Terkesima
"Cut!" Akhirnya syuting sinetron untuk hari itu selesai. Hatta bisa pergi dari sana. "Kita ketemuan di tempat biasa ya." Dalam perjalanan dia menelpon seseorang. Ternyata Hatta ada janji makan malam dengan Cinta, gadis cantik berdarah Indonesia-German. Makan malam romantis itu diketahui oleh seseorang yang juga sedang berkunjung ke restoran tersebut. Diam-diam Dia mengambil foto Hatta dan Cinta lalu mempostingnya ke media sosial sehingga berita itupun mulai ramai di media sosial bahkan sampai diketahui oleh Ibunda Hatta.
"Kamu belum jauhin dia?!" Ibunda Hatta melemparkan sebuah koran ke atas meja saat Hatta sedang asyik bermain game. "Whats wrong Mom?" Hatta lalu mengambil koran itu dan diapun terkejut. "Mommy udah bilang, jauhin Cinta, dia cuma mau numpang tenar dengan nama besar kamu. She is parasit!" Mommy memarahi Hatta. "Cinta gak kayak gitu Mom, she is good girl. Dia selalu support aku, dia care."
"What about Mommy? Mommy kurang care sama kamu? Ini semua untuk kebaikan kamu." Segera Mommy memotong pembicaraan Hatta. "Aku rasa Cinta gak perlu numpang tenar kok Ma, she is an model dan sering runway sana-sini. Namanya juga udah dikenal di Indonesia." Hatta membela kekasihnya itu.
"Mommy gak mau tau, jauhi dia atau Mommy yang menjauh dari kamu." Ancaman Mommynya nampak serius kali ini. Hatta menjadi pusing memikirkannya sampai-sampai dia tak dapat tidur.
Pagi itu Mommy membuka gorden jendela kamar Hatta. "Mommy, Hatta masih ngantuk." Hatta menarik selimutnya sampai menutupi seluruh wajahnya. Mommynya lalu membuka selimut Hatta. "Look at this!" Mommy mengambil jam alarm Hatta dan menunjukkannya. "Udah jam 10 Hatta." Katanya denga tegas. Menyadari hal itu, Hatta lalu duduk di ranjangnya dengan lesu.
"Mommy udah telpon temen Mommy di kampung, siang ini kamu harus ke sana." Kata Mommy sambil mengambil pakaian kotor di kamar Hatta. "What?! Kampung Mom. Hatta gak mau ah." Hatta menarik keranjang pakaian kotor di tangan Mommy. "Please Hatta, sekali ini aja. Ini amanah almarhum Daddy kamu juga. Dia dari dulu pengen banget ngejodohin kamu sama anak temen kami yang di kampung." Bujuk Mommy. "Come on Mommy. Hari gini masih ada perjodohan." Hatta malah tertawa.
"Kalau kamu gak setuju, gak papa kok. Tapi minimal kamu ketemu dulu sama dia, kamu kenal dia dulu. Please..." Mommy kembali merengek. Melihat raut wajah Mommy, Hatta merasa iba. "Oke, bener ya, janji?"
"Janji." Dan Mommypun mengangguk.
Siang harinya Hatta berpamitan pada Mommy. "Kalau udah sampai di sana kabarin Mommy ya."
"Iya Mom." Hatta masuk ke dalam mobil mewahnya lalu pergi. Mommy nampak senang melihatnya.
Ternyata Hatta tidak pergi ke kampung melainkan ke apartmen managernya. "Hatta, kamu di sini? Kata Nyokap, kamu ke kampung." Kamal merasa kaget. Tanpa basa-basi Hatta masuk ke dalam apartmen Kamal dan langsung duduk di sofa. "Loe harus nolongin gue sob." Nampaknya masalah yang di hadapi Hatta cukup berat. "Loe harus gantiin gue pergi ke kampung itu. Setelah itu kita bilang sama nyokap kalau gue gak suka sama cewek itu." Ide Hatta benar-benar membuat Kamal tak percaya.
"Itu mustahil sob, bakal ketahuan lah." Kamal menggelengkan kepalanya. "Gak akan, karena mereka belum pernah lihat wajah gue, mereka juga gak tau kalau gue artis." Tutur Hatta. "Pokoknya tolongin gue sekali ini aja. Semua udah gue atur kok. Please..." Hatta memasang wajah imutnya sampai-sampai membuat Kamal tak tega menolaknya. "Oke, sekali ini aja ya." Kamalpun setuju. "Thanks my brother..." Hatta memeluk Kamal dan bahkan mencium pipi Kamal. "Oh...Shate, Hatta!" Kamal segera mencuci wajahnya di wastafel.
Sore itu Kamal tiba di sebuah pedesaan yang masih sangat asri, bahkan jalan lintasnya saja belum rata di aspal dan cukup sempit. Mobil Hatta hanya bisa berhenti di depan sebuah kios. "Permisi Pak, mau nanya alamat ini dimana ya?" Kamal bertanya pada pemilik kios itu. "Oh...Buk Asri. Lumayan jauh Mas, mobil gak akan bisa lewat." Jawab Bapak tua itu. "Kalau saya parkir di sini boleh? Saya akan bayar parkirnya." Kamal lalu mengambil uang dengan jumlah yang cukup banyak dari dalam dompetnya.
Melihat jumlah uang yang besar, mata Bapak itu langsung melotot. "Oh...Gampang itu Mas." Dia segera mengambil uang yang diberikan Kamal.
Kamal tiba di rumah Buk Asri, sebuah rumah sederhana yang dipenuhi banyak bunga di halaman. "Assalamu'alaikum." Kamal mengetuk pintu. "Wa'alaikumsalam. Iya, sebentar." Seorang gadis cantik yang sedang memasak di dapur segera menuju ke ruang tamu untuk membukakan pintu. Saat itu Kamal sedang mengirim pesan pada Hatta. "Gue udah nyampe." Membaca pesan itu, Hatta tersenyum lalu segera menghubungi Mommy.
"Ta, kamu udah nyampe?" Tanya Mommy. "Iya Mom. Di sini asri banget pemandangannya. Kayaknya Hatta bakal betah deh." Jawab Hatta. Mommy tersenyum senang. "Iya, bener banget, Buk Asri itu Ibunya Dahlia. Kamu yang sopan di sana, jangan bikin ulah." Ternyata Mommynya tak bisa mendengar dengan jelas karena pembantunya sedang memblender jus.
"Wa'alaikumsalam. Mas siapa ya?" Gadis yang bernama Dahlia telah membukakan pintu dan bertanya pada Kamal, tapi Kamal masih terpaku dan terpana pada kecantikan gadis desa itu. "Ternyata dia gak seburuk yang Hatta duga." Gumam hatinya saat itu. "Saya..." Kamal hendak memperkenalkan diri, tapi Ibu Dahlia yang baru pulang langsung menyapanya. "Hatta? MashaAllah, kamu udah besar, makin ganteng." Kamalpun mengurungkan niatnya untuk mengatakan siapa dirinya sebenarnya.
"Dulu pas kecil gendut banget, kayak doraemon, sampai-sampai waktu turun dari tanjakan kamu jatuh dan menggelinding kaya bola bowling." Ibu Dahlia terus bicara dan Dahlia menjadi malu dibuatnya. "Ibuk... Mas Hatta pasti capek karena perjalanan jauh." Dia menegur ibunya. "Astaghfirullah... Maaf ya nak Hatta, habis ibuk seneng banget kamu datang." Kata Bu Asri. Kamal mengangguk. "Ayo masuk." Ajak Ibuk.
Kamal masuk ke rumah itu dan dia merasa nyaman dengan rumah yang tertata rapi dan bersih itu. "Inilah rumah Ibuk, gak berubah ya? Semoga kamu betah ya? Tadi Ibuk sudah lapor ke Pak lurah kalau ada tamu yang akan nginap di rumah Ibuk." Bu Asri memang nampak sangat girang dengan kehadiran Kamal yang disangkanya Hatta.
Dahlia lalu membawakan secangkir teh hangat untuk Kamal. "Diminum tehnya Mas."
"Makasih." Kamal segera mengambil cangkir itu dari tangan Dahlia. "Ini Dahlia, kamu masih inget kan?" Tanya Ibuk. Kamal tersenyum sambil menikmati tehnya yang ternyata masih sangat panas. Teh itupun tumpah karena Kamal merasa kepanasan di lidahnya. "Waduh bajunya jadi kotor deh. Ganti dulu di kamar, sekalian kamu istirahat deh. Dahlia, bawa tasnya Hatta ke kamar." Perintah Ibuk.
Dahlia lalu mengantarkan Kamal ke kamar tamu yang ada di lantai atas rumah kayu mereka. "Ini kamarnya Mas, tapi kamar mandinya cuma ada satu di bawah. Kalau perlu apa-apa panggil saya atau Satria ya." Dahlia meletakkan tas Kamal di atas tempat tidur sebelum keluar dari kamar itu. "Tunggu!" Kamal menghentikan langkah Dahlia. Dahliapun menoleh. "Satria siapa?" Tanya Kamal ragu-ragu. "Satria itu adik saya Mas, umurnya 15 tahun, waktu dulu Mas kemari, dia masih bayi. Sekarang dia belum pulang, pasti masih main layangan sama temen-temennya di sawah." Jelas Dahlia.
Azan maghrib telah berkumandang, Satria, adik Dahlia mengetuk pintu kamar Kamal yang saat itu sedang mengobrol dengan Hatta lewat telpon. "Iya Ta, ternyata Dahlia itu cantik kok. Kamu harus ketemu dia." Tapi Hatta malah tak percaya. "Iya, gue percaya, selera loe sama gue kan beda. Kalau loe suka, buat loe aja." Kata Hatta. Kamal hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Hatta. "Mas Hatta." Satria memanggil Kamal. "Bentar ya, ada yang datang." Kamalpun mengakhiri pembicaraannya dengan Hatta dan membukakan pintu.
Dilihatnya seorang remaja mengenakan kain sarung dan peci serta menenteng sajadah di tangan kirinya. "Mau ikut ke Mesjid gak?" Tanya Satria. Kamal mengangguk. Mereka bersama-sama menuju ke Mesjid dengan sepeda milik Satria. Remaja itu cukup kuat mengayuh sepeda dan membonceng Kamal yang bertubuh lebih besar darinya.
Ada beberapa gadis desa yang juga pergi ke Mesjid hari itu. Mereka melihat Kamal sambil tersenyum dan saling berbisik. "Ganteng banget ya. Warga baru ya?"
"Ini kakak aku, calon suaminya Kak Dahlia, jangan macem-macem ya." Dengan gagah berani Satria menantang para gadis muda itu. "Satria." Kamal lalu membekap mulut Satria. "Maaf ya, Satria cuma bercanda kok." Ucap Kamal. Para gadis itu sudah terlanjur kesal dan memilih pergi dari hadapan Kamal.
Setelah sholat maghrib, Satria memperkenalkan Kamal pada Pak Imam. "Iya, saya ingat waktu kecil kamu dan orang tua kamu pernah ke sini. MashaAllah, saya ikut senang. Saya ingat kamu dulu sering dijailin anak-anak kampung sini. Saya minta maaf mewakili mereka ya." Ujar Pak Imam. Kamal tersipu malu mendengar kisah yang dialami sahabatnya itu. "Oh ya, hari jumat jangan lupa datang ke kajian ya?" Kata Pak Imam. "InsyaAllah Ustadz." Jawab Kamal.
Sholat magrib berjamaah di Mesjid telah selesai. "Biar Mas aja yang boncengin kamu." Pinta Kamal saat mereka pulang dari Mesjid. "Iya deh. Satria juga capek nih. Mas berat banget." Gumam Satria dengan tingkah polosnya. Kamal tertawa melihatnya.
Di rumah, Ibuk dan Dahlia telah menyiapkan makan malam untuk mereka semua. Lauk yang disajikan sederhana, tapi rasanya cukup nikmat. Kamal sampai lahap sekali. "Tambah lagi Mas?" Tanya Dahlia. "Gak usah, makasih." Kamal nampak malu-malu. "Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri." Tutur Ibuk. Suasana kekeluargaan itu membuat Kamal bahagia dan merasa lengkap. Rasanya dia tak sabar menanti hari esok.
Paginya. "Ayo sarapan dulu nak." Ajak Ibuk. Kamal lalu duduk di meja makan dan melihat ke arah Dahlia yang sudah rapi dengan pakaian gurunya. "Dahlia mau kemana?" Tanyanya. "Mau ngajar Mas." Dahlia lalu ikut duduk bersama dengan Ibuk, Satria dan Kamal. "Kamu ngajar dimana?" Kamal mulai tertarik mengetahui cerita Dahlia. "Gimana kalau nak Hatta antar Dahlia saja ke sekolah? Itung-itung Hatta bisa keliling kampung kan." Ibuk memberi ide. "Terus Satria pergi sama siapa?" Satria mulai merajuk. "Kan kamu ada sepeda, masa diantar melulu." Giliran Ibuk yang menjadi kesal dibuatnya.
Jadilah Dahlia diantar oleh Kamal dengan sepeda motor tua milik almarhum Ayah Dahlia. "Ternyata Mas bisa bawa motor ini juga." Puji Dahlia. "Ini motor antik keluaran tahun 80'an kan?" Ternyata Hatta malah sangat menyukai mengendarai motor itu. Dahliapun kagum dibuatnya. "Ini motor almarhum Bapak. Jadi masih disimpan dan dipakai, gak kami jual."
Mereka berhenti di depan sebuah sekolah dasar, tempat Dahlia bekerja. "Ayo masuk aja Mas, Dahlia kenalin sama temen-temen Dahlia yang lain." Ajak Dahlia. Kamal lalu mengikuti Dahlia ke ruang kantor guru. "Assalamua'alaikum, Bapak dan Ibuk sekalian, kenalkan ini Mas Hatta, saudara kami dari Kota, dia mau mengenal lebih jauh tentang kampung kita ini." Dahlia memperkenalkan Hatta pada semua orang.
"Salam kenal semuanya." Kamal menyapa mereka semua dengan senyuman yang menghipnotis ibu-ibu guru di sana, sebaliknya malah membuat Bapak-Bapak gurunya cemburu.
"Mau kenal lebih jauh tentang kampung kita atau mau kenal Bu Dahlia?" Seorang guru muda nampaknya tak suka dengan kedatangan Kamal. "Pak Deni bisa aja. Pak Deni ini guru PJOK dan humoris juga orangnya." Dahlia mencoba mencairkan suasana.
Bel sudah berbunyi, anak-anak segera berlarian masuk ke dalam kelas. "Mau ikut masuk?" Tanya Dahlia. "Aku tunggu di luar aja." Kamal menolaknya. Dahlia lalu masuk ke kelas dan mulai mengajar menyanyi pada murid-muridnya. Mendengar suara Dahlia yang merdu, Kamal lalu mengintip lewat jendela. Dahlia bahkan mengajak seorang murid untuk menari di depan bersamanya. Kamal tersenyum melihatnya, dia menjadi ☆Terkesima☆