-Rayi- Meski merasa pernah mendengar nama Ilman Purwoto di suatu tempat, tapi Rayi tak ingin berlama-lama mengingat. Ada hal lain yang lebih penting, jadilah dia menggestur ke arah ruang rapat. "Mari Bapak-bapak dan Ibu, kita ke ruang rapat. Nanti Pak Adya dan manajer lain akan temui di sana." "Oh ya, baik." Ketiga tamu dari perusahaan supplier itu mengangguk serempak. Rayi berjalan secepat yang ia mampu, meski tentu saja tidak secepat orang biasa karena kakinya yang pincang di kanan. Sudah lama dia berjalan seperti ini, kalau bertemu orang baru jelas dia jadi pusat perhatian. Seperti yang ia kira, tiga orang itu pun terlihat menyadari kekurangannya. Rayi melempar senyum tipis saat mereka bertemu pandang, dalam hati menghitung mundur sampai salah satu dari mereka mempertanyakan soal

