Kendurian

1194 Kata
Padmi kembali dengan wajah sendu. Genta dan Dayu duduk dengan santun di meja teras. “Mbah Darmo tidak ada di rumahnya. Ibu nunggu lama sampe dua jam,” cerita Padmi dengan lesu. “Terakhir beliau hanya menyampaikan untuk bertenang dan nunggu waktu yang tepat,” tanggap Genta. “Dia pergi lagi. Nggak tahu kapan kembali,” desah ibunya yang semula bersemangat kini terlihat lunglai. “Ngunjuk (minum) dulu, Mbak,” ucap Trining yang muncul dengan beberapa cangkir teh. “Makasih, Tri,” sambut Padmi. “Duh Gustiiii … kita tunggu berapa lama sampai mbah Darmo muncul lagi? Kalian tidak tahu ini sangat mencekam dan sudah meneror ibu juga paklekmu Pram dalam enam tahun ini,” keluh ibunya dengan suara terdengar lelah. Genta menelan ludah dengan gelisah. “Apa yang terjadi sebenarnya, Bu? Wangsit bapak terdengar biasa, tapi kenapa Genta merasa ini lebih dari sekedar wangsit? Paklek Pram menanggung akibat dari ini semua sejak Bapak meninggal, apakah betul bapak ikut andil?” tanya Genta beruntun mengajukan pertanyaan. Padmi menghela napas berat. “Kita tunggu mbah Darmo untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Karena ini cukup rumit, Genta. Tapi bapakmu tidak bersalah dan tidak mengambil andil dalam semua kekejian ini,” jawab Padmi. “Apakah ini berarti Ki Sukmo yang menyebabkan semua tragedi?” tanya Genta seperti tidak sabar. Padmi menatap putranya dengan mata sayu. “Ini lebih dari yang kamu dan penduduk desa ini asumsikan,” sahut ibunya penuh teka teki. Genta dan Dayu semakin bingung akan semua peristiwa ini. Penjelasan ini seperti menuntun pada misteri yang lebih besar dari yang terlihat. Pram keluar dari dalam dan berjalan lurus menuju halaman mereka. “Pram, masuk. Jangan main keluar!” seru ibunya dengan suara menahan tangis. Trining berlari mengejar adiknya dan mengandeng tangan Pram untuk kembali ke rumah. Begitu mereka berlalu, Padmi terisak pelan. “Ibu lelah dengan ini semua …,” ucapnya lirih. Dayu yang duduk di sebelah mertuanya meraih tangan Padmi dan meremas lembut. “Kita hadapi ini bersama ya, Bu,” ucap Dayu. Padmi berpaling dan mengangguk lemah. Genta mengeraskan rahangnya dengan geram. Ini tidak bisa ia biarkan berlarut-larut. *** Acara kendurian yang ibunya selenggarakan untuk ucapan syukur atas kepulangan Genta dan Dayu dihadiri oleh banyak warga. Keluarga Amandaru cukup terpandang di dusun Bedono tersebut. Selain karena Cokro adalah bekas camat, Padmi sendiri adalah keturunan dari keraton Yogyakarta dengan gelar Raden Ayu. Doa-doa mengalun selama satu jam di ruang pendopo yang terletak di samping rumah joglo. Dayu dan Genta turut berdoa dan bergabung dengan warga. Saat doa hampir usai, Pram tiba-tiba berteriak nyaring dengan suara melengking. Semua terhenyak dengan wajah ketakutan. Padmi memeluk adik iparnya dengan mulut komat-kamit. Pram menengadahkan wajah ke atas dengan teriakan yang tidak berhenti. Suasana mencekam dan semua makin khusyuk berdua dengan sungguh-sungguh. Setelah dengan gigihnya Padmi meredakan teriakan Pram, akhirnya berhenti. Trining menuntun Pram menjauhi pendopo dan masuk ke dalam kamar. Padmi terlihat sangat malu dan meminta maaf pada semuanya atas kejadian barusan. Seperti memahami situasi yang menyelubungi keluarga Amandaru, mereka mengangguk dengan senyum hangat. Dayu dan Genta membantu Trining membagikan kendurian yang mereka siapkan dalam rantang tiga susun untuk masing-masing. Satu persatu meninggalkan rumah mereka, Sulis yang terakhir. “Ngopi dulu yang, Pak?” tawar Padmi. Sulis mengiyakan dengan senang. “Kebetulan saya ada perlu dengan Mas Dokter, Bu Cokro,” sambut Sulis. Padmi kemudian memberi mereka waktu sendiri. “Hasil otopsi sudah keluar, Mas,” ucap Sulis. Genta mendengarkan dengan konsentrasi penuh. “Rambut yang tersangkut di jarinya almarhum yang masih belum terungkap milik siapa. Hanya paru-paru dan jantung Sunarko dipenuhi air. Sepertinya penyebab kematiannya adalah tenggelam,” papar Sulis kembali. “Almarhum bukan warga dusun Bedono. Ngapain malam-malam di sendang sendirian? Ini bukan kecelakaan, tapi pembunuhan, Pak Sulis,” timpal Genta. Ketua RT itu menggelengkan kepala dengan cemas. “Masalahnya kita nggak bisa menemukan siapa, Mas,” sahutnya. “Apa kita nggak bisa panggil Sayekti untuk menjadi saksi?” tanya Genta. Pria berusia empat puluh tahun tersebut meremas tangannya dengan gelisah. “Kita tahu dia siapa, Mas. Nggak ada yang berani mengusik Ki Sukmo dan keluarganya,” sahut Sulis lirih. “Bahkan polisi?” tanya Genta tidak percaya. Sulis mengangguk. “Apakah Ki Sukmo menyebabkan terror begitu mendalam? Apakah nggak ada yang berusaha untuk menyingkirkan dia?” tanya Genta dengan gemas sekaligus bernafsu ingin tragedi keluarganya juga berakhir. “Dulu tidak gencar sewaktu almarhum Pak Cokro masih hidup, tidak seperti ini. Sekarang makin merajalela,” ucap Sulis. Genta baru mendengar tentang hal ini. “Bapak dan mbah Darmo dekat dengan Ki Sukmo dulu …,” gumam Genta baru teringat. “Ki Sukmo dulu dikenal sebagai tabib. Siapa pun yang kena sakit klenik pasti beliau bantu sembuhkan. Semua berakhir dan berubah sejak Pak Cokro sedho (meninggal),” terang Sulis. “Jadi ini berawal sejak bapak nggak ada?” tanya Genta. Sulis mengangguk. “Banyak kematian tidak jelas. Memang kebanyakan korban dari tetangga dusun atau desa. Tapi kenapa semua muaranya setelah berhubungan dengan mereka? Itu jadi pertanyaan kami,” info Sulis memperlengkap semua tanya yang selama ini berkumpul di benak Genta. “Apakah ada yang gila seperti Paklek saya, Pak?” “Sejauh ini semua berakhir dengan kematian aja, Mas Genta. Sebelum mendiang Narko, ada seorang mahasiswa yang datang untuk PKL. Setelah terakhir terlihat mengambil foto rumah Ki Sukmo, pemuda itu ditemukan meninggal di kamar kos gantung diri,” tutur Sulis. “Semua korban pria ya, Pak?” tanya Genta terkesiap. Sulis mengingat sebentar dan mengangguk dengan ekspresi seperti baru tersadar. “I-iya, saya juga baru menyadari ini, Mas. Semua korban adalah pria.” Sulis membenarkan pertanyaan Genta. Dokter muda itu semakin tenggelam dalam spekulasi liar yang sama sekali tidak ada alasan yang kuat. Kenapa dia menganggap Ki Sukmo punya niat jahat pada putrinya? Sayekti mungkin mengalami penindasan dan kini sedang dalam situasi yang tertekan. Beberapa kali Genta mendengar jika Ki Sukmo selalu melarang Sayekti bergaul dengan para warga. Genta ingin menyampaikan hal tersebut, namun urung. Sulis berpamitan setelah mereka membahas tentang rencana menyelidiki andil ayah Genta. Apa peran ayahnya yang ternyata mampu meredam terror sebelumnya. Sepeninggal Sulis, Genta termenung di teras dengan mengulas semua informasi yang terkumpul di kepalanya. Pertama hidup seorang Cokro Amandaru. Selama ayahnya menjabat sebagai camat, tidak ada huru hara yang terjadi. Semua aman sentosa. Isu mengenai Ki Sukmo yang berprofesi sebagai paranormal tidak pernah mengganggu kehidupan masyarakat. Mbah Darmo dan Cokro sering terlihat bersama dan saling mengunjungi. Jika ayahnya berkiprah dalam bidang pemerintahan, mbah Darmo yang memiliki peran dalam bidang agama. Pria tua tersebut membangun tempat pengajian di rumahnya sejak Genta kecil dulu. Kedua kakaknya juga menyelesaikan al’quran hingga khatam di bawah bimbingan mbah Darmo. Kemudian, Ki Sukmo dulu terkenal sebagai guru silat dan tenaga dalam. Di balai desa sering terlihat aktivitas para pemuda yang belajar ilmu bela diri setiap akhir pekan. Namun pembawaan Ki Sukmo yang pendiam dan jarang bicara, membuat warga tidak begitu mengenal dan mendekat padanya. Kecuali untuk hal yang penting seperti menyembuhkan orang sakit karena guna-guna atau santet. Apa yang membuat Ki Sukmo menjadi gelap dan kelam seperti sekarang? Bahkan menuntut keluarganya untuk menikahi Sayekti dan meneror seperti sekarang? ‘Aku butuh ketemu dengan mbah Darmo atau mengunjungi Ki Sukmo sebagai pilihan kedua’ batin Genta dengan tekad bulat. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN