Tasha melangkah keluar kelas usai menyelesaikan ujian pertamanya dengan mudah, gadis itu berjalan sendirian menuju gerbang sekolah.
Introvert.
Ya.
Tasha di kenal selalu menyendiri di sekolahnya, meskipun gadis itu satu sekolah dengan Tashi. Tasha tidak pernah main atau pun bergabung dengan adik tirinya tersebut.
Mobil keluarganya sudah menjemput di depan gerbang, Tasha menyapa Pak Iwan dan di balas hangat oleh beliau.
"Pak ke kampus kak Dipo ya." Ujarnya yang membuat Pak Iwan menatap anak majikannya heran.
"Non, udah izin sama bapak?" Pak Iwan bertanya demikian, karena tidak mau ada masalah yang muncul jika tidak membawa anak majikannya langsung ke rumah tanpa persetujuan bosnya.
"Sudah kok, Pak. Saya sudah izin dan ada janji sama kak Dipo. Ayah juga sudah tahu." Jelasnya memberitahu.
Mengangguk patuh, mobil pun mulai melaju meninggalkan area sekolah.
Pandangan Tasha tertuju pada luar jendela, gadis itu termenung beberapa saat tanpa sadar mobil yang di tumpanginya sampai di tempat tujuan yang jaraknya tidak terlalu jauh.
Turun dari dalam mobil, Tasha memakai sweater berwarna biru muda untuk membungkus seragam SMA yang masih ia kenakan, tentu saja kedatangannya menarik perhatian para mahasiswa di sana.
Cantik dan manis. Itulah pemikiran mereka.
Wajah Tasha yang tidak di poles dan lugu membuat beberapa anak-anak kampus penasaran dengannya. Terlebih Tasha masih berdiri di depan gerbang kampus dengan ekspresi polos yang menarik perhatian.
"Non, mau Pak Iwan antar saja masuk ke dalam buat cari mas Dipo?"
Gelengan kuat di berikan oleh gadis itu, "Tidak usah, Pak. Biar nanti Tasha telepon kak Dipo saja. Bapak pulang duluan saja, nanti Tasha balik sama kak Dipo."
Mendengar itu sang supir sontak menolak tidak berani.
"Astaga, Bapak nggak berani Non. Biar Bapak tunggu sampai mas Dipo jemput Non saja. Habis itu Bapak baru pulang." ujar beliau.
Mendesah pelan, Tasha akhirnya mengikuti saja perkataan Pak Iwan supir keluarganya. Cukup lama Tasha diam berdiri saja di depan gerbang. Matanya melirik ke segala arah berharap bisa bertemu atau melihat seseorang yang sebenarnya sedang ia cari. Gadis itu bahkan belum menghubungi Dipo sekali pun untuk memberi kabar jika dirinya ada di kampus pemuda itu sekarang.
"Tasha." Panggilan itu menyentak eksistensi Tasha yang sontak menoleh, gadis itu melihat Dipo datang menghampirinya dengan ekspresi kaget.
"Ternyata beneran kamu, sedang apa di sini? Kenapa nggak bilang mau ke sini?" Pak Iwan yang samar mendengar pertanyaan Dipo menatap anak majikannya bingung, padahal tadi Tasha bilang sudah ada janji dengan pemuda itu.
Tasha tersenyum manis, membuat Dipo terpaku, "Aku mau kasih kejutan aja ke Kak Dipo. Kakak masih ada jam kuliah?" Tanyanya, Dipo mengerjap kikuk balas mengulas senyum menawan membuat pemuda itu semakin terlihat tampan saja.
"Astaga kamu ada-ada saja, lain kali kalau mau main ke kampus Kakak, kamu kabarin ya, untung saja Kakak tadi sempat lihat kamu, gimana kalau tidak. Dan kebetulan Kakak baru aja kelar kelas. Kamu mau masuk ke dalam, atau kita makan di luar?" Ajak pemuda itu akhirnya.
"Boleh Tasha liat-liat kampus Kakak?" seru Tasha meminta izin.
Anggukkan kepala cepat di berikan, Dipo balas mengiyakan. "Tentu aja, boleh. Yuk masuk. Ah iya, supir kamu gimana?" Tatapan pemuda itu tertuju kepada Pak Iwan yang masih setia menunggu anak majikannya.
"Ya ampun aku lupa, Bapak sekarang boleh pulang, nanti Tasha pulang sama Kak Dipo aja. Iya kan, Kak?"
"Benar, Pak. Biar saya yang antar Tasha pulang. Tenang saja, Pak. Nggak akan malam-malam kok. Saya janji, Pak." Balas Dipo menimpal cepat.
Pak Iwan mengangguk pasrah, lalu pria paruh baya itu akhirnya benar-benar pergi meninggalkan anak majikannya setelah memastikan jika Dipo akan mengantar Tasha pulang dengan selamat.
Tangan Dipo terulur, seakan meminta Tasha balas menerima ulurannya untuk ia genggam. Tasha awalnya hanya melihat tangan Dipo yang menggantung di udara menunggu beberapa detik. Dalam hatinya ia tengah mencoba menenangkan hatinya agar tidak kesal dengan sikap sok manis Dipo, Tasha pun mulai balas mengenggam tangan pemuda itu. Senyum merekah Dipo tercetak, dengan sangat baik dan perhatian pemuda itu menuntun Tasha keliling melihat-lihat kampusnya.
Tanpa gadis itu ketahui, jika di area parkir tidak jauh dari gerbang kampus tadi, seorang pemuda menatap dirinya dengan sorot mata lekat.
Gadis itu. Gumam pemuda itu melihat punggung Tasha yang mulai menjauh dan menghilang masuk ke area kampusnya.
"Oi Bro, ngelamun aja." Tepukan kuat pada punggungnya tiba-tiba menyentak kesadaran pemuda itu. Matanya mengerjap sekali. Ia menoleh geram ke si pelaku yang sudah mengagetkannya dan di balas cengengesan.
"Sialan lo," umpatnya di balas kekehan geli orang itu.
"Lagian ngelamun aja lo, di parkiran lagi. Kesambet baru tahu lo, liatin siapa sih?"
Menggeleng, Sky pun mengatur rasa kesalnya agar hilang. "Bukan siapa-siapa." Jawabnya.
"Eh, iya gue lupa Bro, tadi di koridor rame banget anak-anak pada liat si Dipo bangke itu lagi jalan sama anak cewek cantik banget. Tapi katanya kaya masih anak SMA gitu, Bro. Elo juga liat nggak tadi?" Heboh Juan seperti biasa bertanya. Jika sudah soal ngegibahin orang, Juan paling cepat dan selalu penasaran anaknya.
Menggedikkan bahunya acuh, Sky memilih memakai helm fullface miliknya.
"Nggak penting." Sahutnya berkomentar setelahnya.
"Yey! Nggak penting buat elo. Tapi buat gue penting, Bro. Masa gue kalah sama dia, anjir emang tuh cowok. Anak masih kecil aja di embat juga. Playboy emang tuh si bangke." Geram Juan yang kesal sendiri.
For your information, Juan dan Dipo itu tidak pernah akur, sebab dulu Dipo pernah menggoda calon gebetan Juan hingga akhirnya Juan menjauh dari calon gebetannya. Bahkan ada gosip mengatakan kalau mantan calon gebetan Juan itu sedang hamil sekarang.
"Njir ... njir, nyet itu dia. Gila cantik banget, eh manis banget lagi. Sialan dah." Heboh Juan seraya menunjuk kearah koridor yang memperlihatkan sosok Dipo dengan Tasha yang sedang berjalan keluar menuju arah parkiran masih bergandengan.
Juan menggerutu melihat sosok Dipo, berbanding terbalik dengan Sky yang kembali melepas helmnya untuk melihat perempuan yang sedang bersama dengan Dipo dan menatap lurus gadis itu lekat.
"Wow liat siapa nih? Oh ternyata ada Sky, sama Juan. Apa kabar elo, Bro? Mau langsung balik lo?"
"...." Sky yang di sapa oleh nada menyebalkan Dipo tak membalas.
Pandangan pemuda itu terus tertuju pada Tasha yang juga menatapnya dengan mata indah milik gadis itu.
"Eits, jangan natap cewek gue dalem banget dong, Bro. Dia cuma punya gue, Bro." seru Dipo lagi benar-benar dengan nada menyebalkan yang di sengaja ingin memanas-manasi sosok Sky.
"Eh, dasar upil kuda. Sok banget lo jadi orang. Hei, adek manis, gue kasih saran ya, jangan mau sama dia. Dia itu playboy kampus, nanti kamu cuma di mainin doang. Mending kamu cari cowok lain aja." Juan menyeloroh kesal membalas Dipo geram tidak tahan.
Tasha menatap Juan yang ingin sekali tertawa mendengar perkataan 100% benar dari pemuda itu namun Tasha hanya balas mengangguk kecil dengan ekspresi malu-malu membuat Dipo cemburu tidak suka. Pemuda itu sontak menarik tangan Tasha sedikit kasar menuju mobilnya sebelumnya Dipo masih sempat berteriak mengumpat ke arah Juan yang di balas acungan jari tengah pemuda itu.
"Adek manis hati-hatinya!" seru Juan setengah berteriak.
"Berengsek!" umpat Dipo kesal.
Tasha di paksa naik ke mobil, gadis itu melihat keluar jendela menatap sosok Sky yang juga masih menatapnya dengan sorot mata yang sulit di jelaskan.
Tasha menarik sudut bibirnya senang bisa melihat Sky meskipun mereka tidak mengatakan apapun satu sama lain. Begitu pula dengan Sky yang entah mengapa hatinya merasa sangat lega melihat sosok Tasha yang baik-baik saja, tidak seperti sosok yang muncul di dalam mimpinya.
Kita bertemu lagi, Sky.
Syukurlah kamu baik-baik saja. Batin keduanya serentak dalam hati.