Sembilu

1090 Kata
Kejadian tadi malam meninggalkan trauma yang begitu mendalam pada diri semua pasien dan juga pegawai rumah sakit. Marni berusaha untuk tegar dan menenangkan semua untuk bersikap professional, terus merawat pasien dengan maksimal. Sementara itu, Dayu ternyata tidak mengalami luka yang berarti. Dibandingkan kondisi pasien lainnya yang harus kehilangan bayi mereka, anak yang ada dalam kandungannya aman dan selamat. Genta tidak ada habis-habisnya mengucap syukur. Baru saja Trining dan Padmi keluar dari kamar Dayu, setelah memastikan wanita itu dalam keadaan baik, ayah dan neneknya muncul dengan wajah cemas. “Ayolah, Yu. Kita pulang ke Bali aja,” bujuk Binari dengan putus asa. “Situasinya makin nggak terkontrol. Papa nggak mungkin ninggalin kamu dengan kondisi seperti ini, Nak,” timpal Jetro. Genta yang ada di seberang mereka, terunduk dengan perasaan bersalah. “Bisa nggak Dayu bicara dulu sama Genta? Ini bukan hanya keputusan satu pihak aja. Kalian harus mengerti,” sahut Dayu. Jetro berbalik menatap Genta yang tidak berani mengangkat wajahnya. “Apakah kamu rela dan tega ngebiarin istrimu menderita seperti ini, Gen?” “Ti-tidak, Pa. Saya juga paham jika Dayu nggak pantas mengalami hal ini.” “Lalu kenapa kamu masih diam dari tadi?!” bentak Binari dengan jengkel. “Nebin, Papa! Kalian kok jadi begini sih? Genta suamiku dan jangan lemparkan pertanyaan yang nyudutin!” teriak Dayu seperti stress. Baik Jetro maupun Binari bungkam seketika. Mereka terlalu cemas hingga melupakan etika dan kesopanan. Tidak seharusnya Binari membentak Genta seperti tadi. Pria it juga terlihat sangat tersiksa dengan kejadian yang menimpa keluarganya saat ini. Bertubi-tubi cobaan datang dan tidak ada titik terang untuk menyelesaikan masalah tersebut. “Yu, jangan begitu. Papa sama Nebin benar. Seharusnya aku ambil tindakan yang lebih bijak dan tegas. Kalo kamu mau pulang ke Bali untuk menenangkan diri hingga kelahiran anak kita, aku ikhlas. Tapi sayangnya aku nggak bisa mendampingi. Paklek dan ibu membutuhkan aku untuk mereka.” Ucapan Genta membuat ayah dan nenek Dayu lega. Dayu akhirnya hanya bisa menangis. Dia tidak tahu harus memutuskan apa? Saat ini semua serba menyulitkan. Melahirkan tanpa suami adalah hal yang tidak ia inginkan, sementara kondisi mertuanya masih menjadi misteri yang mencekam. Karena tidak juga mendapat jawaban dari Dayu, Jetro dan Binari memutuskan untuk menunggu dengan sabar. ** Trining membetulkan selang infus Pram yang tersangkut dan memastikan adiknya baik-baik saja. Sesekali ia memperhatikan tarikan napas, seperti takut suatu saat akan berhenti tanpa sepengetahuannya. Padmi terdengar sedang berdoa di samping tempat tidur Pram dengan khusyuk. Trining sama sekali tidak bisa memusatkan konsentrasi sedikit pun saat ini. Hatinya dipenuhi kecemasan yang tidak ada hentinya. Setelah hampir tujuh tahun lebih Pram dalam kondisi setengah gila, kini adiknya malah koma. Tidak ada hal yang bisa membangunkan Pram kembali, kecuali keajaiban dari Tuhan. Trining bahkan kadang berharap, Pram kembali pada Penciptanya, dari pada harus hidup dalam siksaan tiada akhir. Berita yang meliput mengenai kejadian rumah sakit tadi malam sudah gencar terpampang di media online dan cetak. Mereka seperti menahan rasa malu akan tatapan curiga yang kini tertuju pada keluarga Amandaru. Trining melihat dengan jelas, bagaimana satu persatu pasien mengajukan pindah ke rumah sakit yang lain, begitu tahu bahwa keluarga Amandaru ada di rumah sakit tersebut. Seperti pembawa kesialan yang harus dihindari, mereka menerima perlakuan yang tidak sepantasnya terjadi. Wanita itu merasa jika dirinya dan seluruh anggota keluarga sebagai korban, bukan pelaku! Kini setelah berjumpa dengan keluarga besan, Jetro dan Binari, Padmi juga terlihat sungkan sekaligus risih atas tuduhan yang terpancar dari sikap dan mata mereka. “Mungkin Dayu harus kembali ke Bali, Tri,” ucap Padmi seraya menyudahi dzikir. Trining menghapus air mata yang sedari tadi membanjiri wajahnya. “Iya, Mbak. Mungkin itu yang terbaik,” sahut Trining dengan suara sengau. “Aku merasa bersalah,” gumam Padmi. “Mbak, kita semua bukan yang menjadi sumber malapetaka ini. Seandainya mas Cokro masih hidup, pasti akan jauh berbeda,” tukas Trining mencoba menghibur kakak iparnya tersebut. Padmi menggulirkan kristal bening dengan hati pilu. “Ya. Tapi kangmasmu sudah tidak ada, Tri. Dia meninggalkan beban untuk kita. Aku nggak tahu gimana cara menyelesaikan ini semua. Dari awal kita membiarkan sesuatu yang salah,” ucap Padmi terdengar getir. “Apakah Genta harus tahu kali ini, Mbak? Atau Mbak Padmi mau nunggu hingga semua keadaan semakin memburuk?” kalimat Trining terdengar sinis dan ketus. Kakak iparnya menatap Trining dengan tajam. “Kamu pikir aku ini wanita yang kejam? Aku hanya seorang ibu yang ingin melindungi anak lanangku, Tri!” “Dengan mengorbankan orang lain?! Bukan keputusan yang bijak, Mbak. Nyuwun sewu, tapi aku diam dan mengunci mulut dari siapa pun untuk kebaikan sampeyan dan Genta! Kalo sekarang Dayu dan anaknya akan menjadi korban berikutnya, aku nggak terima, Mbak! Nggak ikhlas aku!” isak Trining setengah berteriak. “Lihat Pram, lihat aku yang juga menjadi korban! Selanjutnya siapa lagi, Mbak?” Padmi tertegun dan tampak terperangah. Seperti baru menyadari kerusakan yang telah mereka simpan rapat-rapat sekian lama, kini Padmi mulai merasa rapuh. “Tri … aku ….” Belum sempat Padmi melanjutkan, pintu kamar itu terkuak dan Genta muncul. “Ayah Dayu meminta bicara sama Ibu,” ucap putranya dengan sikap lesu. Padmi sudah menduga ini akan terjadi. Dengan penuh kepasrahan, Padmi mengiyakan. “Kali ini, aku akan mengambil tindakan yang terbaik, Tri,” ujar Padmi dengan lirih. Adiknya mengangguk dan tergugu. Genta menatap kedua wanita yang sangat ia sayangi dengan heran. Sepertinya ada yang telah terjadi tanpa sepengetahuannya. ** Pembicaraan berlangsung dengan kaku pada mulanya. Tapi begitu Padmi mengutarakan jika dirinya merelakan Dayu untuk kembali ke Bali bersama Jetro dan Binari, pria itu tersenyum lega. “Maafkan kami, Mbak Padmi. Semua demi kebaikan Dayu dan cucu kita,” sesal Jetro. Padmi mengangguk penuh pengertian. “Seharusnya kami sekeluarga yang harus meminta maaf, karena Dayu harus terlibat dalam kemelut keluarga ini.” “Semua jalan takdir memang sulit buat diprediksi. Kami paham dan maklum. Semoga Mbak Padmi dan keluarga segera mendapat jalan keluar yang terbaik.” “Makasih, Mas Jetro. Terima kasih.” Jetro menepuk pundak Padmi yang kini terguncang. Pria itu turut prihatin akan hal yang Padmi alami selama ini. Cobaan yang tidak kunjung berhenti ini merenggut kebahagian mereka. Begitu tahu jika dirinya harus kembali ke Bali, Dayu merasakan sembilu yang menyakitkan, menggores hatinya. Ia memandang Genta dengan mata berduka. “Aku nggak bisa mengantar, Yu. Paklek masih butuh pendampinganku,” sesal Genta berusaha untuk tegar. Wanita yang ia cintai harus terpisah karena keadaan yang tidak memungkinkan mereka bersama lagi. “Iya, Mas. Jaga diri baik-baik. Jangan sampe jatuh sakit, ya?” balas Dayu dengan sedu sedan. Genta mengecup dahi Dayu dalam-dalam. Keduanya saling menautkan kepala dan terdiam. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN