Pertemuan Dua Keluarga

1230 Kata
Hari ini, keluarga Dipo akan datang berkunjung kerumah keluarga Andaran, rumah Tasha. Bunyi speaker bluetooth yang memutar musik pop memenuhi isi kamar milik seorang gadis. Tangannya sibuk memoles beauty blender dan kuas di atas kulit mulusnya agar tampil cantik malam ini. Sesekali bibirnya yang merona pink mengalunkan nyanyian mengikuti musik. Tasha tersenyum puas melihat penampilannya, Tasha terus menatap pantulan wajahnya. Kenapa aku baru berani dandan seperti ini. Pikirnya tiba-tiba menyesal mengapa di masa lalunya, Tasha tidak pernah mempercantik diri hanya memakai bedak dan lipstik saja setiap bertemu orang lain, Tasha yang dulu tidak pernah bersolek dengan cantik selain hari pernikahannya dengan Dipo waktu itu. Suara ketukan terdengar dari luar, Tasha mengecilkan volume suara musik melalui ponselnya. Lalu pintu di buka dari luar, sosok Tommy ayahnya masuk kedalam dan menatap terpaku kearahnya. "Ayah ada apa?" Tasha bertanya saat melihat raut wajah beliau yang berkaca-kaca ketika pria paruh baya itu sudah berdiri di sampingnya. "Kamu cantik sekali, Nak. Kamu benar-benar mirip sekali dengan ibumu. Seandainya ibumu masih ada dan melihat kamu seperti sekarang, ibumu pas senang sekali. Kamu benar-benar cantik, Nak." Ujarnya memuji sendu. Tertegun, Tasha diam beberapa detik tidak bereaksi. Perasaan campur aduk memenuhi rongga dadanya, Tasha tahu betul bagaimana kehidupan ayah dan ibunya yang hancur saat itu. Ternyata benar pengkhiatan bisa menghancur perasaan cinta dari hati tulus seseorang. Dan kini ayahnya tengah memuji kecantikannya yang sama seperti mendiang ibunya. "Iya, Yah." Sahut Tasha tak tahu harus merespons bagaimana jika ayahnya sudah membicarakan soal ibunya. "Ah, maafkan Ayah ya sayang. Seharusnya Ayah tidak mengacaukan suasana hati kamu malam ini. Maaf." sesal ayahnya seketika berubah tidak enak saat melihat perubahaan raut wajah Tasha. Hanya gelengan kepala gadis itu berikan. "Kamu sudah siap, mau turun bareng Ayah? Di bawah mama dan adik kamu sudah menunggu karena sebentar lagi keluarga nak Dipo datang." ucap Tommy dengan cepat menggalihkan pembicaraan mereka dan mengajak putrinya turun. Mengangguk patuh, Tasha ikut keluar kamar dan turun meski suasana hatinya belum kembali nyaman. Dua orang di lantai satu rumahnya menyambut kemunculan mereka dengan raut terkejut melihat penampilan Tasha yang cantik malam ini dengan dress putih yang gadis itu beli di Mall waktu itu. "Ya ampun, Sayang kamu cantik sekali." Pujian heboh itu keluar dari mulut Shinta ibu tirinya. Tasha hanya tersenyum malu-malu berpura-pura. Matanya melirik ekspresi sinis Tashi kepadanya yang seperkian detik terlihat. "Wah Kak Tasha benar-benar beda banget malam ini. Pasti kak Dipo makin jatuh cinta deh sama Kakak, iya kan Pa." Tashi ikut memujinya menimpal dengan nada manja yang di buat-buat. Cih. Dalam hati Tasha menggeram mendengar nada pura-pura mereka yang memuji dirinya. Ingin rasanya tangannya mencabik mulut-mulut sok manis orang-orang ini. "Benar sekali sayang, Kakak kamu malam ini cantik sekali. Tuh, kamu dengar kan, Nak. Kamu benar-benar cantik malam ini. Ayah tidak salah menilai." Tasha mengucapkan terima kasih atas pujian semua orang kepadanya sok polos. Tujuan Tasha bukan untuk membuat Dipo terpesona, tapi ia ingin membuat Tashi cemburu dan iri dengan penampilannya. Ya, meskipun gadis itu tak kalah cantik dengannya. Tapi, Tasha mau lihat apakah Dipo bisa mengabaikan pesonanya malam ini. Karena Tasha ingin membuat Tashi juga cemburu dengannya. Kita lihat Tashi apa kekasih sialan kamu itu akan tetap menjadi anjing penurut atau tidak jika aku menggodanya. Tasha tak menginginkan cinta atau perasaan apapun dari Dipo. Jadi dirinya tidak akan terbuai meski Dipo mengeluarkan kata-kata manis kepadanya nanti. Tentu saja, karena kebusukan mereka sudah Tasha ketahui di kehidupannya yang lalu. Mobil milik keluarga Dipo sudah datang, Tommy ayahnya dan Shinta ibu tirinya keluar menyambut hangat keluarga calon besan mereka tersebut. "Selamat malam, Pak Tommy." "Selamat malam, Pak Johar, apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak bertemu ya." "Hahaha, iya sudah lama sekali." "Ayo masuk dulu, makan malam sudah siap sejak tadi." "Astaga kenapa repot-repot sekali, Pak Tommy." Kira-kira percakapan basa-basi kedua orangtua itu terdengar oleh Tasha dan Tashi yang menunggu di dekat pintu. Tasha menoleh ke samping melihat raut wajah Tashi yang tampak tidak sabaran ingin bertemu Dipo. Ia berdecak dalam hatinya, "Ck, dasar." "Ah ini, putri-putri cantik kesayangan keluarga saya, Pak Johar. Nah Tasha, Tashi salam dulu, Nak." Menurut Tasha dan Tashi mencium punggung tangan pria paruh baya yang sudah pasti itu adalah ayah Dipo dengan sopan secara bergantian. "Cantik-cantik sekali anak-anak Pak Tommy, Dipo lihat cantik bukan?" Dipo menatap dua gadis cantik di depannya terpesona. Ah, tidak lebih tepatnya pandangan Dipo hanya tertuju kepada Tasha yang jelas terlihat sangat berbeda. Kenapa dia jadi cantik. batin Dipo. "Iya, Pa. Cantik." Puji pemuda itu tanpa sadar keluar dari mulutnya membuat Tashi langsung cemburu mendengar laki-laki yang di cintainya memuji perempuan lain di depannya. Lain halnya dengan Tasha yang mengulas senyum malu-malu yang ia buat pura-pura agar adik tirinya semakin panas. Gelak tawa ayah Dipo dan ayah Tasha terdengar bersahutan melihat ekspresi Dipo yang masih terpukau menatap Tahsa tanpa kedip. "Pak Tommy, sepertinya anak-anak kita sudah saling tertarik bukan. Hahaha benar kan, Pak?" Tommy, pria paruh baya itu tersenyum setuju mendengarnya ucapan Johar ayah Dipo. Di antara dua orang tua yang saling melempar senyum bahagia melihat Tasha dan Dipo yang malu-malu saat bertemu, Tashi justru mengepalkan tangannya kuat menatap interaksi Dipo dan Tasha. Api cemburu mulai menyala membakar hati gadis itu, Tashi membuang muka kesal setiap Dipo mencuri-curi pandang menatapnya. Di tempat duduknya, Tasha juga memperhatikan sikap Tashi kepada Dipo sepanjang acara makan. Akhirnya acara makan malam bersama berjalan lancar, Tasha, Tashi dan Dipo duduk di taman belakang rumah keluarga Andaran bersantai sejenak. "Besok kamu sudah masuk sekolah lagi, Tasha?" Dipo bertanya kepada Tasha yang asyik menyecap minuman s**u hangatnya. Anggukan kepala gadis itu berikan. "Iya, Kak. Besok aku ujian." jawabnya seadanya saja. "Syukurlah kamu sudah sehat menjelang ujian ya. Padahal Kakak sempat khawatir kamu jadi ketinggalan ujiannya." ucap pemuda itu penuh perhatian membuat Tasha geli mendengarnya ingin muntah. "Iya, Kak. Ah, maaf Kak. Tasha mau ke toilet dulu, Tasha tinggal sebentar ya Kak." "Oke, tidak apa-apa, Tasha." Tasha buru-buru pergi membiarkan dua orang itu di sana karena hatinya sudah sangat sesak dan muak duduk berdekatan terus dengan dua manusia tidak tahu tersebut. Kepala Dipo menoleh ke segala arah melihat situasi. "Sayang." Bisik Dipo pelan-pelan agar tidak terdengar orang lain selain Tashi yang masih duduk diam di sana bersamanya. "Sayang, maaf." Lagi, Dipo mencoba mengajak Tashi bicara dengannya. Namun, gadis itu tetap mengabaikan pemuda tampan itu hingga Dipo frustasi. "Tashi sayang, maafin Kak Dipo ya." seru Dipo kali ini tidak berbisik, tangan pemuda itu menarik lembut lengan Tashi agar tubuh gadis itu menghadap kearahnya. Raut cemberut Tashi membuat Dipo mendesah pasrah. "Sudah jangan cemberut lagi dong, nanti cantiknya pacar Kakak jadi hilang loh. Senyum dong, ya ya ya mau ya, senyum dong. Mana senyum manisnya. Sayang, Kakak benar-benar minta maaf, Kakak nggak bisa kalau Kakak cuma diam saja tadi. Kamu sendiri kan tahu tadi ada papa kamu dan papa Kakak. Mereka bakalan curiga kalau Kakak nggak memuji Tasha. Kamu mengerti kan? Kamu tahu kan kalau hati Kakak itu cuma ada nama kamu, bukan Tasha. Kamu tetap gadis paling cantik yang ada di hati Kakak. Sudah ya, jangan marah lagi. Please, Babe." seru Dipo membujuk Tashi dengan kata-kata rayuan manis pemuda itu. Tashi masih menekukkan wajahnya kesal. Helaan napas berat Dipo terdengar, tak suka di abaikan Tashi, pemuda itu tiba-tiba mendekat dan mencium Tashi membuat gadis itu terkejut bukan main, begitu juga satu sosok yang ternyata sudah berdiri di pintu pembatas taman belakang rumah sejak tadi dengan mata membelalak lebar tidak percaya. Apa-apaan mereka. Batin sosok itu syok.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN