Sudah pukul dua belas lebih, Genta masih duduk termangu dengan pikiran kusut. Permintaan Trining yang menuntut supaya Genta menceraikan Dayu sebelum pergi, membuat pria itu mati kutu. Sementara itu Anggar justru menentangnya habis-habisan. Tidak disangka-sangka, Sayekti muncul dan mendekati dirinya. Gadis itu duduk dengan ragu di kursi seberang. “Kamu belum tidur?” sapa Genta dengan pelan. “Be-belum, Mas. Ak-aku mau bi-bicara.” Genta tersenyum hangat dan mengangguk. “Jangan merasa segan kalo mau bicara. Kamu bebas mengutarakan pendapatmu, Ti.” Sayekti meremas tangan dengan cemas. Setelah dua menit menunggu, Genta menatap Sayekti yang tidak kunjung bicara. Rambutnya yang cukup panjang terkepang satu, dengan baju sederhana yang seadanya. Namun kecantikan Sayekti yang dulu menjadi bun

