Pria Dari Masa Lalu

1045 Kata
Tiga hari kemudian. Tasha duduk di taman belakang rumah orangtuanya, sebuah novel yang halamanya terbuka terletak di atas pahanya. Gadis itu tertunduk bersandar pada bilik gazebo rumahnya menatap halaman buku santai. Sejak pulang dari rumah sakit, Tasha hanya beristirahat saja belum melakukan kegiatan apapun. Bahkan, setiap Dipo datang pun Tasha memilih berpura-pura tidur sehingga pemuda itu hanya mengobrol dengan ayah atau ibu tirinya saja. Kalian pasti bertanya mengapa Dipo tidak mengobrol sama Tashi saja. Jawabannya, pemuda itu datang setiap adik tirinya itu sedang sekolah. Dan Tasha yakin, setelah dari rumah untuk menemuinya pemuda itu pasti langsung menemui Tashi diam-diam. Dua manusia menjijikkan itu benar-benar tidak tahu diri. "Nak." Seruan nada berat itu menyentak lamunan Tasha, gadis itu menoleh ke samping. Melihat Tommy ayahnya berjalan dengan cangkir di tangannya. "Ayah sudah pulang?" tanyanya. "Hmm, kamu kelihatan serius sekali sampai tidak tahu kalau Ayah sudah pulang. Baca apa sih?" Balik beliau bertanya seraya duduk menatap putrinya lekat ingin tahu. "Cuma baca novel saja, Ayah. Oh iya Ayah, mama bilang kalau lusa orangtua kak Dipo mau ke rumah, benar Ayah?" Anggukan kepala pria paruh baya itu membenarkan pertanyaannya. "Benar, Sayang." "Ayah apa Tasha boleh beli baju baru. Tasha malu kalau nanti pakai baju yang nggak bagus di depan keluarga kak Dipo. Bolehkan Ayah?" Tommy terkekeh mendengar nada manja putrinya. Sudah sangat lama, rasanya Tommy tak mendengar Tasha meminta sesuatu kepadanya sejak kepergian mendiang istrinya. Dengan senang hati, pria paruh baya itu pun menyetujui permintaan anak kesayangannya tersebut. "Tentu saja, Nak. Mau Ayah yang temenin kamu belanja? Atau sama mama dan Tashi saja?" Tasha menggeleng cepat dan membalas, "Tasha pergi sendiri saja ya, Yah. Nanti di antar pak Iwan saja." Pak Iwan adalah supir di rumah mereka, Tommy mengangguk tak melarang. "Baiklah, kamu tetap harus hati-hati ya. Jangan lupa selalu kabarin Ayah." "Baik, Ayah. Terima kasih ya, Yah." Tasha memeluk ayahnya erat manja menikmati kebersamaan dengan ayahnya yang sudah lama tidak ia rasakan. Di balik tembok, rupanya ada yang mendengkus kasar melihat interaksi ayah dan anak tersebut. Tumben sekali anak itu minta belanja. Pasti dia mau habisin uang ayahnya. Geram orang itu kesal. Sore harinya, Tasha sudah bersiap pergi ke Mall di antar pak Iwan supir ayahnya. Sebelum berangkat, Tasha dengan raut wajah polos dan lugu seperti Tasha yang dulu ia perlihatkan kala bersitatap dengan ibu tirinya, Shinta. "Jangan pulang malam-malam ya, Sayang. Kamu beneran nggak mau di temenin sama adik kamu. Biar ada yang jagain kamu juga. Kamu kan baru pulang dari rumah sakit sayang." Ya. Kira-kira seperti itulah wanita paruh baya itu berpesan kepadanya dengan raut wajah pura-pura cemas saat berbicara di depan ayahnya. Dalam hati tentu saja Tasha tahu kalau Shinta takut dirinya menghambur-hamburkan uang ayahnya, uang yang di masa lalu tidak pernah Tasha sentuh sedikitpun selain untuk kebutuhan sekolah saja. "Mama jangan khawatir, Tasha nggak lama kok, Ma." balas Tasha patuh seperti anak baik. Tommy mengusap punggung tangan istrinya lembut yang masih memasang raut cemas kepada putri pertamanya. "Sudahlah, Ma. Tasha pasti baik-baik saja. Tasha jangan lupa selalu kabarin Ayah ya, Nak. Kalau ada apa-apa langsung telepon pak Iwan, kamu mengerti kan?" Mengangguk, Tasha pun berangkat meninggalkan rumah mengabaikan Shinta ibu tirinya yang sepertinya masih ingin menahannya untuk pergi. Sepanjang perjalanan, Tasha hanya duduk diam menatap keluar jendela memikirkan banyak hal yang terlintas dalam benaknya. Ternyata Tuhan begitu baik kepadanya, memberikan kesempatan kedua untuknya kembali hidup untuk membalaskan dendam atas apa yang sudah orang-orang jahat itu lakukan kepadanya di masa lalu. Tashi, Dipo dan ibu tirinya Shinta. Mereka tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dan Tasha bersumpah akan membuat mereka merasakan sakit jauh lebih daripada dirinya dulu. Bagaimana caranya aku bilang ke ayah tentang mereka. Ayah pasti tidak akan percaya, aku harus bisa mengumpulkan bukti kalau mereka mengincar harta ayah. pikirnya bingung. Benar. Bukti. Tasha harus mulai mengumpulkan bukti rencana busuk mereka. Mobil yang di tumpangi Tasha berhenti di area basement Mall. "Bapak boleh pergi dulu saja. Nanti kalau Tasha sudah selesai, Tasha telepon Bapak lagi." ujarnya meminta supir ayahnya menunggu di tempat lain. "Nggak apa-apa, Non. Biar Bapak tunggu di sini saja." Tasha menggeleng kuat, gadis itu membuka tas kecil miliknya dan mengeluarkan selembar uang seratus ribuan. "Ini, Pak. Bapak bisa makan dulu, Tasha nggak mau kalau Bapak cuma duduk di sini sendirian." Serunya seraya menyodorkan uang tersebut. Pak Iwan menggeleng, menolak uang pemberian anak majikannya. "Ya ampun, jangan Non. Bapak masih ada uang. Non simpan saja uangnya." Tasha dengan cepat mengambil tangan Pak Iwan dan memberikan uang tersebut dengan cara menahannya sedikit memaksa. "Ambil saja, Pak. Ya sudah, Tasha masuk dulu, Pak. Nanti Tasha telepon lagi ya, Pak." Pamitnya buru-buru pergi membuat Pak Iwan mendesah pasrah atas tindakan anak majikannya. "Terima kasih, Non." Teriak Pak Iwan di balas senyuman manis Tasha tulus. Langkah kaki Tasha terus melangkah ke satu toko ke toko lainnya, mencari pakaian yang pas untuknya. Tanpa sadar gadis itu menikmati suasana berbelanja sendiri, pasalnya sejak ibunya meninggal Tasha jarang belanja pakaian. Pakaian Tasha yang ada di lemari rumahnya rata-rata adalah pakaian milik Tashi yang jarang di pakai gadis itu. Apa Tommy tidak marah melihat Tasha memakai pakaian bekas Tashi adik tirinya. Jawabannya tidak, karena Tasha sendirilah yang selalu mengatakan jika ia mau memakainya. Walaupun ayahnya mampu membelikan yang baru untuknya. Karena itu, saat di rumah tadi Tommy senang putrinya meminta izin ingin berbelanja sendirian. Mata Tasha tertuju pada dress putih dengan lengan model balon yang ada di depannya. Baju itu mirip sekali dengan pakaian yang ia kenakan saat ulang tahun ke 3. Baju yang di buatkan khusus oleh ibunya. Tangan Tasha sudah akan menggapainya, sebelum tangan lain ikut memegang pakaian itu hingga dua tangan itu saling bersinggungan kaget. Tersentak. "Akh, maaf." Tasha menunduk refleks. "...." Tak ada sahutan, kepala Tasha terangkat mendongak. Seketika matanya membulat melihat siapa yang ada di depannya. "Sky?" Cicit Tasha terpaku. Alis pemuda di depannya terangkat heran, menatap Tasha dengan ekspresi dingin tidak mengerti. "Kamu tidak beli baju ini kan?" "Hah? Oh iya, tidak, EH JADI KOK! Aku jadi beli." Pekik Tasha refleks menutup mulutnya bersemu malu sendiri. Pemuda di depannya menelisik penampilan Tasha dari ujung kaki hingga kepala seksama. Tanpa kata pemuda itu menjauhkan tubuhnya dan berbalik pergi meninggalkan toko dan membiarkan Tasha yang masih berdiri dengan sisa keterkejutannya. Itu dia. Sky Deriz Abraham. Calon suami Tashi adik tirinya di masa lalu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN