Bintang dan Raka sekarang sudah berada di salah satu pusat perbelanjaan mewah di kota ini. Jujur saja ini pertama kalinya Bintang memasukinya, ia sangat takjub melihat sederetan pakaian dan juga kebutuhan wanita lainnya terpajang di berbagai toko yang ada.
"Kita mau cari apa dulu ini?"tanya Raka sambil melihat layar ponselnya.
"Nggak tahu, "jawab Bintang bingung dan masih belum berani meminta ini itu duluan, ada sedikit rasa gengsi sekaligus takut.
"Kita cari pakaian kamu ya." Raka memasuki salah satu butik pakaian. "Kamu pilih yang mana saja, terserah, semuanya juga boleh. Aku tunggu di sini." Raka menghampiri sofa dan duduk sambil kembali sibuk dengan urusannya.
Bintang memandang sekeliling dengan takjub, ditemani salah satu karyawan butik itu, ia memilih berbagai jenis pakaian yang ia inginkan. Satu jam rasanya tidak cukup, tapi, Raka memintanya segera menyudahi kegiatan mereka di sana karena harus mencari barang yang lainnya.
"Bee, sudah selesai, kan?" tanya Raka sambil melihat jam tangannya.
"Aku belum lihat semuanya, Ka!"balas Bintang, merasa tidak rela meninggalkan tempat ini. Masih ada beberapa sudut yang belum ia kunjungi.
"Kita harus ke tempat lain, Bee."
"Oke! Aku sudah selesai!" Bintang meraih gaun terakhirnya dengan cepat, kemudian menyerahkan pada petugas butik yang menemaninya.
Raka mengangguk, ia segera pergi ke kasir untuk membayar semua yang dibeli Bintang. Kemudian mereka pindah ke toko sepatu, toko tas, perhiasan, dan terakhir pergi ke salon. Hari ini benar-benar menyenangkan. Ia sudah tidak sabar sampai di rumah dan memamerkan semuanya pada Bella.
Raka tersenyum puas melihat penampilan Bintang yang sudah berubah. Wanita itu jadi terlihat seksi dengan tatanan rambut terbarunya. Tentunya sekarang, penampilan Bintang membuatnya b*******h.
"Kita ke apartemen kamu ya!"kata Raka setelah mereka masuk ke dalam mobil
"Apartmenku?" Bintang menunjuk dirinya sendiri, Raka pasti salah bicara.
"Iya, sesuai janji, aku belikan kamu apartmen supaya kita lebih mudah berinteraksi." Senyum Raka mengembang, penuh makna hingga Bintang tersenyum malu."Lagi pula...memang itulah yang harus kamu miliki."
Bintang mengangguk, ia mulai senang menjalani kehidupannya menjadi simpanan Raka. Lagi pula, tidak akan ada yang marah karena istri Raka sendiri tidak akan peduli dengan hal ini. Bintang tersenyum sendiri sambil membuang pandangannya ke luar jendela, mulai besok ia akan menjalani kehidupan mewahnya, serba ada dan tidak lagi merana karena kesulitan uang.
Bintang deg-degan saat mobil Raka berbelok ke sebuah gedung tinggi, di lantai satu terdapat super market, Toko donat dan kopi terkenal, gerai ATM, dan restoran. "ini tempatnya?"
"Iya,"jawab Raka.
Kini,Bintang bersorak senang di dalam hati saat memasuki apartemennya. Ini sangat mewah dan berkelas. Ia tidak pernah bermimpi akan tinggal di tempat seperti ini. Raka tersenyum lebarmelihat Bintang begitu bahagia. Kemudian ia menghampiri gadis itu dan memeluknya dari belakang.
"So, apa lagi yang kamu inginkan, Bee?" Raka tersenyum, melipat kedua tangannya di d**a.
Bintang membalikkan badannya."Bagaimana soal uang kuliahku?"
Raka berjalan menghampiri Bintang, menangkup wajah gadis itu, kemudian mengecup bibir Bintang pelan."Besok aku akan mengurusnya. Sekarang kamu tinggal di sini, rawat dirimu sebaik-baiknya. Ingat...aku akan datang kapanpun aku mau."
"Iya." Bintang mengangguk kuat.
"Sekarang, aku harus pulang."
"Pulang kemana?"tanya Bintang spontan.
Raka terkekeh."Aku punya anak, Bee, mereka pasti membutuhkanku. Aku pulang ke rumah supaya mereka tetap merasa ada sosok Ayah di samping mereka. Sampai ketemu lagi, sayang."
Bintang mengangguk pelan, cepat-cepat menyadarkan diri,siapa dirinya di hati Raka, hanya simpanan."Thanks."
"Sementara kamu pakai atmku dulu ya, besok mungkin sudah punya kamu sendiri."
"Hmm...apa besok aku sudah bisa bekerja?"tanya Bintang.
"Iya, silahkan. Tapi ingat...jangan berhubungan dengan pria mana pun. Aku akan marah!"kata Raka memperingatkan, wajahnya juga terlihat bahwa ia tidak main-main dengan ucapannya.
"Oke." Bintang mengangguk dengan senang.
"Aku pulang dulu." Raka mengecup bibir Bintang, kemudian pergi meninggalkan apartmen gadis itu.
Bintang menatap ke sekeliling apartemennya, puas? sudah pasti. Ia pun naik ke atas tempat tidur, kemudian melompat-lompat sambil menghamburkan semua pakaian yang ia beli tadi sebagai ekspresi kebahagiaannya kali ini.
**
Pagi ini, Bintang pergi ke coffe shop dengan begitu bersemangat. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan Bella dan menceritakan semuanya. Begitu masuk, Bella langsung memekik.
"Bintang! Ini kamu??" Bella mengitari tubuh Bintang, memutar tubuh temannya itu berulang kali.
"Iya ini aku Bintang!" Bintang terkekeh.
Bella menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya sekaligus takjub."Kamu kok bisa begini?"
"Aku...sudah jadi sugar baby-nya Raka,"bisik Bintang.
"Oh ya?" Bella membelalakkan matanya. Kemudian ia memekik sambil memeluk Bintang. "Jadi, sekarang kamu sudah punya uang?"
"Iya!" Bintang pun ikut memekik, keduanya berpelukan sambil tertawa. Arman yang sedang membersihkan meja sampai heran dibuatnya.
"Eh, kita lanjut ceritanya nanti ya. Sekarang kita siap-siap dulu."Bella mengingatkan.
"Oke!"
Mereka berdua langsung berganti kostum, lalu mempersiapkan coffe shop sebelum dibuka.
Hari sudah siang, sudah lewat jam makan siang. Coffe shop mulai sunyi, hanya ada sekitar empat orang yang ada di dalam. Kemudian pintu terbuka, seorang pria mengenakan jaket kulit cokelat masuk. Dari penampilannya, ia terlihat seperti eksekutif muda.
"Hai!"sapa pria berkaca mata hitam itu.
Bintang tersenyum, membungkuk hormat. "Selamat siang,selamat datang di coffe shop kami."
Pria itu membuka kaca matanya, menatap Bintang."Selamat siang. Saya mau tunggu teman dulu, boleh siapkan meja untuk sepuluh orang?"
Bintang mengangguk."Baik, Pak...akan kami siapkan. Silahkan duduk untuk menunggu."
Pria itu mengangguk, kemudian duduk di kursi terdekatnya. Sementara itu, Bintang dan Arman pun menyusun kursi dan meja yang dipesan. Pria itu terus memperhatikan Bintang, mungkin karena sekarang Bintang sudah berubah menjadi wanita yang terlihat menggairahkan.
"Pak, mejanya sudah siap!"kata Bintang.
"Oke ...terima kasih, pesannya menunggu teman yang lain ya!"
"Baik, Pak." Bintang kembali berdiri di balik etalase.
"Kayaknya dia merhatiin kamu terus deh dari tadi,"komentar Bella.
Bintang melirik pria yang dimaksud Bella, pria berkaca mata hitam tadi, tampan, muda, dan terlihat segar. Tapi, ia harus ingat akan pesan Raka."Ah kebetulan aja tuh!"
"Eh tapi, beneran kok, dia ngelihatin kamu...apa lagi sekarang kamu kan seksi banget, Bin!" Bella tertawa pelan.
Bintang menggeleng."Udah, sekarang aku mau fokus ke Raka aja dulu, soalnya dia sumber uangku sekarang."
"Iya sih, oh ya...kamu tinggal dimana? Udah berapa hari nggak pulang!"
Bintang menepuk jidatnya, ia lupa memberi tahu perihal apartemen barunya."Aku dibeliin apartemen dong!"
"Beneran? Wah, si Raka tajir banget ya!" Bella terkagum-kagum, sugar daddy-nya saja hanya bisa mencukupi kebutuhan bulanan, seperti makan, make up, pakaian, dan travelling. Kalau apartemen, ia tidak mendapatkan itu dari sang Sugar Daddy.