Suara tawa seseorang di ruang televisi seketika berhenti kala melihat kedatangan Tasha yang baru saja sampai di rumah. Sosok remaja lain itu menghampiri Tasha cepat dan melirik satu paper bag milik Tasha ingin tahu penasaran.
"Kakak habis dari Mall? Kok nggak ngajak aku, Kak? Aku kan bisa nemenin Kakak." rengek remaja itu manja di buat-buat.
Tasha mendesis dalam hatinya, namun gadis itu memilih tersenyum tipis dengan memasang ekspresi lugu membalas.
"Maaf Tashi. Kakak cuma sebentar aja kok, lagipula Kakak nggak beli banyak cuma beli satu baju aja. Lusa kan mau ada orangtuanya kak Dipo ďatang, jadi Kakak mau pakai baju baru saja. Maaf ya, kamu tadi juga belum pulang."
Raut wajah Tashi tampak tidak senang mendengar balasannya.
"Kakak nggak ada belikan aku baju baru juga?" tanya Tashi lagi.
Menggeleng, Tasha lagi-lagi menjawab dengan nada polos yang tentu saja membuat adik tirinya itu iri dan kesal.
"Tidak, Tashi."
"Ya sudah, Kakak ke kamar dulu ya, Kakak mau istirahat. Kamu jangan tidur malam-malam ya." Lanjut Tasha sebelum beranjak naik ke lantai dua kamarnya seraya tersenyum miring ketika sudah melewati Tashi yang ia yakini kesal kepadanya sekarang.
Rasakan itu. Gumamnya, Tasha teringat dulu dirinya selalu di tinggal di rumah bahkan Tasha diam saja saat tahu ibu tiri dan adik tirinya menghambur-hamburkan uang ayahnya dan membeli barang-barang mewah. Hasil kerja ayahnya kini tidak akan Tasha biarkan jatuh ke tangan mereka.
Dasar orang-orang jahat.
Tasha sudah membersihkan diri dan melangkah kearah paper bag yang belum ia buka. Mengeluarkan isinya, Tasha menatap dress putih itu dengan senyum merekah senang. Seketika Tasha terdiam, saat kejadian di Mall tadi terlintas.
"Sky." Gumamnya pelan.
Tasha mengambil ponselnya dan duduk di tepi ranjang, jemarinya dengan cepat mengetik nama Sky Deriz Abraham.
"Ternyata dia satu kampus sama kak Dipo." Bisik Tasha melihat sedikit informasi biodata tentang Sky.
Ide cemerlang muncul, Tasha tersenyum dan manggut-manggut mengerti bagaimana caranya ia bisa bertemu lagi dengan Sky.
Sementara di lain tempat, seorang pemuda tampan tampak berdiri bersandar di balkon kamarnya setelah pulang dari rumah sakit.
Ya. Dia Sky.
Pemuda itu di paksa pulang oleh Juan, karena Sky selalu saja menjaga Honey tanpa henti. Hal itu membuat Juan takut jika Sky sahabatnya akan jatuh sakit karena mengabaikan kesehatannya sendiri. Khusus malam ini saja, Juan yang akan menjaga Honey adik sahabatnya itu.
Sky menatap langit malam dengan pandangan kosong, tubuhnya lelah namun Sky tetap harus kuat agar adiknya bisa kembali sadar dan memanggil namanya seperti dulu. 2 tahun bukanlah waktu yang singkat, andai saja Sky memiliki banyak bukti untuk menyeret orang yang sudah membuat adiknya koma, mungkin Sky tidak akan merasa gagal sebagai kakak karena tidak bisa membantu apapun untuk adiknya. Kondisi Honey yang koma membuat kedua orangtuanya lebih memikirkan bagaimana cara untuk kesembuhan Honey. Sehingga mereka melepaskan orang itu.
"Seharusnya Kakak tidak membiarkan kamu datang ke sana, Honey. Kakak bahkan tidak bisa menjaga kamu. Kenapa harus kamu, Honey?" lirihnya nyaris tak terdengar.
Tangan Sky mengusap wajahnya kasar dengan helaan napas berat. Punggungnya terasa begitu berat, Sky mendongak menatap bintang yang sangat terang malam ini, ia tertawa pilu.
Lihat, Honey. Bintang muncul begitu terang malam ini. Kamu lihat kan. Batinnya menertawakan dirinya sendiri yang tidak becus.
Derik suara air terdengar, kedua mata itu terbuka perlahan, langit senja menerpa wajahnya. Ia mengerjap, lalu terduduk cepat melihat ke sekitar bingung.
Pantai.
Kerutan di dahinya tercetak jelas di wajah Sky, tidak ada siapa-siapa selain dirinya. Hingga detik berikutnya samar suara seseorang menangis membuat Sky menoleh mencari sumber suara.
Tidak ada orang lain selain dirinya di pantai itu.
Sky bangkit dan berdiri, menguatkan indera pendengarannya.
Lagi, suara tangisan lirih itu terdengar entah dari mana.
"Siapa yang menangis? Kenapa aku disini? Apa ini alam mimpi itu lagi?" serunya bertanya bingung.
Sky ingat terakhir kali ia sedang berada di balkon kamarnya lalu masuk ke kamar dan tertidur.
Ah, benar. Berarti ini alam mimpi itu.
Tapi satu yang Sky tahu, situasi ini sedikit berbeda dengan mimpinya beberapa saat lalu.
Terasa suram.
Sky terus melangkah tak tentu arah, rasanya pantai ini begitu panjang bahkan selama Sky berjalan sumber suara itu pun tak kunjung Sky temukan.
Mata Sky menyipit kaget karena tiba-tiba melihat siluet sosok perempuan berdiri di tengah-tengah laut membelakanginya. Dengan cepat Sky berlari mendekat dan berteriak kencang.
"HEI, CEPAT PERGI DARI SANA! BAHAYA!"
Teriakan Sky tak di gubris, Sky menatap ombak air laut yang bergerak mendekat kearah perempuan itu, seperempat badan sosok itu sudah berada di dalam air laut. Sky melihat sekitarnya cemas, tidak ada yang bisa menolong mereka.
Ombak semakin mendekat, dengan susah payah Sky berlari di dalam air laut menarik lengan sosok perempuan itu. Sky memutar tubuh itu dan terkejut bukan main melihat wajah itu penuh dengan darah dan menatap sedih dirinya.
"Kamu."
Mata Sky membelalak terbuka lebar, bersamaan deru napasnya memburu cepat. Keringat dingin membasahi dahi dan seluruh wajah Sky yang pucat pasi.
"Huh ... apa itu?" gumamnya syok.
Sky duduk menatap kamarnya masih dengan detak jantung yang berdebar hebat.
Perempuan itu, apa itu dia. Batin Sky yakin itu sosok yang sama.
"Kenapa dia berdarah? Apa maksud semua mimpi itu?" serunya bertanya-tanya tidak mengerti.
Bagaimana caranya Sky menghentikan mimpi itu, mengapa sosok itu selalu muncul dalam mimpinya dan sekarang sosok itu muncul dengan wajah berlumuran darah.
Sky mencoba mengatur napasnya dan detak jantungnya agar kembali teratur. Merasa sedikit lebih baik, Sky mengambil ponselnya dan mencari informasi apakah ada berita perempuan terluka di pantai. Namun nihil, dan lagi, pikiran Sky kembali tertuju pada gadis cantik yang tanpa sengaja bertemu dengannya di Mall.
Ini semua bukan kebetulan kan. Kenapa dia selalu muncul dan menghantui mimpiku. Apa sebenarnya mau dia.
Sky benar-benar bingung karena gadis itu tidak dalam keadaan seperti di alam mimpinya. Bahkan tampak cantik, sehat tidak seperti sosok di mimpinya yang terlihat kurus seperti kekurangan gizi, dan sekarang sosok itu muncul dengan berlumuran darah.
"Siapa kamu sebenarnya? Apa aku harus menemuimu lagi, agar aku tahu maksud semua mimpi ini. Tapi bagaimana caranya?" Gumamnya resah.
Sky mengetik pesan kepada seseorang.
Pak Roky
Pak Roky bisa bantu saya, tolong periksa cctv cari tahu soal cewek yang datang ke toko Loly di Mall di cabang M sore tadi. Saya kehilangan barang di sana, saya yakin dia yang ambil barang saya. Terima kasih, Pak Roky.
Helaan napas panjang keluar dari mulutnya, Sky berharap cara ini berhasil membuatnya bertemu lagi dengan gadis itu.
Kalau kamu butuh bantuan, aku akan coba mencari tahu apa itu. Meskipun aku tak tahu siapa kamu sebenarnya. Aku harap mimpi itu tidak benar-benar terjadi sama kamu. Aku harap kamu baik-baik saja.