Saling Terhubung

1145 Kata
"Pak, boleh nanti antar saya ke Mall kemarin?" Pak Iwan yang hendak menyalakan mesin mobilnya menoleh ke kursi penumpang. "Non mau beli sesuatu?" Gelengan kepala di berikan oleh Tasha, lalu menjawab. "Tidak, Pak. Mau lihat-lihat saja." "Baik, Non." Tak membantah permintaan anak majikan, pria paruh baya itu pun menjalankan kendaraannya menuju Mall yang di maksud. Tasha sibuk melihat layar ponselnya selama perjalanan, lalu tiba-tiba badannya terhempas menghantam kursi di depannya akibat mobil yang berhenti mendadak. "Astaga! Maaf, Non. Non Tasha tidak apa-apa?" Raut panik dan cemas Pak Iwan seketika terlihat jelas kala beliau menatap Tasha yang meringis di kursi belakang. "Ssshh, tidak apa-apa Pak. Cuma kaget aja." sahutnya di sela rasa keterkejutannya. "Ya Tuhan, maafin Bapak ya, Non. Itu tadi ada kucing tiba-tiba nyebrang. Maaf sekali lagi, Non." sesal Pak Iwan berulang kali meminta maaf. Menggeng, "Iya, Pak. Tidak apa-apa. Saya nggak terluka kok." sahut Tasha seraya diam-diam mengusap wajahnya yang sempat menghantam jok mobil cukup keras tadi. Suara klakson terdengar dari arah belakang kencang, Tasha menoleh ke belakang, melihat dua motor sport tampak kesal karena mobil yang di tumpangi Tasha berhenti di tengah jalan. "Ck, dasar nggak sabaran banget sih." Decaknya sebal sendiri kala masih mendengar suara klakson. Baru saja Tasha hendak teriak setelah membuka jendela mobilnya, kedua motor itu kembali berjalan dan melewatinya. Raut kesal Tasha yang masih tercetak seketika bersitatap dengan salah satu pemilik motor sport hitam yang lewat. Sky. Batin Tasha kaget melihat siapa yang ada di atas jok motor tersebut. "Pak, bisa ikutin motor tadi." serunya cepat. "Hah? Motor yang mana Non?" Tasha sontak menunjuk dengan jari telunjuknya kearah dua motor sport yang baru saja lewat. "Yang itu, Pak." "Baik, Non." Lagi-lagi, patuh mobil yang di tumpangi Tasha pun melaju kembali mengikuti dua motor di depan mereka tersebut. "Ini bukan ke arah kampus atau Mall itu. Mereka mau kemana." Gumam Tasha terus menatap punggung pemuda itu dengan raut penasaran. Sekitar 15 menit mereka mengikuti motor tersebut, mobil pun berhenti di area yang terlihat banyak sekali ruko dan kafe-kafe buka. "Non kenapa kita ngikutin mereka? Non kenal mereka?" Tanya Pak Iwan. "Kenal, Pak. Bapak tunggu sebentar ya, Tasha mau ke dalam sebentar." Mengangguk mengerti, Tasha pun turun dari mobil dan berjalan menuju salah satu ruko yang baru saja di masuki oleh Sky dan temannya itu. Mendongak, Tasha melihat bangunan bergaya monokrom tersebut dengan alis terangkat. STAY STUDIO "Ternyata dia punya studio photo." Bisiknya menatap kagum bangunan tersebut. Tangan Tasha mendorong handle pintu ke dalam dan suara lonceng menyusul terdengar menandakan jika ada yang datang. Tak lama derap langkah kaki mendekat terdengar. Tasha masih berdiam diri di dekat pintu menunggu. "Maaf studionya belum buk--" sorot mata kaget terlihat jelas saat menatapnya, Tasha menatap balik pemuda di depannya lurus. Dia bukan Sky. Ya. Tentu saja, karena pemuda itu adalah Juan, sahabat Sky. "Astaga! Elo kan, bukannya pacarnya si Dipo upil itu." Pekikkan Juan heboh memenuhi ruangan. Tasha ikut meringis mendengarnya. "Opps, sorry, gue terlalu kaget. Elo ngapain kesini, Dek? Studio hari ini tutup, belum buka." ujar Juan memanggil 'Adek' kepada Tasha seraya memberitahu jika sekarang belum jam operasional studio mereka dan kebetulan hari ini memang sengaja tutup. "Siapa yang dat-- kamu?" Sosok Sky muncul membuat pandangan gadis cantik itu seketika beralih pada pemuda tampan itu. "Sky elo inget dia kan? Dia ceweknya si Dipo k*****t njir. Gila banget, ngapain elo kesini sih, Dek. Nanti cowok lo marah-marah lagi ke kita. Pergi aja sana." Seloroh Juan malas menerima kehadiran Tasha karena tahu gadis itu adalah kekasih musuhnya. "Maaf, tapi saya ke sini bukan karena kak Dipo. Ini tempat umum kan, siapa aja boleh datang ke sini kan." balas Tasha tak terima namanya di cap aneh dan jelek hanya karena kedekatannya dengan Dipo. "Ya, enggak salah juga sih, tapi kan elo itu cew--" "Juan, kerjain yang di dalam dulu. Biar gue yang ngomong sama dia." Potong Sky cepat dengan nada datar membuat Juan cemberut sebal dan ogah-ogahan masuk ke dalam. "Kamu mau apa?" Sky to the point. "Kenalin dulu nama aku Tasha." Tasha mengulurkan tangannya cepat tak lupa senyum manis gadis itu berikan, Sky diam menatap uluran tangan yang masih menggantung itu lekat tanpa minat. Jantung Tasha berdetak cepat, gadis itu ingin sekali kembali menarik tangannya malu sebab Sky tak kunjung membalas jabatan tangannya. "Maaf, kalau aku ganggu waktunya." serunya lagi menarik kembali tangannya kikuk. "Siapa kamu sebenarnya?" Sela tanya Sky cepat dengan raut wajah yang sulit di jelaskan. Diamnya pemuda itu sejak Tasha memperkenalkan diri bukan tanpa alasan. Sky hanya bingung bagaimana bisa sosok di depannya sekarang memiliki wajah yang benar-benar sama dengan perempuan dalam mimpinya. "Aku Tasha." Suara lembut Tasha menyentak lamunan Sky lagi, gadis itu kembali mengulang memperkenalkan diri karena pertanyaan Sky. Pemuda itu mendesah berat. Tak tahu bagaimana harus mulai berbicara. Melihat kondisi gadis itu baik-baik tidak seperti dalam mimpinya tentu saja membuat Sky kebingungan saat ini. Apakah mimpinya itu hanya sebagai pertanda jika gadis itu mungkin akan terluka. Tapi kapan? Apa Sky bilang saja soal mimpinya kepada gadis itu. Melihat banyak darah dalam mimpi itu, Sky tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Kenapa Sky melamun terus. Apa yang sedang dia pikirkan. Batin Tasha ikut bingung melihat sikap Sky yang banyak diam. Terlebih mendengar pertanyaan pemuda itu yang cukup aneh. "Maaf, sepertinya kamu datang lain waktu saja. Sekarang belum jam operasional studio." Ucap Sky tiba-tiba berkata seakan ingin Tasha segera pergi. "Apa aku boleh magang di sini?" "Apa?" Sky mengerutkan dahinya dalam tak mengerti. "Maaf tapi kami tidak sedang mencari pegawai apapun. Lebih baik kamu fokus sekolah dulu." tolaknya segera dengan cepat mencoba tak berkata kasar atau pun menyinggung. Bibir Tasha tertekuk kebawah sedih. Sky diam memperhatikan gadis di depannya lurus. lalu mendesah pelan. "Sekarang kamu pulang saja, maaf saya masih ada kerjaan di dalam." Melihat Sky bersiap pergi meninggalkannya sendirian, Tasha tak tahan untuk tidak memanggil nama lengkap pemuda itu hingga Sky membalikkan badannya dan menatap Tasha aneh. "Sky Deriz Abraham. Itu nama kamu kan?" Darimana dia tahu namaku, apa dari Dipo. Gumam Sky. "Aku tahu kalau kamu pasti mikir aku ini aneh, tapi aku--" "Apa Dipo yang menyuruh kamu?" Mata Sky memicing tajam. "Tidak. Aku sudah bilang kalau aku ke sini bukan karena kak Dip--" "Lebih baik kamu jangan pura-pura lagi. Kalau memang Dipo yang sudah menyuruh kamu untuk mengacaukan studio kami lebih baik kamu pendam saja niat itu. Seharusnya Dipo tetap diam saja selama aku masih diam tanpa pernah menyenggolnya sejak kejadian Juan. Kalau dia laki-laki, seharusnya dia bisa menjaga sikapnya. Jangan membiarkan seluruh orang tahu bagaimana kelakuannya. Dan kamu ... lebih baik kamu jangan terlibat apapun dengan Dipo. Sebelum kamu menyesal nanti." Papar Sky panjang lebar membuat Tasha terdiam tertegun. Jadi selama ini hubungan Sky dan Dipo tidak baik. Bahkan mereka sudah saling terlibat satu sama lain di kehidupan yang lalu. Apa Sky di masa lalu juga tahu hubungan cinta antara Tashi dan Dipo. Tapi mengapa Sky tetap mau dengan Tashi. Batin Tasha menerka-nerka tidak percaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN