Tashi dan Dipo masuk ke dalam rumah dan ikut bergabung dengan orangtua mereka yang sedang asyik mengobrol di ruang santai, tak lama Tasha ikut turun dari kamarnya yang berada di lantai dua untuk bergabung.
"Pak Tommy sebenarnya malam ini Dipo mau kasih hadiah buat Tasha tapi maaf sepertinya hadiah itu ketinggalan, benar kan Nak?" Johar pria paruh baya itu bertanya demikian kepada putranya membuat Dipo menaikkan alis matamya bingung seperkian detik namun mengiyakan pertanyaan ayahnya.
"Iya, Pa. Maaf ya Tasha. Besok Kak Dipo antar ke kamu ya hadiahnya." ujar pemuda hangat di balas pelan oleh Tasha tanpa minat sebenarnya.
"Iya, Kak. Tidak apa-apa."
"Aduh ... Pak Johar jangan merasa tidak enak, makan malam kita hari ini kan untuk mempererat silahturahmi keluarga. Jadi jangan repot-repot menyiapkan apapun untuk kami, Pak. Kedatangan Pak Johar dan Nak Dipo saja sudah sangat berharga buat keluarga kami." Tommy berujar tulus kepada pria paruh baya tersebut.
Tanpa mereka sadari kalau Tashi sudah menekuk wajahnya cemberut melihat kearah Dipo, ekspresinya seakan-akan gadis itu tengah meminta penjelasan kepada Dipo tentang hadiah yang di maksud oleh ayah pemuda itu.
Sayangnya Dipo tidak menggubris tingkah gadis itu.
"Nak Tasha, Om tahu kalau kamu masih muda, masih ingin kuliah dan mengejar karir. Niat baik Om sebenarnya datang kesini malam inu itu membawa Dipo anak Om, untuk melamar kamu jadi calon istri anak Om, Dipo Mayesha Anggara." Johar menjeda seraya memperhatikan raut Tasha yang mengerjap kaget. "Kalian tidak perlu terburu-buru, cukup tunangan saja dulu, Om rasa tidak masalah, benar kan Pak Tommy?" Lanjut beliau tampak penuh kehati-hatian mengutarakan niatnya yang sebenarnya kepada Tasha.
Tasha tak kaget, namun gadis cantik itu sengaja memasang wajah kaget agar lebih terlihat natural.
Mungkin jika di kehidupan sebelumnya Tasha akan merasakan sensasi bahagia seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik rongga dadanya mendengar lamaran keluarga Dipo untuknya. Sayangnya, kali ini hanya terasa hambar yang Tasha rasakan.
Andai saja semua tidak terjadi kepadanya di masa lalu, mungkin hingga saat ini Tasha akan terus mencintai Dipo sebagai suaminya.
"Sayang, kamu jangan terburu-buru menjawab lamaran Pak Johar. Ayah tahu kamu juga sudah mengerti niat baik keluarga Pak Johar untuk kamu. Mungkin setelah kamu selesai ujian dan lulus kamu boleh memberikan jawaban kamu untuk Nak Dipo. Ayah menghargai apapun keputusan kamu nantinya. Selama kamu bahagia, itu juga akan menjadi pilihan Ayah." Tommy pun ikut menimpal berbicara dengan perlahan-lahan kepada putri kesayangannya tersebut.
"Baik, Yah. Tasha mau fokus ujian dulu. Nanti Tasha pikirkan atas niat baik Om Johar dan Kak Dipo." Jawabnya patuh mengangguk kecil.
"Syukurlah." Seru lega Johar dan Tommy bersamaan.
Tasha melihat kearah Dipo yang tengah tersenyum menawan kearahnya, tak ingin pemuda itu curiga atas perubahan sikapnya. Tasha balas tersenyum malu-malu.
Interaksi singkat Tasha dan Dipo sontak membuat hati Tashi yang sudah dingin kembali panas membara terbakar api melihat keduanya.
Sialan kamu, Kak Tasha. Umpat gadis itu kesal.
Dipo dan ayahnya sudah pulang, Tasha pun sudah kembali ke kamarnya begitu juga dengan Tommy. Di dapur masih ada Shinta dan Tashi. Ibu dan anak itu tampak tengah membuat sesuatu.
"Sejak kapan kamu begitu Tashi?"
Tashi menoleh menatap bingung, tak mengerti arah dari pertanyaan ibunya, Shinta.
Mengerti, wanita paruh baya itu pun kembali mengulang bertanya.
"Maksud Mama apa? Sejak kapan apanya, Ma?"
"Kamu dan nak Dipo?"
Hah.
Tubuh Tashi menegang kaku, matanya membelalak, dengan gerakan cepat gadis itu membalikkan badannya menghadap ibunya, memandang wanita paruh baya itu dengan sorot mata horor nyaris keluar dari rongganya.
"Mama ... Mama tahu dari siapa aku sama kak Dipo?" Baliknya bertanya dengan nada berbisik takut-takut.
Shinta mendesah kasar, tangan wanita paruh baya itu terangkat dan langsung mendarat di punggung putrinya kencang hingga Tashi nyaris memekik heboh karenanya.
"Aww, Mama sakit." rintihnya tertahan.
"Biarin. Kalau perlu Mama pukul kamu pake balok Tashi, kamu benar-benar ya, dasar anak bodoh. Ngapain kamu deketin nak Dipo hah? Tashi, kamu tahu kan dia itu mau di jodohkan sama kakak kamu Tasha." Omel Shinta.
Mendengkus Tashi memotong cepat dengan nada marah mendengar nama kakaknya di sebut juga oleh ibunya. "Ma aku sama kak Dipo sudah lebih dulu kenal di bandingkan kak Tasha. Dan aku sama kak Dipo sudah menjalin hubungan jauh sebelum papa mau jodohin kakak sama kak Dipo. Jadi bukan aku yang salah disini Ma. Mama nggak berhak marah dan melarang aku buat dekat sama kak Dipo." geramnya tidak suka melihat ibunya seakan-akan menyalahkannya atas apa yang terjadi antara dirinya dan Dipo.
Mereka saling mencintai.
Ya. Kira-kira seperti itulah pemikiran Tashi sekarang.
Shinta kembali mendesah kasar lelah, kepalanya berdenyut sakit mendengar ucapan putrinya. "Tapi Mama tetap nggak suka kamu sama dia. Kamu itu cantik Tashi, kamu bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih tajir, dan ganteng dari nak Dipo. Lupain dia, jangan sampai papa kamu tahu hubungan kamu sama nak Dipo. Kamu mau di hukum hah?"
"AKU NGGAK PEDULI, MA." tekan Tashi balik marah.
"Tashi kamu harus dengerin nasihat Mama, Nak. Jauhin anak itu, Mama bisa carikan kamu cowok yang lebih ganteng dari nak Dipo. Jadi cepat akhiri hubungan kamu sama anak itu, kamu mengerti kan?"
"AKU NGGAK MAU, MA." tolak Tashi balik membentak ibunya tidak setuju.
"Kenapa harus aku yang mundur sih, Ma. Aku sama kak Dipo saling cinta Ma, seharusnya kak Tasha yang mundur. Bukan aku. Pokoknya nggak mau." rengeknya lagi membuat Shinta sebagai ibu kandung Tashi pusing tujuh keliling mendengar rengekan putrinya..
Beliau terlihat menarik napas panjang, sebelum akhirnya mendekat dan menangkup kedua sisi wajah putrinya dengan lembut.
"Tashi kamu jangan nekat ya sayang, Mama nggak mau kalau papa kamu sampai marah besar ke kamu. Dengerin omongan Mama kali ini ya, Tashi anak Mama yang pintar, cantik dan penurut. Jauhin nak Dipo ya, oke." Bisik Shinta perlahan merayunya membuat Tashi menggeram, gadis itu membuang pandangan asal masih cemberut.
"Tashi kamu dengar Mama kan, Nak?" Tashi balik menatap ibunya lagi, lalu ia mengangguk.
Kedua sudut bibir Shinta tertarik naik keatas senang melihat putrinya yang mengangguk mengiyakan nasihatnya. Sontak wanita paruh baya itu menarik Tashi lalu memeluknya.
"Anak pintar. Ini baru anak kebanggaan Mama." Puji beliau tanpa tahu kalau Tashi menggeram dalam hatinya sebal.
Cih, buat apa aku mengalah, sejak awal kak Dipo itu punyaku. Jadi akan tetap jadi milikku, Ma. Aku nggak akan kasih kak Dipo sama cewek manapun. Dia cuma buat aku, titik.
Tanpa mereka sadari, Tasha mengintip mereka dari balik tembok pembatas antara dapur dan ruang tengah. Gadis itu memandang ibu dan anak itu dengan tatapan sinis.
Aku tahu kalau kamu nggak akan mungkin dengan mudahnya melepas Dipo begitu saja, Tashi. Kamu benar-benar perempuan tidak tahu diri, bahkan ibumu saja bisa kamu bohongin. Pantas saja hidup kalian tidak pernah merasa cukup. Baiklah, kita lihat apa setelah ini kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau itu. Aku akan buat kamu menangis membayar semua perbuatanmu, Tashi. Batin Tasha nyalang seperti elang yang siap memangsa.