Suasana hening menyelimuti keluarga Abraham, Sky duduk menyantap sarapannya dengan tenang, begitu pula dengan kedua orangtuanya. Desta Abraham dan Naniya Putriana ayah dan ibu Sky juga terlihat tenang tanpa berbicara apapun selama mereka sarapan.
Usai menyelesaikan sarapan yang di sediakan, Sky dan Desta ayahnya masih duduk di meja makan. Sedangkan Naniya sibuk memindahkan piring kotor ke dapur di bantu si Mbok Yayuk asisten rumah tangga rumah keluarga Abraham.
"Bagaimana kuliah kamu Sky?" Suara berat ayahnya menyentak anak pertama di rumah tersebut.
Sky menoleh menatap kearah Desta ayahnya.
"Lancar, Pa." Jawab Sky santai.
Pria paruh baya itu mengangguk pelan mengerti. Di tatapnya wajah putranya itu dengan ekspresi yang sulit di jelaskan. Tapi Sky justru bisa menangkap raut lelah beliau saat ini.
Papa kelihatan lelah sekali. Pikirnya dalam hati sedih.
"Pa."
Desta bergumam menjawab, "Hmm."
"Apa hari ini Papa sama mama ada rencana mau datang ke rumah sakit?" Tanya Sky ragu-ragu, pasalnya kedua orangtua Sky sudah beberapa bulan ini sibuk mengurus bisnis dan juga mencari cara pengobatan-pengobatan yang bagus untuk Honey adiknya. Tentu saja mereka pasti butuh waktu istirahat sekarang, namun sayangnya saat ini Sky butuh bantuan ayahnya.
"Ya. Papa dan mama akan kesana hari ini. Ada apa Sky?" Balas Desta ayahnya balik bertanya, seolah-olah pria paruh baya itu mengerti dengan makna nada suara putranya.
"Mmm. Maaf, Pa. Sebenarnya Sky nggak enak tanya hal tadi ke Papa. Apalagi Sky tahu kalau Papa dan mama juga capek butuh istirahat. Tapi Kebetulan hari ini Sky ada tugas kampus dan kayanya Sky agak malaman ke rumah sakitnya, jadi Sky mau minta tolong Papa sama mama yang temenin Honey dulu sampai Sky datang ke sana." Jelas Sky hati-hati menjelaskan.
Ya, memang benar. Hari ini Sky harus menyelesaikan beberapa tugas dari dosennya dan proyek baru studio photonya.
Desta tertawa pelan.
"Astaga, Nak. Kamu ada-ada saja, kalau kamu ada keperluan kamu bisa langsung bilang saja sama Papa. Papa dan mama meskipun sibuk di luar, tapi kalau untuk urusan kepentingan kamu dan adikmu, Papa pasti akan berusaha yang terbaik, Nak. Kamu tenang saja, biar Papa yang jaga adikmu hari ini. Kamu selesaikan saja semua tugas-tugas kuliahmu dulu, tidak perlu ke rumah sakit hari ini, oke Nak." ujar beliau tenang.
"Terima kasih, Pa." Sahut Sky dengan senyum dan helaan napas lega mendengarnya.
"Kalau begitu, Sky pergi dulu Pa. Mau ketemu Juan dulu, sekalian nanti Sky mau check studio." Pamit pemuda tampan itu di balas anggukan paham Desta, pria paruh baya tersebut.
"Hmm, baik, hati-hati, Nak."
Sky berdiri dari duduknya dan pergi menuju dapur, pemuda itu pun berpamitan kepada Naniya ibunya.
"Ma, Sky berangkat dulu ya. Mau ketemu Juan." Ucapnya.
Wanita paruh baya yang masih terlihat bugar itu pun membalikkan badannya, beliau tersenyum hangat.
"Oh, iya sayang, ya sudah kamu hati-hati ya, Nak." Ucap sang ibu seraya memeluk dan mencium pipi Sky, putranya sayang.
Sky pun menaiki motor sportnya sebelumnya meninggalkan area perkarangan rumah keluarganya, menuju tempat tujuan pertamanya hari ini.
Sementara itu, suasana yang hampir sama pun terjadi di rumah keluarga Andaran.
Tommy kepala rumah tangga sesekali melihat kearah kedua putrinya yang sedang duduk di meja makan menyantap sarapan.
"Tashi hari ini kalau kamu mau pergi keluar sama Papa ya." Ujar beliau di sela makannya.
Remaja yang baru berusia 16 tahunan itu mengerutkan dahinya heran.
Menelan sisa makanan di mulutnya, Tashi pun bertanya dengan nada tidak mengerti. "Kenapa sama Papa? Kan ada pak Iwan, Pa?" Serunya bingung.
"Iya, Papa tahu sayang. Tapi Pak Iwan hari ini mau antar Kakak kamu ke tempat makam ibu. Jadi biar pak Iwan bisa fokus jagain Kakak kamu di sana. Kamu sama Papa, mengerti kan?"
Tashi menatap lurus melihat kearah Tasha yang tetap tenang makan tanpa ikut campur dengan obrolannya dengan sang ayah.
"Tashi." Panggilan Tommy membuat Tashi mendesah kasar.
"Baik, Pa."
Tanpa Tashi tahu kalau Tasha hanya pura-pura tenang, dalam hati gadis itu tentu saja merasa senang sebab Tashi tidak bisa lagi memanipulatif semua orang. Gadis itu tidak lagi bisa sok paling nomor satu di dalam keluarga ini. Kehidupan manja adik tirinya dahulu tentu saja tidak akan terjadi lagi di kehidupan sekarang.
Aku tidak akan membiarkan apa yang kamu inginkan dahulu berhasil kamu capai, Tashi.
Waktu terus berjalan, Tasha saat ini sedang berada dalam perjalanan menuj tempat peristirahatan terakhir mendiang ibunya. Buket bunga lily putih berada di atas pahanya. Tangannya yang mulus mengusap lembut bunga kesukaan ibunya tersebut.
Ibu pasti senang aku bawakan bunga ini. Batinnya tersenyum manis.
Makam atas nama Laila Khairunissa terpampang di depan matanya, Tasha berjongkok di samping batu nisan tersebut. Tangannya mengusap nisan mendiang ibunya sayang.
"Assalamualaikum, Buk. Maaf kalau Tasha baru datang hari ini. Ibu apa kabar? Tasha rindu sekali sama ibu." Bisiknya pelan menahan perasaan sesak yang mulai terasa tidak enak di dalam hatinya.
Air mata pun perlahan mulai menggenang di kedua pelupuk matanya yang jernih, di sela keheningan yang tercipta beberapa detik itu. Tangan mulusnya terulur membersihkan rumput-rumput liar dan daun-daun kering yang jatuh di atas makan sang ibu dengan telaten.
Kerinduan seorang anak kepada orangtuanya yang telah tiada tentu saja tidak bisa Tasha hindari, perasaan itu pasti akan menciptakan gejolak lara yang berlebihan menyesakkan d**a. Tasha menunduk dalam, detik berikutnya sebulir air mata mulai mengalir membasahi wajah mulusnya tanpa bisa lagi di cegah. Tangan gadis cantik itu gemetar, Tasha menutup mulutnya berharap ia tidak menangis kencang di sana.
"Ibu maafin Tasha hiks, seharusnya Tasha tidak menangis sekarang hiks. Tapi Tasha ... Tasha tidak bisa menahannya buk hiks." Lirihnya terbata-bata susah payah berseru.
Ada sedikit rasa takut yang muncul tiba-tiba kala bayangan kematiannya saat itu terlintas. Mungkin jika Tasha tidak hidup kembali sekarang, dirinya sudah di kubur berdampingan dengan makam ayah dan ibunya.
"Ibu, Tasha pasti akan membalas semua perbuatan yang sudah mereka lakukan ke ibu hiks. Tasha tahu mereka juga yang sudah membuat ibu celaka hiks. Maafin Tasha tidak bisa menjaga ibu dulu hiks." Tasha benar-benar merasa bersalah kepada ibunya, karena fakta di balik kematian ibunya jelas saja membuat perasaan dendam ini semakin besar kepada orang-orang jahat itu.
Ada banyak luka yang di berikan oleh orang-orang itu kepadanya, ibu, serta ayahnya.
Mata di bayar dengan mata, bukankah harus seperti itu.
Tasha pasti bisa membalas dan membuat mereka menerima karma dan ganjaran atas perbuatan mereka kepadanya bukan.
Meskipun Tasha sendirian saat ini, Tasha akan berusaha membuat mereka menerima satu persatu perbuatan yang sudah ia alami.