Chapter 7: Mas Malaikat

1615 Kata
-Kaira- Kaira sengaja memilih pindah ke asrama keesokan harinya meskipun belum waktunya bekerja. Ini karena dia ingin persiapkan apartemen itu membeli barang-barang yang kurang kalo ada. Tapi ternyata asrama yang mirip apartemen itu sudah terisi penuh lengkap semua. Kaira tidak perlu repot membeli furniture yang baru. Ukurannya pun cukup, dengan fasilitas lengkap untuk dia memulai hidup baru. "Hah, akhirnya selesai juga," ucap Kaira setelah beres-beres selesai. Ia melihat sekeliling kamarnya yang sudah rapih. Kamar ini berbentuk seperti apartemen tipe studio, tapi lokasinya berada di lantai rendah yaitu lantai tiga. "Padahal lantai 3, tapi pemandangannya bagus." Kaira melihat laut di kejauhan dari jendela. "Apalagi di lantai tinggi, ya? Nyaman banget." Begitu pikir Kaira. "Sekarang aku tinggal beli barang-barang kayak sprei dan lainnya. Beli di Botania ajalah kalau begitu." Botania adalah satu mall terdekat dari Nongsa. Menjual banyak barang-barang rumah tangga dengan harga murah. Kaira pun memutuskan untuk pergi ke sana saja. Saat iaa keluar dari lift, tanpa sengaja dia berpapasan dengan seseorang di pintu lift. Lagi-lagi Kaira bertemu dengan si Mas-mas malaikat, lelaki yang pincang itu. Dalam hati Kaira kaget. 'Wah, ternyata Masnya tinggal di sini juga?' Ia mengerjap mata memperhatikan pria itu, meski lelaki itu fokus ke ponsel. Di asrama ini ada enam lantai, satu lantai berisi 15 kamar & lantai untuk laki-laki dan perempuan dipisahkan. Baru hari pertama, tapi Kaira sudah bertemu dengan pria itu. "Maaf." Ia mau keluar, tapi tanpa sengaja ia jadi menghalangi lelaki itu. Ketika dia ke kanan, Si Mas itupun ke kiri. Ketika Kaira mau ke kiri, lelaki itu pun ke kanan. Sehingga mereka jadi terus saling menghalangi. "Maaf," ucap Kaira lagi pada si Malaikat. Meski Mas Malaikatnya itu sekarang begitu jutek. "Ngerepotin aja sih, Ck." Begitu decak laki tak dikenal itu. Tangannya yang panjang menghentikan pundak Kaira, kemudian dia bergerak ke arah yang berlawanan dari Kaira untuk masuk ke dalam lift. Kakinya yang pincang membuat gaya jalannya sangat khas. Dan sejujurnya, Kaira iba melihat itu. Tapi pria itu tidak peduli, hanya fokus ke ponselnya saja, dengan wajahnya yang tertekuk. "Dia benar-benar berubah ya," pikir Kaira. "Atau jangan-jangan memang itu sifatnya? Ya, nggak tahu deh." Sesuai niat, Kaira pun pergi keluar membeli barang di Botania menggunakan uang tabungannya hasil bekerja dari panti. "Senang juga ya kalo gini." Ia menggumam girang saat memilih warna seprai. Karena sudah lama tidak belanja seperti ini. Menikah bersama Ilman, dia dibatasi untuk membeli apapun. Tapi sekarang kehidupannya sudah kembali normal. Walaupun Kaira hidup sendiri, setidaknya dia tidak tertekan lagi. Di Botania, Kaira puas berbelanja barang yang dia mau. Dia tidak membeli banyak, hanya beberapa yang dibutuhkan untuk kamarnya yang baru. Kemudian Kaira yang lapar memilih makan sebelum pulang. "Makan di food court aja deh," tukasnya kemudian pergi ke food court yang cukup ramai itu. Kaira makan sendirian di salah satu sudut tempat makan yang terdiri dari berbagai macam gerai makanan. Kaira memesan satu porsi ayam geprek dengan Teh Obeng, bahasa lokal untuk Es Teh. Rasanya enak, ia bahagia. Walau saat itu, tiba-tiba ada yang mengusiknya. "Mbak, Mbak sendirian?" Seorang laki-laki mendekatinya. Pria itu tersenyum pada Kaira meskipun Kaira malah risih. "Nggak." Refleks Kaira menjawab. "Saya sama teman, cuma temannya lagi ke toilet." "Oh, sama teman ya?" Pria itu mengangkat alis. "Kalo gitu, boleh kenalan enggak sama Mbak? Saya pengen tahu nomor teleponnya kalau boleh." Kaira menggeleng lagi. "Maaf, saya udah punya suami. Maaf." "Oh udah punya suami ya?" Pria itu salah tingkah. "Ya sudah, saya minta maaf ya, permisi." Kaira bersyukur, pria itu bisa menerima penolakan dan pergi menjauh saat dia menolak. Dia paling takut memang kalo ada yang mendekati dan mengajak kenalan seperti itu. Walau sekarang dia janda, bukan berarti ia akan senang bila dimintai nomor dari orang asing begitu. Kata Bu Lies, itu terjadi karena Kaira cantik. Itu juga yang membuat Ilman dulu tertarik padanya. Padahal Kaira hanyalah salah satu dari sekian banyak operator yang bekerja di kantor Ilman. Namun menurut Ilman, dia menonjol karena wajah yang cantik dan tubuh yang menarik. Meski Kaira sendiri, tidak merasa bahwa dirinya cantik apalagi menarik. Mungkin karena dia sudah dibuang dari kecil di panti asuhan oleh kedua orang tuanya. Kaira selalu bilang dia yatim piatu, tapi ini sebenarnya hanya alasan agar tidak banyak orang bertanya asal-usulnya. Kaira ditemukan di pintu panti saat masih bayi. Hanya ada kertas bertuliskan namanya saja, Kaira Sasmaya dan tanggal lahirnya. Tapi tidak ada keterangan lain soal itu, jadi Kaira berasumsi Ia sudah Yatim Piatu dan tak peduli dengan kedua orang tua di luar sana. Karena kalau orang tuanya masih ada, bukankah seharusnya mereka menemuinya? Kalau tidak, berarti mereka tidak membutuhkan Kaira. Tumbuh besar di panti asuhan membuat Kaira tidak punya rasa percaya diri yang tinggi. Dia pemalu, Introvert, lebih sering diam dan menurut. Itu juga yang membuat dia menurut saja selama menikah dengan Ilman. Walau pengabdiannya itu berakhir sia-sia. "Udah abis. Enak." Kaira pun menghabiskan makannya, kemudian bersiap pergi dari sana. Menenteng barang-barang belanjaan nya, Ia pun kembali ke lobi Botania untuk memesan ojek online yang akan mengantarnya ke Nongsa. Ketika menunggu ojek, ponsel Kaira tiba-tiba berdering. Telepon dari Bu Lies. "Halo Bu Lies," sapa Kaira. "Halo Kaira, gimana asrama?" Perempuan pengganti ibunya itu bertanya ramah. "Enak kok, Bu." Kaira menjawab. "Syukurlah, nyaman nggak?" "Nyaman." "Betah kan?" "Betah. Ibu mampirlah ke sini sama Bapak, biar lihat-lihat," ajaknya pada sang Ibu panti. "Kapan-kapan ya. Lagi di mana ini kamu?" "Ini saya lagi di Botania, beli sedikit barang yang kurang buat isi asrama." "Oh ya syukurlah. Bisa kerja di sana enak ya, semuanya ditanggung." Bu Lies terdengar ikut senang. "Iya Bu, makasih ya sudah bantu saya," ucap Kaira tulus. "Nggak kok, nggak apa-apa. Eh iya. Ini ibu nelepon karena barusan ada Bapak-bapak yang datang nanyain Kaira." "Tanyain saya? Siapa Bu?" "Nggak tahu. Dia nggak mau kasih tahu nama dan nomor telepon. Cuma bilang dia dari Jakarta," jelas Bu Lies. "Dari Jakarta? Perasaan saya enggak kenal orang dari Jakarta." "Oh kirain kamu kenal, mungkin teman kamu waktu nikah sama Ilman dulu." "Nggak kok, saya nggak ada kenalan di Jakarta." "Ya sudah. Ibu juga sudah bilang kok, kamu pindah. Udah keluar dari panti ini." "Terus Ibu bilang saya kerja di mana?" tanya Kaira risau. Betapa leganya dia saat Bu Lies menyanggah. "Ya nggak, Ibu bilang gak tahu. Soalnya khawatir juga kan, jangan-jangan ada orang yang berniat jahat." "Ya Bu, terima kasih. Siapa ya kira-kira?" Kaira jadi bertanya-tanya sendiri. "Sudah Kaira, jangan dipikirkan. Fokus sama pekerjaan aja. Ibu telpon cuma buat kasih tahu kamu aja." "Iya Bu, saya kerja masih minggu depan. Jadi masih bisa istirahat semingguan sebelum mulai kerja." "Iya, semangat ya Kaira. Nanti kapan-kapan mampir lagi ke sini." "Siap Bu, pasti." Kembali ke asrama, Kaira tak lagi memikirkan ucapan Bu Lies dan kembali membereskan barang yang baru dia beli. Saat sore menjelang, dia lalu berjalan kaki ke pantai yang tidak jauh ke sana. Kurang dari 1 km kurang berjalan, Kaira sudah sampai di pantai itu. "Wah, kalau tiap hari bisa lihat sunset kayak gini, seru banget ya?" gumam Kaira. Ia duduk di atas pasir, memandang matahari yang mulai terbenam. Sesekali Ia mengedar pandangan, akhirnya tersadar ada seorang laki-laki duduk tak jauh darinya. 'Mas Malaikat,' batin Kyra. Mas Malaikat berkaki pincang itu ternyata juga ada di sana, duduk di atas pasir memperhatikan matahari dengan wajah sendu. Kaira seperti berbagi kesenduan dengan pria itu, meski sebenarnya pantai ini cukup ramai karena bergabung dengan pantai untuk warga sekitar. Kesenduan yang Kaira rasakan pun perlahan memudar, berganti jadi ketenangan. Sesekali dia melirik ke tempat pria itu duduk. Wajah yang tampan meski terlihat sedih. Senyumnya tidak lagi tampak. Si Mas Malaikat kembali duluan ke asrama saat matahari sudah terbenam, Kaira setelahnya karena tidak ingin berpapasan lagi. *** Tanpa terasa, seminggu berlalu. Kaira pun tiba di kantor menggunakan shuttle bus perusahaan. Di pagi hari pertamanya bekerja, dia datang sangat pagi. Jam 07.00, dia sudah siap ada di kantor. Menemui ibu Mayang, manajer HRD. "Pagi sekali kamu datangnya Kaira? Semangat mau kerja ya?" "Iya Bu, saya sudah siap." Kaira mengangguk mantap. "Ya sudah ini sebentar saya akan bawa kamu kenalan dengan reseptionis lain, nanti Kamu bisa mulai pelatihan dengan dia." Kaira pun diperkenalkan dengan reseptionis yang bergantian menjaga lantai bawah. Nama rekan kerjanya itu adalah Tara. "Halo Kaira, gue Tara. Gue dari Jakarta," sapa perempuan itu. Kaila menyambut uluran tangan Tara, menyalami perempuan itu. "Halo Mbak Tara, salam kenal ya, mohon bantuannya." "Sip. Santai aja. Kalau butuh apa-apa, lo tanya sama gue." "Siap." Menjadi resepsionis berarti jadi tahu siapa yang masuk dan siapa yang keluar dari gedung kantor Paydo itu. Mayoritas yang dilakukan resepsionis hanyalah bersikap sopan pada yang datang, dan juga mengetahui janji-janji setiap orang kantor dengan orang luar. Begitu penjelasan Tara yang didengarkan Kaira sungguh-sungguh. "Nanti paling penting, kita harus tahu janjinya Pak Adya dan Pak Feri." "Oh, CEO dan CFO?" tanya Kaira. "Betul, lo ingat aja ya. Kita kalau jadwal nya Pak Adya meeting dengan orang luar, kita biasa dapat dari Pak Rayi. Kalau Pak Rayi belum kasih ke kita, Kita harus telepon atau kita samperin ke atas." "Pak Rayi yang mana ya Mbak orangnya?" "Entar lagi dia lewat kok, biar gue kasih tunjuk." "Siap." Benar saja, tak lama kemudian tiba tiba sosok laki-laki familiar itu lewat. Laki-laki yang berjalan pincang itu kemudian disapa oleh Tara. "Selamat pagi Pak Rayi." Pria itu masih menekuk wajahnya. "Pagi." "Kenalkan Pak Rayi, ini resepsionis baru, namanya Kaira." Rayi melihat sekilas pada Kaira. Sepertinya pria itu masih tidak mengenalinya walau mereka sudah tiga kali bertemu tak sengaja. "Oh Kaira, oke." Rayi kembali melihat Tara. "Jadwal sedang saya siapkan untuk Pak Adya hari ini, nanti kalian jemput aja ke atas ya." "Siap Pak." Lelaki itu pun berlalu menyeret kaki kanannya yang pincang dengan berjalan tertatih. Sementara Kaira masih tidak mempercayai nasibnya, akan bekerja sedekat ini dengan pria itu. 'Semoga dia nggak galak lagi,'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN