"Iya, kamu mau ikutan tinggal bareng aku?"tawar Bintang yang langsung mendapat gelengan dari Bella.
"Nggak, nanti makin sudah ketemu Daddy aku."
"Oke..."
"Tuh, dia masih lihatin kamu!" Bella menyikut lengan Bintang.
"Bella, udah jangan mulai. Cukup Raka saja sudah!" Bintang berusaha tidak terlalu terpancing dengan ucapan Bella, karena sebenarnya pria itu terlihat sangat tampan dan menggemaskan. Hati Bintang bergetar karena tatapannya. Tapi, sayangnya sekarang ia adalah milik Raka seorang.
Ponsel Bintang berbunyi, pesan masuk dari Raka yang mengatakan kalau ia akan berkunjung malam ini. Bintang tersenyum penuh arti, ia langsung bersemangat kerja.
Begitu jam kerja selesai, Bintang segera memesan taksi. Ia masuk ke apartemen dengan buru-buru karena takut Raka akan tiba di sana sebelum dirinya. Untunglah, Raka belum datang hingga ia masih sempat untuk mandi, mempercantik diri serta memilih pakaian yang pantas. Tapi, apakah ia harus berpakaian seksi malam ini, sementara ia masih takut disentuh oleh pria itu.
Mata Bintang melirik ke arah gaun bewarna maroon, seksi. Ia segera memakainya. Kemudian ia duduk manis, menunggu sang Daddy datang. Lima belas menit kemudian bel berbunyi, Bintang membuka pintu dan menyambut pria itu dengan senyuman indahnya. Raka yang sudah lelah setelah bekerja seharian pun tersenyum, rasa lelahnya perlahan berangsur hilang. Ia melangkah masuk.
Bintang berdiri saja, tidak tahu harus berbuat apa pada pria itu sebab ini pengalaman pertamanya.
"Tolong ambilkan air. Aku haus!"
Bintang bergerak cepat ke dapur, mengambil segelas air dan menyerahkannya pada Raka.
“Terima kasih, Bee!"ucapnya mesra dan dibalas dengan semburat merah di pipi wanita itu. "Kamu...pulang kerja?"tanya Bintang.
Raka mengangguk, "sekalian mengurus keperluan kamu. Sudah beres semuanya."
"Oh ya?" Bintang seakan sulit percaya.
Raka menghampiri Bintang,"Iya. Jadi, kamu sudah lega sekarang? Uang kuliah, apartmen,uang di rekening, pakaian bagus, tas bagus, sepatu, make up...lalu apa lagi yang kamu inginkan, sayang?"tanya Raka lembut.
Bintang menggeleng."Untuk saat ini...rasanya sudah cukup. Terima kasih sudah membantuku."
Raka memeluk pinggang Bintang, kemudian merapatkan tubuh mereka."Aku sudah menuruti semua kebutuhanmu. Bagaimana kalau saat ini kamu memenuhi kebutuhanku?"
Bintang berdebar-debar, kebutuhan apa yang sebenarnya dimaksud oleh Raka."Hmm...kebutuhan apa itu?"
"Kebutuhan bathinku ...aku ingin melakukannya malam ini. Ya aku ingin sekali,"kata Raka dengan tatapan mesra.
Bintang menelan ludahnya, ini baru hari ketiga ia kenal dengan Raka. Ia pikir, itu akan terjadi Minggu depan atau bulan depan saja sampai ia merasa siap. Tapi, ternyata Raka meminta haknya lebih cepat dari yang ia kira. Bagaimana caranya menolak sementara pria itu sudah sangat baik padanya. Bintang memainkan jemarinya di d**a Raka."Tapi, aku sungguh tidak pernah melakukannya. Aku takut."
Raka menyingkirkan poni yang sedikit menutupi wajah Bintang, "jangan khawatir, aku sangat suka dengan ketidak tahuanmu soal itu. Aku sungguh menginginkanmu, Bee."
"Baiklah...tapi," belum selesai Bintang bicara, Raka sudah membungkam bibir gadis itu dengan satu ciuman lembut dan menuntut. Tubuh Bintang langsung lemas dan sepenuhnya menyerah pada Raka. Ruang apartemen itu pun menjadi saksi bisu apa yang terjadi di antara mereka.
Bintang menutupi tubuhnya dengan selimut, setelah itu ia mendapat rengkuhan dari Raka. Pria itu mencium wajah Bintang berkali-kali hingga Bintang tersenyum.
“Apa nanti kamu bakalan hamil? Aku lupa pakai pengaman!”Raka mulai stres.
“Nggak,Ka, aku lagi nggak subur,”jawab bintang menghilangkan kecemasan Raka. Ia tahu dari internet perihal kehamilan. Hanya wanita yang sedang dalam masa subur, kemudian dibuahi, maka akan hamil.
“Oh syukurlah!”ucap Raka dalam hati.”Besok kamu harus pakai alat kontrasepsi ya, supaya lebih nyaan lagi. Atau kita ke dokter langsung saja,”tambahnya lagi.
Bintang mengangguk saja sebagai tanda setuju, miliknya terasa perih, lengket dan tidak nyaman. Ia buru-buru pergi ke toilet untuk membersihkan diri.
**
Tiga hari berlalu, sejak kejadian malam pertama untuk Bintang, Ia tak pernah lagi bertemu dengan Raka karena pria itu tidak menghubunginya. Sesuai perjanjian, Bintang juga tidak akan menghubungi pria itu terlebih dahulu. Lagi pula Bintang seedang datang bulan. Syukurlah ia tidak hamil.
Hari ini, Bintang dan Bella libur bekerja, keduanya berjalan-jalan di taman kota sambil menikmati kentang goreng, burger, dan minuman teh kekinian. Keduanya duduk di bawah pohon.
"Hari ini kamu nggak ketemu sama Raka?"tanya Bella.
Bintang menggeleng."Udah tiga hari dia nggak hubungin aku, Bella, lagi pula katanya aku nggak boleh hubungi dia. Dia kan orang sibuk."
Bella mengangguk-angguk,"Iya, memang begitu sih resikonya. Kebetulan aku juga nggak ada kegiatan apa-apa sih, Bin, kita nonton yuk?"
"Boleh, tapi nanti deh agak siang sore gitu,"balas Bintang yang kemudian menyedot minumannya.
Usai makanan mereka habis, keduanya langsung menuju Bioskop yang terdapat di salah satu pusat perbelanjaan. Keduanya berjalan ebriringan, tertawa cekikikan seolah tiada beban, ya, mereka tidak memiliki beban apa pun sekarang, sebab semua masalah kini sudah selesai bersama Sugar Daddy.
Keduanya menonton sebuah film yang sedang hits, tentang seorang remaja yang hamil di luar nikah, film yang mengharukan sampai-sampai semua penonton ikut menangis.
“Bintang, kalau kalian suah bicara soal hubungan ranjang, kamu harus pakai kontrasespsi ya, nanti kamu hamil. Ingat, jangan sampai hamil dengan Sugar Daddy, mungkin kamu akan dapatkan uang. Tapi, jangan harap kamu akan dapatkan sebuah cnta atau rasa pertanggung jawaban dengan menikahimu,”kata Bella mewanti-wanti.
Bintang mengangguk.”Iya, nanti aku ke dokter untuk dipasangin apa gitu biar ngak hamil,”jawab Bintang.
“Oke.” Bella mengangguk kemudian melanjutkan nonton.
Fim usai, keduanya keluar dan melanjutkan acara dengan makan di salah satu tempat makan yang ada di sana. Kelas mereka berubah, yang biasanya makan di pinggir jalan atau warteg, kni menjadi makan di sekelas restoran dengan harga per menunya puluhan sampai ratusan ribu rupiah.
“Habis ini kita belanja ya, ada warna keluaran baru dari lipstik yang biasa aku pake,”kata Bella sambil mengaduk minumannya.
“Oke....”
“Kamu nggak mau beli apa gitu?”
Bintang menggeleng,”beberapa hari yang lalu aku habis belanja sama Raka, jadi belum pengen apa-apa sih. Tapi, nggak tahu kalau nanti ada barang bagus, boleh deh dibeli.” Keduanya pun tertawa setelah ucapan Bintang tersebut.
"Itu Raka, kan?"bisik Bella , tiba-tiba ia melihat Raka.
Bintang menoleh ke arah yang dimaksud Bella. Raka sedang bersama istri dan kedua anaknya. Mereka sedang berjalan bersamaan di pusat perbelanjaan itu. Raka tampak memeluk pundak anak bungsunya, sementara sang istri bergandengan tangan dengan anak sulung mereka. Dari kejauhan, mereka benar-benar terlihat sebagai keluarga bahagia. Entah kenapa tiba-tiba perasaan bersalah sekaligus iri muncul di hati Bintang. Ia tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti itu. Akankah suatu hari itu terjadi? Tidak mungkin.
"Kenapa?" Bella menepuk lengan Bintang, "Cemburu?"
Bintang tersenyum kecut."Nggak, cuma inget sama orangtuaku aja. Coba aku sempet ngerasain jalan-jalan bareng kayak gitu."
"Iya, setiap orang nasibnya berbeda, Bin,aku juga nggak pernah kok ngerasain kayak gitu, apa lagi sekarang dua-duanya udah enggak ada. Aku kan orang susah. Bisa makan saja sudah syukur."
Bintang menatap Bella, kemudian ia tersenyum. "Iya...lebih naik disyukuri aja ya." Keduanya pun tertawa lagi.
Bintang menangkap bayangan Raka dan keluarga kecilnya itu masuk ke restoran di seberang restoran yang dimasuki olehnya. Ia melihat sosok Raka, duduk dengan wajah lelah tapi tetap berusaha tersenyum pada anak-anaknya. Bintang termennung, memperhatikan gerak-gerik Raka, bukankah ia memang sosok pria idaman. Tiba-tiba saja Bintang merasa rindu berada dalam pelukan laki-laki itu. Tapi, ia harus sabar sampai saat itu tiba, saat laki-laki itu membutuhkan kehangatan darinya.