Kematian Ternak

994 Kata
Adzan ubuh baru saja berkumandang. Dayu dan Genta segera sholat bersama dengan khusyuk. Usai beribadah, Dayu mencium tangan suaminya dengan takzim. Rasa damai menyelimuti keduanya. “Sabar ya, Yu. Ini semua akan berlalu. Kita pasrah sama Gusti Allah, Sang pemberi hidup,” ucap Genta penuh kelembutan. Dayu melepas mukena dan mengangguk. “Saya ikhlas menjalani ini, Mas. Asalkan kita sehati dan bersama,” sahut Dayu patuh dengan tulus. Baru saja Genta hendak mencium kening istrinya, terdengar suara orang berlari dari samping. Berikutnya melengking teriakan Totok supir pribadi mereka memanggil Trining dan Sri. “Kenapa sih mereka?” gerutu Genta bergegas keluar. Dayu tidak sempat merapikan sajadah mereka dan menyusul suaminya keluar. Tangisan Trining yang sangat kesal terdengar. “Kenapa, Bulek?” tanya Genta heran. Trining masih bersimpuh sambil memeluk kambing yang kemarin baru melahirkan. Lehernya berdarah seperti tersayat, begitu juga ketiga anaknya yang terkapar di sekeliling.   “Astagfirullah …,” desis Dayu terkejut dan mendadak perutnya mual. Ia berlari menjauh dari kandang. Bau amis dan anyir menguar dari arah kandang. Genta berjalan menjauh dan mendekati istrinya. “Lima ternak kita mati tergorok,” cetus Genta dengan lesu. “Si-siapa yang menggorok ternak kita, Mas?” tanya Dayu terbata-bata. “Nggak tau. Tadi malam tidak terdengar hal-hal yang mencurigakan padahal,” jawab Genta gusar. Peristiwa pagi tersebut membuat guncangan yang cukup membuat semuanya terpukul. Padmi menghela napas jengkel dan kemarahannya mulai memuncak. “Ibu pergi dulu. Kalian jaga diri baik-baik,” pamit Padmi sudah bersiap meninggalkan rumah. Totok dengan gugup dan panik mengganti bajunya. Pria itu berhenti membantu Trining menyingkirkan mayat para ternak. Genta tidak lagi sempat bertanya tujuan ibunya. Buleknya, Trining, sudah memanggil dari belakang untuk meminta bantuan. Suasana rumah pagi itu menjadi kalang kabut. *** Bau daging dibakar masih tercium sejak pagi. Genta terpaksa tidak pergi ke kantor dan sibuk membantu Trining merapikan semua bekas darah di kandang. Setelah selesai menebar tanah di atas darah yang tercecer, Genta membersihkan tubuhnya. “Mukamu pucat banget, Nduk,” tegur Trining sembari memegang dahi Dayu. Wanita itu tersenyum samar. “Nggak apa-apa, Bulek. Hanya kaget lihat ternak mati,” sahut Dayu mencoba menenangkan dirinya sendiri. Mata Trining tampak sembab. Ini kejadian yang tidak pernah terjadi. Bayangan akan kutukan Sayekti mulai menjadi kenyataan satu persatu. “Apakah ini akan bertambah parah, Bulek?” tanya Dayu lirih. Trining yang sedang memarut kelapa di dipan kayu, berhenti. “Jangan berhenti berdoa. Sisanya itu rahasia Gusti Allah,” jawab Trining tajam. Dayu mengangguk dengan lemah. Matanya menangkap Sri yang sedang menabur sesuatu di sekeliling rumah dari jendela. Terdengar gumaman bahasa jawa yang mirip seperti mantra berdengung. Eti mengikuti di belakang dengan tekun. Dayu merasakan suasana yang memang dingin, semakin terasa menggigit. Kabut tipis mulai turun perlahan. Wanita itu tidak berani lagi sendiri. Nyalinya menciut dan hatinya gentar. Semua ini bukan hanya omong kosong seperti dalam kisah novelnya. Mertuanya yang misterius, teror yang datang tanpa henti, ini sudah keterlaluan! “Minum jamumu dulu,” saran Trining sambil mengangsurkan gelas pada Dayu. Tidak lagi berpikir lurus, Dayu meminum dengan cepat. Rasa pahit dan getir yang tadinya mengganggu tidak lagi terasa. Semua konsentrasi Dayu terus terjejal dengan kebimbangan. Genta muncul dengan wajah segar. Dayu masih terlihat sayu dan tidak bertenaga. “Kamu sakit?” tanya Genta. Dayu menggeleng dengan cepat. Suara orang mengalunkan salam terdengar dari depan. “Drajat,” ucap Genta kemudian bergegas menemuinya sahabatnya. Dayu melirik ke arah Sri yang masuk dengan bokor tanah liat dan segera menyimpan di atas lemari. Dayu penasaran ingin mengetahui isi dari bokor yang sering Sri tebar di sekeliling rumah. Kenapa hal tersebut mereka pakai untuk melindungi? Bukankah dengan sholat dan tekun berdoa akan jauh lebih ampuh? Trining dan Sri kemudian sibuk mengerjakan pekerjaan rumah. Buleknya kemudian berpamitan untuk pergi melihat hasil sawah, yang harusnya hari ini adalah panen pertama. Dayu kembali sendiri dan bingung harus mengerjakan apa. Ketika beranjak menuju ruang tengah, ia mendengar Drajat dan suaminya sedang membahas pekerjaan di rumah sakit. Dayu memilih untuk melanjutkan menulis novel, tapi telinganya sempat menangkap kalimat Drajat yang cukup membingungkan. “Sejauh ini sih nggak banyak pasien, Gen. tapi jangan sering-sering mangkir kerja. Nggak enak aku sama dokter Bowo. Coba aja kamu nggak nyari masalah dengan Sayekti, ‘kan tidak berlarut-larut begini.” “Yang nyari masalah itu siapa, Jat? Ngawur kamu.” Dayu berhenti dan ingin mendengar lebih jauh. “Lha bukannya ini berawal dari hubungan kalian dulu?” “Hubungan bapak dengan Ki sukmo, maksudmu?” “Kamu nggak inget beneran, ya, Gen?” Drajat tampak heran dan bingung, tapi Genta juga memiliki nada kebingungan yang sama. “Inget apa sih? Kenapa semua orang minta aku mengingat?” “Oh, mungkin aku salah duga, Gen.” Drajat terdengar berkelit dan gugup. “Jat, tolong jangan berteka teki denganku. Inget apa?” tanya Genta mndesak. “Ya inget perjanjian orang tua kalian. Kupikir kamu tahu dan menyetujui.” Drajat dengan cepat meralat dan wajahnya terlihat biasa kembali. Genta terdengar menghela napas lega. “Nggak inget sama sekali. Aku bahkan tidak dilibatkan.” Suaminya mengeluh atas ketidak tahuannya selama ini. Drajat kemudian mengalihkan pembicaraan dengan membahas pekerjaan. Dayu menjauh dari ruang tengah dengan pikiran yang rumit. Bagaimana mungkin, mertuanya mengikat janji perjodohan sementara itu tidak diketahui oleh putranya sendiri? Apakah mereka tidak berpikir jika Genta yang menanggung semua ini sekarang? Baru saja Dayu ingin menyibak gorden menuju kamarnya, muncul Pram dan berteriak dengan histeris. “Janji mati … janji mati … janji matiiii!!” Dayu menjerit sekuatnya. Mata Pram melotot dan memandang Dayu dengan tajam. Tidak berhenti di situ, Pram berlari menuju Dayu dan memegang kepalanya dengan kuat-kuat. Suaranya terdengar bergema ke seluruh rumah. Genta dan Drajat berusaha melepaskan tangan Pram, namun ia menarik rambut Dayu sekuatnya. Istri Genta berteriak ketakutan, Sri tergopoh-gopoh datang dan menyentuh dahi Pram dengan seruan mantra. “Jabang bayi sing mbaurekso lerem (Jiwa pemilik tubuh ini tenanglah)!!” Pram terdiam seketika dan melepas dengan perlahan. Dayu terisak dan mundur merapat ke dinding. Mendadak suara tawa wanita melengking dengan nyaring dan menakutkan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN