Mobil yang di kendarai oleh Dipo tiba di depan rumah keluarga Andaran, pintu depan dan belakang terbuka. Tasha dan Tashi keluar hampir bersamaan, Tasha lebih dulu mengucapkan terima kasih di susul adik tirinya itu sebelum akhirnya Dipo pergi dengan terburu-buru meninggalkan area kompleks perumahan tersebut.
Tasha berjalan masuk ke dalam rumah, Tashi mengikuti langkah kaki kakak tirinya tersebut dengan derap langkah ringan.
"Tashi, tadi Kakak lihat kak Dipo sama kamu keluar bukan dari arah toilet berbarengan, apa kalian berbicara sesuatu tanpa sepengetahuan Kakak?"
Mata Tashi membola kaget, dengan cepat remaja itu mengubah ekspresi wajahnya seolah tidak mengerti.
"Masa sih, Kak. Aku tadi ke toilet kok, aku juga nggak tahu kenapa bisa keluar barengan sama kak Dipo. Kakak nggak percaya ya sama aku?" Nada sedih yang sengaja di buat oleh Tashi membuat Tasha menggeram dalam hatinya. Lalu gadis itu menggedikkan bahunya pelan.
"Kakak hanya bicara apa yang Kakak ingin tahu saja. Baguslah kalau kamu sama kak Dipo nggak ada sesuatu yang kalian sembunyikan dari Kakak." balasnya santai.
"Aku sama kak Dipo? Aduh ... Kak Tasha ada-ada aja deh. Please deh Kak. Aku juga ada cowok gebetan yang lagi aku incar, mana mungkin aku main-main sama kak Dipo, padahal kak Dipo itu calon tunangan Kakak, benar kan?"
Tasha bergumam pelan mengiyakan.
Dasar sok ngeles kamu, Tashi.
"Kakak harus percaya sama aku, aku mana mungkin nusuk Kakak dari belakang. Aku sayang banget sama Kakak. Aku juga nggak berani kalau sampai nyakitin Kakak, bisa-bisa nanti mama sama papa marah sama aku." Ucap adik tirinya itu dengan nada meyakinkan.
Manggut-manggut, Tasha tak berkomentar apapun soal perkataan Tashi kepadanya.
Karena sekarang semua ucapan yang keluar dari mulut adik tirinya itu tidaklah berharga dan tidak pantas untuk ia percayai. Sebab, nyatanya di kehidupannya yang lalu Tashi sendirilah yang menusukkan pisau tajam dan menghunus ke jantungnya.
"Baiklah, Kakak percaya sama kamu. Maaf ya, kalau Kakak sempat curiga." ujar Tasha lembut.
Tashi menarik kedua sudut bibirnya naik ke atas sempurna, gadis itu mendekat kearah kakak tiri perempuannya tersebut lalu memeluknya erat seraya berbisik manis.
"Terima kasih, Kak. Aku sayang sama Kakak."
Tashi meninggalkan Tasha lebih dulu menuju kamarnya, kepala Tasha mendongak dan melihat ke segala arah. Melihat bangunan dan interior rumah ayahnya yang tidak berubah. Tasha ingat betul di kehidupan sebelumnya, sejak ayahnya meninggal dunia, ibu tiri serta adik tirinya mengubah semua interior rumahnya. Bahkan tak ada satu pun photo sang ayah ataupun mendiang ibunya lagi di rumah. Hal yang selalu membuat hati Tasha sedih saat itu.
Tatapan Tasha tertuju pada bingkai besar yang terpajang di ruang keluarga, di dalamnya ada gambar ayah, dirinya, Shinta ibu tirinya dan Tashi juga. Mereka semua tersenyum lebar dengan hangat dan manis. Tasha yakin, saat itu adalah hari terakhir dirinya terlihat tersenyum manis bersama sang ayah.
Jika di ingat lagi, Tasha tidak pernah bilang sayang kepada ayahnya lagi sejak kepergian ibunya. Amarah dan rasa kecewa Tasha dulu rupanya terlalu besar kepada ayahnya, meskipun ia menerima kehadiran Shinta dan Tashi, tetap saja fakta ayahnya menyakiti hati ibu kandungnya jelas bukanlah sebuah kebohongan.
"Tasha, kamu sedang apa, Nak?" Seruan itu membuat Tasha menoleh kaget dan melihat sosok figur ayahnya baru datang dari ayah pintu utama dan tengah berjalan menuju kearahnya.
"Tasha, kenapa Nak?" ulang beliau lagi.
"Ayah."
"Iya, Sayang. Ada apa hmm?"
Lidah Tasha mendadak terasa kelu, ia ingin sekali bertanya apa alasan ayahnya mengkhianati ibunya dahulu. Apakah alasan ayahnya akan sama seperti alasan Dipo menyakitinya.
Hanya karena telah mencintai wanita lain.
"Kenapa Nak?" Tommy mengerutkan dahinya melihat keterdiaman putrinya.
Tasha menggeleng, "Tidak jadi, Yah."
"Sayang kalau ada yang mau kamu bicarakan sama Ayah, jangan ditahan ya. Ayah memang jarang ada di rumah, kita berdua juga sudah jarang ngobrol, Ayah akan mencoba mengubah kebiasaan jelek Ayah demi kebahagiaan kamu. Ayah mau kamu tidak merasa sendirian sayang." Ucapan pria paruh baya itu tulus kepada Tasha.
Tersenyum, Tasha menganggukkan kepalanya paham.
"Iya, Yah. Terima kasih."
"Jadi ada apa hmm? Kamu perlu sesuatu? Apa ada yang kamu butuhkan, Sayang?" Tanya beliau ingin tahu lagi.
"Ayah, apa boleh besok sepulang sekolah Tasha ke tempat ibu." Serunya akhirnya mengatakan hal lain, meskipun jujur Tasha pun merindukan ibunya. Sejak terlahir lagi dari kehidupan masa lalunya Tasha belum sempat mengunjungi makam ibunya.
"Kamu mau bertemu ibumu? Apa mau Ayah temani?" Tommy menawarkan dirinya untuk menemani putri kesayangannya mengunjungi mendiang istrinya.
"Tasha pergi sama pak Iwan saja, Yah." Balasnya menolak tawaran sang ayah.
Mengangguk mengerti, Tommy pun tak memaksa putrinya.
Pikir pria paruh baya itu, mungkin Tasha masih belum bisa memaafkannya.
"Baiklah, Sayang. Besok kamu tinggal bilang saja sama pak Iwan ya. Tapi tetap hati-hati."
"Hmm, iya, Yah." Sahut Tasha tenang.
Tangan Tommy terangkat mengusap surai putrinya lembut seraya tersenyum.
"Ya sudah, Ayah mandi dulu. Kamu juga istirahat ya. Ayah dengar tadi kamu jalan sama nak Dipo. Tumben sekali kamu main ke kampus nak Dipo."
"Eh, Ayah tahu dari siapa?" Tanya Tasha sedikit kaget mendengarnya
"Pak Iwan, tidak apa-apa, Ayah nggak akan marah kok sayang. Pak Iwan cuma menjalankan tugasnya untuk ngelapor sama Ayah. Tapi Ayah senang lihat hubungan baik kamu sama nak Dipo yang sepertinya lancar." ujar ayahnya dengan nada riang melihat putrinya sudah mulai dekat dengan Dipo.
"Ayah, aku cuma main aja, aku cuma mau lihat-lihat dulu kampus sebelum nanti mulai masuk universitas. Ayah kan tahu sendiri kalau aku belum tahu mau masuk mana." Elak Tasha memberikan alasan yang masuk akal mengapa dirinya datang ke kampus pemuda itu.
Padahal tujuan Tasha adalah untuk melihat Sky Deriz Abraham.
Ah iya pemuda itu. batinnya tiba-tiba teringat sesuatu.
"Ayah." Panggilnya.
Tommy menaikkan alisnya menunggu kelanjutan ucapan putrinya.
"Anu, aku mau tanya apa Ayah tahu keluarga Abraham?"
"Abraham? Ada apa? Apa mereka ada masalah sama kamu?" Gelengan kuat di berikan oleh Tasha cepat.
"Tidak, Yah. Aku kebetulan ingat ada kenalan yang sudah lama nggak kontakan. Dia keluarga Abraham, maaf ya Ayah, Tasha cuma tanya aja." serunya lagi-lagi berbohong.
"Begitu rupanya, Ayah sepertinya pernah dengar nama itu. Tapi Ayah kurang tahu sayang. Apa mau coba Ayah carikan informasi tentang mereka." ujar Tommy ingin membantu.
Tasha buru-buru menggeleng lagi.
"Tidak perlu, Yah. Ya sudah Tasha ke kamar ya, Ayah."
"Baiklah, Nak."
Tasha sedikit berlari menuju ke lantai dua kamarnya.
Ia menoleh ke bawah dimana ayahnya juga sudah mulai masuk ke dalam kamar beliau. Helaan napas berat keluar dari mulutnya.
Ayahnya tidak boleh tahu soal keluarga Abraham dulu.
Aku juga tidak ingin jika Tashi sampai bertemu dengan Sky di kehidupan ini. batin Tasha.