Terbakar

1198 Kata
Berita tentang kematian ternak keluarga Amandaru menyebar ke seluruh desa. Sulis, ketua RT, mengunjungi rumah mereka untuk menyampaikan bela sungkawa atas musibah tersebut. Desas desus mengenai keterlibatan Ki sukmo atas bencana tersebut mulai tersebar. Trining berusaha menjelaskan dengan pelan-pelan, namun mustahil membungkam seluruh mulut warga yang senang melebarkan permasalahan. Sudah seminggu sejak kejadian ternak mereka mati dan lengkingan mengerikan perempuan tak kasat mata di rumah. Padmi belum juga kembali hingga detik ini. ‘Apa yang ibunya cari sebenarnya?’ pikir Genta tidak juga menemukan jawaban yang tepat dan masuk akal. Semua warga menjadi waspada dan keluarga Genta menyadari, jika lambat laun para tetangga menjauh. Dayu yang tidak banyak bergaul karena masih baru tinggal dengan mertuanya, tidak merasakan hal tersebut. Namun Trining sangat merasakan perubahan tersebut. “Sudah ada lima pekerja yang 'ndak mau ikut manen padi kita,” keluh Trining lirih. Genta tampak termenung di kursi teras. Dayu yang tadinya berkutat dengan laptop, kemudian berhenti. “Nggak bisa dipaksakan, Bulek,” saran Genta. Trining terlihat resah. “Kalo kekurangan pekerja, nanti rusak semua padi kita dimakan hama tikus,” tukas buleknya buru-buru. “Ya mau gimana lagi? Kan kendalanya tidak bisa dipanen cepat?” balas Genta. Trining langsung cemberut kesal dengan tanggapan Genta yang tidak mendukung keluhannya. Pintu pagar samping terbuka dan Pardi, salah satu pekerja sawah mereka yang setia, masuk dengan wajah pucat. “Mbak Tri! Sawah kebakar!” serunya dengan tergopoh-gopoh dan gugup. Trining sontak melemparkan kain yang sedang ia jahit dan bergegas mengikuti Pardi. Dayu menyusul bersama Genta. Mereka berjalan beriringan menuju sawah yang berjarak sekitar sepuluh menit dari rumah. Sore itu mereka berdiri di pematang sawah yang terbakar dan memberangus dengan cepat sebagian lahan. Trining menatap dengan linangan air mata. Tangannya mengenggam ujung baju dengan remasan kecewa. Genta segera membantu Pardi dan pekerja lainnya, untuk mengalirkan simpanan air dari waduk penampungan yang tidak jauh. Mereka menggunakan cangkul untuk membuka aliran air. Dayu memeluk pundak Trining dan mencoba menenangkan. “Kenapa sesial ini kita, Dayu?” keluh Trining terus meratapi musibah yang bertubi-tubi tersebut. Dayu tidak memiliki kalimat yang tepat untuk menghibur buleknya. Wanita itu tidak memahami dari mana asal api yang membakar sawah mereka. Cuaca tidak panas dan cukup lembab. Seharusnya batang padi itu tidak mudah untuk tersulut oleh api. Kecuali disiram oleh bensin dan sengaja dibakar oleh seseorang. “Semoga aliran itu cukup menahan untuk tidak menyebar,” harap Genta mengusap peluh di kening. “Dari mana asal apinya, Pak Pardi?” tanya Dayu. “Ya itu yang aneh, Mbak Dayu. Tadi kita sudah tinggal mengangkut padi ke atas mobil, tiba-tiba muncul dari arah orang-orangan sawah, bola api yang kayak jatuh gitu terus langsung nyebar,” jawab Pardi dengan napas tersengal karena lelah. Genta geleng-geleng kepala dan tampak kalut. Ini sudah mencapai batas kesabaran. Tapi tanpa mbah Darmo, Genta tidak memiliki nyali mendatangi kediaman Ki Sukmo. Kalimat terakhir Sayekti terus tergiang. “Aku mau lapor polisi besok,” ucap Genta tidak lagi berdiam diri. “Dengan tuduhan apa? Santet? Kutukan? Kabari bulek jika berhasil!” sambar Trining dengan sinis. “Lalu apa kita akan diam aja?” tanya Genta juga mulai terpancing emosi. “Belajar sabar! Tidak ada yang berjalan dengan instan!” balas Trining dengan keras. “Mau sampai kapan? Kalian sibuk mencari cara dengan menyebar sajen dan segala macam mantra! Musrik itu! Kenapa tidak kita cari ulama yang bisa membantu kita?” pekik Genta mulai lancang. Pria itu bahkan berani membentak Trining yang selama ini ia hormati. “Mas Genta!” seru Dayu mengingatkan suaminya. Trining menatap Genta dengan sedih. “Kita pulang, Bulek. Malu dilihat orang,” bisik Dayu pada wanita yang selama ini terlihat sabar dan tidak kenal lelah berjuang. Trining mengangguk dan mengikuti tuntunan Dayu meninggalkan area persawahan. Genta mengumpat dan mengeluarkan sumpah serapah. Otaknya mulai tidak bisa berpikir lurus. Senja mulai merangkak semakin kelam. Genta menatap ke segala penjuru dan ia berada di titik kelelahan. Kapan ini berakhir? “Pak Dokter, masih mau di sini?” tanya Pardi sopan. Genta menoleh dan menarik napas berat. “Saya ditinggal aja, Pak,” jawab Genta lesu. Pardi bersama tujuh pekerja lainnya pamit. Pria itu masih menikmati suasana sore yang menyisakan asap. Kebakaran bisa direda, tapi Genta memilih untuk tinggal sebentar sambil menentramkan pikiran. Pardi kembali dan duduk di sebelah Genta. “Lho, Pak Pardi? Katanya mau pulang?” tanya Genta heran saat Pardi kembali berjalan menuju arahnya. “Kasian Pak Dokter sendiri. Nanti kalo kebakaran lagi ‘kan repot,” jawab Pardi dengan penuh simpati. “Maturnuwun (Terima kasih), Pak,” jawab Genta tersenyum. “Dulu Pak Cokro juga suka menghabiskan sore di sawah sambil menikmati cangklongnya,” kenang Pardi. Pria itu belum begitu tua. Genta menebak sekitar empat puluh tahun. “Bapak terlalu mencintai hidup di desa,” imbuh Genta mengenang ayahnya yang telah tiada. “Aku nggak mungkin sehebat beliau,” lanjut Genta dengan mata menerawang. “Mas Genta itu hebat juga kok. Bisa jadi kebanggaan orang tua dan berhasil punya pangkat dokter,” sanggah Pardi terdengar tidak setuju. Lelaki sederhana itu menggambarkan keberhasilan Genta dengan cara yang simpel. “Mungkin belum, Pak. Masih banyak wangsit bapak yang belum saya tunaikan.” Genta merindukan ayahnya. Pardi menunduk. Dia sendiri banyak dibantu oleh ayah Genta. Dari Cokro ia mendapatkan sebidang tanah untuk dibangun rumah. Sebelum sempat membalas semua kebaikannya, majikannya itu kadung mangkat. “Ayo kita pulang, Pak. Sawah sudah aman kayaknya,” ajak Genta yang kasihan melihat Pardi masih belepotan lumpur dan tampak lelah. Pardi mengiringi langkah Genta menuju rumah sambil menjelaskan beberapa perubahan kepemilikan sawah. Area persawahan itu cukup panjang dan luas. Kini hampir semua menjadi milik keluarga Amandaru. Trining dan Pram mengelola usaha keluarga dengan sangat baik. Sebelum mereka mencapai gapura menuju desa, Pardi berhenti dan menunjuk dengan tangan gemetar. Mulutnya terbuka namun tidak ada kata yang terucap. Genta berpaling dan mengikuti arah tangan Pardi menunjuk. Tubuhnya membeku dengan ekspresi ngeri bercampur gentar. Ia belum pernah menyaksikan sosok aneh seumur hidupnya. Namun kali ini dengan jelas, matanya melihat bayangan yang mirip dengan hologram, berdiri di atas gapura. Tubuh makhluk itu sangat kurus, tegak menjulang dengan leher panjang, meliuk laksana tertiup angin. Keduanya berdiri kaku dan berat untuk melangkah. Mulut mereka terasa terkunci dan tidak sanggup berteriak. Dalam kondisi penuh kengerian, kedua pria tersebut seperti terpaksa menyaksikan penampakan setan perempuan yang kini memanjangkan lehernya, mencoba mengapai mereka! Genta mencoba mengingat ayat-ayat kursi namun ketakutan mendera jiwanya dan semua tidak mampu terangkai dalam kepala. Pardi berakhir buang air kecil dengan lutut gemetar tidak terkendali. ‘Gusti Allah … tolong!’ teriak Genta dalam hati. Lidah makhluk itu terjulur dengan gerakan menjijikkan. Mungkin tinggal setengah meter mencapai tubuh mereka. Genta makin merasakan kepalanya berat dan nalar serta logika meninggalkan kesadaran untuk bertahan. Pardi tidak mampu memejamkan mata. Suara seperti leher tercekik terdengar dari mulut Pardi. Genta pasrah ketika akhirnya lidah itu hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Bau busuk seperti bangkai tercium dengan jelas. Wajah makhluk mengerikan itu penuh dengan nanah. Sayup-sayup suara adzan maghrib terdengar dan sosok yang hampir mencapai mereka lenyap! Baik Genta ataupun Pardi tersungkur ke tanah, dengan tubuh lemas dan napas memburu. Rombongan para pemuda yang hendak pergi ke masjid menemukan keduanya dalam kondisi kejang. Mereka mengantar hingga ke rumah. Sayekti sepertinya benar-benar membuktikan ancaman tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN