-Rayi- "Ya elah, takut banget sih incerannya diambil. Galak amat ama temen sendiri, sampai gue nggak boleh deketin." Askar meledek. Rayi tersadar, ucapannya barusan memang terkesan posesif. Ia langsung berdehem. "Siapa yang ngincer dia? Gue cuma nggak suka lo yang playboy main nyosor aja tiap ada cewek nganggur. Bisa-bisa karyawati kantor ini nggak ada yang betah karena kelakuan lo," sahut Rayi panjang lebar. Dipalingkannya wajah agar kembali melihat ke layar komputer. "Mana ada nggak betah. Yang ada pada seneng kali dideketin sama gue. Tanya aja sama mantan gue tuh," sahut Askar jumawa. Rayi hanya mendengus. "Mantan lo yang mana? Seabrek gitu, ada kali tiga orang yang udah resign juga jadinya karena tragedi putus sambung sama lo." Askar hanya terkekeh. "Ngitungin banget nih mantan

