi kamu nggak repot cerai karena menikah dengan perempuan yang salah."
"Iya Kak, aku pun pasrah aja. Mau gimana lagi?"
Rayi pun berusaha menyebarkan diri. Menghadapi hari-hari setelah diputuskan itu dengan tenang dan santai.
Meski ternyata sulit melakukan itu, karena dia masih sering terkenang pada Chacha. Kenangan empat tahun mereka pacaran jelas sulit dilupakan Rayi yang tidak pernah pacaran sebelumnya.
Terutama yang paling sulit adalah ketika dua minggu setelah diputuskan, dia tanpa sengaja melihat Chacha di Grand Mall, salah satu mall terbesar di kota Batam.
"Chacha? Kok dia jalan sama cowok? Siapa itu?" gumam Rayi pada dirinya sendiri.
Dia berdiri dari jarak yang agak jauh, melihat Chacha sedang duduk di suatu kafe yang terbuka di tengah mall itu.
Perempuan itu tidak menyadari bahwa Rayi ada juga di sana memperhatikanya. Rayi hanya bisa terpana saat melihat Chacha akrab sekali, saling berangkulan dengan seorang laki-laki, dan Rayi mengenal dekat laki-laki itu.
"Itu kan si Mada?"
Mada adalah salah satu teman terdekat Rayi dari jaman kuliah. Rayi tidak punya banyak teman, dan Mada adalah salah satunya yang terdekat. Rayi, Mada dan Chacha berasal dari satu UMKM kampus yang sama jadi mereka saling mengenal. Mada jelas tahu Rayi pacaran dengan Chacha, tapi ia tidak menyangka Mada akan langsung intim dengan Chacha tidak lama setelah mereka putus.
"Jadi selama ini Chacha sama Mada sedekat itu?"
Rayi benar-benar kecewa. Ia seperti dikhianati. Seperti melihat pacarnya selingkuh dengan temannya sendiri, yang membuat Rayi yang asalnya selalu bersikap positif menjadi negatif.
"Lebih bagus aku sendiri aja," batin Rayi. "Sendiri juga akan baik-baik aja. Karena nggak akan ada perempuan tulus yang mau terima kondisiku."