Sudah hampir satu minggu Padmi mengunci diri di kamar. Genta makin merasa bersalah. Trining mengadakan pengajian hampir setiap hari dibantu oleh Dayu. Apa yang sekarang harus Genta lakukan selain hanya berdua dan pasrah pada rencana Allah.
Mbah Darmo tidak juga muncul dan ibunya memilih bungkam, menghindari pembicaraan juga pembahasan masalah mereka. Genta tidak mampu mengulik lebih jauh. Menyampaikan pada Sulis juga tidak banyak membantu.
Genta akhirnya memilih untuk menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Ia bekerja hingga larut malam dan baru kembali ke rumah setelah semua tertidur. Dayu cukup memahami jika suaminya mencari pelampiasan waktu atas kekecewaan karena menemui jalan buntu.
Pagi itu Dayu baru selesai menuntaskan novel dan mengirim pada penerbit buku. Jadwalnya sudah lewat dari deadline. Namun setelah memberi pengertian, mereka pun paham. Sri mengangsurkan jamu pada Dayu yang langsung ia habiskan. Setelah terbiasa dengan rasa anehnya, Dayu mulai bisa menerima dan mengkonsumsi segala obat tradisional.
“Besok pak Sur mau betulin kandang kita yang di belakang. Kamu jangan lupa sediakan camilan ya, Sri,” pinta Trining yang baru kembali dari perkebunan kopi. Wanita itu melepas caping dan duduk sambil mengibaskan topi anyaman bambu tersebut. Udara cukup hangat hari itu.
“Nggih, Bu,” sahut Sri dan melenggang ke dalam.
“Bau apa ini?” tanya Dayu yang mencium aroma harum.
Biasanya ia mencium bau bunga kopi, tapi kali ini sedikit berbeda. Trining mencoba mengendus.
“Bunga kopi memang seperti ini baunya. Di halaman samping aku tanam beberapa biar keliatan segar,” sahut Trining menjelaskan. Dayu mengangguk dan tidak lagi penasaran.
“Bulek, aku tadi antar makanan ke kamar ibu tapi nggak mau buka pintu,” adu Dayu dengan gelisah.
“Nanti bulek yang antar aja. Kamu jangan terlalu capek,” sahut Trining dan berniat untuk mandi.
Dayu tersenyum lega dan membiarkan Trining membersihkan diri.
Dayu kembali menekuni proyek kedua untuk novel yang akan ia terbitkan sebulan lagi. Menulis dengan ditemani secangkir kopi dan pisang goreng adalah pilihan terbaik. Dayu mencium bau harum yang kembali merebak.
Ia berpikir mungkin Trining baru selesai mandi dan lewat. Wanita itu mengacuhkan serta sibuk mengalirkan ide-ide ke dalam tulisan. Mobil Genta memasuki halaman dan Dayu tersenyum lebar. Ia melirik ke arah jam di tangannya.
“Kok tumben pulang cepat, Mas!” seru Dayu mengulurkan tangan dan mencium tangan suaminya.
“Badanku nggak enak,” sahut Genta sambil mengerakkan kepalanya ke kanan dan kiri.
Bunyi tulang gemeletak terdengar. Dayu segera menawarkan menyiapkan air hangat untuk suaminya dan Genta mengiyakan.
Dengan sigap Dayu melesat ke dapur untuk memanaskan air. Tidak lama air hangat sudah siap dan Dayu memanggil Genta untuk mandi. Karena tidak ada jawaban, Dayu masuk kamar untuk mengambilkan baju ganti. Saat ia melihat ke arah tempat tidur, Genta berbaring dengan tubuh berselimut.
“Lho, Mas? Nggak jadi mandi?” tanya Dayu. Genta berbalik dan memandang Dayu.
“Iya sebentar lagi,” sahut Genta.
Dayu terlihat khawatir lalu memegang dahi Genta. Dingin.
“Istirahat aja, yang penting ganti baju ya, Mas. Biar enak tidurnya,” saran Dayu. Genta tidak menjawab namun segera menarik tangan Dayu supaya mendekat. Wanita itu paham keinginan suaminya.
“Aku lagi datang bulan,” bisik Dayu geli.
Genta tampak kecewa dan menarik selimut kembali serta memunggungi Dayu. Panggilan Trining dari luar membuat Dayu terpaksa keluar dan menemui buleknya.
“Bantu bulek bentar yuk. Ada yang mau ambil kopi dan padi barengan. Kamu layani juragan kopi ya, Nduk?” pinta Trining tampak kerepotan.
“Oh nggih,” sahut Dayu senang.
Keduanya segera bergegas menuju gudang belakang yang juga memiliki gerbang keluar. Rumah mereka berada di persimpangan jalan, yang memiliki dua pintu masuk untuk memudahkan mobil keluar dan masuk. Dayu mengawasi pengambil kopi yang menimbang beberapa karung kopi. Total ada tiga puluh karung yang akan mereka angkut sore itu. Entah kenapa mereka memilih sore begini untuk mengambilnya.
“Sudah semua ya, Pakdhe!” seru Trining melambaikan tangan pada pedagang beras yang baru saja bertransaksi dengannya.
“Salam buat mbak Padmi!” balasnya sambil melaju dengan pick up yang penuh muatan meninggalkan halaman.
“Kamu sudah, Nduk?” tanya Trining dengan sigap menghitung jumlah uang yang baru ia terima.
“Sudah, Bulek. Tinggal bayar,” jawab Dayu menyerahkan jumlah total kilogram pada Trining.
“Yang kopi ndak langsung bayar. Biasanya sebulan sekali,” tukas Trining. Dayu mengiyakan dan pedagang yang mengambil kopi dari mereka pun berpamitan.
“Begini nih kalo ndak punya orang buat bantu. Dulu ada Pram. Sekarang semua sendiri kalo udah malem. Semua buruh udah pada pulang,” keluh Trining sendu.
“Sekarang kan ada Dayu, Bulek,” hibur Dayu. Trining tersenyum hangat dan mengangguk.
“Yuk kita tutup semuanya, bentar lagi makan malam,” ajak Trining.
Kedua wanita beriringan masuk rumah dan menyiapkan santap malam. Dayu menuang air putih ke gelas masing-masing. Trining, Sri dan Eti membawa nasi dan beberapa lauk.
“Aku panggil mas Genta,” pamit Dayu.
“Lho memang dia sudah pulang?” tanya Trining heran.
“Sudah dari tadi sore jam, Bulek,” sahut Dayu.
Buleknya mengernyitkan keningnya.
“Kok mobilnya ‘ndak ada di garasi?” ucap Trining sambil berjalan ke depan.
Dayu menghentikan langkah ketika Padmi tiba-tiba keluar kamar dan mencengkeram lengannya.
“Ibu …,” desis Dayu terkejut.
Eti hampir menjatuhkan nampan kosong yang dipegangnya dan Sri menepuk pundak wanita itu untuk tidak teledor.
“Makhluk yang di kamarmu bukan Genta!” cetus Padmi dengan suara tajam.
Seketika tubuh Dayu terasa disiram air dingin dan bibirnya kehilangan warna. Rambut ibu mertuanya terurai panjang dan tidak sempat tergelung. Trining kembali dari depan dan menggelengkan kepalanya.
“Tidak ada mobil Genta,” kata Trining pelan. Ia melihat Padmi yang berjalan menuju kamar Dayu. Dengan ucapan bismillah, wanita tersebut mendorong pintu. Kosong!
Dayu yang berdiri di belakangnya menjadi gemetar. Tempat tidur terlihat masih rapi, tapi selimut yang Dayu lihat sosok Genta pakai terjuntai ke lantai.
“Ta-tadi ada Mas Genta di situ, Bu,” bisik Dayu ketakutan dengan lirih.
“Sempat ngapain kamu tadi?” cecar Padmi tajam.
Dayu menggelengkan kepalanya cepat.
“Nggak ngapa-ngapain, Bu. Sumpah demi Allah. Saya sedang datang bulan,” tukas Dayu gugup.
Padmi menghela napas lega dan menggulung rambutnya.
Mereka berkumpul di meja makan dalam diam. Mertuanya tampak pucat dan termenung.
“Ibu tirakat selama berhari-hari di kamar dan harusnya keluar tengah malam ini. Sumpah dan kutukan dari Sayekti harus kita waspadai. Jaga diri dan jangan lengah. Perbanyak sholat dan awasi Pram setiap saat,” pesan Padmi pada kedua wanita tersebut.
“Nggih, Bu.”
“Nggih, Mbak.”
Keduanya mengiyakan dengan penuh ketakutan.
“Jangan menciut nyali kalian! Karena akan mudah bagi mereka memanipulasi semua menjadi sesuai yang makhluk itu mau!” tegas Padmi kesal. Trining dan Dayu mengangkat wajah dan menegakkan tubuh mereka sekuat tenaga.
Tidak lama, mobil masuk ke garasi dan kali ini Padmi meminta Dayu untuk menyambutnya.
“Genta sudah pulang,” ucap Padmi.
Setengah tergesa, Dayu berlari ke depan dan memeluk suaminya dengan erat. Genta terkejut dan mengelus punggung wanita yang ia cintai.
“Aku takut, Mas,” isak Dayu. Genta menuntun Dayu masuk dengan wajah bingung. Namun ketika mendengar semua cerita dari ibu dan buleknya. Genta tercekat.
“Aku mencium bau kembang kanthil dari pagi,” ucap Genta.
“Dayu juga, Mas,” timpal istrinya. Padmi menatap keduanya.
“Sekarang gimana? Masih?” tanya sang ibu. Genta dan Dayu terdiam sesaat, kemudian menggelengkan kepala bersamaan.
“Ya, dia mengincar kalian berdua,” ungkap Padmi lesu.
“Sriiii …!” panggil Padmi. Wanita yang hampir seumuran Trining muncul dari dapur.
“Sebar saiki (sekarang),” pinta Padmi.
Pembantunya membungkuk dan mengiyakan. Dayu tampak bingung.
“Sri itu keponakannya mbah Darmo, dia tahu apa yang harus dia lakukan,” terang Padmi menjelaskan sembari melenggang ke dalam. Dayu menelan ludah dengan resah. Genta dan Trining tidak tampak terkejut. Makin banyak kejadian aneh yang terungkap dari keluarga suaminya. Ia tidak pernah menyangka akan menemui kehidupan di mana dirinya harus berjuang melawan iblis dan makhluk halus. Sesaat Dayu berpikir untuk menyudahi dan pergi dari tempat tersebut. Apakah ia harus bertahan dalam situasi yang makin memburuk ini?