Sky Deriz Abraham

1137 Kata
Langkah kaki seorang pemuda tampak berhenti sejenak, kepalanya menoleh ke belakang menatap toko pakaian yang baru saja ia datangi dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Sky. Tak di pungkiri, samar ia mendengar gadis itu memanggil namanya. Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana. Gumam Sky bingung. Tepukan di bahunya menyentak lamunan pemuda itu. Sky balik menoleh melihat pemuda yang seusia dengannya sudah berdiri di hadapannya. "Sorry lama, Bro. Gimana udah dapat bajunya belum?" Suara orang itu bertanya kepada Sky yang masih belum fokus sepenuhnya. Gelengan pelan di berikan oleh Sky dan membalas singkat. "Belum." "Oh, oke. Kita cari lagi di toko lain aja, yuk. Mumpung belum malam banget." Ajak Juan sahabatnya itu. "Hmm." Sky bergumam pelan mengiyakan ajakan sahabatnya. Mereka pun melanjutkan langkah ke toko-toko lain mencari barang yang di inginkan. Sky Deriz Abraham, pemuda berusia 23 tahunan yang masih terdaftar menjadi salah satu mahasiswa di Universitas Negeri Jakarya tersebut memiliki postur tubuh kekar dengan d**a bidang yang menawan dan memikat pandangan mata kaum hawa. Tingginya mencapai 185cm, Sky pun menjadi sosok cowok idaman para wanita di kampusnya, selain pintar, mandiri, jago main basket, Sky juga memiliki usaha studio photo sendiri yang ia rilis bersama sahabatnya Juan, usaha kecilnya membuat Sky bisa mendapatkan penghasilan sendiri selama kuliah meskipun tak sebesar pendapatan perusahaan keluarganya. Ya. Kedua orangtua Sky memiliki banyak usaha, di bidang hotel, restaurant dan Mall. Contoh salah satunya adalah Mall yang Sky kunjungi sekarang adalah milik orangtuanya. Sky belum menginginkan jabatan apapun, yang sudah di tawarkan oleh kedua orangtuanya. Karena Sky masih ingin menikmati hobby photografernya, demi seseorang yang berharga dalam hidupnya. Sementara itu, Tasha baru saja keluar dari dalam toko dengan sebuah tas paper bag di tangannya. Kepalanya menoleh ke segala arah, berharap masih bisa bertemu dengan pemuda itu lagi. Ya. Tasha yakin kalau pemuda tadi adalah Sky Deriz Abraham. Pria yang juga ada di masa lalunya. Ah, lebih tepatnya pria itu nantinya akan menikah dengan Tashi adik tirinya. Tasha sempat bertemu dengan Sky di masa lalu beberapa kali, namun sikap Sky sangat acuh kepadanya. Entah karena ia sudah menikah ataukah memang sifat pria itu. Dan hal yang sangat menyebalkan jika di ingat adalah, Sky mencintai Tashi. Andai saja, Sky di masa lalunya tahu kalau Tashi tidak tulus 100% mencintai pria itu, mungkin Sky tidak akan berada di sisi Tashi dan selalu mendukung adik tirinya itu. Kini, Tasha harus bisa membuat Sky balik dan berpihak kepadanya, Tasha harus bisa mencari cara agar Sky tidak jatuh cinta kepada Tashi melainkan harus jatuh cinta kepadanya. Agar jalan kehidupannya tidak sama seperti di masa lalu lagi. Setidaknya suaminya nanti bukanlah Dipo. Ya. Tasha harus bisa mengubah takdirnya. Aku harus cari semua informasi tentang Sky Deriz Abraham. Batin Tasha pelan. Di lain tempat, setelah hampir dua jam mengitari Mall mencari sesuatu Sky dan Juan sampai sampai di sebuah kamar VIP yang di dalamnya sudah di dekor dengan banyak balon warna-warni, bunga mawar pink dan boneka. Tatapan Sky seketika berubah sendu setiap menatap sosok perempuan yang terbaring dengan banyak alat bantu kehidupan di tubuhnya. Sedangkan Juan selalu bersuara heboh, seakan pemuda itu tahu kalau mereka masuk keruangan itu aura suram, sedih akan selalu menemani mereka. "Hai, Honey. Gimana hari ini, Cantik? Maaf ya, Kak Juan sama Kak Sky lama datangnya. Tadi kita habis keliling Mall, buat cari hadiah untuk kamu hari ini. Oh iya sayang, ini kado dari Kak Juan, semoga Honey suka ya. Nanti minta hadiah lainnya sama Kak Sky aja. Tahun depan minta hadiah mobil aja ya xixi." Juan terkekeh geli. Sky masih berdiri diam, sedikit berjarak dengan perempuan yang Juan panggil dengan panggilan Honey. Ya. Dia adalah Honey Letzia Abraham, adik kesayangan Sky yang harus terbaring di rumah sakit sejak 2 tahun lalu karena seseorang yang tidak bertanggung jawab. Dan hari ini adalah hari ulang tahun Honey yang ke 18 tahun. Juan menarik Sky mendekat ke sisi ranjang pasien, hingga Sky menghela napas berat melihat tubuh adiknya yang semakin kurus. "Honey, maaf, Kakak tadi nggak sempat dapat baju yang Kakak yakin kalau kamu bakalan suka. Nanti Kak Sky carikan lagi ya, Sayang." ucap Sky seperti berbisik pelan dengan senyum pilu. Sky rindu adiknya. Namun, Sky tidak bisa berbuat apapun karena dokter sudah berusaha sekuat tenaga menyelamatkan adiknya yang akhirnya hanya bisa terbaring koma. Lalu dimana orangtua Sky dan Honey. Mengapa mereka tidak datang di hari ulang tahun adiknya. Jawabannya, mereka hari ini masih berada di luar negeri. Kedua orangtua Sky masih berusaha mencari dokter terbaik dan pengobatan-pengobatan untuk kesembuhan Honey. Namun sayangnya hingga 2 tahun berlalu pun Honey belum menunjukkan kemajuan apapun. "Sky, yuk nyanyi Bro. Honey hari ini mau Kak Juan yang nyanyi atau Kak Sky, Cantik?" Juan berseru seraya membawa cake brownies kesukaan Honey. "Kak Juan." suara itu di buat seperti suara perempuan menimpal pertanyaan Juan yang di jawab oleh pemuda itu sendiri. Sky hanya tersenyum tipis melihat tingkah Juan yang perhatian dan menghibur di setiap waktu. "Happy birthday to Babe. Eh, salah, happy birthday Honey. Happy birthday sayang Honey. Happy birthday to you." Suara fals Juan memenuhi kamar VIP tersebut heboh. Pemuda itu tak peduli dengan kerutan dahi Sky yang mengerenyit mendengar suaranya. Pesta perayaan sederhana dari keduanya untuk Honey berjalan lancar. Kini, Sky duduk bersandar pada sofa di sampingnya masih ada Juan yang setia menemaninya di malam yang seharusnya adalah hari bahagia untuk mereka. "Kenapa Bro, kayanya elo banyak bengong aja hari ini? Ada masalah hmm?" tutur Juan bertanya. "Hah? Nggak ada." jawab Sky masih bungkam. Juan mencibir, "Gaya elo aja bilang nggak ada, gue udah kenal elo dari kapan emang, Bro. Masih mau kibulin gue aja lo. Ada apa sih? Cerita aja, Bro. Siapa tahu gue bisa bantu." serunya membuat Sky mendesah panjang. Pemuda itu melihat kearah Juan beberapa saat dengan lekat dan dalam, sontak membuat Juan mendorong bahu pemuda itu kuat hingga terdorong ke samping, Juan bergidik meriding di tatap seperti itu oleh Sky. "Njir! Ngapain elo natap gue kaya gitu bege. Sialan lo emang ya." pekik Juan. Sky malah terkekeh kecil, sebelum menatap langit-langit kamar rawat inap adiknya dengan pandangan kosong dan terdiam sejenak. Wajah seseorang muncul membuat Sky tertegun. Sky. "Menurut elo mimpi itu nyata atau cuma bunga tidur?" Juan menatap Sky heran, "Mimpi? Ya bunga tidurlah, mana ada sih mimpi itu nyata. Ada-ada pertanyaan unfaedah elo bege." Kesalnya menjawab. "Kalau elo sering mimpi hal yang berulang beberapa kali, dan tiba-tiba ketemu orang yang ada di mimpi itu? Menurut elo gimana?" Sky masih mengutarakan pertanyaannya tanpa melihat kearah Juan. "Hah?" Juan terdiam cengo tidak mengerti arah pembicaraan Sky sahabatnya. "Elo ngalamin mimpi kaya gitu emang? Kapan? Sejak kapan? Kok gue nggak tahu, Bro?" Cerca Juan heboh sendiri lanjut mendadak jadi penasaran, Sky tidak menjawab. Pemuda itu menutup matanya memikirkan satu sosok yang beberapa saat lalu ia lihat dan Sky semakin yakin kalau gadis itu adalah perempuan yang sama yang muncul dalam mimpinya. Apa maksud semua ini. Siapa perempuan itu. Gumamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN