Cewek Ambekan

1144 Kata
Sky tidak berkomentar apapun sejak kepergian Dipo dan gadis itu, bahkan pemuda tampan itu pun membiarkan Juan yang masih misuh-misuh karena ulah Dipo. "Kayanya si Dipo p*****l deh, gila itu cowok anak SMA aja di embat juga. Dasar sok kegantengan tuh anak." Juan bergidik jijik membayangkannya raut Dipo. "Jangan sembarangan ngomong." Tegur Sky memperingati sahabatnya pelan. Ya. Meskipun Sky tidak terlalu suka apalagi akrab dengan Dipo, tapi Sky tipe yang tidak ingin mencari-cari perkara. Bahkan ketika Juan bermasalah dengan pemuda itu, Sky lebih memilih menarik Juan melepaskan calon gebetannya waktu itu. Yang untungnya Juan tidak lagi terlibat dengan perempuan itu sampai akhirnya banyak gosip jelek beredar tentang mantan calon gebetan sahabatnya tersebut. "Geram gue liat gaya songongnya tadi. Sok banget, Bro. Cih, amit-amit." Geram Juan lagi masih sangat kesal sepertinya. "Balik aja, yuk." Ajak Sky yang kembali memakai helm fullfacenya setelah mobil yang di tumpangi Dipo dan gadis itu sudah keluar area parkiran kampus dan menghilang. Ogah-ogahan Juan akhirnya ikut memakai helmnya dan naik ke atas motor pemuda itu sendiri. Keduanya melaju meninggalkan area kampus dengan kecepatan sedang. Sementara itu, Tasha memilih diam tak berusaha memulai percakapan apapun dengan pemuda di sampingnya. Sampai suara Dipo menyadarkan lamunan gadis itu, "Kamu mau makan dulu, Tasha? Kebetulan ada cafe baru buka di sekitar sini. Mau mampir dulu?" Ajaknya tidak langsung di jawab oleh gadis cantik itu. Melihat Dipo yang seperti tengah menunggu jawabannya, akhirnya Tasha mengangguk mengiyakan ajakan makan pemuda itu. Tersenyum senang, Dipo pun mengarahkan rute mobil mereka ke tempat tujuan dengan cepat. Ramai. Kondisi kafe yang cukup ramai membuat langkah keduanya terhenti di depan pintu masuk, pandangan Dipo dan Tasha melihat ke segala arah mencari tempat duduk yang kosong. "Itu kaya Tashi?" Ujar Dipo refleks saat menangkap figur sosok yang mirip dengan Tashi. Sontak, Tasha mengikuti arah pandangan pemuda itu. Dan benar, tidak jauh dari tempat mereka berdiri tampak Tashi duduk di salah satu meja dengan salah satu temannya. "Mau gabung aja, Kak?" Seru Tasha sengaja menawarkan ide kepada pemuda itu yang tentu saja Dipo pasti akan senang mengiyakannya. Apalagi disana ada Tashi, perempuan yang di cintai pemuda itu. Dipo menggaruk lehernya bingung, "Apa nggak apa-apa kalau kita gabung di sana? Atau lebih baik kita duduk di kursi yang lain aja ya, Tasha. Nggak enak deh kalau kita tiba-tiba ikut gabung, Tasha. Lihat aja, Tashi lagi asyik sama temannya." ucap pemuda itu membuat Tasha ikut menatap raut wajah Tashi yang tertawa bersama temannya tersebut. "Tidak apa-apa yuk, Kak." Tasha mengabaikan ucapan Dipo dan lebih dulu berjalan ke meja di mana adik tirinya berada. "Tashi." Panggilan pelan Tasha mengejutkan Tashi yang mendongak dan sedikit membelalakkan matanya menatap kedatangan dua orang tersebut. "Kak Tasha, Kak Dipo!" Pekik gadis itu kaget. "Kebetulan kamu ada di sini, boleh Kakak sama Kak Dipo gabung?" Tasha bertanya dengan nada pelan dan lembut, bukan hanya Tashi yang kaget melainkan teman Tashi pun ikut kaget karena sikap Tasha yang tertutup di sekolah kini tengah menyapa dengan nada humble. Tashi tak langsung menjawab, gadis itu memandang Dipo dengan kerutan di dahinya seakan meminta pemuda itu membawa Tasha segera pergi dari sana. Sebab Tashi tak suka jika harus duduk satu meja dengan kakak tirinya tersebut di luaran juga. "Tashi, boleh kan?" Teguran Tasha menyentak, yang akhirnya Tashi pun mengangguk pasrah mengiyakan. "Hai, kamu Naya kan teman sekalas Tashi. Saya Tasha, kakaknya Tashi." Tasha dengan raut lugu dan polosnya mengulurkan tangan untuk berkenalan, teman Tashi sedikit gugup di sapa oleh Tasha. Remaja itu pun membalas ramah gadis itu pun menerima salam perkenalan gsdis cantik di depannya tersebut. "Salam kenal juga, Kak. Saya Naya." Dipo duduk di sebelah Tasha dan berada tepat di depan Tashi. Pemuda itu tampak bingung sendiri, terlebih melihat ekspresi kesal Tashi yang terus tertuju kepada dirinya. Tashi menendang ujung sepatu Dipo dan melotot. Pemuda itu hanya mendesah pelan. Tak tahu harus bagaimana karena Tasha yang terlihat senang bisa bergabung dengan Tashi, meskipun perasaan berbeda di rasakan oleh perempuan yang di sukainya itu. "Kak Dipo mau pesan apa?" "Ah, apa aja, Tasha. Kamu yang pilih aja." "Pacarnya Kak Tasha ganteng ya, iya kan Tashi?" Celetukkan Naya yang terlampau jujur membuat Tashi menggeram mendengarnya, sedangkan Tasha tersenyum malu-malu. "Kamu bisa aja, Naya. Kak Dipo bukan pacar aku kok. Iya kan, Kak Dipo?" Dipo tiba-tiba menoleh kearah Tasha dengan ekspresi tidak suka secara mendadak, lalu berucap hal yang membuat hati gadis lain di antara mereka semakin kesal dan cemburu. "Aku kan calon tunangan kamu, Tasha." Potong pemuda itu penuh penekanan menegaskan. Naya berseru heboh lalu menutup mulutnya sendiri malu, sedangkan di depan Dipo, Tashi sudah mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih marah, rahangnya mengeras matanya mendelik tajam yang mendadak membuat Dipo merasa ngeri sendiri di kursinya. "Maaf semua, aku ke toilet dulu." Tashi pamit ke toilet, selang satu menit Dipo juga mendadak ikut pergi izin ke toilet. Tasha diam-diam mengikuti arah pandangan ke punggung Dipo yang justru berjalan kearah pintu menuju ruang outdoor kafe tersebut. Ia tersenyum miring. Ck, dasar. Di satu sisi, Tashi sudah berdiri dengan gelisah di salah satu sudut kafe di ruang outdoor. Derap langkah kaki mendekat membuat gadis itu menoleh dan langsung menekuk wajahnya kala melihat Dipo yang ternyata ikut menyusulnya. "Sayang, kamu ngapain di sini? Kamu bikin Kakak khawatir saja. Kita masuk lagi ya, nanti Tasha nyariin kamu lagi." ajaknya. "Nggak mau." Tashi menggeleng kuat seraya melipat kedua tangannya di depan d**a masih marah dengan wajah tertekuk masam. "Jangan gitu, masuk yuk. Kakak minta maaf, soalnya tadi Tasha tiba-tiba datang ke kampus tanpa ngabarin Kakak sayang. Jadi terpaksa Kakak ajak dia pergi ke sini. Maaf ya, acara makan kita sama teman kamu jadi gagal karena ada Tasha." Jelas Dipo dengan hati-hati mencoba menenangkan hati kekasihnya itu. Ya. Sebenarnya, niat awal Dipo datang ke kafe ini memang karena sudah ada janji dengan Tashi. Namun sayang karena kemunculan Tasha di kampusnya membuat pemuda harus membawa Tasha juga ke kafe ini dengan alasan mengajak makan seperti biasa saja. Lihatlah, karena kecerobohannya sekarang Tashi jadi marah kepadanya. Gue harus bisa bikin Tashi nggak ngambek lagi, huh dasar cewek ambekan. Batinnya pusing. "Seharusnya Kakak bisa kabarin aku dan ajak kak Tasha langsung pulang bukannya malah datang ke sini. Dan sengaja mau bikin aku cemburu, di depan teman aku." Omelnya menggebu-gebu masih kesal dengan tindakan Dipo. "Iya, Kakak salah. Maafin Kakak ya, ayolah sayang. Besok Kakak janji jalan sama kamu sampai kamu puas, oke. Untuk hari ini aja biarin Tasha sama Kakak dulu ya. Cantiknya Kakak jangan marah ya. Kakak sayang banget sama kamu, Tasha itu bukan apa-apa di hati Kakak. Kamu percaya kan? Cinta Kakak cuma buat kamu, Tashi." ujarnya panjang lebar membujuk gadis di depannya dengan rayuan. Tashi menatap Dipo lama. "Janji besok Kakak jalan sama aku. Nggak sama kak Tasha lagi?" "Janji sayang." Jawab Dipo mengangguk santai. "Oke, aku maafin Kakak. Awas ya jangan terlalu dekat sama kak Tasha." Ancam Tashi sedikit menekankan. Dipo manggut-manggut patuh. Ck, dasar cewek bodoh. Gumamnya mengejek.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN