Dukun Pijat

1174 Kata
Genta menyimpan semua keheranan tadi malam dalam hati. Walaupun begitu, Genta bermaksud akan mencari kebenaran dan penjelasan hari ini. Minggu pagi itu mereka menikmati sarapan pagi bersama. Padmi duduk dengan tenang. Ibunya selalu tampil apik dan rapi dengan rambut tersanggul sederhana. Dayu dengan ragu memutuskan untuk ikut bersama mereka sarapan. Bahasa tubuhnya terlihat sedikit tidak percaya diri. “Selamat pagi, Yu.” Genta menyapa istrinya dengan ramah dan mesra. Dayu menjawab serta menyapa mertuanya dengan pelan. “Pagi, Mas. Pagi, Ibu.” “Ya, pagi,” sahut Padmi tanpa menoleh dan sibuk menuangkan garam juga merica ke telur setengah matang favoritnya. Dayu tersenyum lega. Padmi tidak tampak ketus atau judes seperti hari yang lalu. “Bu, salam dari Mbah Darmo tadi malam,” ucap Genta dengan raut berharap mendapat penjelasan dari ibunya. “Mbah Darmo sudah kondur (pulang)?” tanya ibunya kaget. “Genta juga kaget,” jawab Genta kecewa karena ternyata ibunya juga terkejut seperti dirinya. “Kenapa ndak diminta mampir?” tanya ibunya lagi. “Belum sempat ngobrol panjang, beliau sudah menghilang,” keluh Genta. “Menghilang piye tho, Le?” tanya Padmi bingung. Genta akhirnya menceritakan semua kejadian semalam hingga ke detail. Termasuk kakinya yang berat dan tidak bisa bergerak. Padmi meletakkan sendok kecil dan berhenti menyuap telur setengah matangnya. Nafsu makan paginya seketika hilang namun raut wajahnya mulai bersinar. Matanya menyiratkan harapan yang semula sempat pupus. Padmi menoleh pada Dayu. Wajahnya penuh sesal dan matanya berkaca-kaca. Bibirnya seperti sedang menahan tangis. “Ndak perlu lagi ibu memperlakukan kamu dengan buruk, Yu. Semoga dengan kepulangan mbah Darmo, semua bisa diselesaikan,” ucapnya sedikit sumringah seperti beban selama ini terangkat. Baik Dayu maupun Genta membuka mulut bersamaan dengan heran. Mendadak ibunya berubah sangat ceria dan Genta melihat sosok Padmi yang dulu. Lembut, penuh kasih dan menyenangkan. Seperti kabut yang baru saja tersibak oleh sinar matahari, Padmi berseru dengan suara renyah. Trining tergopoh-gopoh mendatangi kakak iparnya yang sudah selama enam tahun murung dan selalu uring-uringan. Padmi dulu bukan pribadi yang getir. Alasan Trining dan Pram betah hidup dengan kakak iparnya karena Padmi sangat mengayomi serta memperlakukan mereka dengan adil dan bijak. Kini setelah enam tahun terpuruk, Trining melihat Padmi kembali seperti dulu. “Dalem, Mbak,” sahut Trining pelan dan masih terlihat sungkan. “Kamu minta Sri ganti semua gorden dan sarung bantal, ya? Terus panggil mbah Puji buat mijit peranakan Dayu,” perintah Padmi beruntun dan tampak bersemangat. Trining mengiyakan dengan cepat dan bergegas dengan tergesa. Berkali-kali menoleh dan meyakinkan diri bahwa Padmi benar-benar berubah dan tidak lagi menyebalkan. “Eeeeeh … jangan lupa juga! Minta Eti buat balik kerja bantuan Sri,” tambah Padmi sambil melenggang menuju taman untuk memetik bunga. “Nggih, Mbak. Nggih,” sahut Trining kembali melongok dari lorong menuju dapur. Dayu dan Genta lupa menyantap makanan. Perubahan ibunya membuat Genta syok sekaligus tidak percaya. Terlebih lagi Dayu. Selama menjadi menantu, Padmi tidak pernah memperlihatkan perhatian padanya, namun hari ini semua terjadi seperti mimpi. Tangan Dayu mengusap wajahnya. “Alhamdulillah …,” desis Dayu kemudian penuh syukur dan haru. Semua doanya terjawab dengan indah pada waktu yang tidak pernah ia duga sama sekali akan terjadi. *** Dayu meringis dengan ekspresi tersiksa. Sakit yang ia rasakan saat dukun beranak itu membetulkan letak rahimnya benar-benar melemaskan tubuh Dayu. Isi perutnya seperti diputar dan ditarik dengan cara yang sangat menyakitkan. Panggulnya terasa ngilu dan perut bagian bawahnya ditekan dengan kuat. “Sakit, Mbah,” rintih Dayu dengan lirih. “Jangan kenceng-kenceng, Mbah Puji!” seru Padmi menepuk pundak dukun bayi itu. Raut wajahnya tampak khawatir. Betapa semua berubah seperti membalikkan telapak tangan. Padmi menjadi sangat perhatian dan bahkan tampak cemas yang tidak dibuat-buat. Selama hampir satu jam Dayu merelakan diri untuk diurut cara tradisional demi keinginan mereka untuk memiliki keturunan. Keringat membanjiri tubuhnya dan akhirnya sesi memijat selesai. Mertuanya mendampingi dengan sabar sembari menyulam. “Mandi langsung ya, Nduk. Air hangat sudah siap,” pesan Padmi. Dayu mengangguk dengan patuh. Bak mandi besar yang mereka siapkan untuknya ditaburi bunga dalam beberapa jenis rupa. Dayu juga mencium harum aroma cengkeh dan rempah-rempah dari air hangat mandinya. Saat tubuhnya tersiram, semua rasa sakit dan lelah lambat laun hilang dan berganti perasaan nyaman. Tubuhnya terasa segar bugar. Setelah berganti baju, Dayu keluar kamar dan Trining sudah membawa segelas minuman berwarna kuning. Baunya sangat aneh. “Jamu untuk kamu. Langsung dihabiskan, ya?” pinta Trining. Dayu meminum ramuan tradisional tanpa bertanya atau debat. Rasa sedikit getir dan pedas terasa dilidahnya. “Itu suara siapa?” tanya Dayu heran waktu mendengar lenguhan pria dari ruang tengah. “Mbah Puji mijet Genta,” sahut Trining dengan senyum. “Laki-laki juga?” tanya Dayu heran. “Ya iya. Kan kalau mau bikin anak juga butuh laki-laki dan perempuan,” gurau buleknya dengan geli. Dayu tersipu dan menunduk malu. “Semoga setelah ini, langsung top cer!” seru Sri yang muncul dengan camilan khas daerah, singkong rebus gula merah. “Amiiin,” sambut Dayu dan Trining serempak. Saat dia dan Trining menikmati singkong, Padmi pamit pada mereka berdua akan pergi sebentar untuk bertemu seseorang. Totok dan mertuanya meninggalkan kediaman joglo dan menghilang di belokan keluar rumah. “Ibu benar-benar berubah drastis, ya, Bulek,” ucap Dayu masih tidak percaya. “Dia juga sebenarnya capek nanggung semua beban sejak mas Cokro mangkat,” gumam Trining mendadak wajahnya sendu. “Maksudnya, Bulek, ibu begitu karena kehilangan bapak?” tanya Dayu berharap mendapat iya dan bukan yang lain. “Nanti kamu pasti akan tahu sendiri,” sahut Trining buru-buru menyantap singkongnya. Terlihat buleknya menutup diri dan menghindari percakapan tersebut. Dayu memilih bungkam dan tidak memaksa. Dukun pijat itu sudah selesai dan keluar dengan wajah lelah. Genta meringis dengan wajah masih kesakitan. “Badanku sakit semua,” cetus Genta. “Habis mandi langsung seger, Mas,” ucap Dayu menyarankan. Genta mengikuti saran istrinya dan dengan tertatih menuju kamar mandi. “Ada yang nutup rahim sampeyan, Mbak Dayu,” ucap Mbah Puji sambil mengunyah sirihnya. Dayu tercekat dan menoleh pada wanita tua tersebut. “Nutup rahim? Maksudnya gimana, Mbah?” tanya Dayu kaget. Trining mengerti yang dukun itu maksud. “Tapi sampun dibuka nggih, Mbah?” timpal Trining. Mbah Puji mengiyakan dan manggut-manggut. Dayu akhirnya memahami jika tidak perlu juga mengetahui dan mencari tahu siapa yang begitu jahat berniat mencelakai dirinya. “Besok bisa syukuran dan didoakan? Supaya lancar dan murah rejeki,” saran wanita tua itu. “Pamongan sederhana saja,” sambung Mbah Puji. “Bisa, Mbah! Saya besok ngadain kendurian,” sambar Trining cepat-cepat. Setelah mendapat berbagai wejangan dari dukun tua itu, Dayu mengucapkan terima kasih dan menyanggupi semua persyaratan yang harus ia penuhi dan jalankan. Rasa kantuk menyerang Dayu dan setelah menunaikan sholat azar, wanita itu tertidur karena kelelahan. Genta masuk kamar, ia menutup laptop dan merapikan meja kerja istrinya. Dayu tampak tenang dan bahagia dalam lelap tidurnya. Semua kesabaran Dayu berbuah baik. Ibunya mulai luluh dan mendukung mereka. Ini yang terpenting bagi rumah tangga keduanya. Restu dan pendampingan orang tua adalah hal yang utama. Kini langkah mereka jauh lebih ringan ke depan. Tinggal selangkah lagi dan semua akan menjadi sempurna. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN